Artikel Fatwa : Mukaddimah Bulan Berkah Rabu, 12 Februari 25 Soal :
Sang penanya mengatakan, “Kita akan meyambut kedatangan bulan yang utama ini ; bulan puasa, yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari Neraka, bulan yang di dalamnya dianjurkan doa-doa dan kebaikan-kebaikan diperbanyak. Kami berharap kepada Anda kiranya berkenan menyampaikan mukaddimah (pengantar) tentang bulan yang utama ini, dan apa yang wajib atas seorang muslim untuk bersikap terhdapnya ?
Jawaban :
Syaikh ÑóÍöãóåõ Çááåõ menjawab, “Bulan yang penuh berkah ini –bulan Ramadhan-, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman tentangnya,
ÔóåúÑõ ÑóãóÖóÇäó ÇáøóÐöí ÃõäúÒöáó Ýöíåö ÇáúÞõÑúÂäõ åõÏðì áöáäøóÇÓö æóÈóíøöäóÇÊò ãöäó ÇáúåõÏóì æóÇáúÝõÑúÞóÇäö [ÇáÈÞÑÉ : 185]
Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil) (al-Baqarah : 185).
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengistimewakannya dengan bahwa pada bulan tersebut al-Qur’an yang agung diturunkan, dan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga mengistimewakannya dengan adanya malam yang penuh keberkahan, yaitu Lailatul Qadar, yang mana Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman tentang malam tersebut,
ÅöäøóÇ ÃóäúÒóáúäóÇåõ Ýöí áóíúáóÉò ãõÈóÇÑóßóÉò ÅöäøóÇ ßõäøóÇ ãõäúÐöÑöíäó (3) ÝöíåóÇ íõÝúÑóÞõ ßõáøõ ÃóãúÑò Íóßöíãò (4) ÃóãúÑðÇ ãöäú ÚöäúÏöäóÇ ÅöäøóÇ ßõäøóÇ ãõÑúÓöáöíäó (5) ÑóÍúãóÉð ãöäú ÑóÈøößó Åöäøóåõ åõæó ÇáÓøóãöíÚõ ÇáúÚóáöíãõ (6) ÑóÈøö ÇáÓøóãóÇæóÇÊö æóÇáúÃóÑúÖö æóãóÇ ÈóíúäóåõãóÇ Åöäú ßõäúÊõãú ãõæÞöäöíäó (7) áóÇ Åöáóåó ÅöáøóÇ åõæó íõÍúíöí æóíõãöíÊõ ÑóÈøõßõãú æóÑóÈøõ ÂÈóÇÆößõãõ ÇáúÃóæøóáöíäó (8) [ÇáÏÎÇä : 3 - 8]
Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi (Lailatul Qadar). Sesungguhnya Kamilah pemberi peringatan. Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (Hal itu merupakan) urusan (yang besar) dari sisi Kami. Sesungguhnya Kamilah yang mengutus (para rasul) sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, yaitu Tuhan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya jika kamu orang-orang yang yakin. Tidak ada tuhan (yang hak) selain Dia (yang) menghidupkan dan mematikan. (Dialah) Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu terdahulu. (ad-Dukhan : 3-8)
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga berfirman tentang malam tersebut,
ÅöäøóÇ ÃóäúÒóáúäóÇåõ Ýöí áóíúáóÉö ÇáúÞóÏúÑö (1) æóãóÇ ÃóÏúÑóÇßó ãóÇ áóíúáóÉõ ÇáúÞóÏúÑö (2) áóíúáóÉõ ÇáúÞóÏúÑö ÎóíúÑñ ãöäú ÃóáúÝö ÔóåúÑò (3) ÊóäóÒøóáõ ÇáúãóáóÇÆößóÉõ æóÇáÑøõæÍõ ÝöíåóÇ ÈöÅöÐúäö ÑóÈøöåöãú ãöäú ßõáøö ÃóãúÑò (4) ÓóáóÇãñ åöíó ÍóÊøóì ãóØúáóÚö ÇáúÝóÌúÑö (5)
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada Lailatul Qadar. Tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu ? Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar (al-Qadar : 1-5)
Dan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengistimewakannya dengan bahwa Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mewajibkan puasanya atas umat ini, dan menjadikan puasanya sebagai salah satu rukun Islam. Telah tetap dari Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bahwa beliau bersabda,
ãóäú ÕóÇãó ÑóãóÖóÇäó ÅöíãóÇäðÇ æóÇÍúÊöÓóÇÈðÇ ÛõÝöÑó áóåõ ãóÇ ÊóÞóÏøóãó ãöäú ÐóäúÈöåö
Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala (dari Allah) niscaya diampuni dosanya yang telah lalu [1]
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga mengistimewakan bulan ini dengan menjadikan shalat malamnya sebagai sebab pengampunan dosa-dosa. Telah tetap dari beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bahwa beliau bersabda,
