Artikel : Hadits - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Ancaman Dari Riya Dan Apa Yang Diucapkan Oleh Orang Yang Takut Kepada Sesuatu

Selasa, 16 Juni 20

Ancaman Dari Riya Dan Apa Yang Diucapkan Oleh Orang Yang Takut Kepada Sesuatu

(22) 1 : Shahih

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dia berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,


ǡ : ǿ : . : :

. : ǿ : : : :

: ǿ : : :


Sesungguhnya manusia pertama yang diputuskan perkaranya pada Hari Kiamat adalah seorang laki-laki yang mati syahid, dia dihadapkan, lalu Allah menunjukkan kenikmatan-kenikmatanNya kepadanya, maka dia pun mengenalnya. Allah bertanya, Apa yang telah kamu lakukan padanya? Orang itu menjawab, Aku berperang karenaMu sehingga aku mati syahid. Allah berfirman, Kamu dusta, akan tetapi kamu berperang agar dikatakan fulan pemberani dan itu telah dikatakan. Kemudian diperintahkan (agar dia diseret di atas wajahnya), lalu dia pun diseret di atas wajahnya sehingga dia dicampakkan ke dalam neraka.

Dan seorang laki-laki yang belajar dan mengajarkan ilmu serta membaca al-Quran, dia dihadapkan, lalu Allah menunjukkan kenikmatan-kenikmatanNya kepadanya, maka dia pun mengenalnya. Allah bertanya, Apa yang telah kamu lakukan padanya? Orang itu menjawab, Aku belajar dan mengajarkan ilmu serta membaca al-Quran karenaMu. Allah berfirman, Kamu dusta, akan tetapi kamu belajar agar kamu dipanggil alim dan kamu membaca al-Quran agar dipanggil qari dan itu telah dikatakan. Kemudian diperintahkan (agar dia diseret di atas wajahnya), lalu dia pun diseret di atas wajahnya sehingga dia dicampakkan ke dalam neraka.

Dan seorang laki-laki yang dilapangkan hidupnya oleh Allah, dan Dia memberinya bermacam-macam harta, dia dihadapkan, lalu Allah menunjukkan kenikmatan-kenikmatanNya kepadanya, maka dia pun mengenalnya. Allah bertanya, Apa yang telah kamu lakukan padanya? Orang itu menjawab, Tidak ada jalan di mana Engkau ingin diinfakkan padanya kecuali aku berinfak padanya demi Engkau. Allah berkata, Kamu dusta, akan tetapi kamu melakukan itu agar dikatakan dia itu dermawan, dan itu telah dikatakan. Kemudian diperintahkan (agar dia diseret di atas wajahnya), lalu dia pun diseret di atas wajahnya sehingga dia dicampakkan ke dalam neraka.


Diriwayatkan oleh Muslim dan an-Nasai.

Dan diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan dia menghasankannya, Ibnu Hibban dalam Shahihnya, keduanya dengan lafazh yang sama(1) dari al-Walid bin al-Walid, Abu Utsman al-Madini bahwa Uqbah bin Muslim menyampaikan kepadanya bahwa Syufai al-Ashbahi menyampaikan kepadanya, Bahwasanya dia datang ke Madinah, dia mendapatkan seorang laki-laki yang dikerumuni oleh banyak orang, dia bertanya, Siapa dia? Abu Hurairah, Jawab orang-orang. Dia berkata, Lalu aku mendekat kepadanya sehingga aku duduk di hadapannya, sementara dia terus menyampaikan hadits kepada orang-orang. Ketika dia telah selesai dan menyendiri, aku berkata kepadanya, Aku memohon kepadamu dengan kebenaran dan dengan kebenaran, Anda belum menyampaikan kepadaku sebuah hadits yang Anda dengar dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang kamu pahami dan kamu ketahui. Abu Hurairah berkata, Baiklah, sungguh aku akan menyampaikan kepadamu sebuah hadits yang telah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepadaku, yang aku pahami dan aku ketahui. Kemudian Abu Hurairah menarik nafas panjang lagi berat sampai hampir pingsan. Kami diam, kemudian dia tersadar. Dia berkata, Sungguh aku akan menyampaikan kepadamu sebuah hadits yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepadaku pada saat aku dan beliau di rumah ini, tidak ada orang lain selain aku dan beliau. Kemudian Abu Hurairah menarik nafas panjang lagi berat. Kemudian dia tersadar dan mengusap wajahnya. Dia berkata, Baiklah, sungguh aku akan menyampaikan kepadamu sebuah hadits yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepadaku pada saat aku dan beliau di rumah ini, tidak ada orang lain selain aku dan beliau. Kemudian Abu Hurairah menarik nafas lebih berat dan panjang lalu dia terjatuh(2) di atas wajahnya, aku menahannya cukup lama. Kemudian dia tersadar, dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan kepadaku,


