| Konsultasi | Bulletin | Do'a | Fatwa | Hadits | Khutbah | Kisah | Mu'jizat | Qur'an | Sakinah | Tarikh | Tokoh | Aqidah | Fiqih | Sastra | Resensi |
| Dunia Islam | Berita Kegiatan | Kajian | Kaset | Kegiatan | Materi KIT | Firqah | Ekonomi Islam | Analisa | Senyum | Download |
 
Menu Utama
·Home
·Tentang Kami
·Buku Tamu
·Produk Kami
·Formulir
·Jadwal Shalat
·Kontak Kami
·Download Artikel
·Download Murattal

Aqidah
· Syirik Dalam Ketaatan
· Syirik Dalam Tawakal

Firqah (Aliran-aliran)
· JAMAAH ISLAMIYAH MESIR 5
· JAMAAH ISLAMIYAH MESIR 4

Analisa
· Kerancauan Ilmu Hisab Dalam Penentuan Awal & Akhir Ramadhan
· Studi Kritis Seputar Puasa Hari Sabtu

Ekonomi Islam
· KPR Bank Syariah Ternyata Penuh Dengan Riba
· Produk Al-Mudharabah (Bagi Hasil) Dalam Islam Sebagai Solusi Perekonomian Islam

Produk Kami

Informasi!
·Serial Buku Dakwah Al-Sofwa 2021
·Tebar Serial Buku Tauhid
·Tebar Buku Risalah Puasa Nabi dan Panduan Praktis Ramadhan

Liputan Kegiatan
·Konsultasi Islam
·Penyaluran Hewan Qurban
·Santunan Yatim

Konsultasi Online

Ust.Husnul Yaqin, Lc

Ust.Amar Abdullah

Ust.Saed As-Saedy, Lc

Fatwa Seputar Sholat

Berangkatnya Wanita Muslimah ke Masjid

Apa Hukum Shalat Wanita di Masjid

Haruskah Wanita Melaksanakan Shalat Lima Waktu di Dalam Masjid

Wanita di Rumah Berma'mum Kepada Imam di Masjid

Apakah Shalatnya Seorang Wanita di rumah Lebih Utama Ataukah di Masjidil Haram

Manakah yang Lebih Utama Bagi Wanita Pada Bulan Ramadhan, Melaksanakan Shalat di Masjidil Haram atau di Rumah

Shalatnya Kaum Wanita yang Sedang Umrah di Bulan Ramadhan

Apakah Shalat Seseorang di Masjidil Haram Bisa Batal Ketika Ia Ikut Berjama'ah Dengan Imam atau Shalat Sendirian Karena Ada Wanita yang Melintas di Hadapannya?

Bila Terdapat Pembatas (Tabir) Antara Kaum Pria dan Kaum Wanita, Maka Masih Berlakukah Hadits Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam (sebaik-baik shaf wanita adalah yang paling akhir dan seburuk-buruknya adalah yang paling depan)

Apakah Kaum Wanita Harus Meluruskan Shafnya Dalam Shalat

Benarkah Shaf yang Paling Utama Bagi Wanita Dalam Shalat Adalah Shaf yang Paling Belakang

Benarkah Shalat Jum'at Sebagai Pengganti Shalat Zhuhur

Hukum Shalat Jum'at Bagi Wanita

Hanya Membaca Surat Al-Ikhlas

Hukum Meninggalkan Shalat

Hukum Menangis Dalam Shalat Jama'ah

Jika seorang musafir masuk masjid di saat orang sedang shalat jama'ah Isya' dan ia belum shalat maghrib.

Bolehkah bagi kaum wanita untuk berkunjung ke rumah orang yang sedang terkena musibah kematian, kemudian melakukan shalat jenazah berjama'ah dirumah tersebut ?

Apabila seseorang tidak melakukan shalat fardlu selama 3 tahun tanpa uzur, kemudian bertaubat , apakah dia harus mengqodha shalat tersebut ?

Apabila suatu jama'ah melakukan shalat tidak menghadap qiblah, bagaimanakah hukumnya ?

