Artikel Fatwa : Pesan Dibelikan Barang dari Tempat yang Disucikan Senin, 28 Oktober 24 ***
Soal :
Penanya mengatakan, “Sejumlah orang meminta dariku untuk membelikan bagi mereka barang-barang, seperti, sajadah, kain kafan, inai, dan Mufhaf al-Qur’an dari tempat-tempat yang disucikan (seperti Makkah dan Madinah.”
Jawab :
Syaikh ÑóÍöãóåõ Çááå mejawab, “Adapun barang yang dipesan berupa sajadah, maka bila mana mereka berpesan kepada Anda untuk membelikan barang tersebut karena mengingat barang tersebut tersedia melimpah di tempat tersebut, ketersediaan barang tersebut lebih banyak di tempat tersebut dibanding di tempat lainnya, dan boleh jadi di tempat tersebut harganya lebih murah, maka tidak mengapa. Adapun bila ada keyakinan bahwa sajadah-sajadah yang dibeli dari sana memiliki keistimewaan dalam hal keutamaan atas sajadah di tempat-tempat lainnya, maka ini tidaklah benar. Dan, janganlah Anda membelikan untuk mereka atas dasar keyakinan ini.
Adapun barang yang dipesan berupa kain kafan, maka tidaklah disyariatkan seseorang membeli kain kafannya dari tempat-tempat tersebut, dan tidak disyariatkan pula untuk mencucinya dengan menggunakan air zam-zam, karena hal itu tidak datang keterangannnya dari Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó , tidak pula dari para sahabatnya. Bertabarruk (ngalap berkah) dengan kain kafan hanyalah dalam hal yang datang dalam nash, yaitu hadis yang valid datang dari Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bahwa Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó beliau pernah dikirimi hadiah berupa jubah, berkatalah seseorang, ‘Ya, Rasulullah ! Kenakanlah jubah itu kepadaku. Beliau pun mengatakan, ‘Iya.’ Lalu, Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó duduk di majlis, kemudian beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó kembali, lalu beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó melipat jubah tersebut kemudian beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó mengirimkanya kepada orang yang memintanya. Berkatalah orang-orang kepada orang yang meminta jubah tadi, ‘Alangkah bagusnya engkau, engkau meminta jubah itu kepada beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó , sedangkan engkau tahu bahwasanya beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó tidak pernah menolak seorang pun yang meminta. Maka, berkatalah lelaki tersebut, ‘Demi Allah ! Tidaklah aku meminta kain kafan ini kecuali untuk aku jadikan sebagai kafanku pada hari aku meningal dunia.’ Maka, jubah yang dimintanya itu benar-benar menjadi kain kafannya (saat ia meninggal dunia). [1]
Demikian pula, Abdullah bin Abdillah bin Ubay meminta kepada Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó agar mengkafani jasad ayahnya Abdullah bin Ubay dengan baju Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó , lalu beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó pun melakukannya. [2]
Maka, kain kafan ini yang berasal dari baju Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó tidak mengapa seseorang bertabaruk dengannya. Adapun keadaan kain kafan tersebut berasal dari Makkah atau berasal dari Madinah, maka ini tidak ada asalnya menggunakannya untuk bertabaruk (ngalap berkah).
Wallahu A’lam
Sumber :
Fatawa Nur ‘Ala ad-Darb, Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, Jilid 1, hal. 90-91, soal : 53.
Catatan :
[1] HR. al-Bukhari, kitab al-Jana-iz, bab : Man Ista’adda al-Kafan, no. 1277.
[2] HR. al-Bukhari, kitab al-Jana-iz, bab : al-Kafanu fi al-Qamish, no. 1269, Muslim, kitab Fadha-il ash-Shahabah, bab : Min Fadha-il Umar bin al-Khaththab, no. 2400.
Hit : 2548 |
Index Fatwa |
Beritahu teman |
Versi cetak |
Bagikan
| Index Jual Beli |
|