Artikel : Al-Quran - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Tafsir Surat Ali Imran Ayat 121 - 129

Senin, 19 Oktober 20

Tafsir Surat Ali Imran Ayat 121 - 129

(Persiapan Perang Uhud)


Allah Subhanahu wa Taala berfirman,


(121) (122) (123) (124) (125) (126) (127) (128) (129).


TERJEMAHAN

3:121 Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu, akan menempatkan para Mukmin di beberapa tempat untuk berperang. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,

3: 122 ketika dua golongan darimu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Oleh karena itu, hendaklah karena Allah saja orang-orang Mukmin bertawakal.

3: 123 Sungguh Allah telah menolongmu dalam perang Badar, padahal kamu (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.

3: 124 (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang Mukmin, Apakah tidak cukup bagimu Allah membantumu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit).

3: 125 Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerangmu dengan seketika itu juga, niscaya Rabbmu menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.

3: 126 Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tentram hatimu karenanya. Dan tidaklah kemenanganmu itu melainkan dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

3: 127 (Allah menolongmu dalam perang Badar dan memberi bantuan itu) untuk membinasakan segolongan orang-orang yang kafir, atau untuk menjadikan mereka hina, lalu mereka kembali dengan tiada memperoleh apa-apa.

3: 128 Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang zhalim.

3: 129 Kepunyaan Allah sesuatu yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dia memberi ampun kepada siapa yang Dia kehendaki dan Dia menyiksa siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.



TAFSIR AYAT

AL-MUKHTASHAR FIT TAFSIR:


121. Ingatlah, wahai Nabi, manakala sebagian orang-orang Mukmin menyelisihi perintah Allah dan RasulNya, dan hal itu terjadi saat kamu keluar dari Madinah untuk berperang melawan orang-orang musyrik di perang Uhud, di mana kamu menempatkan orang-orang Mukmin pada posisi-posisi mereka untuk berperang, kamu menjelaskan posisi setiap prajurit, dan Allah Maha Mendengar perkataan-perkataan kalian dan Maha Mengetahui perbuatan-perbuatan kalian.

122. Ingatlah, wahai Nabi, apa yang terjadi pada dua golongan dari orang-orang Mukmin, yaitu Bani Salimah dan Bani Haritsah, manakala mereka melemah dan bermaksud untuk pulang saat orang-orang munafik pulang, dan Allah menolong mereka dengan meneguhkan mereka untuk meneruskan peperangan dan memalingkan mereka dari keinginan mereka. Hanya kepada Allah semata sepatutnya orang-orang Mukmin bertawakal dalam segala keadaan mereka.

123. Sungguh Allah telah memenangkan kalian atas orang-orang musyrik di perang Badar, padahal jumlah kalian sedikit dan perlengkapan kalian terbatas, maka bertakwalah kepada Allah agar kalian mensyukuri nikmat-nikmatNya kepada kalian.

124. Ingatlah, wahai Nabi, manakala kamu berkata kepada orang-orang Mukmin untuk meneguhkan mereka di perang Badar setelah mereka mendengar pasukan bala bantuan untuk orang-orang musyrik, "Apakah tidak cukup bagi kalian bila Allah membantu kalian dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan dari sisiNya Taala untuk menguatkan kalian dalam perang kalian?"

125. Benar, itu cukup untuk kalian. Dan untuk kalian kabar gembira dengan pertolongan Allah yang lain, yaitu bila kalian bersabar dalam perang dan kalian bertakwa kepada Allah, dan bala bantuan datang kepada musuh kalian saat itu juga dengan bergegas kepada kalian, bila hal itu terjadi, maka Tuhan kalian akan menolong kalian dengan lima ribu malaikat yang ditandai dengan tanda yang jelas pada mereka dan pada kuda-kuda mereka.

126. Allah tidak menjadikan pertolongan dan bantuanNya dengan mengirimkan malaikat-malaikat tersebut kecuali sebagai berita gembira bagi kalian yang dengannya hati kalian menjadi tenang, karena bila tidak, maka kemenangan sejati tidak sekedar dengan sebab-sebab lahir ini, akan tetapi kemenangan sejati adalah dari sisi Allah yang Mahaperkasa yang tidak dikalahkan oleh siapa pun, juga Mahabijaksana dalam ketetapan takdir dan ketetapan syariatnya.

