Artikel : Bulein Annur - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Wahai Hamba-hamba-Ku!

Jumat, 18 September 20

Abu Dzar semoga Allah meridhainya- meriwayatkan dari Nabi - - yang beliau riwayatkan dari Allah - - bahwa Dia berfirman,




Wahai hamba-hamba-Ku! Sungguh, Aku telah mengharamkan kezhaliman bagi diri-Ku dan Ku-jadikan ia diharamkan bagi kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi satu sama lain.




Wahai hamba-hamba-Ku! Masing-masing kalian tersesat kecuali yang Ku-beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku memberi kalian petunjuk."




Wahai hamba-hamba-Ku! Masing-masing kalian lapar kecuali yang Ku-beri makan, maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku memberi kalian makan.




Wahai hamba-hamba-Ku! Masing-masing kalian telanjang kecuali yang Ku-beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku memberi kalian pakaian.




Wahai hamba-hamba-Ku! Sungguh, kalian senantiasa melakukan kesalahan pada malam dan siang hari sedangkan Aku mengampuni semua dosa, maka mohonlah ampunan kepada-Ku niscaya Aku memberikan ampunan kepada kalian.




Wahai hamba-hamba-Ku! Sungguh, kalian tidak akan dapat membahayakan-Ku juga tidak dapat memberikan manfaat kepada-Ku.




Wahai hamba-hamba-Ku! Sekiranya orang pertama hingga terakhir di antara kalian, baik dari kalangan manusia maupun jin, keadaan hati kalian semua seperti hati orang yang paling bertakwa di antara kalian, niscaya hal itu tidak menambah kerajaan-Ku sedikitpun.




Wahai hamba-hamba-Ku! Sekiranya orang pertama hingga terakhir di antara kalian, baik dari kalangan manusia maupun jin, keadaan hati kalian semua seperti hati orang yang paling durhka di antara kalian, niscaya hal itu tidak mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun.




Wahai hamba-hamba-Ku! Sekiranya orang pertama hingga terakhir di antara kalian, baik dari kalangan manusia maupun jin, berdiri di sebuah bukit, lalu memohon kepada-Ku, lalu Ku-penuhi semua permohonan mereka, niscaya hal itu tidak mengurangi apa yang ada pada-Ku kecuali seperti jarum yang dicelupkan ke laut.




Wahai hamba-hamba-Ku! Sungguh, perbuatan kalian akan Ku-perhitungkan, kemudian Aku memberi kalian balasannya. Barangsiapa mendapat kebaikan hendaklah memuji Allah dan barangsiapa mendapat selain itu maka jangan sekali-kali mencela selain dirinya. (HR. Muslim 2577 dan Tirmidzi 2497).

Penjelasan:

<<>> Firman-Nya, [ ] Wahai hamba-hamba-Ku!

Dalam ungkapan ini terdapat pengingatan bagi para hamba tentang hikmah yang karenanya mereka diciptakan, yaitu untuk beribadah menghambakan diri kepada Allah - -. Dia berfirman,




Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Qs. adz-Dzariyat: 56). (Syarh al-Arba'in an-Nawawiyah, al-Luhaimid, 1/67).

<<>> Firman-Nya, Sungguh, Aku telah mengharamkan kezhaliman bagi diri-Ku.
Sebagian ulama mengatakan, Maknanya, tidak layak bagi-Ku dan tidak boleh bagi-Ku (untuk belaku zhalim) karena itu, kezhaliman mustahil dilakukan oleh Allah - -. (Syarh al-Arba'in, Ibn Daqiq al-'Ied, 1/63).
Maka, Allah - - tidak menzhalimi para hamba-Nya, sebagaimana ditegaskan-Nya dalam beberapa firman-Nya, di antaranya, Dia - -berfirman,




Kami tidak menzhalimi mereka. (Qs. Huud: 101).




Rabbmu tidak menzhalimi seorang pun. (Qs. al-Kahfi: 49).




Rabbmu sama sekali tidak menzhalimi hamba. (Qs. Fushshilat: 46).




Sungguh, Allah tidak menzhalimi seberat dzarah pun. Jika ada kebajikan sekecil dzarrah niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. (Qs. an-Nisa: 40).




Katakanlah: Kesenangan dunia itu sedikit sedangkan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, dan kalian tidak akan dizhalimi sedikit pun. (Qs. an-Nisa: 77).

Disamping Allah - - menafikan kezhaliman pada diri-Nya, Allah - - juga menyatakan kebersihan diri-Nya dari sifat menghendaki perbuatan zhalim, dengan firman-Nya,




Dan tiadalah Allah berkehendak untuk menzhalimi seluruh alam. (Qs. Ali Imran: 108).




