Artikel : Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits
Apakah Keyakinan Ini Boleh ?
Selasa, 03 Oktober 23
***
Soal :

Penanya, dengan inisial S,A, Sha, dari Yaman bertanya,

Kita mengetahui bahwa diriwayatkan dari Nabi- bahwa beliau bersama para shahabatnya shalat Subuh di Hudaibiyah, di mana pada malam harinya turun hujan. Lalu, setelah beliau salam, beliau menghadapkan dirinya kepada para sahabatnya, dan mengatakan kepada mereka, Tahukah kalian apa yang telah difirmankan Rabb kalian ? Mereka menjawab : Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Beliau bersabda, Sesungguhnya Dia telah berfirman, Memasuki waktu pagi, ada di antara para hamba-Ku yang beriman kepada-Ku dan (ada pula) yang kafir terhadap-Ku. Maka, barang siapa mengatakan, Kita diberi hujan karena karunia Allah dan rahmat-Nya maka sungguh ia telah memasuki waktu pagi dalam keadaan ia beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang-bintang itu. Dan, barang siapa mengatakan, Kita diberi hujan karena bintang demikian, maka dia beriman dengan bintang dan kafir kepada-Ku. [1]. Dan, di zaman ini, mereka mengatakan, Sesungguhnya hujan merupakan hasil dari penguapan air laut ...dan seterusnya, maka siapakah yang dapat mengetahui hakikat hal tersebut ? dan apakah keyakinan ini boleh ? dan apa dalilnya dari Kitab (al-Quran) dan sunnah atas pendapat tersebut ?.

Jawab :

Syaikh- menjawab,

Perkataan penanya, Kita ketahui bahwa diriwayatkan dari Nabi- - , yang benar untuk dikatakan, Sesungguhnya telah valid dari Nabi- -, karena perkataan, diriwayatkan dari Nabi- -maknanya, melemahkan hadis tersebut, padahal hadis tertebut valid, yaitu bahwa Rasulullah- - dan para sahabatnya shalat Subuh di mana di malam harinya turun hujan. Lalu, setelah beliau- -menyeselesaikan shalatnya, beliau- -menghadapkan diri kepada mereka, dan mengatakan, Tahukah kalian apa yang telah difirmankan Rabb kalian ? Mereka menjawab : Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Beliau bersabda, Sesungguhnya Dia telah berfirman, Memasuki waktu pagi, ada di antara para hambaku yang beriman kepada-Ku dan (ada pula) yang kafir terhadap-Ku. Maka, barang siapa mengatakan, Kita diberi hujan karena karunia Allah dan rahmat-Nya maka sungguh ia telah memasuki waktu pagi dalam keadaan ia beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang-bintang itu. Dan, adapun barang siapa mengatakan, Kita diberi hujan karena bintang demikian dan demikian, maka dia kafir kepada-Ku dan beriman dengan bintang-bintang itu.

Barang siapa mengatakan, Kita diberi hujan karena karunia Allah dan rahmat-Nya. maka ia seorang mukmin (orang yang beriman) kepada Allah- -, karena ia mengakui kerunia itu milik Allah- - dan bahwa hujan ini termasuk bekas karunia-Nya dan rahmat-Nya- -, dan inilah dia hal yang wajib atas setiap orang muslim, yaitu, ia harus menyandarkan kenikmatan-kenikmatan itu kepada penciptanya dan pemberinya, yaitu Allah- -.

Dan tidak mengapa seseorang menyandarkan kenikmatan tersebut kepada sebabnya yang valid secara syari atau hissi (yang dapat diindera), hanya saja apabila ia menyandarkannya kepada sebabnya yang valid secara hissi atau syari, maka ia tidak menyandarkan nikmat tersebut kepada sebab dengan digabungkan bersama Allah dengan menggunakan huruf (yang berarti, dan.), tetapi ia menyandarkan kenikmatan tersebut kepada sebabnya dengan digabungkan bersama Allah dengan menggunkan huruf (yang berarti, Kemudian.) atau (menyandarkannya) kepada sebabnya semata.

Maka, kalau seseorang menyelamatkan seseorang yang akan tenggelam, maka di sini tidak lepas dari beberapa keadaan :

Pertama, Ia (orang yang terselamatkan) mengatakan, Allah menyelamatkanku dengan sebab tangan fulan, dan ini adalah keadaan yang paling utama.

Kedua, ia (orang yang terselamatkan) mengatakan, Allah menyelamatkanku, kemudian (dengan sebab) si fulan, ini boleh, dan ini lebih rendah keadaannya dari yang pertama.

