Artikel : Al-Quran - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Tafsir Surat Ali Imran Ayat 149 - 155

Jumat, 25 Desember 20

LARANGAN MENTAATI ORANG-ORANG KAFIR

A. TEKS AYAT


Allah Subhanahu wa Taala berfirman,


(149) (150) (151) (152) (153) (154) (155)


B. TERJEMAHAN

3:149 Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikanmu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi.

3:150 Tetapi (ikutilah Allah), Allah-lah Pelindungmu, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong.

3:151 Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka adalah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zhalim.

3:152 Dan sungguh Allah telah memenuhi janjiNya kepadamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izinNya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) setelah Allah memperlihatkan kepadamu sesuatu yang kamu sukai. Di antara kalian ada orang yang menghendaki dunia, dan di antara kalian ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kalian dari mereka untuk menguji kalian, dan sungguh Allah telah memaafkan kalian. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman.

3:153 (Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seorang pun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggilmu, karena itu Allah menimpakan atasmu kesedihan di atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput darimu dan terhadap apa yang menimpamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

3:154 Kemudian setelah kamu berduka cita, Allah menurunkan kepadamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan darimu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah sebagaimana sangkaan jahiliyah. Mereka berkata, Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini? Katakanlah, Sesungguhnya urusan itu seluruhnya adalah hak Allah. Mereka menyembunyikan dalam hati mereka sesuatu yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata, Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini. Katakanlah, Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Dan Allah Maha Mengetahui isi hati.

3:155 Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemunya dua pasukan itu, mereka hanyalah digelincirkan oleh setan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau), dan sungguh Allah telah memberi maaf kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.


C. TAFSIR AYAT

AL-MUKHTASHAR FIT TAFSIR:

149. Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti RasulNya, jika kalian menaati orang-orang kafir dari kalangan orang-orang Yahudi, Nasrani, dan kaum musyrikin dalam kesesatan yang mereka perintahkan kepada kalian, niscaya mereka akan mengembalikan kalian setelah kalian beriman kepada keadaan kalian sebelumnya, yaitu menjadi orang-orang kafir, sehingga kalian akan merugi di dunia dan di akhirat.

150. Orang-orang kafir itu tidak akan menolong kalian apabila kalian menaati mereka, akan tetapi Allah-lah yang menolong kalian atas musuh-musuh kalian, maka taatilah Dia, dan Dia Taala adalah sebaik-baik penolong, sehingga kalian tidak memerlukan siapa pun sesudah Allah.

151. Kami akan menyusupkan ketakutan yang besar ke dalam hati orang-orang yang kafir kepada Allah sehingga mereka tidak bisa teguh untuk memerangi kalian karena mereka menyekutukan Allah dengan tuhan-tuhan yang mereka sembah menurut hawa nafsu mereka yang Allah tidak menurunkan kepada mereka hujjah atasnya. Dan tempat tinggal yang mereka akan berpulang ke sana di akhirat adalah neraka, dan seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang yang zhalim adalah neraka.

152. Dan sungguh Allah telah mewujudkan apa yang Dia janjikan kepada kalian berupa kemenangan atas musuh-musuh kalian di perang Uhud, manakala kalian membunuh mereka dengan pembunuhan yang keras dengan izinNya Taala, sehingga ketika kalian tidak kuasa untuk tetap teguh memikul apa yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam perintahkan kepada kalian dan kalian berselisih antara tetap berada di posisi-posisi kalian atau meninggalkannya untuk mengumpulkan harta rampasan perang, dan kalian mendurhakai Rasul yang memerintahkan kalian agar tetap teguh di tempat-tempat kalian dalam keadaan apa pun. Semua itu terjadi dari kalian sesudah Allah memperlihatkan apa yang kalian cintai kepada kalian berupa kemenangan atas musuh-musuh kalian, di antara kalian ada yang menginginkan harta rampasan dunia dan mereka adalah orang-orang yang meninggalkan posisi mereka, dan di antara kalian ada yang menginginkan pahala akhirat, dan mereka adalah orang-orang yang tetap berada di tempat-tempat mereka untuk menaati perintah Rasul. Kemudian Allah mengubah keadaan dari mereka dan membuat musuh berkuasa atas kalian untuk menguji kalian, maka terlihatlah orang Mukmin yang sabar dalam menghadapi ujian dari orang Mukmin yang kakinya terpeleset dan jiwanya melemah. Dan sungguh Allah telah memaafkan kalian atas apa yang kalian lakukan, yaitu menyelisihi perintah RasulNya, dan Allah adalah Pemilik karunia yang besar terhadap orang-orang Mukmin, di mana Dia membimbing mereka kepada iman, memaafkan kesalahan mereka dan memberi mereka pahala atas musibah-musibah yang menimpa mereka.

