Artikel : Fiqih - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

AHKAM JANA'IZ

Senin, 12 Juli 10


Dianjurkan bagi setiap muslim untuk mengingat kematian, bersiap-siap menghadapinya dengan bertaubat dari segala maksiat, mengembalikan harta orang lain yang diambil secara zhalim dan segera melakukan amal shalih sebelum maut datang menjemput padahal persiapan belum memadahi.

Nabi shallallohu 'alaihi wasallam bersabda,



Banyak-banyaklah mengingat penghancur kenikmatan. Diriwayatkan oleh Imam yang lima.

Di Saat Sakit

Hendaknya bersikap tabah, mengharapkan pahala kepada Allah, tidak merasa gundah gulana atau kecewa terhadap takdir dan ketetapan Allah. Boleh saja memberitahukan penyakitnya atau jenis penyakit yang dideritanya itu kepada orang lain, tapi dengan tetap ridha terhadap ketetapan Allah.

Mengadu kepada Allah dan memohon kesembuhan dariNya tidak berlawanan dengan sikap tabah. Bahkan menurut syariat, itu dituntut dan dianjurkan.

Nabi Ayyub alaihissalam juga memanggil Rabbnya seperti disebutkan dalam firman Allah,


Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, (Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang. (Al-Anbiyaa : 83)

Hendaknya disadari bahwa sakit tidak mendekatkan kepada kematian sebagaimana sehat juga tidak menjauhkan dari kematian, karena pangkal perkaranya adalah ajal yang ditetapkan oleh Allah. Hendaknya tidak berharap mati bila ujiannnya berlangsung lama, karena ia termasuk putus asa yang dilarang, disamping itu kematian belum tentu membawa kebaikan, lebih baik memohon kebaikan dalam segala kondisi.

Berobat

Diperbolehkan berobat menggunakan obat-obatan yang mubah. Bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa berobat itu hukumnya ditekankan, sehingga nyaris wajib.

Banyak hadits menyebutkan keabsahan hukum sebab musabab dan perintah untuk berobat. Bahwa berobat itu tidak berlawanan dengan tawakal. Sama halnya dengan makan dan minum untuk menangkal rasa lapar dan haus.

Namun, tidak boleh berobat dengan sesuatu yang haram, berdasarkan hadits Abu Dawud dari Abu Hurairah secara marfu,




Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat, dan menciptakan obat untuk setiap penyakit. Maka berobatlah. Namun jangan berobat dengan yang haram. Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud no. 3874.

Boleh berobat dengan ruqyah, yaitu bacaan dari al-Quran atau hadits atau ucapan yang tidak mengandung syirik kepada penderita, berdasarkan hadits Auf bin Malik,



Perlihatkan ruqyah kalian kepadaku. Tidak mengapa ruqyah selama tidak mengandung syirik. Diriwayatkan oleh Muslim.

Haram berobat dengan menggunakan sesuatu yang dapat merusak akidah, seperti menggunakan ajimat dan sejenisnya yang dikenakan di lengan atau di bagian tubuh lainnya.

Nabi shallallohu 'alaihi wasallam melihat gelang kuningan di tangan seorang laki-laki, beliau bertanya,


: , :

Apa ini? Dia menjawab, Penangkal sakit. Nabi bersabda, Buanglah, karena ia hanya menambah kelemahan pada dirimu. Bila kamu mati sementara gelang ini masih ada padamu, niscaya kamu tidak akan beruntung selamanya. Diriwayatkan oleh Ahmad dari Imran bin Hushain. Wallahu alam.
(Izzudin Karimi)
Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatfiqih&id=190