Artikel : Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits
Mawar Tetaplah Mawar
Senin, 22 Juni 20

Sampai kapan pun, mawar tetaplah mawar, warna dan aromanya takkan pernah berganti, hanya berubah dari kuncup, mekar, kembang semerbak, kemuning, layu, gugur lalu hilang membusuk terurai dalam tanah. Mawar pun beragam, bermacam warna, tapi semuanya pasti layu, hanya berbeda waktu. Tidak ada yang lebih dari yang lain, yang ada saling melengkapi, tapi semuanya indah, menarik, menakjubkan, dari kedipan yang berbeda-beda.

Warna apa pun itu, mawar tetaplah kembang yang indah. Di tempatkan di depan, tengah, belakang, diletakan di dinding, di taruh di meja, rona dan lekuknya tetaplah menyejukan pandang. Inilah bunga istimewa. Semakin dirias, bertambah pesonanya. Dibiarkan apa adanya, ia tetap mekar merona.

Mawar bukanlah bunga sampah, hanya tangan-tangan kotor yang memungutnya sebagai sampah. Begitulah mawar, bunga istimewa. Menjaga pesonanya sebuah keniscayaan. Meski duri berduri harus melingari tangkai-tangkainya.

Dilantunkan dalam pepatah Arab:




Celaka orang yang tidak mengenal kapasitas dirinya.

Menjadi Mawar yang Dirindu
Seorang wanita adalah mawar yang istimewa, selamanya ia tetaplah mawar, yang dirindu, yang semakin mulia saat dijaga, namun terhina bagai sampah ketika tidak mengenali jati dirinya. Karenanya, tetaplah menjadi mawar:

a. Tundukkan pandang
Pandangmu, wahai wanita! Bagai kelopak mawar, melindungi dan menyelimuti mahkotamu di saat kuncupnya. Inilah yang didendangkan para penyair Arab:





Tidakkah kau menatap
Mata adalah penggoda bagi hati
Betapa lembutnya kedua mata
Tapi hati lebih lembut lemah gemulai


Inilah alasan Allah Subhanahu wa Taala perintahkan menundukkan pandangan, sebelum perintah menjaga kemaluan. Karena desiran syahwat bermula dari pandangan.




Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. (QS. an-Nur: 31).

b. Balut keanggunan
Wahai wanita! Anggunmu justru merona saat terbalut ketaatan. Bukan saat aurat menjadi santapan semua orang. Inilah mawar yang terjaga, hanya bisa disentuh dan dipetik oleh jemari lembut si empunya.

Mujahid rahimahullah berkata, Seorang wanita, ketika menghadapkan wajahnya, setan akan duduk di atas kepalanya lalu memperindah pesonanya bagi orang yang melihatnya. Dan ketika wanita itu membelakangi, setan akan duduk di atas pinggulnya lalu memperindah bagi orang yang menatapnya. (Lihat Tafsir al-Qurthubi, 12/227).




Dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya. (QS. an-Nur: 31).

Kata Ibnu Masud radhiyallahu anhu, Perhiasan yang biasa terlihat ialah pakaian. Atha dan al-Auzai rahimahumallah lain hal, menurutnya, Muka, kedua telapak tangan dan pakaian. (Lihat Tafsir al-Qurthubi, 12/228).

Ibnu Khuwaiz Mindad rahimahullah berkata, Jika seorang wanita berparas cantik jelita, dan khawatir pesona muka dan telapak tangannya bisa menimbulkan fitnah, maka ia harus menutupnya. (Lihat Tafsir al-Qurthubi, 12/229).

Karena auratmu bagai mahkota mawar, mekarnya pancarkan pesona, ronanya luruhkan pandang, hati pun tertegun, belum lagi aroma semerbak yang menebar lembut. Inilah keindahan, tapi suguhkan keindahan ini spesial hanya untuk suamimu, karena di sinilah pesonamu yang sesungguhnya.

c. Dawai kemerduan
Jika gemericik air dalam bebatuan mampu mengilhami imajinasi pujangga, dawai-dawai bergetar kerap memabukkan hati, lalu bagaimana ketika kemerduan bidadari dunia mendayu-dayu dalam bisikan telinga. Ini baru dawai bernada, sudah begitu menggoda. Belum ditambah bumbu-bumbu asmara. Terlebih dalam suasana cahaya temaram malam.