: : : : : : :

: : : : . : :

: : ! : : : :

: ! .

: ǡ : : . : ǡ ǡ : . : : .


Bahwa sesungguhnya pada Hari Kiamat Allah Yang Mahasuci lagi Mahatinggi turun(3) kepada para hamba untuk memberi keputusan di antara mereka, dan masing-masing umat berlutut. Orang-orang yang pertama kali dipanggil adalah orang yang menghafal al-Quran, orang yang terbunuh di jalan Allah, dan orang yang berharta melimpah. Allah berfirman kepada qari (yang pandai baca al-Quran), Bukankah Aku telah mengajarkan kepadamu apa yang telah Aku turunkan kepada RasulKu? Dia menjawab, Benar wahai Rabbku. Allah bertanya, Apa yang kamu lakukan terhadap apa yang diajarkan kepadamu? Dia menjawab, Aku membacanya di tengah malam dan siang. Allah berfirman kepadanya, Kamu dusta. Para malaikat juga berkata kepadanya, Kamu dusta. Allah Yang Mahasuci lagi Mahatinggi berfirman, Akan tetapi kamu ingin agar dikatakan, fulan adalah seorang qari dan itu telah dikatakan.

Pemilik harta melimpah didatangkan, Allah Azza wa Jalla berfirman kepadanya, Bukankah Aku telah melapangkan hidupmu(4) sampai kamu tidak memerlukan seseorang pun? Dia menjawab, Benar ya Rabbi. Allah bertanya, Lalu apa yang kamu lakukan terhadap pemberianKu? Dia menjawab, Aku menjalin hubungan silaturahim dan bersedekah. Allah berfirman kepadanya, Kamu dusta. Para malaikat juga berkata kepadanya, Kamu dusta. Allah Yang Mahasuci lagi Mahatinggi berfirman, Akan tetapi kamu ingin agar dikatakan, fulan dermawan dan itu telah dikatakan.

Orang yang terbunuh di jalan Allah dihadirkan. Allah bertanya kepadanya, Dalam rangka apa kamu terbunuh? Dia menjawab, Ya Rabbi, Engkau memerintahkan berjihad di jalanMu, lalu aku berperang sehingga aku terbunuh. Allah berfirman kepadanya, Kamu dusta. Malaikat pun berkata kepadanya, Kamu dusta. Allah berfirman, Akan tetapi kamu ingin agar dikatakan fulan pemberani, dan itu telah dikatakan.

Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memukul lututku lalu bersabda, Wahai Abu Hurairah, tiga orang itu adalah makhluk Allah pertama yang api Neraka dinyalakan disebabkan mereka pada Hari Kiamat.


Al-Walid Abu Utsman al-Madini berkata, Uqbah memberitakan kepadaku bahwa Syufailah yang datang kepada Muawiyah dan memberitakan ini kepadanya. Abu Utsman berkata, Dan al-Ala` bin Abu Hakim menceritakan kepadaku bahwa dia adalah algojo Muawiyah, dia berkata, Lalu seorang laki-laki datang kepadanya dan menyampaikan ini kepadanya dari Abu Hurairah. Muawiyah berkata, Mereka telah diperlakukan demikian, lalu bagaimana dengan manusia-manusia yang lain? Kemudian Muawiyah menangis dengan keras sampai kami mengira dia celaka. Kami berkata, Orang ini telah datang kepada kami membawa keburukan. Kemudian Muawiyah tersadar dan mengusap wajahnya. Dia berkata, Allah dan RasulNya benar, Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali Neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (Hud: 15-16).