Membangunkan Tamu Untuk Shalat Shubuh

Doa-Doa Menjelang Azan Shubuh

Bacaan Sebelum Imam Naik Mimbar Pada Hari Jum'at

Shalat Tasbih

Hukum Wirid Secara Jama'ah/Bersama-sama Setelah Setiap Shalat Fardhu

Hukum Meninggalkan Shalat Karena Sakit

Jika Telah Suci Saat Shalat Ashar atau Isya, Apakah Wajib Melaksanakan Shalat Zhuhur dan Maghrib

Jika Wanita Mendapatkan Kesuciannya di waktu Ashar Apakah Ia Harus Melaksanakan Shalat Zhuhur

Mendapatkan Haidh Beberapa Saat Setelah Masuk Waktu Shalat, Wajibkah Mengqadha Shalat Tersebut Setelah Suci

Urutan Shalat yang Diqadha

Seorang Wanita Mendapatkan Kesuciannya Beberapa Saat Sebelum Terbenamnya Matahari, Wajibkah Ia Melaksanakan Shalat Zhuhur dan Ashar?

Keutamaan Shaf Wanita Dalam Shalat Berjama'ah

Berkumpulnya Wanita Untuk Shalat Tarawih

Bolehkah Seorang Wanita Shalat Sendiri dibelakang Shaf

Bolehkah kaum Wanita Menetapkan Seorang Wanita Untuk Mengimami Mereka Dalam Melakukan Shalat di Bulan Ramadhan

Wajibkah Kaum Wanita Melaksanakan Shalat Berjama'ah di Rumah

Apa hukum Shalat Berjama'ah Bagi Kaum Wanita

Apakah Ada Niat Khusus Bagi Imam Yg Mengimami Shalat Kaum Pria & Wanita

Shalatnya Piket Penjaga ( Satpam )

Gerakan Dalam Shalat

Hukum Gerakan Sia-Sia Di Dalam Shalat

Hukum Gerakan Sia-Sia Di Dalam Shalat

Keengganan Para Sopir Untuk Shalat Jamaah

Hukum Menangguhkan Shalat Hingga Malam Hari

Hukum Meremehkan Shalat

Hukum Menangguhkan Shalat Subuh Dari Waktunya

Dampak Hukum Bagi yang Meninggalkan Shalat

Hukum Shalat Seorang Imam Tanpa Wudhu Karena Lupa

Hukum Orang yang Tayammum Menjadi Imam Para Makmum yang Berwudhu

Posisi Kedua Kaki Ketika Berdiri Dalam Shalat

Hukum Meninggalkan Salah Satu Rukun Shalat

Jika Ketika Shalat Ragu Apakah Ia Meninggalkan Salah Satu Rukun

Shalat Bersama Imam, Tapi Lupa Berapa Rakaat Yang Telah Dikerjakan

Hukum Shalat di Belakang Orang yang Menulis Tamimah Untuk Orang Lain

Hukum Shalat di Belakang Orang yang Berinteraksi Dengan Tamimah dan Sihir

Mengumumkan Barang Hilang Di Dalam Masjid, Bolehkah?

Seputar Posisi Makam Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam Di Masjid Nabawi

Shalatnya Penjaga Piket/Satpam

Hukum Membaca Al-Qur'an Dalam Shalat Secara Berurutan

Haruskah Imam Menunggu Makmum Masbuk Ketika Ruku

Shalat Dengan Mengenakan Pakaian Transparan

Hukum Pergi Ke Masjid Yang Jauh Agar Bisa Shalat Di Belakang Imam Yang Bagus Bacaannya

Sahkah Shalat Di Belakang Imam Yang Bacaanya Tidak Bagus?

HUKUM BACAAN AL-QUR'AN SEBELUM ADZAN JUM'AT

Meluruskan Barisan Hukumnya Sunat

Shalatnya Piket Penjaga / Satpam

Shalat Fardhu Bermamum Kepada Orang Yang Shalat Sunnat

Keengganan Para Sopir Untuk Shalat Berjama'ah

Bacaan Al-Quran Dengan Pengeras Suara Sebelum Shalat Subuh

Hukum Menangguhkan Shalat Hingga Malam Hari

Imam Menunggu Para Mamum Ketika Ruku

Mendengar Adzan Tetapi Tidak Datang Ke Masjid

Menempatkan Dupa Di Depan Orang-Orang Yang Sedang Shalat

Kapan Dibacakannya Doa Istikharah

Shalat Dengan Mengenakan Pakaian Bergambar

TATA CARA SHALAT DI PESAWAT

Menjama Shalat Dalam Kondisi Dingin

Menghadap Kiblat Ketika Buang Air

Hukum Shalat Bergeser Dari Arah Kiblat

Mendapatkan Najis Di Pakaian Setelah Melaksanakan Shalat

Sahkah Shalat Di Masjid Yang Ada Kuburan Di Dalamnya?