Ketiga, ia (orang yang terselamatkan) mengatakan, Fulan telah menyelamatkan aku dan ia berkeyakinan bahwa fulan merupakan sebab (keselamatan) semata, dan bahwa perkara seluruhnya kembali kepada Allah- -. Ini boleh. Hal yang menunjukkan akan kebolehannya adalah bahwa Nabi- ketika beliau mengkhabarkan tentang pamannya Abu Thalib bahwa ia berada di Dhah-dhaah (tempat yang dekat dengan bagian dasar) Neraka dan dia mengenakan sandal, yang menyebakan otaknya mendidih-kita berlindung kepada Allah- Nabi- bersabda,




Kalaulah bukan karena aku, niscaya ia berada pada tingkatan yang paling bawah dari Neraka.[2]

Keempat, ia (orang yang terselamatkan) mengatakan, Allah dan si Fulan telah menyelamatkan aku. Ini tidak boleh. Karena ia menyekutukan sebab bersama Allah- -dengan menggunakan huruf yang berkonsekwensi penyamaan, yaitu huruf (yang bermakna, dan). Dalil hal itu, bahwa ada seseorang mengatakan kepada beliau- -,




Apa yang Allah dan kamu kehendaki.

Maka, Nabi- -mengatakan (kepada orang itu),




Apakah kamu menjadikan aku dan Allah sebagai sesuatu yang sama ?. Tetapi, apa yang Allah kehendaki saja.[3]

Maka, air yang turun, tidak diragukan bahwanya hal itu karena karunia Allah- -dan rahmat-Nya, dan dengan ketentuan-Nya dan takdir-Nya. Akan tetapi, Allah- -menjadikan beberapa sebabnya, sebagaimana Allah- -mengisyaratkan kepada hal tersebut dengan firman-Nya,


[ : 48]


Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan..(ar-Ruum : 48). Dia berfirman, (Dia mengirimkan lalu angin itu menggerakkan), Dia - - menyandarkan pergerakan kepada angin Karena hal itu merupakan sebab pergerakan ini.




Lalu angin itu menggerakan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki (Ruum : 48).

Maka, tidak mengapa penyandaran sesuatu kepada sebabnya yang dibarengi dengan keyakinan bahwa hal itu merupakan sebab semata, dan bahwa pembuat/pencipta sebab tersebut adalah Allah- - .

Adapun sabda Rasul- -(yang diriwayatkannya) dari Allah- -, Bahwa barang siapa mengatakan, Kita diberi hujan karena bintang demikian dan demikian, maka ia kafir terhadap-Ku beriman dengan bintang-biintang. Hal ini karena menyandarkan sesuatu kepada sebab yang tidak benar, karena bintang itu bukanlah sebab untuk turunnya hujan. Jadi, bintang bukanlah dia yang menarik turunnya hujan, dan sejatinya tak ada kaitan antara bintang dengan hujan. Oleh kerena itu, terkadang banyak turun hujan pada saat kemunculan satu jenis bintang dari berbagai macam jenis bintang dalam satu tahun, namun sedikit pada tahun lainnya, dan nyaris tidak ada pada tahun lainnya lagi. Dan, boleh jadi, sebaliknya.

Jadi, bintang-bintang itu tidak memberikan pengaruh dalam hal turunnya hujan. Oleh karena itu, penyandaran hujan kepadanya merupakan salah satu bentuk dari kesyirikan, karenanya jika seseorang berkeyakinan bahwa bintang itu menimbulkan turunnya hujan dengan sendirinya selain Allah- -, maka yang demikian itu merupakan kesyirikan dalam rububiyah, sebuah kesyirikan yang besar yang dapat mengeluarkan (seseorang yang berkeyakinan demikian itu) dari agama ini. Maka, ini satu sisi dari firman Allah- -yang diriwayatkan dari-Nya oleh Nabi-Nya- -,

Barang siapa berkata, Kita diberi hujan karena bintang demikian dan demikian, maka yang demikian itu ia kafir kepada-Ku, beriman kepada bintang-bintang.

Adapun sesuatu yang telah masyhur bahwa hujan-hujan itu terjadi disebabkan karena adanya penguapan air laut dan yang lainnya, maka ini, jika benar, maka sesungguhnya hal itu tidaklah menafikan apa yang telah Allah- -sebutkan di dalam al-Quran, karena bisa saja penguapan air ini kemudian digerakkan oleh angin hingga naik ke angkasa, kemudian Allah- -membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki, kemudian Allah- -menururunkan hujan dengannya.

Dan, ini merupakan persoalan yang dapat dirujuk kepada ahli ilmu di bidang ini. Lalu, jika hal itu valid, maka kita katakan, Uap air yang naik dari laut, yang menciptakannya adalah Allah- -, dan yang menjadikan uap itu naik ke angkasa hingga menurunkan hujan adalah Allah (pula), dan hal tersebut tidaklah menafikan apa yang datang di dalam al-Quran apabila benar secara ilmiyah. Wallahu Alam

Sumber :

Fatawa Nur Ala ad-Darb, Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, 1/122-123 (soal no : 91)

Catatan :

[1] HR. al-Bukhari : kitab al-Adzan, bab : yas-taq-bilu al-Imamu an-Naasa Idza Sallama, no (846), Muslim : kitab al-Iman, bab : Bayanu Kufri Man Qala : Muthirna Bi-an-Nau-i, no. (71)

[2] HR. al-Bukhari : Kitab Manaqib al-Anshar, bab : Qishshatu Abi Thalib, no. (3883) Muslim : kitab al-Iman, bab : Syafaah an-Nabiyy Li Abi Thalib, no. 209

[3] HR. Ahmad, 1/214





Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatfatwa&id=1952