Artikel : Bulein Annur - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Isa bin Maryam

Jumat, 11 Januari 19

Isa bin Maryam alaihimas salam, Akhlak dan Kepribadiannya

Anda tentu tahu siapa Isa bin Maryam alaihimas salam, ia adalah seorang Nabi yang diutus oleh Allah Subhanahu wa Taala kepada kalangan Bani Israil, sebagaimana diberitakan di dalam al-Quran,




Dan sebagai utasan kepada Bani Israil. (Qs. Ali Imran : 49).

Namun, oleh orang-orang kafir, orang-orang yang mengingkari ketetapan Allah tersebut, Isa bin Maryam alaihimas salam dipertuhankan dan disembah. Allah Subhanahu wa Taala berfirman,




Sungguh, telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah ialah al Masih putra Maryam. (Qs. Al-Maidah : 72).

Oleh karena itu, jelaslah bahwa menjadikan Isa bin Maryam alaihimas salam sebagai tuhan yang disembah merupakan kesalahan. Karena, satu-satunya tuhan yang berhak untuk disembah hanyalah Allah Subhanahu wa Taala semata. Allah Subhanahu wa Taala berfirman,




Firman Allah Subhanahu wa Taala ini terdapat di dalam surat at-Taubah ayat 31. Adapun makna ayat ini -sebagaimana dijelaskan oleh para ulama tafsir- yaitu, bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani itu menjadikan ulama-ulama dan para ahli ibadah sebagai tandingan selain Allah Subhanahu wa Taala, yang memberikan hukum yang mereka laksanakan, sedangkan mereka meninggalkan syariat Allah Subhanahu wa Taala. Mereka juga menjadikan al-Masih putra Maryam alaihimas salam sebagai ilah (sesembahan) yang mereka sembah. Padahal Allah Subhanahu wa Taala telah memerintahkan mereka untuk mengesakanNya, menyembah ilah Yang Esa, tidak ada ilah Yang Haq selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang diperbuat oleh orang-orang musyrik dan orang-orang yang sesat itu. (at-Tafsir al-Muyassar, 3/273).

Akhlak dan Kepribadiannya

Dari sini kita -kaum muslimin- tahu bahwa kita diharuskan untuk memposisikan sesuatu sesuai dengan posisi sebenarnya. Menjadikan Allah Subhanahu wa Taala semata sebagai tuhan yang disembah, tidak yang lain. Tidak Isa bin Maryam alaihimas salam, tidak pula yang lainnya. Karena, posisi ini hanyalah Allah Subhanahu wa Taala yang berhak mendudukinya. Adapun Isa bin Maryam alaihimas salam hanyalah sebagai utusanNya. Dan, posisi Isa bin Maryam alaihimas salam yang benar demikian ini, memberikan sebuah isyarat bahwa beliau seorang yang berakhlak dan berkepribadian yang baik. Di mana akhlak dan kepribadian tersebut disematkan oleh Dzat yang mengutusnya, yaitu Allah Subhanahu wa Taala Dzat yang Baik.

Di antara cerminan akhlak dan kepribadiannya yang baik tersebut adalah apa yang dihikayatkan Allah subhanahu wa taala tentang ucapannya yang diabadikan di dalam Al-Quran, di dalam surat Maryam, ayat 30 sampai dengan 32.


ٱ ٰ ٱٰ ٰ ٱٰ ٱٰ ۢ ٰ


Dia (Isa) berkata, "Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (melaksanakan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka."

Abdullah (Hamba Allah)

Inilah hal pertama yang merupakan cerminan akhlak dan kepribadian Isa bin Maryam alaihimas salam, ia seorang yang patuh dan tunduk kepada Rabbnya, karena seorang hamba Allah Subhanahu wa Taala yang sejati adalah yang tunduk dan patuh kepadaNya, ia menghambakan dirinya hanya kepada Allah Subhanahu wa Taala semata. Bahkan, Isa bin Maryam alaihimas salam menyeru kaumnya agar hanya menghambakan diri kepada Allah Subhanahu wa Taala semata, agar tunduk dan patuh kepadaNya, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Taala firmankan,




Dan al Masih (sendiri) berkata: Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu. (Qs. Al-Maidah : 72).


ۡ ٰ ۡۡ ٰ ۡ ۡ ۡۡ ٰ ۡۡ


Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah itu, Tuhanku dan Tuhan kalian, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus. (Qs. Ali Imran : 50 -51).

Maka, dalam ungkapan Isa,"Sesungguhnya aku hamba Allah" terdapat bantahan keras bagi kalangan Nasrani yang mendakwa bahwa Isa itu adalah Allah, atau Isa itu anakNya, atau (isa itu) termasuk salah satu unsur ketuhanan. (Adh-wa-ul Bayan, 3/416).