Dan Allah tidak berkehendak untuk menzalimi para hamba. (Qs. al-Mukmin: 31).

Allah - - juga menepis kekhawatiran hamba terhadap kezhaliman tersebut, dengan firman-Nya,




Dan barangsiapa mengerjakan amal saleh sedang ia beriman, maka janganlah ia khawatir akan perlakuan zhalim terhadapnya dan pengurangan haknya. (Qs. Thaha: 112).

Nash-nash yang menepis kezhaliman ini menetapkan keadilan-Nya dalam pemberian balasan dan seseorang tidak akan dikurangi pahala amalannya atau dikurangi haknya.

Hukuman bagi Pendosa Tidak Berarti Allah - - Menzhaliminya

Demikian juga firman-Nya tentang orang-orang yang dijatuhi hukuman-Nya berupa siksa Jahannam, semisal firman-Nya,


. .


Sesungguhnya orang-orang yang berdosa kekal di dalam adzab Neraka Jahannam. Tidak diringankan adzab itu dari mereka dan mereka di dalamnya berputus asa. Dan tidaklah Kami menzhalimi mereka tetapi merekalah yang menzhalimi diri mereka sendiri. (Qs. az-Zukhruf: 74-76).

Yakni, orang-orang yang mengumpulkan dosa-dosa disebabkan kekufuran mereka, mereka berada di dalam siksa Jahannam, kekal di dalamnya. Adzab tidak diringankan dari mereka, mereka pun berputus asa dari rahmat Allah. Kami tidak menzhalimi para penjahat tersebut dengan menyiksa mereka, sebaliknya justru merekalah yang menzhalimi diri mereka dengan kesyirikan dan pengingkaran mereka bahwa Allah adalah Rabb yang haq semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Di samping kerena mereka menolak untuk mengikuti utusan-utusan Allah. (at-Tafsir al-Muyassar, 9/37).

Allah - - menjelaskan bahwa hukuman yang dijatuhkan kepada para pendosa tersebut merupakan keadilan bagi dosa mereka, bukan karena Allah - - menzhalimi mereka, menghukum mereka tanpa dosa.

Dalam hadits disebutkan,




Sekiranya Allah mengazab seluruh penghuni langit dan bumi-Nya, tentulah Dia mengazab mereka tanpa menzhalimi. Sebaliknya, sekiranya Dia mau merahmati mereka tentulah rahmat-Nya kepada mereka itu lebih baik daripada amal mereka. (HR. Abu Dawud).

Hadits ini menjelaskan bahwa andaikata siksa itu terjadi, tentu karena mereka berhak mendapatkannya, bukan tanpa dosa. Ini menjelaskan bahwa kezhaliman yang dinafikan adalah tindakan menimpakan hukuman terhadap orang yang tak berdosa.

<<>> Firman-Nya,




Dan Ku-jadikan ia (kezhaliman itu) diharamkan bagi kalian, maka jangan kalian saling menzhalimi satu sama lain.

Maka, melakukan tindak kezhaliman terhadap orang lain apa pun bentuknya, haram hukumnya. Hal tersebut dilarang oleh Allah - -. Bahkan, menzhalimi diri sendiri, misalnya dengan tidak memberikan hak diri atau menjatuhkan diri ke dalam bahaya atau kebinasaan, juga terlarang. Hal tersebut haram hukumnya dilakukan.

<<>> Firman-Nya,




Wahai hamba-hamba-Ku! Masing-masing kalian tersesat kecuali yang Ku-beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku memberi kalian petunjuk.

Ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa orang yang mendapat petunjuk adalah siapa yang diberi petunjuk oleh Allah - -, dan dengan petunjuk Allah - - itu seseorang menetapi petunjuk dan hal itu terjadi dengan kehendak Allah - -. Dan bahwasanya Dia - - menghendaki pemberian hidayah-Nya itu kepada sebagian hamba-Nya dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk itu, Dia - - tidak menghendaki hidayah itu diberikan kepada sebagian hamba-Nya yang lainnya. Andai Allah - - menghendakinya niscaya mereka mendapatkan petunjuk itu. (Syarh an-Nawawi 'Ala Muslim, 8/384).

Allah - - berfirman,




Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. (Qs. al-Kahfi: 17).

<<>> Firman-Nya,




Wahai hamba-hamba-Ku! Masing-masing kalian lapar kecuali yang Ku-beri makan, maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku memberi kalian makan.




