Sufyan ats-Tsauri berkata, aku datang kepada Ja’far bin Muhammad, dia berkata, “Sufyan, bila Allah memberimu nikmat maka pujilah Dia, bila rizkimu seret maka beristighfarlah, bila kamu ditimpa sesuatu maka ucapkanlah, ‘La haula wa la quwwata illa billah’.”
Tiga hanya diketahui saat tiga: Orang santun saat marah. Orang berani saat perang. Saudara saat membutuhkan.
Barangsiapa kehilangan tiga hal maka hidupnya buruk: Istri, harta dan saudara.
Tiga perkara, tidak ada ketenangan kecuali dengan membuangnya. Gigi keropos dan goyah, budak yang membangkang majikannya dan istri yang durhaka kepada suami.
Tiga hal pengeruh hidup. Tetangga buruk, anak durhaka dan istri yang berakhlak buruk.
Tiga orang, nasihat bagi mereka seperti menyiram air ke batu licin. Wanita tergila-gila kepada seorang laki-laki. Laki-laki tua pecandu khamar. Raja fajir.
Tiga perkara, melakukannya adalah gambling. Minum racun dengan alasan punya penawarnya. Menyeberangi laut mencari kekayaan. Membeber rahasia kepada wanita.
Tiga perkara termasuk kebaikan yang dipunyai oleh seseorang. Murah hati tanpa berharap balasan manusia. Kelelahan bukan karena dunia. Tawadhu’ bukan karena kehinaan.
Tiga perkara, bisu tapi berbicara: Wajah ceria menunjukkan kebersihan dada. Muka kusut menunjukkan pikiran yang kacau. Kecenderungan kepada perkara hina menunjukkan tabiat yang rendah.”
Bahjatul Majalis, al-Hafizh Ibnu Abdul Bar.