Artikel : Bulein Annur - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Hikmah Di Balik Penciptaan Musibah dan Kepedihan (Bag.1)

Jumat, 16 Oktober 20

Hikmah Di Balik Penciptaan Musibah dan Kepedihan (Bag.1)

Pada penciptaan kepedihan dan musibah terkandung berbagai hikmah yang hanya diketahui oleh Allah - -. Hikmah yang berisikan karunia, keadilan, dan rahmat-Nya.

Ibnul Qayyim - - berkata, Rasa sakit dan kesulitan bisa merupakan wujud dari kebaikan dan rahmat Allah. Tapi, bisa juga keadilan dan hikmah-Nya. Bisa jadi ia adalah perbaikan dan persiapan untuk kebaikan yang akan tiba. Namun, bisa pula penghalang bagi rasa sakit yang lebih berat. Bisa jadi ia merupakan hasil dari kelezatan dan kenikmatan yang berkelanjutan. Tapi, bisa juga buah dari keadilan, keutamaan, dan kebajikan. Intinya, ia merupakan hasil dari amal kebaikan, yang jika konsekwensinya ditiadakan maka kebaikan besar yang mengiringi rasa sakit itu akan ikut tiada pula.

Bukti yang paling valid untuk hal ini ada pada syariat dan takdir. Betapa banyak terbitnya matahari justru menimbulkan rasa sakit bagi para musafir (orang yang tengah bepergian) dan orang yang tinggal. Betapa sering turunnya hujan dan salju justru menimbulkan kesusahan, sebagaimana firman Allah - - :




Jika engkau mendapat kesusahan karena hujan. (Qs. An-Nisa: 102).

Betapa banyak fenomena panas, dingin, dan angin justru menjadi wabah penyakit yang menjangkiti berbagai jenis binatang. Maka, kenikmatan dunia yang terbesar adalah makan, minum, menikah, berpakaian, dan mendapat jabatan. Sementara itu, mayoritas atau bahkan seluruh penyakit yang diderita penduduk bumi justru berasal dari hal tersebut.

Lebih dari itu, kebutuhan manusia yang bersifat tersier pun baru dapat diraih setelah bersusah payah dan bersakit-sakit terlebih dahulu, seperti ilmu, keberanian, zuhud, harga diri, kebijaksanaan, nama baik, kesabaran, dan kebajikan. Ini sebagaimana yang diungkap dalam syair berikut:

Andai bukan karena kesusahan, pasti
Manusia, seluruhnya, memiliki pengaruh
Kedermawanan dicari-cari, ke sana ke mari
Hingga keberanian pun mampu membunuh


Maka jika rasa adalah faktor penyebab yang mendatangkan kelezatan, bahkan yang memperbesar dan melanggengkannya, tentu akal yang sehat bisa menerima dan mencernanya. (Syifa'ul 'Alil, hal.498).

Ibnul Qayyim - melanjutkan, Bisa jadi Allah menghalangi seseorang untuk mendapatkan kenikmatan yang terbesar lantaran ditimpa berbagai hal yang tidak disukainya. Tapi hal itu justru menjadi jembatan yang mengantarkan pada kesuksesan merengkuhnya. Begitu pula bisa jadi Allah menghalangi seseorang dari tertimpa kesusahan sebab bergelimang syahwat dan kelezatan. Namun hal ini justru menjadi jalan bagi kegagalannya menggapai kebahagiaan.

Oleh sebab inilah, semua orang yang berakal mengatakan: Kenikmatan dan kenyamanan tak akan mungkin bisa dicapai dengan kenikmatan dan kenyamanan pula. Bukti bahwa seseorang pasti akan mendapatkan kelezatan adalah hilangnya kelezatan itu sendiri dari dirinya. Maka, rasa sakit, kesulitan, dan kesusahan adalah nikmat yang terbesar. Sebab, ia adalah faktor penyebab yang mendatangkan kenikmatan.
Bahkan, hal ini juga dirasakan oleh hewan, makhluk yang tidak terkena pembebanan kewajiban. Di sela-sela musim panas, musim dingin, paceklik, hujan, dan perjuangan dalam mengandung serta melahirkan, ia justru mendapatkan banyak maslahat dan manfaat.