ãóäú ÞóÇãó ÑóãóÖóÇäó ÅöíãóÇäðÇ æóÇÍúÊöÓóÇÈðÇ ÛõÝöÑó áóåõ ãóÇ ÊóÞóÏøóãó ãöäú ÐóäúÈöåö
Barang siapa melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, niscaya dimpuni dosanya yang telah lalu. [2]
Dan untuk ini disyariatkan bagi kaum Muslimin dengan sunnah Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó untuk mengerjakan shalat pada malam-malam bulan Ramadhan secara berjama’ah, mereka mengerjakan shalat tersebut di masjid-majid di belakang seorang imam, dan telah tetap dari Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bahwa beliau bersabda,
ãóäú ÞóÇãó ãóÚó ÇáúÅöãóÇãö ÍóÊøóì íóäúÕóÑöÝó ßõÊöÈó áóåõ ÞöíóÇãõ áóíúáóÉò
Barang siapa mengerjakan shalat malam bersama sang imam hingga selesai, niscaya akan dituliskan untuknya (pahala) melaksanakan shalat semalam suntuk [3]
Dan, sesungguhnya aku memotivasi saudara-saudaraku kaum Muslimin untuk melakukan puasa Ramadhan, dengan puasa yang akan menjadikan amal-amal mereka suci, dengannya pula akan bertambah keimanan mereka, yaitu puasa yang dijaga oleh pelakunya hingga terealisasi apa-apa yang manjadi tujuan dari disyariatkannya puasa, sungguh Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì telah mengisyaratkan kepada hal tersebut di dalam firman-Nya,
íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáøóÐöíäó ÂãóäõæÇ ßõÊöÈó Úóáóíúßõãõ ÇáÕøöíóÇãõ ßóãóÇ ßõÊöÈó Úóáóì ÇáøóÐöíäó ãöäú ÞóÈúáößõãú áóÚóáøóßõãú ÊóÊøóÞõæäó [ÇáÈÞÑÉ : 183]
Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa segaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa (al-Baqarah : 183).
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menjelaskan hikmah dari diwajibkannya puasa, yaitu, bertakwa kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì.
Dan telah tetap dari Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bahwa beliau bersabda,
ãóäú áóãú íóÏóÚú Þóæúáó ÇáÒøõæÑö æóÇáúÚóãóáó Èöåö æóÇáúÌóåúáó ÝóáóíúÓó áöáøóåö ÍóÇÌóÉñ Ýöí Ãóäú íóÏóÚó ØóÚóÇãóåõ æóÔóÑóÇÈóåõ
Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengerjakannya, dan melakukan tindakan bodoh, maka Allah tidak butuh terhadap tindakannya meninggalkan makan dan minumnya.[4]
Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó menjelaskan di dalam hadis ini bahwa hikmah dari puasa adalah hendaknya seseorang meninggalkan :
1- Þóæúáó ÇáÒøõæÑö : yaitu, setiap perkataan haram; karena setiap perkataan haram merupakan zuur (kedustaan, kebohongan, ketidakbenaran) ; karena kebengkokan dan penyimpangannya dari jalan yang lurus. Dan demikian pula melakukan tindakan dusta, hal tersebut meliputi semua bentuk amal yang haram.
2-ÇáúÌóåúáó : yaitu, pelanggaran terhadap manusia dan tindak kezhaliman terhadap mereka, pada harta mereka, pada darah mereka, dan pada kehormatan mereka.
Dan, aku memotivasi saudara-saudaraku kaum Muslimin agar memanfaatkan dengan baik bulan ini dengan mengerjakan shalat pada malam-malamnya, karena sesunguhnya sebagaimana telah disebutkan tadi sabda Nabi :
ãóäú ÞóÇãó ãóÚó ÇáúÅöãóÇãö ÍóÊøóì íóäúÕóÑöÝó ßõÊöÈó áóåõ ÞöíóÇãõ áóíúáóÉò
Barang siapa mengerjakan shalat malam bersama sang imam hingga selesai, niscaya akan dituliskan untuknya (pahala) melaksanakan shalat semalam suntuk.
Dan, shalat malam pada bulan Ramadhan dengannya Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì akan mengampuni dosa yang telah lalu yang dilakukan oleh orang yang lalai.