Dan diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya seperti ini, tidak berbeda kecuali dalam satu atau dua huruf.

Ucapannya () dengan jim dibaca fathah, ra dibaca kasrah dan mad, artinya pemberani.

() dengan nun dan syin yang kedua-duanya dibaca fathah lalu ghain, yakni, menarik nafas sampai hampir pingsan karena sedih atau takut.

(23) 2: Shahih

Dari Ubay bin Kaab radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,


ǡ


Sampaikan berita gembira kepada umat ini bahwa mereka akan meraih kemuliaan, agama, ketinggian (kejayaan), dan kekuasaan di muka bumi. Barangsiapa di antara mereka yang melakukan amal akhirat demi dunia, maka di akhirat dia tidak memperoleh bagian apa-apa.

Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Hibban dalam Shahihnya, al-Hakim, dan al-Baihaqi. Al-Hakim berkata, Sanadnya shahih.

Dalam riwayat lain milik al-Baihaqi, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,


ǡ


Sampaikan berita gembira kepada umat ini bahwa mereka akan men-dapatkan kemudahan, kemuliaan, dan ketinggian(5) dengan agama dan ke-kuasaan di bumi serta kemenangan. Barangsiapa di antara mereka melaku-kan amal akhirat demi dunia, maka di akhirat dia tidak memperoleh bagian apa-apa.

(24) -3 : Shahih

Dari Abu Hindin ad-Dari radhiyallahu anhu, bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,




Barangsiapa yang berbuat karena ingin dilihat (riya`) dan ingin didengar (sumah), niscaya Allah akan memperlihatkan dan memperdengar-kan (niat) orang itu pada Hari Kiamat.

Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad baik (jayyid) dan al-Baihaqi.

(25) 4 : Shahih

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu anhuma, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,




Barangsiapa yang memperdengarkan amalnya kepada manusia, niscaya Allah akan memperdengarkan (niat)nya pada pendengaran seluruh makhlukNya dan Dia menghinakan dan merendahkannya.

Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mujam al-Kabir dengan sanad-sanad yang salah satunya shahih, dan al-Baihaqi.(6)

(26) 5 : Shahih

Dari Jundub bin Abdullah radhiyallahu anhu, dia berkata, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,




Barangsiapa yang memperdengarkan (amalnya), niscaya Allah akan memperdengarkan (niat)nya, dan barangsiapa yang memamerkan (amalnya) niscaya Allah akan memamerkan (niat)nya.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.

() Dengan mim ditasydid, maknanya adalah: Barangsiapa menampakkan amalnya kepada manusia karena riya (ingin dilihat), maka Allah memperlihatkan niatnya yang rusak pada amalnya itu pada Hari Kiamat dan mempermalukannya di hadapan seluruh makhlukNya.

(27) 6 : Shahih Lighairihi

Dari Auf bin Malik al-Asyjai radhiyallahu anhu, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,




Barangsiapa yang beramal karena ingin dilihat orang, niscaya Allah akan memperlihatkan (niat)nya, dan barangsiapa yang beramal karena ingin didengar orang, maka Allah akan memperdengarkan (niat)nya.

Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dengan sanad hasan.

(28) -7: Shahih Lighairihi

Dari Muadz bin Jabal radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda,




Tidaklah seorang hamba yang beramal di dunia di atas pijakan sumah dan riya` melainkan Allah akan memperdengarkan (niat)nya pada Hari Kiamat di hadapan (pandangan) makhluk-makhlukNya.

Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dengan sanad hasan.

(29) 8 : Shahih Mauquf

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, dia berkata,


: ǿ!


Barangsiapa yang memamerkan sesuatu dari amalnya di dunia, maka Allah akan mewakilkannya kepada orang yang melihatnya itu pada Hari Kiamat dan berfirman, Lihatlah apakah orang ini dapat memberimu sesuatu?'

