Secara astronomi, hamburan cahaya matahari di akhir malam mulai terlihat pertama kali ketika matahari berada pada posisi sekitar (-18°) di bawah ufuk; adapun pada posisi di bawah itu atau lebih malam lagi maka belum terlihat hamburan cahaya itu.
Awal kemunculan hamburan cahaya di langit ini dinamakan sebagai Fajar Kadzib yang datang mendahului Fajar Shadiq. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda terkait dengan Fajar Kadzib dan Fajar Shodiq ini,
áóíúÓó ÇáúÝóÌúÑõ ÇáúãõÓúÊóØöíúáõ Ýöíú ÇáÃõÝõÞö æóáóßöäóøåõ ÇáúãõÚúÊóÑöÖ ÇáÃóÍúãóÑ
“Bukanlah fajar itu cahaya yang meninggi di ufuk (yakni fajar kadzib), akan tetapi (fajar shadiq)yang membentang berwarna merah (putih kemerah-merahan) .” (HR. Ahmad; hadits hasan, lihat takhrijnya di Bayan al-Fajr as-Shadiq, Syaikh Abul Fadhl Umar ibn Mas’ud al-Hadusy).
Juga hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
æßõáõæúÇ æÇÔúÑóÈõæÇ æóáÇó íóåúÏöäóøßõãõ ÇáúÓóÇØöÚõ ÇáúãõÕúÚöÏõ ÝßõáõæúÇ æÇÔúÑóÈõæÇ ÍóÊóøì íóÚúÊóÑöÖó áóßõãõ ÇáÃÍúãóÑõ
“Makan dan minumlah, janganlah cahaya yang menjulang tinggi ke atas mengganggumu (menghalangimu dari makan dan minum)(yakni fajar kadzib); makan dan minumlah hingga nampak membentang pada kalian garis merah (yakni fajar shadiq).” (HR. at-Tirmidzi: 705, Abu Dawud: 2348, Silsilah ash-Shahihah, 5/52 no. 2031)
Penjelasan selengkapnya dapat diakses dalam versi download. Semoga bermanfaat