Artikel : Al-Quran - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Tafsir Surat Ali Imran Ayat 130 136

Senin, 02 Nopember 20

Allah Subhanahu wa Taala berfirman:


(130) (131) (132) (133) (134) (135) (136)


TERJEMAHAN

3:130 Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.

3:131 Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan bagi orang kafir.

3:132 Dan taatlah kepada Allah dan Rasul (Muhammad), agar kamu diberi rahmat.

3:133 Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,

3:134 (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan,

3:135 dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.

3:136 Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal.


TAFSIR AYAT

AL-MUKHTASHAR FIT TAFSIR:


Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti RasulNya, jauhilah tindakan mengambil riba yang berlipat ganda terhadap pokok harta kalian yang kalian hutangkan, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah. Bertakwalah kepada Allah dengan melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, agar kalian meraih apa yang kalian inginkan berupa kebaikan di dunia dan di akhirat.

Jadikanlah sebuah tameng antara kalian dengan neraka yang Allah siapkan untuk orang-orang yang kafir kepadaNya, dan hal itu dengan melakukan amal-amal shalih dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan.

Taatilah Allah dan RasulNya dengan melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya agar kalian meraih rahmat Allah di dunia dan di akhirat.

Bersegeralah untuk melakukan kebaikan-kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai macam ketaatan agar kalian mendapatkan ampunan dari Allah yang besar dan kalian masuk surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang Allah sediakan bagi orang-orang yang bertakwa dari hamba-hambaNya.

Orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang memberikan harta mereka di jalan Allah dalam keadaan mudah dan susah, orang-orang yang menahan amarah mereka sekalipun mereka mampu untuk membalas, dan orang-orang yang memaafkan siapa yang berbuat zhalim terhadap mereka. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik yang menghiasi diri dengan sifat-sifat tersebut.

Mereka adalah orang-orang yang jika mereka melakukan dosa-dosa besar, atau mengurangi hak diri mereka dengan melakukan dosa-dosa yang bukan termasuk dosa-dosa besar, mereka mengingat Allah Taala dan mereka mengingat ancamanNya terhadap orang-orang yang durhaka dan janjiNya bagi orang-orang yang bertakwa, maka mereka memohon kepada Tuhan mereka dengan penuh penyesalan agar Dia menutupi dosa-dosa mereka dan tidak menghukum mereka karenanya, karena tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali hanya Allah semata, dan mereka tidak bersikukuh di atas dosa-dosa mereka padahal mereka mengetahui bahwa mereka melakukan dosa dan bahwa sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa seluruhnya.

Orang-orang yang memiliki sifat-sifat terpuji dan akhlak-akhlak yang mulia tersebut, pahala mereka adalah bahwa Allah menutupi dosa-dosa mereka dan memaafkannya, dan bagi mereka di akhirat surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawah istana-istananya, mereka tinggal di dalamnya selama-lamanya, dan itu adalah sebaik-baik balasan untuk siapa yang menaati Allah.

Faidah dari ayat-ayat di atas:

(1) Dosa-dosa, salah satunya adalah riba, termasuk sebab terbesar kekalahan seorang hamba, terutama dalam keadaan gawat dan genting.

(2)Takwa dan taat kepada Allah Taala termasuk sebab terbesar turunnya rahmat Allah dan kasih sayangNya kepada seorang hamba.

(3) Dorongan untuk bersegera melakukan amal-amal shalih dalam rangka memanfaatkan waktu dan menyegerakan ketaatan-ketaatan sebelum waktunya berlalu.

(4) Di antara sifat orang-orang yang bertakwa yang dengannya mereka layak untuk masuk surga adalah infak dalam keadaan apapun, menahan amarah, memaafkan manusia, dan berbuat baik kepada makhluk.

TAFSIR AS-SADI:

(130) Telah berlalu pada mukadimah tafsir ini bahwa seorang hamba seyogyanya memperhatikan perintah dan larangan pada dirinya dan orang lain. Dan bahwasanya Allah Taala apabila memerintahkan kepadanya suatu perintah, maka dia wajib pertama kali mengetahui batasannya dan apa yang diperintahkan tersebut agar dia mampu menaati hal tersebut, dan apabila dia telah mengetahui hal itu, maka hendaklah berusaha dan memohon pertolongan kepada Allah untuk menaatinya pada dirinya maupun pada orang lain sesuai dengan kemampuannya dan kapasitasnya.