153. Ingatlah, wahai orang-orang Mukmin, manakala kalian menjauhkan diri di bumi dan melarikan diri pada saat Perang Uhud, saat kegagalan menimpa kalian karena pelanggaran kalian terhadap perintah Rasul, dan seseorang dari kalian tidak menoleh kepada yang lain, sementara Rasul shallallahu alaihi wasallam memanggil kalian dari belakang kalian di antara kalian dengan kaum musyrikin seraya berseru, "Kemarilah kalian, wahai hamba-hamba Allah! Kemarilah kalian, wahai hamba-hamba Allah!" Maka Allah membalas kalian karena perbuatan kalian ini dengan rasa takut dan kesempitan yang disusul dengan rasa takut dan kesempitan karena kegagalan kalian untuk menang dan mendapatkan harta rampasan perang, ini yang pertama, dan yang kedua, karena telah beredar kabar di antara kalian bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam telah gugur. Sungguh Allah menurunkan ini kepada kalian agar kalian tidak bersedih atas apa yang gagal kalian raih, yaitu kemenangan dan harta rampasan perang, dan atas apa yang menimpa kalian, yaitu luka-luka dan gugurnya sebagian orang, sesudah kalian mengetahui bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak terbunuh, di mana segala musibah dan penderitaan menjadi ringan bagi kalian, dan Allah Maha mengetahui apa yang kalian lakukan, tidak ada sesuatu pun dari keadaan hati kalian dan amal perbuatan anggota tubuh kalian yang samar bagi Allah.

Faidah dari ayat-ayat di atas:

1. Peringatan menaati orang-orang kafir dan mengikuti hawa nafsu mereka, karena akibat hal itu adalah kerugian di dunia dan di akhirat.
2. Disusupkannya rasa takut ke dalam hati musuh-musuh Allah merupakan salah satu bentuk di antara bentuk-bentuk pertolongan Allah kepada wali-waliNya yang beriman.
3. Di antara sebab paling besar dari kekalahan dalam perang adalah ketergantungan kepada dunia dan ketamakan terhadap harta rampasannya.
4. Di antara sebab kekalahan dalam perang adalah menentang dan menyelisihi perintah panglima pasukan.
5. Perhatian Allah Taala kepada para wali (kekasih)Nya dalam segala keadaan mereka hingga dalam apa yang Dia turunkan kepada mereka berupa ujian dan cobaan.

154. Kemudian Allah menurunkan kepada kalian, sesudah kepedihan dan kesempitan itu, ketenangan dan kepercayaan yang membuat segolongan dari kalian, dan mereka adalah orang-orang yang yakin kepada janji Allah, terserang rasa kantuk karena apa yang tersimpan di dalam dada mereka berupa rasa aman dan ketenangan, sedangkan golongan lain tidak mendapatkan rasa aman dan kantuk, mereka adalah orang-orang munafik yang tidak memiliki keinginan selain keselamatan diri mereka, mereka dalam kecemasan dan ketakutan, mereka berburuk sangka kepada Allah, yaitu bahwa Allah tidak akan menolong RasulNya dan mendukung hamba-hambaNya, seperti sangkaan orang-orang jahiliyah yang tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya. Orang-orang munafik itu berkata karena kejahilan mereka tentang Allah, "Kami tidak diberi kesempatan untuk berpendapat dalam urusan berangkat ke perang ini, seandainya pendapat ada di tangan kami, niscaya kami tidak berangkat." Katakanlah, wahai Nabi, untuk menjawab mereka, "Sesungguhnya segala urusan ada di Tangan Allah. Dia-lah yang menakdirkan apa yang Dia kehendaki dan memutuskan apa yang Dia kehendaki, dan Dia-lah yang menakdirkan keberangkatan kalian." Orang-orang munafik tersebut menyembunyikan dalam diri mereka berupa keraguan dan dugaan buruk yang tidak mereka perlihatkan kepadamu, di mana mereka berkata, "Seandainya kami memiliki pendapat dalam urusan keberangkatan ini, niscaya kami tidak terbunuh di tempat ini." Katakanlah, wahai Nabi, untuk menjawab mereka, "Seandainya kalian tetap berada di rumah kalian dalam keadaan jauh dari medan perang dan kematian, niscaya siapa yang ditetapkan oleh Allah untuk terbunuh dari kalian akan keluar ke tempat kematiannya. Dan Allah tidak menetapkan hal itu kecuali untuk menguji apa yang ada di dalam dada kalian berupa niat dan tujuan-tujuan, dan membedakan apa yang ada di dalamnya berupa iman atau kemunafikan. Dan Allah Maha mengetahui apa yang ada di dalam hati hamba-hambaNya, tidak ada sesuatu pun darinya yang samar bagiNya.

