Artikel : Al-Quran - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Ayat-ayat Wakaf

Senin, 08 Februari 21

AYAT 1:

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:


(272).


(2:272) Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup, sedang kamu sedikit pun tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS. Al-Baqarah).

TAFSIR AYAT

Al-Mukhtashar Fi At-Tafsir:


272. Bukan menjadi tanggung jawabmu, wahai Nabi, memberi mereka hidayah untuk menerima kebenaran, tunduk kepada kebenaran dan membawa mereka kepada kebenaran, akan tetapi kewajibanmu adalah menunjukkan mereka kepada kebenaran dan mengenalkannya kepada mereka, karena taufik kepada kebenaran dan hidayah kepada kebenaran ada di tangan Allah, dan Dia memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.

Kebaikan apa pun yang kalian infakkan, maka manfaatnya kembali kepada kalian, karena sesungguhnya Allah tidak membutuhkannya, hendaknya infak kalian ikhlas karena Allah semata, orang-orang yang Mukmin dalam arti yang sebenarnya tidak berinfak kecuali demi mendapatkan ridha Allah.

Apa yang kalian infakkan berupa kebaikan, sedikit atau banyak, maka kalian akan mendapatkan pahalanya secara sempurna tanpa dikurangi, karena sesungguhnya Allah tidak menzhalimi siapa pun.

Tafsir As-Sadi:

(272) Maksudnya, sesungguhnya kewajibanmu wahai Rasul, hanyalah menyampaikan dan mengajak manusia kepada kebaikan dan memperingatkan mereka dari keburukan; adapun petunjuk, maka hanya di Tangan Allah Taala.

Dan Allah Taala mengabarkan tentang orang-orang Mukmin secara benar, bahwasanya mereka tidaklah bersedekah kecuali hanya untuk mengharapkan Wajah Allah, karena keimanan mereka mengajak mereka kepada hal tersebut. Maka kabar ini adalah sebuah kebaikan dan pernyataan baik bagi kaum Mukminin, dan juga mengingatkan mereka untuk ikhlas, dan Allah mengulang-ulang pengetahuanNya tentang sedekah-sedekah mereka demi memberitahu mereka bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan sedikitpun di sisiNya dari amal hamba walaupun seberat biji atom, dan bila hal itu adalah kebaikan, maka Allah akan melipat gandakan dan akan memberikan pahala yang besar.


AYAT 2:


(92) .


(3:92) Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui. (QS. Ali Imran).

TAFSIR AYAT

Al-Mukhtashar Fi At-Tafsir:


92. Kalian, wahai orang-orang Mukmin, tidak akan mendapatkan pahala ahli kebaikan dan kedudukan mereka sehingga kalian menginfakkan dari harta yang kalian cintai di jalan Allah. Dan apa pun yang kalian infakkan, sedikit atau banyak, maka sesungguhnya Allah Maha mengetahui niat dan amal perbuatan kalian, dan Dia akan membalas masing-masing dari kalian sesuai dengan amal perbuatannya.

Tafsir As-Sadi:

(92) Maksudnya, "Kamu sekali-kali tidak sampai" dan tidak akan mendapatkan "kebajikan", yang artinya adalah sebuah kata yang menyeluruh tentang kebajikan, yaitu jalan yang menyampaikan kepada surga, "sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai" dari harta kalian yang terbaik dan paling istimewa. Hal itu karena berinfak dengan apa-apa yang baik lagi disayangi oleh jiwa merupakan tanda yang paling besar dari kelapangan jiwa dan sifatnya yang mulia, kasih sayangnya dan kelembutannya, dan juga merupakan tanda yang paling jelas tentang kecintaannya kepada Allah dan sikap mendahulukan Allah atas kecintaan terhadap harta yang sangat dicintai oleh jiwa.

Karena itu, barangsiapa yang mendahulukan kecintaan kepada Allah atas kecintaan terhadap dirinya sendiri, maka sesungguhnya ia telah mencapai puncak kesempurnaan, demikian pula bagi seseorang yang menginfakkan hal-hal yang baik dan berbuat kebajikan kepada hamba-hamba Allah, niscaya Allah akan berbuat baik kepadanya dan membimbingnya kepada perbuatan-perbuatan dan akhlak-akhlak yang tidak mungkin dapat diperoleh dengan selain kondisi seperti ini.
Demikian juga, barangsiapa yang menunaikan infak dengan bentuk yang seperti ini, niscaya pelaksanaannya terhadap amalan-amalan shalih lainnya dan akhlak-akhlak yang mulia adalah lebih baik dan lebih patut. Di samping berinfak dengan hal-hal yang baik merupakan bentuk yang paling sempurna, maka seberapa pun seorang hamba berinfak, baik sedikit maupun banyak dari yang baik atau lainnya, "maka sesungguhnya Allah mengetahuinya." Allah akan memberikan ganjaran kepada setiap orang yang berinfak sesuai dengan amalannya, dan Allah akan membalasnya di dunia dengan segera memberikan gantinya dan di akhirat dengan kenikmatan yang tertunda.


AYAT 3:


(77) .


(22:77) Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapatkan kemenangan. (QS. Al-Hajj).

TAFSIR AYAT

Al-Mukhtashar Fi At-Tafsir:


77. Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengamalkan apa yang Dia syariatkan untuk mereka, rukuk dan sujudlah di dalam shalat kalian hanya kepada Allah semata, lakukanlah kebaikan berupa sedekah dan silaturahim dengan harapan kalian akan meraih apa yang kalian inginkan dan selamat dari apa yang kalian takutkan.

Tafsir As-Sadi:

(77) Allah Taala menitahkan para hambaNya yang beriman untuk menegakkan shalat. Penyebutan rukuk dan sujud (untuk mewakili shalat), karena keutamaan dan status keduanya sebagai rukun shalat, (dan memerintahkan) untuk beribadah kepadaNya yang merupakan penyejuk mata dan penghibur hati yang pedih. Rububiyah dan curahan kebaikanNya pada hamba menuntut mereka untuk memurnikan ibadah bagiNya.

Dia memerintahkan mereka untuk berbuat kebaikan secara umum dan mengaitkan keberuntungan seorang pada perkara-perkara tersebut. Allah berfirman, "Supaya kamu mendapatkan kemenangan," maksudnya kalian akan meraup kemenangan dengan meraih harapan yang diinginkan dan selamat dari kejelekan (yang dikhawatirkan).

Tidak ada jalan apa pun untuk menggapai keberuntungan selain bersikap ikhlas dalam menjalankan ibadah kepada al-Khaliq dan mengusahakan diri dapat bermanfaat bagi sesama. Siapa saja yang mendapatkan taufik untuk melaksanakan itu, maka dia mendapatkan porsi yang besar dari nikmat kebahagiaan, keselamatan, dan keberuntungan.


Kesimpulan:

Wakaf termasuk perbuatan kebaikan yang diperintahkan, bahkan termasuk di antara sarana-sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Taala yang dianjurkan.

Ayat-ayat di atas secara umum mengajak untuk bersedekah dan berinfak di jalan Allah, dan menunjukkan pula akan disyariatkannya wakaf dalam amal-amal kebaikan.


REFERENSI:

1. Tafsir Al-Quran As-Sadi, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sadi, Darul Haq, Jakarta, Cet. VII, Syaban 1436 H / Juni 2015 M.
2. Tafsir Al-Quran Terjemah al-Mukhtashar fi at-Tafsir, Para Pakar Tafsir, Darul Haq, Jakarta.

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatquran&id=342