Artikel : aqidah Islam - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits - ,

Prinsip-Prinsip Dasar Keimanan
oleh :

TAK SATU PUN TERLINTAS

Sekecil dalam pandang, semua berada dalam ilmu Allah Subhanahu wa Taala. Selirih dalam dengar, tidak terlepas dari pengetahuan-Nya. Sedalam hati perkara tersembunyi, tetap benderang tanpa samar dalam ilmu-Nya. Karena Allah Subhanahu wa Taala Dzat Yang Maha Mengetahui. Tahu apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, yang akan terjadi, dan yang tidak akan terjadi, seandai pun yang terakhir ini terjadi Dia pun tahu persis bagaimana dan bentuk kejadian itu nantinya. ( Lihat, an-Nahjul Asma, Muhammad al-Hamud an-Najdi, 1/218).

Inilah kesempurnaan ilmu Allah Subhanahu wa Taala. Karena itu,

1. Dia adalah al-Aalim ( ), yang berilmu, memiliki pengetahuan akan sesuatu, tidak ada kekurangan dalam ilmunya berupa lupa atau kebodohan.




Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. (QS. al-Hasyr: 22).




Dan Tuhanmu tidak lupa. (QS. Maryam: 64).

2. Dia pula al-Aliim ( ), Yang Maha Mengetahui, ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, tanpa diawali belajar dan diajarkan.




Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. (QS. Luqman: 23).




Dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu. (QS. ath-Thalaq: 12).

Adapun ilmu manusia sangatlah sedikit, belum lagi ia berproses dari pengajaran dan belajar. Tanpa proses ini manusia sangatlah bodoh dan kosong pengetahuan.




Sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit. (QS. al-Isra: 85).


(31)


Dan Dia (Allah) mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, Sebutkan kepada-Ku nama semua benda ini, jika kamu yang benar! Mereka menjawab, Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana. (QS. al-Baqarah: 31-32).

3. al-Allam ( ), yang memiliki beragam ilmu, pengetahuan yang tidak terbatas, yang tidak akan pernah dijamah oleh ilmu manusia.




Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwa Allah mengetahui segala yang ghaib? (QS. at-Taubah: 78).




Dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. (QS. al-Baqarah: 255).







Dia (Allah) Yang Maha Mengetahui, ilmu-Nya meliputi Segala apa yang ada di alam, baik yang dirahasiakan atau diterangkan
Ilmu-Nya Dzat Yang Mahasuci meliputi segala sesuatu
Maka Dia pun meliputinya dan tidak pernah lupa
Seperti Dia mengetahui apa yang akan terjadi esok
Apa yang telah terjadi dan apa yang ada saat ini
Juga perkara yang belum terjadi, andai itu terjadi (Dia tahu)
Bagaimana kejadian itu nantinya, itulah perkara yang memungkinkan

(Lihat al-Qashidah an-Nuniyah, Ibnul Qayyim, hal 205).




Dan kunci-kunci semua yang ghaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya, tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. al-Anam: 59)

As-Sadi berkata, Dialah yang ilmu-Nya meliputi hal-hal yang nampak maupun tersembunyi, yang dirahasiakan maupun diterangkan, yang wajib terjadi, mustahil terjadi maupun berpotensi terjadi, yang ada di alam yang tinggi maupun yang rendah, yang telah berlalu, sedang terjadi maupun akan terjadi, maka tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya. (Lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, as-Sadi, hal 945).

BEBAS MEMILIH

Ada akal pilihan bisa dicerna, ada hati memilih dalam bijak. Kelebihan yang satu ini hanya dititipkan kepada manusia, tidak yang lain. Mahasuci Allah yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan. Ada kebaikan ada keburukan, masing-masing memiliki jalan, tiapnya bermuara pada satu titik yang berbeda; surga atau neraka, nikmat atau azab. Apa pun pilihan itu, semua akan tersingkap pada muaranya. Karena itu, jangan salah memilih, pelihara hati dalam ketaatan, tuntun akal dalam keimanan, sebelum tiba hari tanpa pilihan, yang ada tinggal pertanggungjawaban.




Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. at-Taubah: 105).




Lakukanlah apa yang kamu kehendaki! Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Fushilat: 40).

TIAP PILIHAN BERESIKO

Dunia adalah penjara bagi orang beriman, surga bagi orang kafir. (HR. Muslim no. 7606.) Lelah dalam beragam batasan, persisi bagai penjara. Tapi ketika kaki menapaki surga, sirna kelelahan itu, saat itulah kebebasan bermula dalam kebaikan tanpa bertepi. Ini jalan orang beriman.

Sebaliknya, kematian menjadi pintu yang mengantarkan orang-orang kafir menuju penjara yang sesungguhnya, neraka, saat itulah penyesalan tanpa arti, himpitan, sengsara dan siksa tiada henti. Ini jalan mereka orang-orang kafir.

Tidak ada yang samar dari kedua pilihan itu. Tiapnya sudah terang dengan diutusnya para rasul. Sehingga saat semua dibuka, seribu satu hujjah manusia bagai debu-debu yang terhempas angin. Tidak satu pun terzalimi dan merugi. Sehingga jangan salah dalam melangkah. Karena tidak ada satu pun yang terlintas lepas dalam ilmu Allah Subhanahu wa Taala. Semua akan dihadirkan, baik atau buruk, sekecil apa pun, manusia tidak kuasa berlepas diri darinya.




Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus. (QS. an-Nisa: 165).

Menakar sebelum melangkah, berfikir sebelum berkata, awali hari dengan merenung dan doa, akhiri hari dengan instropeksi dan istighfar. Karena semua akan diperhitungkan.




Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit, sekali pun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan. (QS. al-Anbiya: 47). Wallahu A`lam. (Saed as-Saedy, Lc.).

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=indexaqidah&id=1§ion=aq001