Maka janganlah kamu tunduk (melemah lembutkan suara) dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya. (QS. al-Ahzab: 32).

Dawai-dawai bernada hanya milik suamimu. Selain itu, jangan pernah sekali mencoba, dawai kemerduanmu terpetik dalam senyuman orang lain. Pandai-pandailah memainkan dawai. Mengerti saat yang istimewa. Tidak terjebak oleh suasana.

d. Senyum dalam Pingitan
Mawar, tetap setia mekar di taman. Tidak seperti kumbang, kepakan sayap-sayapnya, membuatnya terbang, mengenal ketinggian, menyusuri seberang. Keduanya tercipta berbeda. Takkan pernah sama. Mawar tetaplah mawar. Kumbang selamanya pun kumbang. Tapi bukan berarti mawar layu saat berpindah. Ia tetaplah mekar menghiasi taman.

Inilah sejatinya tabiat wanita. Lebih banyak tinggal di rumah. Menghiasi istana mungilnya dengan senyuman, suguhan teh hangat, racikan rempah-rempah sedap, didikan kelembutan, dan beragam kecerdikan pikir dan jemarinya dalam menata taman-taman bahagia.




Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu. (QS. al-Ahzab: 33).

Namun ketika ada hal yang membuatnya harus keluar, ia tetap mengerti bahwa dirinya tercipta sebagai wanita, menjadi mawar yang harus tetap mekar menghiasi taman, tidak lebih.

Lihat bagaimana Aisyah radhiyallahu anha, ibunda kaum mukminin, setiap kali melantunkan ayat ini. Aisyah radhiyallahu anha pasti menangis tersedu-sedu sampai membasahi jilbabnya. (Lihat Hilyatul Auliya, Abu Nuaim, 2/49). Karena ayat ini mengingatkan terus akan peristiwa perang Jamal di saat dirinya ikut keluar terlibat dalam fitnah ini. (Lihat Tafsir al-Qurthubi, 14/181). Kini, dimana air mata-air mata seperti tangisan Aisyah radhiyallahu anha ?!

e. Aroma kelembutan
Terdendang dalam syair Arab:





Para wanita memakai perhiasan
Yang terindah yang kau pandang
Tapi saat perhiasan tak disandang
Mereka itulah sebaik-baik orang
Yang tak memakai perhiasan


Inilah wanita, sekalipun tak melekat satu helai perhiasan di tubuhnya, ia tetap indah, seindah perhiasan yang meneduhkan jiwa. Wanita ibarat perhiasan, tanpa dirupa sudah indah. Semakin dirias, bertambah indah.

Terkadang perhiasan lenyap dalam pandang, tapi mampu menembus lebih jauh ke dalam hati, jauh menggoda dan mewarnai, inilah aroma wewangian. Berhati-hatilah wahai wanita! dalam memakainya.




Apabila seorang wanita memakai minyak wangi lalu melewati suatu kaum agar mereka mencium aromanya, berarti ia adalah begini dan begitu. (HR. Abu Dawud no. 4173, Hadits hasan).

Dalam riwayat Imam Ahmad, Berarti ia telah berbuat zina. (HR. Ahmad no. 19711).

Karena ia telah membangkitkan syahwat kaum laki-laki dengan wewangian itu dan mendorong mereka untuk memandangnya. Maka barangsiapa yang memandangnya berarti ia telah berbuat zina dengan matanya. Dengan demikian ia menjadi penyebab zina mata, sehingga ia pun berdosa. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 8/58). Wallahu Alam.

(Saed as-Saedy, Lc.)

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php?pilih=lihatsakinah&id=403