155. Sesungguhnya orang-orang yang gentar dari kalian, wahai sahabat-sahabat Muhammad shallallahu alaihi wasallam, pada hari pasukan kaum musyrikin berhadapan dengan pasukan kaum Muslimin di Uhud, setan membawa mereka untuk melakukan kesalahan akibat dari sebagian kemaksiatan yang mereka perbuat. Dan sungguh Allah telah memaafkan mereka sehingga tidak menghukum mereka karenanya sebagai karunia dan rahmat dariNya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun bagi siapa yang bertaubat, juga Maha Penyantun sehingga tidak menyegerakan hukuman.

Faidah dari ayat-ayat di atas:

1. Kebodohan tentang Allah Taala dan sifat-sifatNya melahirkan keyakinan yang buruk dan amal perbuatan yang rusak.
2. Perhatian Allah Taala kepada wali-waliNya dan penjagaanNya untuk mereka dalam segala keadaan mereka.

TAFSIR AS-SADI:

(149) Ini adalah larangan dari Allah untuk kaum Mukminin, yaitu mereka tidak boleh menaati kaum kafir dari kalangan kaum munafik dan kaum musyrikin. Karena bila mereka menaati orang-orang tersebut, maka tidaklah kaum itu menghendaki untuk mereka melainkan keburukan, sedangkan tujuan orang-orang itu adalah mengembalikan mereka (kaum Mukminin) kepada kekufuran yang berakibat kepada kesia-siaan dan kerugian.

(150) Kemudian Allah memberitahukan bahwasanya Dia adalah Penolong dan Pembela mereka. Di dalam ayat ini terkandung kabar buat mereka tentang hal itu dan suatu berita gembira; yaitu bahwa Allah mengatur urusan mereka dengan kelembutanNya dan melindungi mereka dari segala bentuk kejahatan. Dan termasuk dalam kategori itu adalah anjuran buat mereka, agar mereka menjadikan Allah semata sebagai Penolong dan Pembela, tanpa selainNya.

(151) Di antara pertolongan dan pembelaanNya bagi mereka adalah bahwa Dia berjanji untuk meletakkan ketakutan pada hati orang-orang kafir, yaitu kekhawatiran yang kuat yang menghalangi mereka dari sebagian besar tujuan mereka, dan sungguh Allah Taala telah melakukannya, yang demikian itu karena kaum musyrikin ketika berpaling dari peperangan Uhud mereka bermusyawarah, mereka berkata, "Bagaimana bisa kita pulang setelah kita membunuh orang-orang yang telah kita bunuh dari kalangan mereka dan telah kita kalahkan mereka, padahal kita belum memberantas mereka?" Lalu mereka hendak melakukan itu, namun Allah menjatuhkan ketakutan pada hati mereka hingga mereka berpaling pulang dengan sia-sia.

Tidak diragukan bahwa hal ini merupakan pertolongan yang paling besar, karena sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa pertolongan Allah kepada hamba-hambaNya yang beriman itu tidaklah akan keluar dari dua kemungkinan; pertama, membasmi sekelompok dari kaum kafir. Kedua, mendesak mereka hingga mereka kembali pulang dengan sia-sia. Kisah ini termasuk kategori kedua. Kemudian Allah menyebutkan sebab-sebab yang mengakibatkan Allah menjatuhkan ketakutan itu pada hati orang-orang kafir seraya berfirman, "Disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu." Maksudnya, hal tersebut disebabkan karena tindakan mereka mengambil sekutu selainNya berupa tandingan-tandingan dan patung-patung yang telah mereka sembah menurut hawa nafsu dan keinginan mereka yang batil, tanpa ada alasan dan keterangan sedikit pun. Maka terputuslah mereka dari pertolongan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Penyayang.

