Artikel : Bulein Annur - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Rajab, Bulan untuk Menanam Bibit

Selasa, 10 Maret 20

Sesungguhnya bulan menanam merupakan kunci pintu-pintu kebaikan semuanya. Sesungguhnya, bulan yang kita tengah berada di dalamnya, yakni, bulan Rajab, merupkan bulan Alla Azza wa Jalla yang dimuliakan.

Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma mengatakan :
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah berkhutbah pada waktu haji wada seraya mengatakan, Sesungguhnya zaman telah berputar, seperti keadaan pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Dan, bahwa satu tahun itu ada dua belas bulan, di antaranya empat bulan haram, tiga bulan berturut-turut; Dzul Qidah, Dzulhijjah, dan Muharram, dan yang lain adalah bulan Rajab yang berada di antara bulan Jumada dan Syaban. (Syarh Musykilu al-Aatsar, 4/44).

Barang siapa yang menanam kebaikan secara baik di bulan tersebut, niscaya -dengan izin Allah- akan membuahkan hasil yang baik pada bulan Ramadhan nantinya.

Sesungguhnya, salah satu sebab kefuturan banyak orang di bulan Ramadhan setelah mereka menjalankan puasa lima atau enam hari, kemudian diiringi dengan iman di dalam hati yang melemah, atau pancaran percikan iman dan kebaikan di dalam jiwa meredup, mulailah sebagian orang bersembunyi dari Ramadhan, terasa berat baginya puasa dan membaca al-Quran, salah satu sebabnya adalah kurang perhatian bahkan melalaikan kebaikan di bulan Rajab. Karena, bulan Rajab merupakan kunci kebaikan bagi bulan Ramadhan.

Ramadhan merupakan bulan yang mulia, bukanlah termasuk asyhur al-hurum (bulan-bulan haram). Ia adalah bulan yang utama yang penuh dengan keberkahan. Akan tetapi Allah Azza wa Jalla menjadikan bulan ini, yang jatuh setelah bulan penyiraman, yaitu bulan Syaban, sebagai bulan memanen pahala.

Sesungguhnya, para petani itu kala ingin bercocok tanam, mereka melakukan pembersihan tanah tempat bercocok tanam terlebih dahulu. Kemudian, mereka menyemai benih, mereka menyiraminya, lalu setelah itu mereka menunggu hasilnya. Maka, jika kita tidak baik dalam menyemai benih di bulan Rajab, niscaya pada bulan Syaban tidak akan tumbuh benih-benih yang baik itu, dan niscaya pula pada bulan Ramadhan nantinya kita tidak akan memanen hasilnya yang baik.

Oleh karena itu-wahai saudaraku- salah satu sebab lemahnya seseorang memanfaatkan secara optimal bulan Ramadhan dan musim-musim kebaikan yang lainnya adalah karena sebagian kita mendatanginya dengan langkah yang terlalu santai. Lalu, bila ia telah berhenti di depan pintu Ramadhan barulah ia menyemai bibit lalu menyiraminya. Padahal waktu itu bukanlah waktu untuk melakukan hal itu, bukan waktu untuk menyemai bibit dan menyiraminya. Namun, waktu memulai memanen dan memetik hasilnya. Maka dari itu, jika Anda ingin mengambil faidah dari bulan Ramadhan, maka lakukanlah dengan baik penyemaian bibit kebaikan di bulan Rajab, kamudian siramilah ia di bulan Syaban, barulah kemudian Anda memanen dan memetik buahnya di bulan Ramadhan.

Sesungguh, para sahabat Muhammad shallallahu alaihi wasallam, mereka mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan bulan Ramadhan beberapa bulan lamanya. Akan tetapi, Ibnu Rajab semoga Allah merahmatinya- mengatakan, Sesungguhnya bulan Rajab adalah bulan menyemai bibit dan oleh karena itu mereka-para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam mempersiapkan diri untuk menjumpai Ramadhan beberapa bulan lamanya, secara khusus di bulan Rajab.

Amal pertama di bulan Rajab adalah Anda tidak bertindak aniaya pada bulan tersebut. Karena bulan Rajab merupakan salah satu bulan haram, dosa-dosa yang dilakukan di dalamnya menjadi besar kadarnya.

Allah Azza wa Jalla berfirman,




Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzhalimi dirimu dalam (bulan bulan yang empat) itu(Qs. at-Taubah : 36).