127. Kemenangan yang terwujud untuk kalian di perang Badar ini, dengannya Allah bermaksud membinasakan sekelompok orang dari orang-orang kafir dengan pembunuhan dan menghinakan kelompok yang lain dan membuat mereka jengkel karena kekalahan, lalu mereka pun pulang dengan membawa kekalahan dan kehinaan.

128. Manakala Rasul berdoa agar keburukan menimpa para tokoh kaum musyrikin sesudah apa yang terjadi pada mereka di medan Perang Uhud, Allah berfirman kepada beliau, "Kamu tidak memiliki kewenangan apa pun dalam urusan mereka, akan tetapi urusan tersebut ada di tangan Allah, karena itu bersabarlah hingga Allah memberikan keputusanNya di antara kalian, atau Allah membimbing mereka untuk bertaubat lalu mereka masuk Islam, atau mereka tetap bersikukuh di atas kekafiran mereka sehingga Allah mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang zhalim yang berhak mendapatkan azab."

129. Hanya milik Allah apa yang ada di langit dan di bumi dari sisi penciptaan dan pengaturannya, Allah mengampuni dosa-dosa siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambaNya dengan rahmatNya dan mengazab siapa yang Dia kehendaki dengan keadilanNya. Dan Allah Maha Pengampun bagi siapa yang bertaubat dari hamba-hambaNya dan Maha Penyayang kepada mereka.


TAFSIR AS-SADI:

(121) Itu adalah pada perang Uhud ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam pergi bersama kaum Muslimin, di saat kaum musyrikin dengan kelompok mereka telah sampai pada tempat yang dekat dari Uhud, lalu beliau menempatkan mereka pada posisi mereka masing-masing, mengatur mereka secara tertib pada kedudukan mereka dengan suatu pengaturan yang sangat cemerlang, yang menunjukkan akan kematangan pikirannya dan kemahirannya yang sempurna dalam urusan siasat perang, sebagaimana beliau sempurna dalam segala tindakan, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Me-ngetahui, maksudnya, tidak ada sesuatu pun dari urusan kalian yang tersembunyi dariNya.

(122) Ketika dua golongan darimu ingin (mundur) karena takut, mereka itu adalah Bani Salimah dan Bani Haritsah, akan tetapi Allah menolong mereka disebabkan kasih sayangNya, perlindunganNya, dan bimbinganNya. Oleh karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang Mukmin bertawakal, karena bila mereka bertawakal kepadaNya, niscaya Allah akan mencukupi, menolong mereka, dan melindungi mereka dari tertimpa oleh sesuatu yang dapat memudaratkan bagi agama dan dunia mereka.

Dalam ayat ini dan yang semisalnya mengandung hukum kewajiban bertawakal dan bahwa sebesar keimanan seseorang maka sebesar itu pulalah tawakalnya. Dan tawakal itu adalah bersandarnya seorang hamba kepada Rabbnya dalam memperoleh manfaat dan menolak mudarat dari dirinya.

Dan tatkala Allah menyebutkan tentang keadaan mereka dalam perang Uhud dan apa yang terjadi pada mereka berupa musibah, maka Allah juga menyebutkan pertolongan Allah dan nikmatNya atas mereka pada perang Badar, agar mereka bersyukur kepada Rabb mereka dan agar hal itu dapat meringankan kejadian pada perang Uhud tersebut. Lalu Allah berfirman,

(123) Dan ingatlah ketika Allah telah menolongmu dalam perang Badar, padahal kamu (ketika itu) orang-orang yang lemah dari segi jumlah dan perlengkapan kalian. Saat itu kaum Muslimin berjumlah tiga ratus sekian belas dengan kuda yang sedikit dan senjata yang usang, padahal musuh mereka hampir mencapai seribu pasukan, dengan perlengkapan senjata yang mumpuni, karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuriNya, Yang telah memberikan karuniaNya atas kalian dengan pertolonganNya.

(124) (Ingatlah), ketika kamu mengatakan seraya memberikan kabar gembira kepada kaum Mukminin demi meneguhkan hati mereka, Apakah tidak cukup bagimu Allah membantumu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?