Itulah sebabnya orang musyrik takut dari (bahaya) kaum Mukminin yang mana orang musyrik itu tidak bersandar pada sebuah pegangan yang kokoh, dan tidak pula memiliki sandaran pada setiap kesulitan dan kesempitan. Ini adalah kondisinya di dunia, sedangkan di akhirat kondisinya akan lebih dahsyat dan lebih besar lagi. Karena itu, Allah berfirman, "Tempat kembali mereka adalah neraka", yaitu tempat menetap mereka yang menjadi tempat kembali mereka, di mana mereka tidak akan keluar darinya, "dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zhalim," dikarenakan kezhaliman dan permusuhan mereka, sehingga neraka menjadi tempat kembali mereka.

(152) Maksudnya, "Dan sungguh Allah telah memenuhi janjiNya kepadamu" dengan pertolongan lalu Allah menolong kalian atas ancaman mereka hingga membuat kalian dapat menguasai mereka dan mampu membunuh mereka, tapi akhirnya kalian menjadi penyebab kehancuran bagi diri kalian sendiri dan penolong bagi musuh kalian atas keburukan diri kalian, dan ketika kalian menderita kegagalan, yaitu kelemahan dan lesu, "dan berselisih dalam urusan itu", yang di dalam perkara tersebut terdapat suatu tindakan meninggalkan perintah Allah untuk bersatu dan tidak berselisih; namun kalian berselisih. Ada yang berkata agar kita tetap pada posisi kita yang telah ditetapkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk kita, ada juga yang berkata kita tidak perlu tetap di sana, karena musuh telah kalah dan tidak ada lagi yang dikhawatirkan, maka kalian bermaksiat kepada Rasul dengan meninggalkan perintahnya setelah Allah memperlihatkan kepada kalian sesuatu yang kalian sukai, yaitu terhinanya musuh kalian. Karena kewajiban atas orang yang telah diberikan nikmat oleh Allah dengan sesuatu yang dicintainya adalah lebih besar daripada selainnya. Maka yang wajib dalam kondisi seperti ini secara khusus, dan pada kondisi lainnya secara umum adalah melaksanakan perintah Allah dan RasulNya.

"Di antara kalian ada orang yang menghendaki dunia," mereka itu adalah orang-orang yang dipalingkan (oleh harta rampasan) dari posisi yang diwajibkan atas mereka, "dan di antara kalian ada orang yang menghendaki akhirat", mereka itu adalah orang-orang yang tetap melaksanakan perintah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan tegar menurut apa yang diperintahkan kepada mereka. "Kemudian Allah memalingkan kalian dari mereka", maksudnya setelah terjadinya perkara tersebut dari kalian, maka Allah memalingkan wajah kalian dari mereka, hingga keunggulan menjadi milik musuh kalian sebagai ujian dan cobaan dari Allah bagi kalian, agar jelas orang Mukmin dari orang kafir, orang yang taat dari orang yang durhaka, dan agar Allah menggugurkan dari kalian (dengan musibah ini) dosa yang telah kalian perbuat.

Karena itu Allah berfirman, "dan sungguh Allah telah memaafkan kalian. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman." Maksudnya Dia memiliki karunia yang besar terhadap mereka, di mana Allah telah memberikan karuniaNya atas mereka dengan Islam, menunjukkan mereka kepada syariatNya, mengampuni keburukan-keburukan mereka, dan memberikan ganjaran atas musibah-musibah mereka.

Dan di antara karuniaNya atas kaum Mukminin adalah bahwa tidaklah Allah menetapkan untuk mereka suatu kebaikan maupun musibah melainkan pasti hal itu adalah kebaikan bagi mereka. Apabila mereka tertimpa hal-hal yang menyenangkan lalu mereka mensyukurinya, niscaya Allah membalasnya dengan balasan orang-orang yang bersyukur, dan apabila mereka tertimpa hal-hal yang menyakitkan lalu mereka bersabar, niscaya Allah membalas mereka dengan balasan orang-orang yang bersabar.