Doa Atau Dzikir Sebelum Adzan

Hukum Membaca Shalawat Kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam Secara Berjamaah Di Setiap Akhir Shalat

Mana Yang Harus Didahulukan Mendengarkan Ta'lim Atau Tahiyatul Masjid?

Hukum Menahan Buang Angin Ketika Melaksanakan Shalat

Sahkah Shalat Seseorang Yang Terbuka Sebagian Kecil Dari Auratnya?

Beberapa Masalah Mengenai Sujud Syukur

Hukum Mengakhirkan Shalat Shubuh Hingga Terbit Matahari

Beberapa Masalah Tentang Shalat Jum'at Bagi Musafir

Aurat Terbuka Ketika Shalat

Wajibkah Mengqadha Puasa yang Tertinggal?

Do'a Qunut

Sunnah Sebelum Melaksanakan Shalat 'Ied

Membaca al-Qur'an di Rumah Selepas Shalat Subuh Sampai Terbit Matahari

Shalat Dua Rekaat Antara Adzan dan Iqamah


Info Khusus

Cinta Rasul

Ada Apa Dengan Valentine's Day ?

Manisnya Iman

Hukum Merayakan Hari Valentine

Adakah Amalan Khusus di Bulan Rajab?

Asyura' Dalam Perspektif Islam, Syi'ah & Kejawen..!!

Ada Apa Dengan Valentines Day?


Kajian Islam
· Ada Apa Dengan Valentine's Day..??
· Mutiara Fiqih Islam
· KITAB TAUHID 3
· Untuk Diketahui Setiap Muslim

SMS Dakwah Hari Ini

Allah berfirman,yang artinya, Tidak ada yang serupa dengan Dia dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.(QS.Asy-Syura:11)

( Index SMS Dakwah )

   


Telah Hadir & Terbit Kembali SERIAL BUKU DAKWAH AL-SOFWA :: Telah Hadir & Terbit Kembali SERIAL BUKU TAUHID :: Tebar Buku Risalah Puasa & Panduan Praktis Bulan Ramadhan ::

Artikel Buletin An-Nur :

Masalah Qadha Puasa (Bagian 1)
Selasa, 25 Mei 21

Telah maklum bahwa qadha puasa Ramadhan merupakan kewajiban atas orang yang meninggalkan puasa Ramadhan karena udzur syari,
seperti safar dan sakit. Sebagaimana firman Allah - -,




(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain... (al-Baqarah: 184)

Allah - - juga berfirman,




Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu... (al-Baqarah: 185)

Dalam hal qadha puasa yang ditinggalkan ini, ada beberapa masalah yang patut kiranya dimengerti, antara lain,

Masalah Pertama:

Penyegeraan dan Penundaan dalam Mengqadha Puasa Wajib


Tidak ada khilaf (perbedaan pendapat) di antara para fuqaha tentang disukainya tindakan menyegerakan qadha untuk menggugurkan sesuatu yang wajib dan membebaskan tanggungan. Namun, mereka berbeda pendapat dalam hal mengakhirkan qadha puasa Ramadhan, menjadi beberapa pendapat.

Pendapat pertama, Bahwa qadha puasa Ramadhan itu merupakan kewajiban yang bersifat longgar yang dapat dilakukan hingga bulan Syaban di mana memungkinkan seseorang untuk melakukan qadha sebelum datangnya bulan Ramadhan berikutnya. Dengan pendapat inilah kebanyakan para fuqaha berpendapat. [1]

Pendapat kedua, Bahwa qadha puasa Ramadhan itu merupakan kewajiban yang bersifat segera. Dengan pendapat inilah sebagian kalangan Hanafiyah[2] dan sebagian kalangan Malikiyah[3] berpendapat.