Wahai hamba-hamba-Ku! Masing-masing kalian telanjang kecuali yang Ku-beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku memberi kalian pakaian.

Ini menunjukkan dua prinsip yang agung; Pertama, kewajiban bertawakkal kepada Allah dalam urusan rizki, mencakup hal yang mendatangkan manfaat seperti makanan dan mencegah madharat seperti pakaian. Kedua, tidak ada yang memiliki kemampuan mutlak memberi makan dan pakaian selain Allah, sedangkan kemampuan yang dimiliki sebagian orang terbatas pada melakukan beberapa sebab untuk mewujudkan hal itu. (Majmu'ur Rasail Muniriyyah, 3/205).

Dan, ini juga merupakan peringatan akan kefakiran kita dan kelemahan kita untuk meraih hal-hal yang akan memberikan manfaat kepada kita dan untuk menolak apa-apa yang membahayakan kita. Kita tak akan mampu melakukannya kecuali jika Allah membantu kita. Hal itu kembali kepada makna ungkapan: (Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah). Dan, hendaknya seorang hamba menyadari apabila ia melihat bekas nikmat ini pada dirinya bahwa itu berasal dari Allah - - dan haruslah ia bersyukur kepada-Nya, dan setiap kali hal itu bertambah maka hendaknya menambah pula pujian dan kesyukurannya kepada-Nya. (Syarh al-Arba'in, Ibn Daqiq al-'Ied, 1/63).

<<>> Firman-Nya,




Wahai hamba-hamba-Ku! Sungguh, kalian senantiasa melakukan kesalahan pada malam dan siang hari sedangkan Aku mengampuni semua dosa, maka mohonlah ampunan kepada-Ku niscaya Aku memberikan ampunan kepada kalian.

Ini menunjukkan luasnya ampunan Allah - - dan rahmat-Nya. Maka, sepantasnya kita, sebagai hamba-Nya, yang banyak melakukan kesalahan agar banyak pula memohon ampunan dan bertaubat kepada-Nya. Hal ini dilakukan dengan dua cara;

Cara pertama, dengan lisan, yaitu dengan mengucapkan, (aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya), sebagaimana yang diteladankan Nabi - - seperti tercermin dalam sabdanya,




Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar (memohon ampun) kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari 70 kali. (HR. al-Bukhari).

Cara kedua, dengan anggota badan, yaitu dengan melakukan amal-amal shaleh yang akan menjadi sebab diperolehnya ampunan dari-Nya. Sebagaimana Allah - - berfirman,




Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. (Qs. Huud: 114).

Dan, Rasulullah - - bersabda,




Dan iringilah keburukan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu menghapus (dosa) keburukan itu.(HR. al-Hakim).

<<>> Firman-Nya,




Wahai hamba-hamba-Ku! Sungguh, kalian tidak akan dapat membahayakan-Ku juga tidak dapat memberikan manfaat kepada-Ku.

Dengan ini, Allah - - menjelaskan bahwa perbuatan baik yang dilakukan terhadap mereka seperti pengabulan doa dan pengampunan kesalahan bukan untuk meraih kemanfaatan atau menolak kerugian sebagaimana kebiasaan makhluk yang memberikan manfaat kepada orang lain agar diberi imbalan manfaat kepadanya atau untuk menolak bahaya agar bisa menjaga diri dari kejahatannya.

Jika demikian, seolah-olah dikatakan, Aku meliputi kalian dengan hidayah (petunjuk) bagi yang memohon petunjuk, kecukupan, makanan dan pakaian, bukanlah karena Aku minta agar kalian memberi manfaat kepada-Ku. Demikian pula jika Aku mengampuni kesalahan kalian di waktu malam dan siang bukan untuk menjaga diri agar kalian tidak membahayakan-Ku, karena kalian tidak akan mencapai kemanfaatan kepada-Ku sehingga kalian memberi manfaat kepada-Ku dan kalian tidak akan mencapai kerugian-Ku sehingga kalian merugikan-Ku.

Diambil faedah dari firman-Nya ini, Sempurnanya kekuasaan Allah - - dan ketidakbutuhan-Nya kepada makhluk-Nya.

<<>> Firman-Nya,




Wahai hamba-hamba-Ku! Sekiranya orang pertama hingga terakhir di antara kalian, baik dari kalangan manusia maupun jin, keadaan hati kalian semua seperti hati orang yang paling bertakwa di antara kalian, niscaya hal itu tidak menambah kerajaan-Ku sedikitpun.