(153) Allah Taala mengingatkan mereka tentang kondisi mereka saat kalah perang, dan Allah mencela mereka atas hal tersebut seraya berfirman, "(Ingatlah) ketika kamu lari", yaitu kabur dari perang, "dan tidak menoleh kepada seorang pun", maksudnya, tak seorang pun dari kalian menoleh kepada orang lain dan tidak melihatnya, bahkan kalian tidak memiliki keinginan kecuali lari dan selamat dari peperangan, padahal tidak ada bahaya besar atas kalian, karena kalian itu bukanlah manusia yang terakhir yang menghadapi musuh dan merasakan kedahsyatan perang, akan tetapi, "Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggilmu", maksudnya beliaulah yang berada di belakang kalian seraya berkata, "Datanglah kepadaku wahai hamba-hamba Allah," namun kalian tidak menoleh kepadanya dan tidak pula kalian berpaling kepadanya. Padahal melarikan diri dari perang itu adalah tindakan yang patut dicela, dan mengabaikan seruan Rasul shallallahu alaihi wasallam yang wajib untuk didahulukan atas (keselamatan) jiwa sendiri adalah lebih besar celaannya.
"Karena itu Allah menimpakan atas kamu," maksudnya, Allah membalas perbuatan kalian itu dengan "kesedihan di atas kesedihan," maksudnya, kesedihan yang diikuti dengan kesedihan lain, kesedihan dengan lenyapnya kemenangan dan hilangnya ghanimah, dan kesedihan dengan kekalahan kalian, serta kesedihan yang membuat kalian patah semangat saat kalian mendengar bahwa Muhammad shallallahu alaihi wasallam telah terbunuh.

Akan tetapi Allah dengan kasih sayangNya dan bagusnya pandanganNya bagi hamba-hambaNya, menjadikan terkumpulnya segala perkara-perkara tersebut bagi hamba-hambaNya yang beriman sebagai suatu kebaikan bagi mereka.

Allah berfirman, "Supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput darimu," berupa kemenangan dan keberhasilan, "dan terhadap apa yang menimpamu", berupa kekalahan, kematian, dan menderita luka; ketika terbukti bagi kalian bahwa Rasul shallallahu alaihi wasallam itu tidak terbunuh, maka terasa kecillah bagi kalian musibah-musibah tersebut.
Kalian berbahagia dengan keberadaannya yang menjadi penghibur dari segala cobaan dan ujian, dan hanya Allah saja yang mengetahui rahasia dan hikmah yang terkandung di balik segala ujian dan cobaanNya.

Semua itu bersumber dari ilmu dan kesempurnaan pengetahuanNya terhadap perbuatan-perbuatan, penampilan-penampilan zahir maupun batin kalian. Karena itulah Allah berfirman, "Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Dan mengandung kemungkinan bahwa makna FirmanNya, "Supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput darimu dan terhadap apa yang menimpamu," bahwasanya Allah telah menetapkan kesedihan dan musibah tersebut atas kalian agar jiwa kalian tegar dan terlatih di atas kesabaran terhadap segala musibah dan menjadi ringanlah bagi kalian untuk menghadapi segala bentuk kesulitan.

(154) "Kemudian setelah kamu berduka cita, Allah menurunkan kepadamu," yaitu duka cita yang telah menimpa kalian, "keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan darimu." Tidak diragukan bahwa ini merupakan suatu rahmat atas mereka, kebaikan dan penetapan bagi hati mereka, serta tambahan ketenangan. Karena seorang yang takut, tidak akan dihinggapi oleh kantuk disebabkan kekhawatiran yang ada di dalam hatinya. Apabila ketakutan itu telah hilang dari hati, maka kantuk itu baru bisa datang kepadanya.

Kelompok ini yang dikaruniakan kantuk oleh Allah adalah mereka yang beriman yang tidak memiliki tujuan kecuali menegakkan agama Allah, mengharap keridhaan Allah dan RasulNya serta kemaslahatan saudara-saudaranya yang Muslim. Adapun kelompok lain yang "telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri," maka mereka tidak cemas pada selain (keselamatan) dirinya disebabkan kemunafikan mereka atau kelemahan iman mereka. Oleh karena itulah, mereka tidak terserang kantuk sebagaimana yang menyerang selain mereka. "Mereka berkata, Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?" Ini merupakan pertanyaan penolakan, maksudnya kita tidak punya urusan dalam perkara itu, yaitu perkara kemenangan dan keberhasilan barang sedikit pun, lalu mereka berprasangka buruk terhadap Rabb mereka, agamaNya, dan NabiNya. Mereka mengira bahwa Allah tidak menyempurnakan urusan RasulNya, dan bahwa kekalahan itu adalah momentum dan penentuan hancurnya agama Allah.
Allah berfirman dalam menjawab mereka, "Katakanlah, Sesungguhnya urusan itu seluruhnya adalah hak Allah." Urusan itu meliputi perkara takdir maupun perkara syariat, maka seluruh perkara adalah karena Qadha dan Qadar Allah. Hasilnya adalah kemenangan dan keberhasilan bagi wali-wali Allah dan orang-orang yang taat kepadaNya, meskipun terjadi sesuatu yang telah terjadi pada mereka.