Dan, saya tekankan kepada saudara-saudaraku para imam yang mengimami shalat manusia agar hendaknya mereka mengimami shalat manusia dengan penuh tumakninah dan bacaan al-Qur’an secara perlahan-lahan (tidak tergesa-gesa). Jangan sampai mereka melakukan seperti yang dilakukan oleh banyak imam yang sangat cepat (gerakannya atau bacaannya) sehingga para makmun tidak bisa melakukan hal yang disunnahkan. Bahkan, kadang mereka melakukan gerakan yang sangat cepat sehingga para makmun tidak dapat melakukan hal yang wajib ; berupa tumakninah, tasbih, dan lainnya.
Para ulama –semoga Allah merahmati mereka- telah menaskan bahwa dimakruhkan bagi imam mempercepat gerakan yang akan menghalangi para makmum untuk melakukan tindakan yang disunnahkan, maka bagaimana halnya bila sang imam mempercepat gerakan yang akan menghalangi para makmum melakukan tindakan yang diwajibkan ? Seorang imam itu adalah penjamin bagi orang-orang yang berada di balakangnya. Hendaknya ia mengimami mereka di dalam shalat yang sempurna, sesuai dengan tuntunan yang datang dari Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó. Telah tetap di dalam ash-Shahih dari hadis Aisyah ÑóÖöíó Çááåõ ÚóäúåóÇ bahwa ia pernah ditanya,
ßóíúÝó ßóÇäóÊú ÕóáóÇÉõ ÑóÓõæáö Çááøóåö Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó Ýöí ÑóãóÖóÇäó
Bagaimana dulu Shalat (malam) Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó di bulan Ramadhan ?
Ia menjawab :
ãóÇ ßóÇäó ÑóÓõæáõ Çááøóåö Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó íóÒöíÏõ Ýöí ÑóãóÖóÇäó æóáóÇ Ýöí ÛóíúÑöåö Úóáóì ÅöÍúÏóì ÚóÔúÑóÉó ÑóßúÚóÉð
Beliau shalat (sunnah qiyamullail) pada bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya tidak lebih dari sebelas rakaat. [5]
Maka, apabila sang imam mengerjakan shalat 11 rakaat atau 13 rakaat, sebagaimana hal tersebut datang di dalam hadis Ibnu Abbas, hendaknya ia melakukannya dengan perlahan dan tumakninah, membaca al-Qur’an dengan tartil, khusyu’ di dalam ruku’ dan sujud, membaca dzikir yang disunnahkan, sehingga shalat dapat dilakukan dengan sempurna, dan orang-orang yang dibelakangnya dapat menunaikannya seperti itu juga. Tentunya, ini lebih baik daripada mengerjakan shalat tersebut dengan banyak jumlah rakaatnya namun dilakukan tanpa ada ketumakninahan di dalamnya.
Telah tetap di dalam ash-Shahihain dari hadis Abu Hurairah ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ perihal kisah orang yang jelek dalam mengerjakan shalatnya, ia datang (ke masjid) lalu mengerjakan shalat tanpa adanya ketumakninahan di dalamnya, maka Nabi Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó mengatakan kepadanya :
ÇÑúÌöÚú ÝóÕóáøö ÝóÅöäøóßó áóãú ÊõÕóáøö
Kembalilah engkau, lalu shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat.
Beliau Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó mengulangi hal itu kepadanya tiga kali, hingga ia mengatakan :
æóÇáøóÐöí ÈóÚóËóßó ÈöÇáúÍóÞøö ãóÇ ÃõÍúÓöäõ ÛóíúÑóåõ ÝóÚóáøöãúäöí
Demi Dzat yang telah mengutus Anda dengan membawa kebenaran, aku tidak dapat melakukuan yang lebih baik selain hal itu, maka ajarilah aku [6]
Dan, aku juga memotivasi saudara-saudaraku kaum Muslimin agar dermawan dengan jiwa di siang hari bulan Ramadhan, dan juga dermawan dengan harta, karena sesungguhnya Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó adalah (sebagaimana kata Ibnu Abbas ) :
ßóÇäó ÇáäøóÈöíøõ Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó ÃóÌúæóÏó ÇáäøóÇÓö ÈöÇáúÎóíúÑö æóßóÇäó ÃóÌúæóÏõ ãóÇ íóßõæäõ Ýöí ÑóãóÖóÇäó Íöíäó íóáúÞóÇåõ ÌöÈúÑöíáõ
Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó adalah orang yang paling dermawan dalam segala kebaikan. Dan kedermawanan beliau paling baik adalah saat bulan Ramadhan ketika Jibril datang menemui beliau. [7]
Maka berderma dan berbuat kebaikan kepada orang lain memiliki keistimewaan dan keunggulan atas hal lainnya, karena Ramadhan adalah bulan berbuat baik kepada orang lain, dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan, Ramadhan adalah bulan kedermawanan, dan Allah azza wajalla mencurahkan kepada para hamba-Nya kebaikan-kebaikan yang banyak nan melimpah di bulan ini.