Wahai hamba-hamba-Ku! Sekiranya orang pertama hingga terakhir di antara kalian, baik dari kalangan manusia maupun jin, keadaan hati kalian semua seperti hati orang yang paling durhka di antara kalian, niscaya hal itu tidak mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun.

Hal ini karena, kerajaan Allah - - adalah kekuasaan-Nya untuk mengatur. Maka kerajaan-Nya tidak bertambah karena ketaatan mereka dan tidak berkurang karena kemaksiatan mereka.

<<>> Firman-Nya,




Wahai hamba-hamba-Ku !, sekiranya orang pertama hingga terakhir di antara kalian, baik dari kalangan manusia maupun jin, berdiri di sebuah bukit, lalu memohon kepada-Ku, lalu Ku-penuhi semua permohonan mereka, niscaya hal itu tidak mengurangi apa yang ada pada-Ku kecuali seperti jarum yang dicelupkan ke laut.

Maka ini menunjukkan kepada luasnya kekayaan Allah - - dan luasnya kemurahan dan kedermawanan-Nya.
Dalam hadits disebutkan,




Tangan Allah selalu penuh, tidak kurang karena memberi nafkah, dan selalu dermawan baik malam maupun siangtidakah kamu lihat apa yang Dia berikan semenjak Dia menciptakan langit dan bumi, sesungguhnya hal itu tidaklah mengurangi apa yang ada di tangan-Nya. (HR. al-Bukhari).

<<>> Kemudian Allah - - menutup firman-Nya dengan menegaskan kembali apa yang telah dijelaskan-Nya, yaitu tentang keadilan dan kebaikan-Nya :




Wahai hamba-hamba-Ku! Sungguh, perbuatan kalian akan Ku-perhitungkan, kemudian Aku memberi balasannya kepada kalian. Barangsiapa mendapat kebaikan hendaklah memuji Allah dan barangsiapa mendapat selain itu maka jangan sekali-kali mencela selain dirinya.

Allah - - menjelaskan bahwa Dia telah berbuat baik kepada hamba-Nya dengan memberikan balasan amal shaleh mereka dengan kebaikan, yang karenanya Dia berhak mendapat pujian. Sebab Dialah yang memberikan kenikmatan berupa perintah, bimbingan, dan pertolongan untuk berbuat baik, kemudian menghitungnya, lalu memenuhi balasannya. Semua itu merupakan anugerah dan kebaikan dari-Nya, karena setiap kenikmatan dari-Nya adalah anugerah sedangkan setiap bencana dari-Nya adalah keadilan. (Majmu'ur Rasail Muniriyyah, 1/226).

Maka, dari firman-Nya, Barangsiapa mendapat kebaikan hendaklah memuji Allah, diambil faedah akan wajibnya memberikan pujian kepada Allah -- atas orang yang mendapat kebaikan. Hal itu karena dua hal; Pertama, bahwa Allah -- telah memudahkannya sehingga ia dapat melakukannya. Kedua, bahwa Allah -- - memberikan balasan kebaikan kepadanya.

Firman-Nya, Dan barangsiapa mendapat selain itu, yakni, keburukan atau hukuman. Maka, jangan sekali-kali mencela selain dirinya, karena hakekatnya ia tidaklah dizhalimi (oleh Allah -- ). (Syarh al-Arba'in an-Nawawiyah, Ibnu Utsaimin, 1/166). Wallahu A'lam.

(Redaksi)

Referensi :


1. Al-Mustadrak 'Ala ash-Shahihain, Muhammad bin Abdillah al-Hakim an-Naisaburi.
2. At-Tafsir al-Muyassar, Kumpulan pakar tafsir di bawah bimbingan Syaikh Shaleh bin Abdul Aziz Alusy Syaikh.
3. Majmu'ur Rasail Muniriyyah, Ibnu Taimiyah.
4. Shahih Muslim, Muslim bin al-Hajjaj an-Naisaburi.
5. Shahihul Bukhariy, Muhammad bin Ismail al-Bukhari.
6. Sunan Abu Dawud, Sulaiman bin al-Asy'ats as-Sijistani.
7. Sunan at-Tirmidzi, Muhammad bin Isa at-Tirmidzi.
8. Syarh al-Arba'in an-Nawawiyah, Sulaiman bin Muhammad al-Luhaimid.
9. Syarh al-Arba'in, Ibnu Daqiq al-'Ied.
10. Syarh al-Arba'in an-Nawawiyah, Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin.
11. Syarh an-Nawawi 'Ala Muslim, Yahya bin Syaraf bin Mary an-Nawawi.

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatannur&id=875