"Mereka menyembunyikan", maksudnya orang-orang munafik "dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu." Kemudian Allah menjelaskan perkara yang disembunyikan oleh mereka seraya berfirman, "Mereka berkata, Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini" maksudnya, sekiranya kita memiliki hak sedikit campur tangan dalam kejadian itu berupa pendapat maupun ikut bermusyawarah, "niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini." Ini adalah pengingkaran mereka dan sebuah pendustaan terhadap ketentuan Allah, serta menganggap bodoh pandangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat radhiyallahu anhum, juga suatu penyucian diri bagi mereka sendiri.
Maka Allah membantah mereka dengan FirmanNya, "Katakanlah, 'Sekiranya kamu berada di rumahmu'," yang merupakan tempat yang paling jauh dari tempat yang diperkirakan sebagai tempat kematian, "niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh."

Sebab-sebab kematian itu walaupun besar hanya akan berguna bila tidak bertentangan dengan Qadha dan Qadar Allah, maka apabila bertentangan dengan Qadha dan Qadar, tidaklah akan memiliki akibat apa-apa. Akan tetapi pastilah Allah akan menjalankan apa yang telah ditulis olehNya di Lauhul Mahfuzh berupa kematian dan kehidupan. "Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu," maksudnya, Allah menguji apa yang ada padanya berupa kemunafikan, keimanan, dan kelemahan iman.

"Dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu" berupa godaan-godaan setan dan pengaruh yang timbul karenanya dari sifat-sifat yang tidak terpuji. "Dan Allah Maha Mengetahui isi hati," yaitu, segala yang ada padanya dan apa yang disembunyikannya. Maka ilmu dan hikmahNya menuntut bahwa Dia menetapkan sebab-sebab yang dapat menyingkap segala yang tersembunyi pada hati dan rahasia-rahasia segala perkara.

(155) Allah Taala memberitahukan tentang keadaan orang-orang yang kalah pada peperangan Uhud, dan sebab yang menjadikan mereka melarikan diri dari peperangan dan bahwa hal itu adalah bujukan setan, dan bahwa setan telah menguasai mereka karena beberapa dosa mereka. Merekalah yang telah memasukkan setan pada diri mereka sendiri dan menempatkannya padanya dengan cara melakukan beberapa kemaksiatan, karena kemaksiatan itu adalah kendaraan dan pintu (masuknya setan). Sekiranya mereka itu berpegang teguh dengan melakukan ketaatan kepada Rabb mereka, niscaya setan itu tidaklah memiliki kekuasaan atas mereka. Allah Taala berfirman,




"Sesungguhnya hamba-hambaKu, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka." (Al-Isra: 65).

Kemudian Allah memberitahukan bahwasanya Dia telah memaafkan mereka setelah mereka melakukan hal-hal yang mengharuskan hukuman, dan bila tidak demikian, sekiranya Allah menghukum mereka, niscaya Allah akan membinasakan mereka. "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun" bagi orang-orang yang berdosa dan orang-orang yang berbuat kesalahan (dilebur) dengan sesuatu yang dapat memberi mereka taufik kepadaNya berupa taubat, istighfar, dan musibah-musibah yang menggugurkan, "lagi Maha Penyantun." Allah tidak menyegerakan hukuman orang yang bermaksiat kepadaNya, akan tetapi menangguhkannya dan mengajaknya kembali kepadaNya, dan berserah diri kepadaNya, kemudian bila dia bertaubat dan kembali, niscaya akan diterima lalu membuatnya seperti tidak terjadi dosa darinya dan tidak muncul darinya kekurangan. Akhirnya segala puji hanya milik Allah atas kebaikanNya.

REFERENSI:

1. Tafsir Al-Quran (1) Surat: Al-Fatihah Ali Imran, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sadi, Darul Haq, Jakarta, Cet. VII, Syaban 1436 H / Juni 2015 M.
2. Tafsir Al-Quran Terjemah al-Mukhtashar fi at-Tafsir, Para Pakar Tafsir, Darul Haq, Jakarta.

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatquran&id=340