Artikel Fatwa : Apa Hakikat Tawakal Kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì ? Senin, 07 Oktober 24 ***
Soal :
Seorang penanya dari Mesir mengatakan, ‘ Apa hakikat bertawakkal kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì ? ‘
Saya berharap mendapatkan faedah dari Anda melalui pertanyaan ini.
Jawab :
Syaikh ÑóÍöãóåõ Çááåõ menjawab, “Hakikat bertawakal kepada Allah ÚóÒøóæóÌóáøó adalah menyandarkan dan menyerahkan urusanmu kepada Allah ÚóÒøóæóÌóáøó, sebagaimana Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman tentang orang yang beriman dari kalangan keluarga Fir’aun.
ÝóÓóÊóÐúßõÑõæäó ãóÇ ÃóÞõæáõ áóßõãú æóÃõÝóæøöÖõ ÃóãúÑöí Åöáóì Çááøóåö [ÛÇÝÑ : 44]
Kelak kalian akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kalain. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. (Ghafir/al-Mukmin : 44)
Seseorang menyandarkan dan menyerahkan urusannya kepada Allah ÚóÒøóæóÌóáøó, dan ia jujur di dalam berpegang kepada-Nya dalam menarik berbagi manfaat dan menolak berbagai mudharat, dan percaya penuh pada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dan janji-Nya, melakukan sebab-sebab yang bersifat syar’i dan indrawi yang diperintahkan oleh Allah ÚóÒøóæóÌóáøó. Inilah dia bertawakal kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì.
Dan jika Anda bersandar kepada Rabb Anda di atas sifat ini, niscaya Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mencukupimu, berdasarkan firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
æóãóäú íóÊóæóßøóáú Úóáóì Çááøóåö Ýóåõæó ÍóÓúÈõåõ [ÇáØáÇÞ : 3]
Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (ath-Thalaq : 3)
Dan kita menyatakan dan menetapkan hal itu-yakni, dengan bertawakal kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì atau dengan apa-apa yang terkandung di dalamnya- dalam setiap shalat, kita mengatakan dalam setiap shalat,
ÅöíøóÇßó äóÚúÈõÏõ æóÅöíøóÇßó äóÓúÊóÚöíäõ [ÇáÝÇÊÍÉ : 5]
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan (al-Fatihah : 5).
Isti’anah (meminta pertolongan) berkonsekwensi penyandaran dan penyerahan urusan kepada Allah ÚóÒøóæóÌóáøó , dan bahwa kita tidak memiliki daya, tidak pula memiliki kekuatan, tidak pula mempunyai kemampuan untuk beribadah kecuali dengan pertolongan Allah ÚóÒøóæóÌóáøó, akan tetapi harus melakukan sebab-sebab yang akan menyampaikan kepada maksud, baik yang bersifat syar’i atau pun yang bersifat indrawi.
Maka, barangsiapa mengatakan, ‘Saya bersandar dan bergantung kepada Allah ÚóÒøóæóÌóáøó , serta bertawakal kepada Allah ÚóÒøóæóÌóáøó untuk mendapatakan anak, sedangkan ia tidak menikah, maka ia telah dusta dalam bertawakalnya. Ia harus menikah, dan menikah adalah sarana syar’i untuk memperoleh anak.
Dan, barangsiapa mengatakan, ‘‘Saya bersandar dan bergantung kepada Allah ÚóÒøóæóÌóáøó dan dia melemparkan dirinya ke dalam kobaran api, atau ia melemparkan dirinya ke dalam laut, sedangkan ia tidak mengerti bagaimana berenang. Kita katakan : engkau dusta. Engkau harus melakukan sebab-sebab yang akan melindungimu dari (terbakar oleh) api, atau sebab-sebab yang akan melindungimu dari tenggelam.
Oleh karena ini, dulu penghulu orang-orang yang bertawakal, yaitu, Nabi kita Muhammad Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó biasa mengambil sebab yang bersifat hissiyah yang dibarengi dengan kejujuran bertawakal kepada Allah ÚóÒøóæóÌóáøó. Di medan perang, beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó mengenakan baju besi, perisai atau tameng untuk melindungi diri dari panah dan senjata yang lainnya. Dan kadang bahkan beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó mengenakan dua baju besi, untuk menambah penjagaan diri, seperti halnya yang beliau lakukan pada waktu perang Uhud.
Jadi, seseorang harus melakukan sebab-sebab yang akan bermanfaat, baik sebab-sebab yang bersifat syar’iyyah atau pun sebab-sebab yang bersifat hissiyah, agar diperoleh apa yang Anda maksudkan dalam penyandaran dan penyerahan urusan Anda kepada Allah ÚóÒøóæóÌóáøó .
***
Wallahu A’lam
Sumber :
Fatawa Nur ‘Ala ad-Darb, Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, Jilid 1, hal. 86-87, soal : 49.
Hit : 2508 |
Index Fatwa |
Beritahu teman |
Versi cetak |
Bagikan
| Index Tazkiyatunnufus dan Dzikir |
|