Demikian pula bila dia dilarang dari sesuatu, dia mengetahui batasannya dan hal-hal yang termasuk di dalamnya dan yang tidak termasuk, kemudian dia berusaha dan memohon pertolongan dari Rabbnya dalam meninggalkannya, dan bahwasanya hal ini wajib untuk diperhatikan dalam segala perintah Allah dan laranganNya.

Ayat-ayat yang mulia ini terkandung di dalamnya berbagai perintah dan perkara dari perkara-perkara kebaikan. Allah memerintahkan kepadanya dan menganjurkan untuk mengamalkannya, lalu Allah mengabarkan tentang balasan pelakunya, dan mengabarkan larangan-larangan yang dianjurkan untuk ditinggalkan.

Barangkali hikmah wallahu alam dalam memasukkan ayat-ayat ini di sela-sela kisah perang Uhud adalah seperti yang telah dijelaskan bahwasanya Allah Taala telah berjanji kepada hamba-hambaNya yang Mukmin yaitu apabila mereka bersabar dan bertakwa niscaya Allah akan membela mereka dalam menghadapi musuh-musuh mereka dan menghinakan musuh untuk mereka, sebagaimana pada Firman Allah Taala,




Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. (Ali Imran: 120).

Kemudian Allah Taala berfirman,




Jika kamu bersabar dan bertakwa, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu. (Ali Imran: 125).

Seakan-akan jiwa merindukan pengetahuan akan sifat-sifat ketakwaan yang akan mengakibatkan adanya pertolongan, kemenangan, dan kebahagiaan, maka Allah menyebutkan dalam ayat-ayat ini sifat-sifat ketakwaan yang terpenting yang mana bila seorang hamba menunaikannya, niscaya pelaksanaannya terhadap hal yang lain lebih utama dan lebih patut.

Dan dasar dari pernyataan yang telah kami katakan, adalah bahwa Allah telah menyebutkan lafazh takwa pada ayat-ayat ini sebanyak tiga kali, sekali berbentuk muthlaq yaitu FirmanNya, Yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, dan dua kali berbentuk muqayyad dalam FirmanNya, Bertakwalah kamu kepada Allah dan, Dan peliharalah dirimu dari api neraka.

Dan Firman Allah Taala, Hai orang-orang yang beriman, setiap yang ada dalam al-Quran berupa Firman Allah Taala, Hai orang-orang yang beriman, lakukan ini atau tinggalkanlah ini, menunjukkan bahwa keimanan itu adalah penyebab yang mendorong dan mengharuskan untuk menaati perintah atau menjauhi larangan tersebut, karena keimanan itu adalah keyakinan yang total kepada perkara yang memang wajib untuk diyakini yang menuntut terwujudnya perbuatan anggota tubuh. Maka Allah melarang mereka dari memakan riba dengan berlipat-lipat ganda, di mana hal itu adalah perkara yang telah biasa dilakukan oleh orang-orang jahiliyah dan orang-orang yang tidak mempedulikan perkara-perkara syariat, yaitu bila jatuh tempo hutang atas seorang yang sedang kesulitan sementara dia tidak memiliki apa-apa untuk menunaikannya, maka mereka berkata kepadanya, Kamu harus menunaikan hutangmu atau kami menambah tempo pelunasan hutang itu dengan menambah bunga hutang dalam tanggunganmu. Maka orang fakir terpaksa harus membayar kepada pemilik hutang, dan konsisten terhadap hal itu demi meraih ketenangan hatinya yang bersifat sementara hingga bertambahlah hutang (yang harus dilunasinya) dengan berlipat-lipat ganda tanpa ada manfaat dan pemanfaatannya.

Maka dalam FirmanNya, Dengan berlipat ganda, terdapat peringatan terhadap kekejian yang besar disebabkan banyaknya dan peringatan terhadap hikmah di balik pengharamannya, dan bahwasanya hikmah di balik pengharaman riba adalah bahwa Allah melarang dari hal tersebut karena mengandung kezhaliman. Hal tersebut karena Allah mewajibkan untuk menangguhkan orang yang sedang dalam kondisi sulit dan membiarkan hutang itu (seperti semula) tanpa ada tambahan. Maka mengharuskan (pembayaran hutang) dengan yang lebih dari itu merupakan tindakan kezhaliman yang berlipat-lipat.