Diriwayatkan oleh al-Baihaqi secara mauquf.(7)

(30) 9 : Hasan

Dari Rubaih bin Abdurrahman bin Abu Said al-Khudri, dari bapaknya, dari kakeknya, dia berkata,


: : . :


Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendatangi kami, sedangkan kami pada saat itu sedang membicarakan al-Masih ad-Dajjal, maka beliau bersabda, Maukah kalian aku beritahu sesuatu yang menurutku lebih aku khawatirkan terhadap kalian dari al-Masih ad-Dajjal? Kami menjawab, Tentu ya Rasulullah. beliau bersabda, Syirik yang samar, yaitu seseorang mendirikan shalat, lalu dia memperindah shalatnya karena merasa ada orang yang melihat shalatnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan al-Baihaqi.

() dengan ra dibaca dhammah, ba dibaca fathah, setelahnya adalah ya dan huruf terakhir adalah ha tanpa titik. Pembahasan tentangnya akan hadir, insya Allah.

(31) 10 : Hasan

Mahmud bin Labid radhiyallahu anhu, dia berkata, Nabi shallallahu alaihi wasallam keluar(8) lalu bersabda,


! . : ! :


Wahai sekalian manusia, jauhilah syirik yang tersembunyi. Para sahabat bertanya, Ya Rasulullah, apa itu syirik yang tersembunyi? Beliau bersabda, Seorang laki-laki mendirikan shalat lalu dia bersungguh-sungguh memperindah shalatnya karena dia mengetahui ada orang yang melihatnya, itulah syirik yang tersembunyi.

Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah di dalam Shahihnya.

(32) -11 : Shahih

Dari Mahmud bin Labid radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,


. : : : ǡ ǡ


Sesungguhnya perkara yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil. Para sahabat bertanya, Apa itu syirik kecil ya Rasulullah? Beliau menjawab, Riya`. Apabila Allah Azza wa Jalla telah membalas manusia sesuai dengan amal perbuatan mereka, Dia berfirman, Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian pamerkan (amal-amal kalian) ke-pada mereka sewaktu di dunia, maka lihatlah, adakah kalian mendapatkan balasan di sisi mereka?'

Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad baik, Ibnu Abi ad-Dunya, al-Baihaqi dalam az-Zuhd, dan lain-lainnya.

Al-Hafizh berkata, Mahmud bin Labid radhiyallahu anhu pernah melihat Nabi shallallahu alaihi wasallam, tetapi dia tidak mendengar darinya secara sah menurutku. Abu Bakar bin Khuzaimah meriwayatkan hadits Labid di dalam Shahihnya padahal sedikitpun dia tidak meriwayatkan hadits-hadits mursal dalam kitabnya tersebut, Ibnu Abi Hatim menyebutkan bahwa al-Bukhari berkata, Dia adalah seorang sahabat, dan dia berkata, Ayahku berkata, Dia tidak dikenal sebagai sahabat. Ibnu Abdil Bar menyatakan bahwa yang rajih adalah bahwa dia seorang sahabat. Ad-Daruquthni meriwayatkannya dengan sanad baik (jayyid) dari Mahmud bin Labid dari Rafi bin Khudaij. Dan dikatakan bahwa hadits Mahmud adalah benar tanpa Rafi bin Khudaij pada (sanad)nya. Wallahu alam.

(33) 12 : Hasan

Dari Abu Said bin Abu Fadhalah radhiyallahu anhu dia termasuk sahabat dia berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,


:


Apabila Allah mengumpulkan orang-orang pertama dan terakhir pada Hari Kiamat, hari yang tidak ada keraguan padanya, seorang penyeru berseru, Barangsiapa telah menyekutukan Allah dengan seseorang dalam amalnya, maka hendaknya dia meminta pahala kepadanya, karena Allah adalah Yang paling tidak membutuhkan persekutuan.

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam Kitab at-Tafsir dari Sunan-nya(9), Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam Shahihnya, dan al-Baihaqi.