(125) Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa, dan mereka datang menyerangmu dengan seketika itu juga, maksudnya, turunnya mereka (para malaikat tersebut) adalah dalam kondisi seperti ini, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda, yaitu, mengajarkan tanda-tanda para pemberani.

Para ulama berbeda pendapat tentang pertolongan itu, apakah dengan para malaikat secara langsung ikut berperang sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama, atau pertolongan itu berupa peneguhan dari Allah bagi hamba-hambaNya yang mukmin, dan menjatuhkan rasa takut pada hati kaum musyrikin sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian besar ahli tafsir, yang dapat menjadi dasarnya adalah Firman Allah,

(126) Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tentram hatimu karenanya. Dan tidaklah kemenanganmu itu melainkan dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Dalam hal ini, seorang hamba tidak boleh bersandar kepada sebab-sebab, akan tetapi dia harus bersandar kepada Allah, sedangkan terjadinya sebab-sebab itu semata-mata merupakan ketenangan bagi hati dan keteguhan atas kebaikan.

(127) (Allah menolongmu dalam perang Badar dan memberi bala bantuan itu), untuk membinasakan segolongan orang-orang yang kafir, atau untuk menjadikan mereka hina lalu mereka kembali dengan tiada memperoleh apa-apa, maksudnya, pembelaan Allah terhadap hamba-hambaNya yang mukmin tidaklah melebihi batas dari sekedar membinasakan sekelompok dari kaum kafir atau mereka kembali dengan kemarahan di hati mereka dalam keadaan tidak mendapatkan kebaikan, sebagaimana Allah memulangkan mereka pada perang Khandaq setelah mereka datang dengan niat bulat dan kekuatan, lalu Allah mengembalikan mereka dengan kemarahan di hati mereka dan kesia-siaan.

(128) Ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam tertimpa musibah pada perang Uhud hingga gigi depan beliau patah, kepala beliau terluka, beliau bersabda,




[]p[Bagaimana (mungkin) akan beruntung suatu kaum yang telah melukai wajah Nabi mereka dan memecahkan giginya. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim).

Maka Allah menurunkan ayat di atas, dan menjelaskan bahwa segala urusan itu milik Allah dan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak memiliki wewenang sedikit pun, karena beliau hanyalah seorang hamba dari hamba-hamba Allah, sedang mereka semuanya ada di bawah penghambaan kepada Rabb, mereka itu adalah yang diatur, bukan yang mengatur. Dan mereka yang telah engkau doakan keburukan wahai Rasul, atau yang telah engkau mustahilkan mendapatkan petunjuk dan keberuntungan, bila Allah menghendaki, niscaya Dia mengampuni mereka, dan memberi mereka taufik masuk ke dalam Islam, dan itu telah dilakukan olehNya, karena mayoritas dari orang-orang tersebut telah diberi hidayah oleh Allah sehingga mereka masuk Islam. Dan bila Allah kehendaki, Dia pun akan menyiksa mereka karena mereka adalah orang-orang yang zhalim yang berhak mendapatkan hukuman dan siksa dari Allah.

(129) Allah Taala mengabarkan bahwa Dia-lah yang mengatur segala alam yang di langit maupun di bumi. Dan bahwasanya Allah memberi taubat kepada siapa yang dikehendakiNya lalu mengampuninya, dan menghinakan siapa yang dikehendakiNya sehingga Dia menyiksanya.

Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Maka di antara sifatNya yang pasti adalah kesempurnaan ampunan dan kasih sayang, dan adanya tuntutan dari kesempurnaan itu pada penciptaan dan pengaturan, maka Dia mengampuni orang-orang yang bertaubat dan memberikan kasih sayangNya kepada orang yang melaksanakan sebab-sebab yang mengharuskannya mendapatkan kasih sayang, Allah berfirman,



[r/]

Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat. (Ali Imran: 132).


REFERENSI:

1. Tafsir Al-Quran (1) Surat: Al-Fatihah Ali Imran, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sadi, Darul Haq, Jakarta, Cet. VII, Syaban 1436 H / Juni 2015 M.
2. Tafsir Al-Quran Terjemah al-Mukhtashar fi at-Tafsir, Para Pakar Tafsir, Darul Haq, Jakarta.

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatquran&id=336