Oleh karena itu, wajiblah atas seorang Mukmin yang bertakwa meninggalkan hal itu dan tidak mendekat kepadanya, karena meninggalkan hal tersebut termasuk konsekuensi ketakwaan, dan keberuntungan itu tergantung pada ketakwaan. Karena itu Allah berfirman, Bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.

(131) Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir, dengan cara meninggalkan hal-hal yang menjerumuskan ke dalamnya, berupa kekufuran dan kemaksiatan dengan perbedaan tingkatannya, karena seluruh kemaksiatan, khususnya kemaksiatan yang besar, akan menyeret kepada kekufuran, bahkan ia merupakan sifat dari kekufuran yang telah Allah siapkan neraka bagi pelaku-pelakunya.

Maka meninggalkan kemaksiatan akan menyelamatkan dari api neraka dan menjaga diri dari kemurkaan Yang Mahakuasa. Sedang perbuatan-perbuatan baik dan ketaatan akan mendapatkan ridha Allah, masuk ke dalam surga dan memperoleh rahmat. Oleh karena itu, Allah berfirman;

(132) Dan taatilah Allah dan Rasul dengan melaksanakan perintah sebagai bentuk ketaatan dan menjauhi larangan, agar kalian mendapat rahmat. Taat kepada Allah dan RasulNya adalah termasuk sebab-sebab mendapatkan rahmat, sebagaimana Allah Taala berfirman,




Dan rahmatKu meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmatKu untuk orang-orang yang bertakwa dan yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. (Al-Araf: 156).

(133) Kemudian Allah memerintahkan mereka untuk bersegera menuju ampunanNya dan menggapai surgaNya yang luasnya seluas langit dan bumi, lalu bagaimanakah dengan (kadar) panjangnya yang disiapkan bagi orang-orang yang bertakwa? Mereka itu adalah penghuni-penghuninya dan perbuatan-perbuatan ketakwaanlah yang akan menyampaikan kepadanya.

(134) Kemudian Allah menjelaskan tentang sifat orang-orang yang bertakwa dan perbuatan-perbuatan mereka seraya berfirman, (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, yaitu, pada saat kondisi mereka sedang sulit atau kondisi mereka sedang lapang. Bila mereka sedang lapang, maka mereka akan memperbanyak infak, dan bila mereka sedang kesulitan, maka mereka tidak menganggap remeh suatu kebaikan walaupun (hanya) sedikit (saja).

Dan orang-orang yang menahan amarahnya, yaitu, bila terjadi dari orang lain tindakan yang menyakitkan terhadapnya yang menimbulkan kemarahan yaitu hati yang penuh dengan kedongkolan yang akan menimbulkan balas dendam dengan perkataan maupun perbuatan. Mereka itu tidaklah bertindak menurut tabiat kemanusiaannya, akan tetapi mereka menahan apa yang ada dalam hati mereka disebabkan kemarahan, dan menghadapi orang yang berbuat jelek kepadanya itu dengan kesabaran.

Dan memaafkan (kesalahan) orang. Termasuk dalam tindakan memaafkan orang adalah memaafkan segala hal yang terjadi dari orang yang telah berbuat jelek kepada kita dengan perkataan maupun perbuatan. Memaafkan itu sangat lebih baik daripada (hanya) sekedar menahan amarah, karena memaafkan itu adalah tindakan meninggalkan balas dendam disertai dengan bentuk kelapangan dada terhadap orang yang berbuat jelek. Itu hanya dapat terjadi dari orang-orang yang menghiasi dirinya dengan akhlak yang terpuji dan jauh dari akhlak yang tercela, dan dari orang-orang yang bertransaksi dengan Allah dan memaafkan hamba-hamba Allah sebagai suatu kasih sayang terhadap mereka dan tindakan kebajikan kepada mereka, benci dari keburukan yang menimpa mereka agar Allah mengampuni dirinya sehingga dia mendapatkan pahala di sisi Allah yang Mahamulia, dan bukan dari hamba yang miskin, sebagaimana Allah Taala berfirman,




Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. (Asy-Syura: 40).

Kemudian Allah menyebutkan kondisi yang lebih umum daripada yang lainnya dan lebih baik, lebih tinggi dan lebih utama, yaitu berbuat kebajikan (al-ihsan), Allah berfirman, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Kebajikan itu ada dua macam: Berbuat baik dalam perkara ibadah kepada Sang Pencipta dan berbuat baik kepada para makhluk.