(34) 13 : Shahih

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,


:


Allah Azza wa Jalla berfirman, Aku adalah Yang paling tidak membutuhkan persekutuan, maka barangsiapa beramal untukKu dengan suatu amal, sementara dia menyekutukanKu dengan selainKu padanya, maka Aku berlepas diri darinya, dan ia milik yang dia sekutukan.(10)

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah -dan lafazh hadits ini adalah lafazhnya,- Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya, dan al-Baihaqi. Dan rawi-rawi Ibnu Majah adalah tsiqat.

(35) 14 : Shahih

Al-Baihaqi meriwayatkan dari Yala bin Syaddad dari bapak-nya, dia berkata,




Kami menganggap riya` sebagai syirik kecil pada masa Nabi shallallahu alaihi wasallam.(11)



Catatan Kaki:

1. Di kitab induk dan lainnya tertulis, dan dari, ini salah. Darinya muncul persoalan yaitu kesalahan athaf (penggabungan) di akhir riwayat ini dengan ucapannya, dan diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah Sebab ucapan sebelumnya dan ucapan sesudahnya yang hendak digabungkan kepadanya tidak disebutkan. Dan sebenarnya at-Tirmidzi dan Ibnu Hibbanlah yang disebutkan di akhir riwayat pertama, manakala keduanya dipisahkan dari riwayat ini dengan mendatangkan wawu (dan) yang menunjukkan athaf (penggabungan), maka muncullah persoalan itu. Persoalan ini akan hilang jika kita membuang wawu (dan) seperti yang telah kami jelaskan.
2. (--), jika terjatuh dari atas ke bawah dan ( ) dengan kasrah.
3. Aku berkata, Turunnya Allah ini adalah turun secara hakiki sesuai dengan kebesaran dan kesempurnaanNya, ia merupakan sifat fi`il (perbuatan) Allah, jangan ditakwilkan seperti yang dilakukan oleh para khalaf karena Anda akan tersesat.
4. () Dengan wawu dibaca sukun dan tanpa tasydid yakni membuatmu kaya. An-Naji.
5. Penggabungan antara kemuliaan dengan ketinggian adalah penggabungan tafsir, sebab kemuliaan adalah ketinggian, maknanya adalah kedudukan dan tempat yang tinggi di sisi Allah.
6. Saya berkata, Dan juga Ahmad no. 6509, 6986, 7085, cetakan Ahmad Syakir.
7. Didhaifkan oleh tiga orang yang bodoh itu karena kebodohan (mereka).
8. Di sini para pemberi taliq yang tiga orang itu menambahkan, kepada kami (), dan tambahan ini sama sekali tidak terdapat di dalam Shahih Ibnu Khuzaimah. Dan sekalipun demikian, mereka, karena kejahilan mereka tidak menguatkan hadits ini, bahkan mereka menyatakannya memiliki illat (cacat) sebagai hadits mursal. Bagaimana pernyataan illat ini dapat dibenarkan ditambah dengan adanya tambahan ini? Hanya itulah batas ilmu mereka. Dan yang lebih menguatkan (pernyataan) ini adalah bahwa mereka menghasankan hadits Mahmud bin Labid yang akan datang setelah ini.
9. Saya berkata, Dia berkata, Hadits hasan.
10. Ini adalah penegasan terhadap penolakan, jika tidak maka ia adalah amal yang batil.
11. Aku berkata, diriwayatkan oleh al-Hakim (4/329), dia berkata,Shahih. Dan disetujui oleh adz-Dzahabi, dan hadits ini seperti yang mereka berdua katakan. Seandainya penulis menisbatkannya kepadanya, niscaya itu lebih layak. Hadits ini termasuk bukti buruknya cetakan kitab ini di tangan tiga orang tersebut, mereka tidak meletakkan nomor khusus untuknya demi membedakannya dengan hadits Syahr yang dhaif yang hadir sebelum ini pada kitab cetakan versi mereka, di bawahnya mereka menukil tambahanku ini atas penulis tanpa menisbatkannya kepadaku.

Referensi:

SHAHIH AT-TARGHIB WA AT-TARHIB (1) Hadits-hadits Shahih tentang Anjuran & Janji Pahala, Ancaman & Dosa; Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani; Darul Haq, Jakarta, Cet. V, Dzulhijjah 1436 H. / Oktober 2015 M.

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihathadits&id=412