Di bulan Rajab, tidak ada amal ibadah tertentu yang disyaritakan, tidak disyariatkan untuk berpuasa di dalamnya pada hari-hari tertentu, tidak pula disyariatkan apa yang disebut oleh banyak orang dengan Shalat Ragha-ib. Maka, tidak ada amal yang harus Anda lakukan di bulan Rajab kecuali Anda membersihkan hati Anda (dari dosa-dosa yang mengeruhkannya), dan Anda berupaya menghadapkan hati Anda sepenuhnya kepada Allah, berbuat baik kepada hamba-hamba-Nya, menjauhkan diri dari perkara-perkara haram, maka janganlah kamu menzhalimi dirimu dalam (bulan bulan yang empat) itu.
Oleh karena dosa-dosa yang Anda lakukan di bulan Rjab berpotensi memadamkan percikan cahaya iman di bulan Ramadhan, menjadikan seorang hamba bermalas-malasan di bulan Ramadhan.

Cobalah Anda perhatikan shalat ini, shalat ini yang hendak kita lakukan, siapakah gerangan yang paling khusyu shalatnya di antara kita ? Niscaya yang paling khusyu di antara kita adalah siapa yang telah bersiap diri sebelum memasukinya atau ia telah bersiap sebelum memasuki waktunya. Ia telah berwudhu dan memperbagus wudhunya, mengenakan pakaian terbaik, kemudian ia berjalan menuju ke tempat shalat (berjamaah, yaitu, masjid), ia mendatanginya dengan penuh kekhusyuan, ia datang lebih awal (dari waktunya), ia mengambil shaf sebelah kanan, lalu shalat dua rakaat. Kemudian, setelah itu, ia bersiap diri untuk mengerjakan shalat (Fardhu), niscaya shalat yang bakal dilakukannya tersebut akan dilakukannya dengan penuh kekhusyuan. Adapun orang yang mendatangi shalat dengan tergesa-gesa, ia tidak segera menuju shalat melainkan setelah mendengar takbiratul ihram, niscaya tingkatan kekhusyuan shalat orang ini di dalam hatinya kurang.

Jadi, amal yang dilakukan di bulan Rajab, pertama, hendaknya kita menjauhakan diri dari dosa-dosa (apalagi dosa besar) dan membersihkan hati dari rongrongan godaan setan yang menaburkan bibit-bibit tumbuhan yang rusak yang ditaman oleh setan di dalam hati-hati kita. Sebagian dari kita ada yang kecanduan melakukan dosa-dosa besar. Dosa-dosa tersebut masih saja dilakukan setelah memasuki bulan haram ini (Rajab), ia memiliki mata yang khianat di dalam Handphone-nya. Ia mempunyai cerita-cerita yang berisi tipu daya setan. Ia terus saja tenggelam di dalam memandang sesuatu yang haram dipandangnya. Pandangan-pandangan ini dilakukannya di bulan ini, hingga sampai pada bulan Syaban. Hal ini akan menjadikannya lemah dan lelah di bulan Ramadhan. Oleh karena itu, apabila para pemilik kuda ingin kudanya ikut serta dalam lomba pacuan kuda, niscaya mereka mendietkannya, kemudian, setelah itu mereka melatihnya secara keras hingga kuat untuk bertanding. Sesungguhnya, bulan Rajab merupakan bulan pendietan kuda dan pelatihannya untuk segera melesat ke pintu-pintu Surga.

Saudara-saudaraku

Pintu-pintu Surga pada bulan Ramadhan dibuka, sementara pintu-pintu Neraka ditutup, sementara sebagian orang di antara kita memasuki bulan Ramadhan, padahal pintu-pintunya dibuka, namun ia enggan memasukinya, ia hanya duduk berleha-leha di depan pintu-pintunya. Ia bosan melakukan kebaikan, ia bosan beramal shaleh. Kalau pun membaca al-Quran, ia tidak menikmati kelezatannya. Ia berdiri di belakang imam, mendengarkan bacaannya namun tidak menikmati kelezatannya. Padahal, jika seseorang telah membiasakan dirinya di bulan Rajab dengan melakukan beragam ketaatan, kemudian hal itu terus berlangsung hingga bulan Syaban, niscaya ketika memasuki bulan Ramadhan ia telah terbiasa melakukan amal shaleh tersebut, sehingga ketaatan yang dilakukannnya tersebut menjadi ringan. Maka dari itu, selayaknya seseorang sudah mulai melatih diri di bulan Rajab ini.

Saudaraku-saudaraku

Perhatikanlah olehmu para olah ragawan !, selum mereka bertandang di gelanggang perlombaan, mereka sedemikian gigih berlatih, mengolah tubuh mereka sedemikian rupa sehingga tubuh mereka siap bertanding. Andai saja mereka tidak mempersiapkan diri, kemudian setelah tiba saatnya mereka bertanding, langsung saja mereka terjun ke medan laga, gerangan apa yang bakal terjadi ?.

Maka, kita sangat perlu untuk melatih otot-otot keimanan kita dengan membiasakan diri melakukan amal-amal shaleh di bulan ini, bulan Rajab, sehingga ketika kita sampai di bulan Ramadhan, saat di mana kita berlomba bersama dengan saudara-saudara kita, kita telah siap melakukannya dengan penuh semangat yang membara dan tidak merasa bosan untuk melakukannya, bahkan dapat mengotimalkan waktu sebaik mungkin karena hal itu telah menjadi hal biasa yang kita lakukan.

