Artikel : Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits
KEMBALI KEPADA AL QURAN DAN ASSUNNAH DENGAN PEMAHAMAN SALAFUL UMMAH
Rabu, 02 Oktober 13


ǡ .

.

.

.

.

. .

.

Jamaah Jumah arsyadakumullah

Dari atas mimbar ini, saya wasiatkan kepada diri saya pribadi dan kepada seluruh jamaah yang hadir, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah, dengan tidak bosan untuk selalu mengoreksi langkah-langkah kita dalam menjalani kehidupan di dunia fana ini, sudah sesuaikah dengan petunjuk yang diberikan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam .

Jamaah Jumuah arsyadakumullah

Bila kita cermati keadaan kita, kita dapati, krisis ekonomi dan berbagai krisis yang mendera bangsa kita tak kunjung berakhir. Angka kejahatan di masyarakat kita -dari hari ke hari- semakin meningkat. Pencurian, perampokan, penjarahan, perkosaan dan berbagai bentuk kejahatan lainnya setiap harinya menghiasi halaman-halaman surat kabar dan media massa lainnya. Kebebasan ummat Islam untuk melaksanakan syariat Allah pun dirampas. Kiranya inilah dzull, kehinaan yang ditimpakan oleh Allah kepada kita, seperti disabdakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam .

. (͡ ).


Jika kalian sudah berdagang dengan inah, rela dengan pertanian, mengikuti ekor-ekor sapi (ternak) dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menguasakan kehinaan pada kalian yang tidak diangkat kehinaan tersebut sampai kalian kembali kepada dien kalian. (Hadist shahih riwayat Ahmad, Abu Daud, Al-Baihaqi, dan yang lain).

Hadis ini memberitahukan kepada kita bahwa kehinaan yang menimpa kita bahwasanya disebabkan oleh kesalahan-kesalahan yang kita perbuat.

Jamaah Jumah arsyadakumullah

Hari ini, kita telah jauh dihanyutkan oleh kecintaan kepada kehidupan dunia. Dan di dalam hati kita pun tiada lagi tempat untuk menggelorakan semangat juang, berjihad fi sabilillah.

Jamaah Jumah arsyadakumullah

Tidak ada makhraj, jalan keluar dari semua kehinaan yang meliputi kita kecuali dengan kembali kepada dien kita, Islam.

Ketika cabang-cabang Islam sudah tidak terpelihara, sudah lama ditinggalkan, berarti akarnya pun rapuh. Maka, kembali kepada Islam berarti kembali kepada akarnya, kembali mengokohkan pondasinya, Al-Quran dan As-Sunnah. Seperti dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

. ( ).



Dien kaum muslimin dibangun atas dasar; Mengikuti Kitabullah, Sunnah RasulNya dan kesepakatan para imam (Ijma). Ini adalah tiga pokok landasan yang maksum.

Jamaah Jumah arsyadakumullah

Ada satu fenomena yang mencengangkan sekaligus membingungkan. Jika kita menyimak apa yang disampaikan oleh para khatib, para dai atau pun penceramah yang rajin tampil di televisi, radio atau surat kabar, mereka semua mengaku mengajak ummat ini kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Hanya saja apa yang mereka sampaikan pada kenyataannya sering bertentangan antara yang satu dengan yang lainnya. Dan kita pun jadi bingung, mana di antara mereka yang benar-benar kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Sebab tidak mungkin Al-Quran dan As-Sunnah memerintahkan sekaligus melarang satu amalan tertentu.

Sebenarnyalah, keadaan ini persis seperti yang disampaikan oleh sahabat Abdullah bin Masud radhiyallahu 'anhu .

. ( ).



Kalian akan menemui golongan-golongan yang mengaku mengajak kalian kepada Kitabullah, padahal mereka menaruhnya di belakang punggung mereka. Maka kalian harus berilmu dan jangalah berbuat bidah, janganlah berlebih-lebihan dalam beramal atau pun perkataan dan berpeganglah kepada para pendahulu (salaf). (HR. Al-Lalikaiy).

Sungguh, sahabat Abdullah bin Masud adalah sahabat yang sangat paham terhadap Kalamullah dan Sunnah Nabi shallallohu 'alaihi wasallam. Sebab Allah berfirman:

[/100]

Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.

(At-Taubah: 100).

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa Allah telah meridhai para sahabat Muhajirin dan Anshar. Makanya Allah ridha terhadap aqidah mereka, perkataan mereka dan perbuatan mereka. Selanjutnya Allah menjelaskan bahwa Dia juga meridhai orang-orang yang mau mengikuti mereka dengan baik. Mengikuti mereka dalam artian meyakini aqidah mereka, mengamalkan dan tidak menyelisihi pendapat mereka dan mencontoh sikap dan perbuatan mereka. Jannah, Surga yang abadi telah Allah janjikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

. ( ).

Sebaik-baik manusia adalah pada masaku kemudian masa setelahku, kemudian masa setelah itu, kemudian datang suatu kaum yang kesaksiannya mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului kesaksiannya.

(HR. Ahmad, Al-Bukhari dan Muslim)

Jamaah Jumah arsyadakumullah

Hadits di atas memberikan jaminan, sebaik-baik manusia, dalam segala hal adalah generasi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam atau para sahabat, kemudian generasi tabiin dan kemudian generasi tabiut tabiin. mereka adalah sebaik-baiknya manusia; aqidahnya, perkataannya, dan perbuatannya. Merekalah salafus shalih, yang pantas kita jadikan sebagai suri tauladan.

Asy-Syabi, salah seorang seorang tabiin berpesan:

. ( ).


Berpeganglah kepada peninggalan para salaf walaupun karenanya kamu ditolak oleh orang banyak, jauhilah pendapat para tokoh, walaupun mereka menghiasi perkataan mereka.

Jamaah Jumah arsyadakumullah

Maka jelaslah sudah bahwa memahami Al-Quran dan As-Sunnah yang benar adalah memahami keduanya dengan metode dan pemahaman para salaf us shalih.

.



Khutbah Kedua

. .


.



Jamaah Jumah arsyadakumullah


Pada khutbah yang kedua ini marilah kita hayati apa yang disampaikan oleh sahabat Abdullah bin Masud radhiyallahu 'anhu . Beliau berkata:

. ( 4/139).

Barangsiapa yang akan mengikuti seseorang hendaklah ia mengikuti para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam . Karena sesungguhnya hati mereka adalah sebaik-baik hati manusia. Ilmu mereka adalah sedalam-dalam ilmu manusia. Mereka paling sedikit bebannya (tidak mengada-ada urusan yang memberatkan diri), paling lurus jalan (hidup)nya dan paling baik keadaan (akhlaq)nya. Suatu kaum yang dipilih oleh Allah untuk menjadi sahabat NabiNya dan menegakkan dienNya, maka ketahuilah keutamaan mereka dan ikutilah atsar-atsarnya (jejak langkahnya) karena sungguh mereka berada di atas jalan yang lurus.

Marilah kita akhiri khutbah ini dengan memohon kepada Allah.

. .

. .

.

.

.

ǡ ǡ

ǡ .

.

. .



Oleh: Imtihan Syafii

(Sumber: Dikutip dari buku "Kumpulan Khutbah Jumat Pilihan Setahun," Edisi Pertama, Darul Haq, Jakarta)


Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatkhutbah&id=314