Lebih dari itu, kelezatan yang ia rasakan justru berlipat-lipat, jika dibandingkan dengan rasa sakit yang menerpanya. Begitu juga manfaat dan kebaikan yang ia dapatkan jauh lebih besar ketimbang rasa susah dan keburukan yang menimpanya. Maka, hukum dan perintah Allah yang berlaku pada makhluklah yang mengharuskan kesempurnaan ilmu, hikmah, dan kebesaran-Nya.

Andaikata semua orang berakal berkumpul untuk mencari gagasan yang lebih baik, tentu mereka semua akan gagal. Maka katakanlah kepada mereka: Coba tinjau ulang cara berpikir akal kalian, siapa tahu ada yang salah.




Pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali tanpa ada cacat dan dalam keadaan payah. (Qs. Al-Mulk: 4).

Maka, atas kesempurnaan hikmah dan kekuasaan Allah-lah hal yang saling berlawanan bisa saling bermunculan. Ada hidup yang muncul dari kematian, dan sebaliknya. Ada basah yang muncul dari kekeringan. Begitu pula sebaliknya. Ada kelezatan yang muncul dari rasa sakit dan rasa sakit muncul dari kelezatan. Maka, kelezatan yang terbesar adalah apa yang dihasilkan dari rasa sakit. Begitu pula sebaliknya, rasa sakit yang terberat adalah apa yang dihasilkan dari kelezatan.

Begitulah. Maka yang harus diperhatikan ialah bahwa kelezatan dan kebahagiaan, kebaikan dan kenikmatan, sehat dan afiyat serta rahmat, di dunia yang penuh dengan ujian dan cobaan ini jauh lebih banyak dan berlipat-lipat daripada lawannya masing-masing. Penderitaan, rasa sakit, haus, lapar, dan capek yang dialami hewan jauh lebih sedikit dibandingkan rasa senang, sehat, kenyang, dan kenyamanan yang didapatnya. (Syifa'ul 'Alil, hal. 499-500).

Berikut ini diuraikan beberapa hikmah yang lain secara ringkas:

1. Melahirkan 'ubudiah (ibadah) pada saat kesulitan berupa kesabaran

Allah berfirman,




Dan Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Hanya kepada Kami-lah engkau dikembalikan. (Qs. Al-Anbiya: 35).

Ujian (dari Allah) yang berupa kegembiraan dan kebaikan harus disikapi dengan syukur. Sementara ujian yang berupa kesusahan dan keburukan haruslah disikapi dengan kesabaran.

Semua ini terjadi kerena Allah membalikkan keadaan para hamba. Sehingga terlihatlah kejujuran pengabdian kepada Allah Ta'ala yang dimilikinya. Nabi - -bersabda,




Urusan orang yang beriman itu menakjubkan. Bahkan seluruh urusannya adalah kebaikan. Hal itu hanya akan terjadi pada seseorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur ; maka hal itu baik baginya. Tapi, jika mendapatkan kesusahan, ia bersabar ; maka hal ini pun baik baginya. (HR. Muslim).

2. Kebersihan hati dan terbebas dari sifat-sifat buruk

Hal ini terjadi, karena sehat adakalanya justru mendorong kepada keburukan, kesombongan, kagum dengan diri sendiri; disebabkan merasa giat, kuat, tentram keadaannya, dan hidupnya menyenangkan. Maka jika ia dibatasi dengan ujian dan sakit, jiwanya akan menangis, hatinya akan menjadi lembut dan bersih dari noda-noda akhlak tercela serta sifat-sifat buruk, seperti: sombong, congkak, 'ujub (kagum dengan diri sendiri), dengki, dan lainnya. Sebagai gantinya, ia memperoleh ketundukan kepada Allah, menangis di hadapan-Nya, tawadhu' (rendah hati) dan tidak congkak terhadap manusia.