Oleh karena itu, Anda membaca tentang sebagian perjalanan hidup ahli ilmu dari kalangan para salaf ash-Shaleh (genderasi pendahulu yang baik) umat ini, Anda dapatkan sebagian mereka dapat mengkhatamkan al-Quran setiap dua malam sekali, ada yang setiap malam sekali, ada yang qiyamullail dengan membaca surat al-Baqarah dan Ali Imran dalam satu rakaat. Mengapa kita tidak melakukan apa yang mereka lakukan ?. Ada di kota Nabi shallallahu alaihi wasallam, berkata salah seorang penduduk kota tersebut, Di masjid Nabawi ada seorang yang menghatamkan bacaan al-Quran dua kali sehari tanpa beban, ia seorang hafizh, seakan-akan Quran berada pada sejumlah hembusan nafasnya, ia pergi ke keluarganya bada Maghrib sampai Isya, ia berbuka puasa bersama mereka, mencandai mereka, kemudian, ia pergi sambil membaca dan menghatamkan bacaannya. Apakah Anda mengira bahwa orang ini berlatih menghatamkan bacaannya sejak masuk bulan Ramadhan ?

Maka, bulan ini, bulan Rajab kemudiaan bulan berikutnya, Sayaban adalah waktu berlatih. Karena itu, latihlah diri Anda sejak sekarang, latihlah diri Anda qiyamullail malam ini, shalatlah witir 1 rakaat, kemudian 3 rakaat, kemudian 5 rakaat, kemudian 7 rakaat, kemudian 9 rakaat, hingga 11 rakaat atau 13 rakaat. Jika Anda telah terbiasa melakukannya, dan Anda sambil membaca al-Quran melalui mushaf, Anda bisa menghatamkannya sekali dalam qiyamullail, maka jika datang Ramadhan, niscaya Anda mengatakan kepada imam, tidakkah Anda memperpanjang bacaan al-Quran ? karena Anda telah terbiasa di bulan Rajab dan Syaban.

Hal lainya yang perlu dipersiapkan adalah mempersiapkan hati untuk meningkatkan amal sejak sekarang, maka tidaklah Anda memasuki Ramadhan melainkan Anda telah mengeluarkan dari hati Anda kebencian terhadap siapa pun, karena hal itu akan menghalangi Anda dari meningkatkan amal Anda. Sebagian orang tidak meningkat amalnya, boleh jadi sebabnya adalah karena adanya masalah di dalam hatinya, di dalam hatinya terdapat kedengkian dan kebencian kepada saudaranya sesama orang yang beriman, atau memutuskan tali silaturrahim, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, keluarkanlah dosa-dosa ini dari hati Anda, sejak sekarang. Maka, sambunglah hubungan silaturahim, doakanlah kebaikan untuk mereka, maafkanlah kesalahan mereka, berlapang dadalah Anda, dan sucikanlah hati Anda, karena jika Anda menjumpai Ramadhan dengan hati yang penuh dengan kecintaan terhadap perbuatan dosa ini, atau dengki kepada saudara Anda sesama orang yang beriman, boleh jadi Anda tidak akan dapat mengambil faedah dari bulan Ramadhan, padahal Ramadhan merupakan madrasah yang berpotensi meluluskan orang-orang yang dibebaskan dari Neraka.

Maka, wahai hamba-hamba Allah ! Sucikanlah hati Anda sementara Anda tengah berada di bulan haram ini, Anda berada di bulan menyemai bibit, Anda berada di bulan menanam. Sungguh, betapa banyak orang yang menginginkan untuk berjumpa dengan Ramadhan namuan maut telah menjemputnya sebelum ia sampai ke bulan tersebut. Maka dari itu paling tidak Anda mempersiapkan diri, membentengi hati dari penyakit hati sebelum Anda sampai ke bulan Ramadhan, Anda memulai melatih diri dengan melakukan ketaatan, meminta kepada Allah agar Anda disampaikan ke bulan Ramadhan, andaikata Anda nantinya tidak sampai ke Ramadhan, maka barang kali niat Anda ini menyampaikan Anda kepada pahala yang besar yang tidak dicapai oleh amal yang Anda lakukan. Sungguh, kematian tidak mengenal usia, ia datang secara tiba-tiba, maka dari itu, wahai hamba-hamba Allah persiapkanlah diri Anda sejak hari ini, mulailah dari sekarang Anda berlatih.

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita. Amin

Wallahu Alam (Redaksi)

Sumber :
Disarikan dari ceramah singkat bertema Rajab Syahr al-Ghiraas, Syaikh Dr. Saad al-Atiq, semoga Allah menjaganya.

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatannur&id=840