Diberkahi Dimana Saja Berada

Yakni, di tempat mana saja dan waktu kapan saja. Maka keberkahan, Allah Subhanahu wa Taala jadikan pada diri Isa alaihis salam, ia mengajarkan kebaikan, mendakwahkannya, melarang manusia dari melakukan keburukan, ia menyeru kepada Allah Subhanahu wa Taala dengan perkataan dan perbuatannya. Siapa saja yang duduk bersamanya atau berkumpul dengannya mendapatkan bekerkahannya, gembira dan bahagia berteman dengannya. (Tafsir as-Sadiy, 1/492). Ia banyak memberikan manfaat di mana saja berada (al-Kasysyaf an Haqa-iqi at-Tanzil, 3/17).
Allah Subhanahu wa Taala menjadikan keberadaannya di suatu tempat sebagai sebab kebaikan penghuni tempat tersebut, menjadikan tempat tersebut subur dan ia menjadi cahaya petunjuk dan taufik bagi mereka kepada kebaikan. Oleh karenanya, bila ada orang yang bodoh, orang yang keras hatinya, dan orang-orang berbuat kerusakan berjumpa dengannya maka mereka berubah menjadi orang-orang yang baik (dengan izin Allah Subhanahu wa Taala), hati-hati mereka terbuka untuk menerima iman dan hikmah. Oleh karenanya, Anda akan dapati bahwa kebanyakan para hawariyyin (sahabat-sahabat setianya) yang pada awalnya adalah orang awam menjadi para penyeru kepada petunjuk dan lisan meraka mengalirkan ungkapan kata yang penuh dengan hikmah. (at-Tahrir wa at-Tanwir, 16/34).

Melaksanakan Wasiat atau Perintah Rabbnya

Yakni, Allah Subhanahu wa Taala memerintahkannya untuk menunaikan hakNya yang diantara hakNya yang paling agung adalah shalat. Dan, (Dia juga memerintahkanku untuk menunaikan) hak-hak para hambaNya, di mana yang paling agung adalah zakat. Maka, aku (Isa bin Maryam) pun melaksanakan wasiat rabbku tersebut. (Tafsir as-Sadiy, 1/492).

Berbakti kepada Orang Tua

Yakni, Allah Subhanahu wa Taala juga menjadikannya sebagai seorang anak yang berbakti kepada ibunya. Adapun penyebutan hanya berbakti kepada ibunya karena kondisi demikian telah dimaklumi, yakni, beliau tidak memiliki seorang bapak. (Fath-hul Qadir, 3/474). Sedangkan makna ungkapan ini adalah, Ia berlaku baik kepada ibunya, mentaatinya, ibunya tidak mendapati dari Isa tindakan yang menyakitkannya sedikitpun. (Aisir at-Tafasiir, 3/304).

Tunduk kepada Kebenaran dan Tawadhu kepada Orang Lain

(Tidak) menyombongkan diri kepada Allah (dengan menolak kebenaran yang datang dariNya), dan (tidak pula) menganggap diri lebih tinggi dari hamba-hambaNya (dengan merendahkan mereka). (Tafsir as-Sadiy,1/492). Maka, Isa bin Maryam alaihimas salam adalah seorang yang patuh dan tunduk terhadap kebenaran dan tidak merendahkan orang lain. Karena hakekat sombong itu, sebagaimana yang dikatakan Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam dalam sabdanya,




Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. (HR. Muslim, no. 275).

Kemudian ucapan Nabi Isa alahis salam "(Tidak menjadikan aku) celaka", yakni, tidak menjadikan aku celaka dalam kehidupanku (Shafwatu at-Tafasir, 2/169), baik dalam kehidupanku di dunia maupun dalam kehidupanku di akhirat yakni, Allah menjadikanku bahagia di dalam kehidupan dunia dan akhirat. (Tafsir as-Sadiy, 1/492).

Pelajaran :

Pembaca yang budiman
Dari beberapa akhlak dan kepribadian Isa bin Maryam alaihimas salam yang telah disebutkan di atas yang sedemikian baik, kita yang menyakini -bahwa Isa bin Maryam 'alaihimas salam itu adalah utusan Allah Subhanahu wa Taala, bukan tuhan yang berhak disembah- dapat mengambil pelajaran yang sangat berharga, yaitu bahwa berakhlak mulia dan berkepribadian yang baik, baik kepada Allah Subhanahu wa Taala (seperti, hanya menghambakan diri kepadaNya, melaksanakan perintahNya, menjauhi laranganNya, tunduk kepada kebenaran yang datang dariNya) ataupun kepada makhlukNya (seperti, memberi manfaat kepada orang lain, tawadhu, tidak merendahkan siapa pun, berbakti kepada orang tua, dan lain sebagainya) akan mengantarkan pelakunya kepada kebahagiaan dan keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Sebaliknya, berakhlak buruk dan berkepribadian buruk hanya akan mengantarkan pelakunya kepada kecelakaan dan kesengsaraan hidup di dunia bahkan di akhirat. Naudzubillah min dzalik. Untuk itu, mari kita terus berusaha untuk memperbaiki akhlak dan kepribadian kita sehingga semakin baik. Semoga Allah subhanahu wa taala memberikan taufiq. Aamiin. Wallahu alam.

(Redaksi)

Referensi :
1. Adh-wa-ul Bayan, Muhammad al-Amin asy-Syinqithi
2. Aisir at-Tafasiir, Jabir bin Musa al-Jazairiy
3. Al-Kasysyaf an Haqa-iqi at-Tanzil, Mahmud bin Umar az-Zamakhsyariy
4. At-Tafsir al-Muyassar, Kumpulan Pakar Tafsir
5. At-Tahrir wa at-Tanwir, Ibnu Asyur at- Tunisiy
6. Fath-hul Qadir, Muhammad bin Ali asy-Syaukaniy
7. Shafwatu at-Tafasir, Muhammad Ali ash-Shabuniy
8. Tafsir as-Sadiy, Abdurrahman bin Nashir as-Sadiy

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatannur&id=804