Al-Munbaji - - berkata, "Orang yang tertimpa musibah hendaknya mengetahui bahwa seandainya tidak ada ujian dan berbagai musibah dunia niscaya manusia tertimpa penyakit sombong, 'ujub, congkak, dan keras hati, yang merupakan sebab kebinasaannya, cepat atau lambat. Di antara rahmat sebaik-baik Dzat Yang Maha Penyayang ialah Allah menurunkan berbagai macam obat berupa musibah, yang akan melindungi manusia dari penyakit-penyakit tersebut, memelihara kebenaran ibadahnya, serta mengenyahkan berbagai unsur yang merusak, hina dan membinasakan. Mahasuci Allah yang memberi rahmat dengan ujian-Nya (berupa bencana) dan menguji dengan berbagai kenikmatan-Nya. Ini sebagaimana dikatakan:

Adakalanya Allah memberi nikmat dengan bencana, meskipun besar
dan Allah pun menguji pula dengan berbagai kenikmatan


Seandainya Allah - - tidak mengobati hamba-hamba-Nya dengan ujian dan cobaan, niscaya mereka melampaui batas, lalim, angkuh, congkak, dan membuat kerusakan. Karena di antara kebusukan jiwa, jika telah mendapatkan kekuasaan (memerintah dan melarang), kesehatan, peluang, dan mampu mengatakan apa saja tanpa ada penghalang syar'i adalah meraja lela dan bertindak merusak. Padahal, ia mengetahui apa yang dialami orang-orang terdahulu. Maka, seperti apa jadinya seandainya mereka dibiarkan?

Tetapi ketika Allah - - menghendaki kebaikan kebaikan pada hamba-Nya, Dia - - meminumkan obat cobaan dan ujian menurut kadar keadaan hamba tersebut. Sebuah obat yang akan mengeluarkan penyakit-penyakit berbahaya dari dirinya. Sehingga ketika ia telah dibersihkan dan dijernihkan, ia ditempatkan pada derajat dunia yang paling mulia, yaitu beribadah kepada-Nya dan dinaikkan pada pahala akhirat yang tinggi, yaitu melihat-Nya. (Tasliyah Ahli Masha-ib, hal.25).

3. Menguatkan orang yang beriman

Hal ini karena musibah tak ubahnya latihan untuk orang Mukmin (orang yang beriman), ujian bagi kesabarannya, dan faktor yang menguatkan keimanannya.

4. Menyaksikan kekuasaan rububiyah dan ketundukan 'ubudiyah

Karena seseorang tidak bisa lari dari Allah - - sekaligus qadha', hikmah-Nya yang berlaku, dan ujian-Nya. Kita adalah hamba Allah; Allah memperlakukan kita sebagaimana yang Dia - - suka dan kehendaki. Kita kembali kepada-Nya dalam segala urusan kita. Kepada-Nya tempat kembali, Yang mengumpulkan kita di hari kebangkitan.

5. Meraih keikhlasan dalam berdoa dan kejujuran dalam bertaubat

Sebab, musibah itu membuat manusia dapat merasakan kelemahan dan kefakiran dirinya di hadapan Rabbnya. Kemudian hal itu mendorongnya untuk memiliki keikhlasan dalam berdoa, ketundukan yang sangat, kebutuhan, kejujuran dalam bertaubat, dan kembali kepada-Nya.

Seandainya bukan karena musibah-musibah ini, niscaya manusia tidak akan pernah terlihat di depan pintu perlindungan dan kehinaan. Allah mengetahui kelalaian manusia kepada-Nya, maka Dia - - menguji mereka melalui nikmat-nikmat tersebut dengan berbagai gangguan yang mendorong mereka untuk menuju pintu-Nya dan meminta pertolongan kepada-Nya. Jadi ini adalah kenikmatan yang terbungkus ujian. Ujian yang murni ialah yang melalaikanmu dari Rabb-mu.

Sufyan bin 'Uyainah - berkata, Apa yang tidak disukai hamba adalah lebih baik baginya daripada apa yang disukainya. Karena apa yang tidak disukai mendorongnya untuk berdoa, sedangkan apa yang disukainya justru melenakannya. (al-Faraj Ba'da asy-Syiddah, hal.22). Wallahu A'lam.

(Redaksi)

Sumber:


Al-Iman Bil Qadha' Wal Qadar, Muhammad bin Ibrahim al-Hamd (ei, hal : 165-171).

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatannur&id=882