Aku juga memotivasi saudara-saudaraku (kaum Muslimin) untuk membaca al-Qur’an di bulan Ramadhan dengan perlahan-lahan dan mentadabburi makna-maknanya dan membahas hal-hal yang dirasa belum jelas bersama ahli ilmu (para ulama), karena sesungguhnya para sahabat, dulu, mereka tidak melampoi 10 ayat hingga mereka mempelajarinya dan menggali apa-apa yang ada di dalamnya berupa ilmu dan mengamalkanya. Jadi, mereka mempelajari al-Qur’an dan mengamalkannya semuanya.
Dan, aku juga memperingatkan saudara-saudaraku kaum Muslimin dari tindakan menyia-nyiakan waktu bulan yang penuh berkah ini, karena sesungguhnya waktu-waktunya amat berharga sekali.
Aku juga memperingatkan mereka jangan sampai berani untuk berbuat zhalim terhadap hamba-hamba Allah dengan berdusta dalam trasaksi jual beli, curang dan menipu dalam muamalah apa pun yang mereka lakukan. Karena telah tetap dari Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bahwa beliau bersabda,
ãóäú ÛóÔøó ÝóáóíúÓó ãöäøöì
Barang siapa berlaku curang, maka ia bukan termasuk golonganku [8]
Singkat kata, aku memotivasi saudara-saudaraku kaum muslimin agar melakukan setiap amal shaleh yang akan mendekatkan diri mereka kepada Allah ÚóÒøó æóÌóáøó. Dan, aku pun memperingatkan mereka dari setiap amal buruk yang akan menjadi sebab mereka berdosa dan mengurangi keimanan mereka.
Aku memohon kepada Allah untukku dan untuk mereka taufik untuk dapat melakukan setiap hal yang dicintai-Nya dan diridhai-Nya, dan dapat pula menjauhi sebab-sebab yang dimurkai-Nya dan penentangan terhadap-Nya.
Amin
Wallahu A’lam
Sumber :
Fatawa Nur ‘Ala ad-Darb, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 7/171-174, soal no : 3764.
Catatan :
[1] HR. al-Bukhari : kitab al-Iman, bab : Shaumu Ramadhan Ihtisaban Minal Iman, no. 38
[2] HR. al-Bukhari : Kitab al-Iman, bab : Tathawwu’ Qiyam Ramadhan Min al-Iman, no. 37. Muslim : Shalatu al-Musafirin, bab : at-Targhib Fii Qiyami Ramadhan, no. 759
[3] HR. At-Tirmidzi : Abwabu ash-Shaum, bab : Maa-jaa-a Fi Qiyami Syahri Ramadhan, no. 806, dan ia berkata : Hasan Shahih. An-Nasai : Kitab Qiyamu al-Laili Wa Tathawwu’i an-Naharii, bab : Qiyamu Syahri Ramadhan, no. 1605. Ibnu Majah : kitab Iqamati ash-Shalati Wa as-Sunnati Fii-haa, bab : Maa-jaa-a Fi Qiyami Syahri Ramadhan, no. 1327
[4] HR. al-Bukhari : kitab al-Adab, bab : firman Allah ta’ala : æóÇÌúÊóäöÈõæÇ Þóæúáó ÇáÒøõæÑö (al-Hajj : 30), no (6057)
[5] HR. al-Bukhari : kitab al-Jum’ah, bab Qiyamu an-Nabiyyi Bil-Lail Fi Ramadhan Wa Ghairihi, no. 1147. Muslim : kitab shalatu al-Musafiriin Wa Qashriha, bab : Shalatu al-Lail Wa ‘Adadu Raka’aati an-Nabi...no. 738.
[6] HR. al-Bukhari : kitab al-Adzan, bab : Amara an-Nabi alladzi laa yatimmu ruku’ahu bi-al-I’adati, no. 793. Dan Muslim : kitab ash-Shalati, bab : Wujubu Qira’ati al-Fatihati Fi Kulli Rak’atin…no. 397.
[7] HR. al-Bukhari : kitab ash-Shaum, bab : Ajwadu Maa Kaa-na an-Nabi Yakunu Fi Ramadhan
[8] HR. Muslim : kitab al-Iman, bab : Qaulu an-Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó Man Ghasysyanaa Falaisa Minnaa, no. 102.
Hit : 4324 |
Index Fatwa |
Beritahu teman |
Versi cetak |
Bagikan
| Index Shaum |
|