***
Soal :
Pertanyaan berikut ini dikirimkan oleh beberapa orang dengan inisial masing-masing S. W. dan M. dari Hadhramaut, bahwa ahli ilmu (para ulama) mengatakan : sesungguhnya doa itu terbagi menjadi dua macam ; (pertama) doa ibadah dan (kedua) doa masalah (permintaan). Pertanyaannya, apakah yang dimaksudkan dengan masing-masing dari kedua macam doa tersebut ?
Jawab :
Syaikh ÑóÍöãóåõ Çááåõ menjawab :
Para ulama ÑóÍöãóåõ Çááåõ memaksudkan dengan pembagian doa menjadi dua macam ; yaitu (pertama) doa masalah dan (kedua) doa ibadah, apa yang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì sebutkan di dalam firman-Nya,
æóÞóÇáó ÑóÈøõßõãõ ÇÏúÚõæäöí ÃóÓúÊóÌöÈú áóßõãú Åöäøó ÇáøóÐöíäó íóÓúÊóßúÈöÑõæäó Úóäú ÚöÈóÇÏóÊöí ÓóíóÏúÎõáõæäó Ìóåóäøóãó ÏóÇÎöÑöíäó [ÛÇÝÑ : 60]Dan Tuhanmu berfirman : "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Ghafir : 60)
Jadi, doa masalah (permintaan) adalah : kamu meminta kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì – hajat-hajatmu, dengan engkau mangatakan (misalnya), ‘wahai Rabbku, ampunilah aku, rahmatilah aku, berikanlah rizki kepadaku, berilah afiyat kepadaku, tamballah kekuranganku, dan yang lainnya.
Adapun doa ibadah, yaitu engkau beribadah kepada Allah ÊóÈóÇÑóßó æóÊóÚóÇóáóì dengan apa-apa yang disyariatkan-Nya, (seperti) engkau mengerjakan shalat, engkau berzakat, engkau berpuasa dan engkau berhaji serta engkau mengerjakan kebaikan. Karena hal-hal ini yang engkau lakukan untuk beribadah kepada Allah ÊóÈóÇÑóßó æóÊóÚóÇóáóì tidaklah dimaksudkan kecuali untuk mendapatkan keridhaan Allah ÊóÈóÇÑóßó æóÊóÚóÇóáóì dan pahala-Nya, maka sejatinya ia (orang yang melakukan hal-hal tersebut) adalah orang yang berdoa kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dengan lisanul hal-nya bukan dengan lisanul maqal (ucapan lisan), disamping bahwa sebagian dari ibadah-ibadah yang dilakukannya ini mengandung juga doa masalah (doa permintaan), seperti shalat misalnya, karena di dalam ibadah shalat orang yang mengerjakan shalat mengatakan :
ÇåúÏöäóÇ ÇáÕøöÑóÇØó ÇáúãõÓúÊóÞöíãó [ÇáÝÇÊÍÉ : 6]Tunjukanlah kami jalan yang lurus (al-Fatihah : 6)
Ini adalah doa masalah (doa permintaan).
Orang yang shalat juga mengatakan, ‘ ÑóÈøö ÇÛúÝöÑúáöí ‘ (wahai Rabbku, ampunilah aku). Ini adalah doa masalah (doa permintaan).
Orang yang shalat juga mengatakan :
ÇóáÓøóáóÇãõ Úóáóíúßó ÃóíøõåóÇ ÇáäøóÈöíøõSemoga keselamatan tercurahkan kepada engkau wahai Nabi
ÇóáÓøóáóÇãõ ÚóáóíúäóÇ æóÚóáóì ÚöÈóÇÏö Çááåö ÇáÕøóÇáöÍöíúäóSemoga keselamatan tercurahkan kepada kita dan kepada para hamba Allah yang shalih.
Çóááøóåõãøó Õóáøö Úóáóì ãõÍóãøóÏòYa Allah, bershalawatlah kepada Muhammad
Çóááøóåõãøó ÈóÇÑößú Úóáóì ãõÍóãøóÏòYa Allah, limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad
ÃóÚõæúÐõ ÈöÇááåö ãöäú ÚóÐóÇÈö ÌóåóäøóãóAku berlindung kepada Allah dari siksa neraka Jahannam.
Ini semuanya adalah doa masalah (doa permintaan)
Jadi, dengan demikian perbedaan antara keduanya (doa masalah dan doa ibadah) adalah bahwa doa masalah (doa permintaan) adalah seseorang meminta kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì sesuatu secara langsung, baik ia meminta agar mendapatkan sesuatu yang dimintanya atau pun meminta kepada-Nya keselamatan dari sesuatu yang ia lari darinya.
Sedangkan doa ibadah adalah seseorang menunaikan ibadah kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dengan sesuatu yang disyariatkan-Nya, karena mengharapkan pahala-Nya dan takut dari hukuman-Nya (atau siksa-Nya).
Inilah makna pembagian para ulama ÑóÍöãóåõãõ Çááåõ mengenai macam doa di atas (doa masalah dan doa ibadah).
Dan kita telah mengetahui bahwa doa itu sendiri merupakan bentuk ibadah, sebagaimana ditunjukkan oleh ayat yang telah saya bacakan, yaitu firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
æóÞóÇáó ÑóÈøõßõãõ ÇÏúÚõæäöí ÃóÓúÊóÌöÈú áóßõãú Åöäøó ÇáøóÐöíäó íóÓúÊóßúÈöÑõæäó Úóäú ÚöÈóÇÏóÊöí ÓóíóÏúÎõáõæäó Ìóåóäøóãó ÏóÇÎöÑöíäó [ÛÇÝÑ : 60]Dan Tuhanmu berfirman : "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Ghafir : 60)
Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì tidak mengatakan : Úóäú ÏõÚóÇÆöí “dari berdoa kepada-Ku” , dan ini menunjukkan bahwa doa itu merupakan ibadah.
Dan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,
æóáöáøóåö ÇáúÃóÓúãóÇÁõ ÇáúÍõÓúäóì ÝóÇÏúÚõæåõ ÈöåóÇ [ÇáÃÚÑÇÝ : 180]Hanya milik Allah asmaa-ul husna (nama-nama yang terindah), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu.
Dan doa kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dengan menggunakan nama-nama-Nya yang terindah, mengandung permintaan kepada-Nya dengan menggunakan nama-nama yang terindah tersebut. Misalnya (ungkapan permohonan), íóÇ ÛóÝõæúÑõ ÇöÛúÝöÑúáöí (Wahai Dzat yang Maha Pengampun, ampunilah aku) dan íóÇ ÑóÍöíúãõ ÇöÑúÍóãúäöí (Wahai Dzat yang Maha penyayang, sayangilah aku).
Dan, beribadah kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì memuat hal-hal yang menjadi konsekwensinya. Maka, apabila kita telah mengetahui bahwa Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì adalah Dzat yang Maha Pengampun, maka hendaknya kita melakukan apa-apa yang akan menjadi sebab untuk memperoleh ampunan. Begitu pula, apabila kita telah mengetahui bahwa Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì adalah Maha Penyayang, maka hendaknya kita melakukan apa-apa yang akan menjadi sebab untuk mendapatkan kasih sayang. Dan begitu pula, apabila kita telah mengetahui bahwa Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì adalah Dzat yang Maha Memberi rizki, maka hendaknya kita melakukan apa-apa yang akan menjadi sebab mendapatkan rizki. Dan begitu setrusnya.
Wallahu A’lam
Sumber :
Fatawa Nur ‘Ala ad-Darb, Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, Jilid 1, hal. 88-89, soal : 51.