Dan ihsan dalam perkara ibadah kepada Sang Pencipta telah ditafsirkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan sabdanya,


ٰ


Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatNya, dan bila engkau tidak melihatNya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.

Adapun berbuat baik kepada para makhluk yaitu memberikan manfaat yang bersifat agama maupun duniawi kepada mereka dan menghindarkan mereka dari kemudaratan yang bersifat agama maupun duniawi, sehingga termasuk dalam kategori itu adalah memerintahkan mereka kepada yang maruf dan melarang mereka dari yang mungkar, mengajarkan orang yang bodoh di antara mereka, menasihati masyarakat umum maupun khusus, berusaha dalam menyatukan kalimat mereka, menyalurkan segala macam sedekah, infak yang wajib maupun yang sunnah kepada mereka dengan berbagai perbedaan kondisi dan karakter mereka. Termasuk juga dalam hal itu adalah mengerahkan kedermawanan hati, menolak keburukan dan bersabar atas gangguan, sebagaimana Allah menjelaskan tentang sifat orang-orang yang bertakwa dalam ayat ini.

Maka barangsiapa yang melaksanakan perkara-perkara tersebut, ia telah menegakkan hak-hak Allah dan hak-hak hambaNya. Kemudian Allah Taala menyebutkan tentang alasan mereka kepada Tuhan mereka dari kejahatan dan dosa-dosa mereka, seraya berfirman,

(135) Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, maksudnya, telah terjadi perbuatan-perbuatan buruk yang besar atau yang kecil yang dilakukan oleh mereka, lalu mereka segera bertaubat dan meminta ampunan, mereka mengingat Rabb mereka dan ancamanNya bagi orang-orang yang berbuat maksiat dan apa yang dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa. Maka mereka memohon ampunan padaNya atas dosa-dosa mereka itu, menutup aib-aib mereka, disertai dengan tindakan mereka meninggalkannya hingga akar-akarnya dan menyesalinya. Karena itulah Allah berfirman, Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

(136) Mereka itu. Yaitu, orang-orang yang bersifat dengan sifat-sifat tersebut, balasannya ialah ampunan dari Rabb mereka yang menghapus dari mereka segala hal yang dikhawatirkan, dan surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, di dalamnya tersimpan kenikmatan yang abadi, kebahagiaan, kesenangan, kemuliaan, kebaikan, kemenangan, istana-istana, rumah-rumah yang indah lagi tinggi, pohon-pohon yang berbuah lagi ranum, sungai-sungai yang mengalir pada kediaman-kediaman yang baik tersebut.

Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak akan keluar darinya dan tidak pula mencari penggantinya serta kenikmatan yang mereka rasakan di dalamnya tidak akan diubah, dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal. Mereka beramal karena Allah (hanya) sedikit, namun diberikan ganjaran yang banyak. Di pagi hari, orang-orang yang dermawan bertahmid kepada Allah (atas apa yang diberikan kepada mereka di malam hari). Dan pada Hari Pembalasan, seorang yang beramal akan mendapatkan ganjarannya secara penuh dan sempurna.

Ayat-ayat yang mulia ini menjadi dalil-dalil bagi Ahlus Sunnah wal Jamaah, bahwa perbuatan itu termasuk dalam iman, berbeda dengan golongan Murjiah. Dan sisi penunjukan ayat tersebut hanya bisa sempurna (bila) disertai dengan penyebutan ayat 21 dalam Surat al-Hadid, semisal ayat ini, yaitu FirmanNya,




Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabbmu dan (kepada) surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasulNya. (Al-Hadid: 21).

Dalam ayat ini tidak disebutkan kecuali kata iman kepada Allah dan kepada RasulNya sementara dalam ayat Ali Imran ini disebutkan, Yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Kemudian Allah menjelaskan tentang sifat-sifat mereka dengan amalan-amalan yang bersifat badan maupun harta, sehingga menunjukkan bahwa orang-orang yang bertakwa itu adalah orang-orang yang disifati dengan sifat-sifat tersebut dan mereka itulah orang-orang yang beriman.

REFERENSI:

1. Tafsir Al-Quran (1) Surat: Al-Fatihah Ali Imran, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sadi, Darul Haq, Jakarta, Cet. VII, Syaban 1436 H / Juni 2015 M.
2. Tafsir Al-Quran Terjemah al-Mukhtashar fi at-Tafsir, Para Pakar Tafsir, Darul Haq, Jakarta.

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatquran&id=337