Pendapat ketiga, Bahwa qadha puasa Ramadhan itu merupakan kewajiban yang bersifat longgar sampai tersisanya waktu yang memungkinkan untuk dilakukan qadha sebelum tiba bulan Ramadhan berikutnya, bila mana tindakan tidak berpuasa itu karena suatu udzur. Kalau tidak demikian, maka kewajiban qadha puasa Ramadhan itu bersifat segara bila tindakan tidak berpuasa itu dilakukan tanpa udzur. Inilah pendapat yang benar dikalangan Syafiiyyah[4]


Dalil-dalil

Dalil-dalil pendapat pertama:


1-Firman-Nya,




Maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain... [5]

Sisi pendalilannya:

Ayat ini menunjukan akan kelonggaran dalam mengqadha puasa Ramadhan, karena Allah - -mewajibkannya untuk dilakukan pada hari-hari yang lain secara mutlak, tanpa diikat dengan waktu tertentu.[6]

2-Hadis Aisyah - -, ia berkata,




Aku pernah mempunyai hutang puasa Ramadhan, namun aku tidak dapat mengqadha kecuali pada bulan Syaban. [7]

Sisi pendalilannya:

Hadis ini menunjukkan kelonggaran dalam mengqadha, karena tindakan Aisyah dan penetapan Nabi - - terhadapnya, karena yang nampak bahwa beliau - - mengetahui hal tersebut.

Namun, berdalil dengan hadis ini disanggah dengan dikatakan bahwa penundaan qadha puasa yang dilakukan Aisyah sampai bulan Syaban karena ia ada udzur[8] berdasarkan dalil yang terdapat dalam hadis tersebut,




Yahya (salah seorang rawi hadis tersebut) berkata, Karena tersibukkan dengan Nabi - -.[9]

Namun, ini ditanggapi dengan bahwa ucapan ini merupakan sisipan kalimat dari pihak Yahya. Menunjukkan kepada hal itu perkataannya,


-


Maka aku kira bahwa hal itu karena kedudukannya (Aisyah) di sisi Nabi - -. [10]

Kedua: Dalil mereka akan wajibnya qadha ketika masih ada hari yang tersisa yang memungkinkan untuk dilakukan qadha

1-Hadis Aisyah - - yang lalu

Sisi pendalilannya:

Hadis tersebut menunjukan akan wajibnya qadha ketika masih tersisa hari yang memungkinkan untuk dilakukan qadha, karena Aisyah - - tidaklah menunda qadha dari batas waktu tersebut, andaikata boleh niscaya ia akan menundanya.

2-Bahwa puasa merupakan ibadah yang berulang, karena itu tidak boleh menunda yang pertama hingga tiba kewajiban puasa yang berikutnya, seperti halnya shalat-shalat fardhu. [11]


Dalil pendapat kedua:

Untuk pendapat kedua, didasarkan pada dalil-dalil yang menunjukkan bahwa perintah itu berkonsekwensi pada dilakukannya sesuatu yang diperintah tersebut dengan segera.

1-Firman-Nya - -,




Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan [12]

2-Firman-Nya - -,




Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu...[13]

3-Apa yang diriwayatkan al-Bukhari dari jalur Urwah bin Zubair dari al-Musawwir Ibnu Makhramah dan Marwan, keduanya mengatakan: ... di dalamnya disebutkan sabda beliau - - ... :




Bangkitlah kalian! Lalu, sembelihlah! Kemudian, kurislah (rambut kepala kalian)...




Maka, ketika tidak ada seorang pun di antara mereka yang bangkit, beliau pun masuk menemui Ummu Salamah lalu beliau memberitahukan kepadanya apa yang ditemuinya dari orang-orang. [14]

Sisi pendalilannya:

Bahwa Nabi - - mengadukan kepada Ummu Salamah perihal sikap lambatnya orang-orang untuk mengerjakan perintahnya. Maka, hal ini menunjukkan bahwa perintah itu bersifat segera untuk dilakukan.

Namun, berdalil dengan ini disanggah dengan dikatakan bahwa dalil-dalil ini dikhususkan dengan apa yang telah disebutkan berupa dalil-dalil pendapat pertama yang membolehkan penundaan puasa qadha sampai tersisanya waktu yang memungkinkan untuk melakukan qadha.


Dalil-dalil pendapat ketiga:

1-Dalil mereka akan bolehnya pelonggaran dalam melakukan qadha jika penundaan itu karena suatu udzur adalah apa yang dijadikan dalil oleh kalangan yang berpendapat dengan pendapat pertama akan hal tersebut.

Kedua: Dalil mereka akan wajibnya bersegara dalam melakukan qadha jika penundaan itu bukan karena udzur adalah bahwa orang tersebut bersikap menyepelekan, sementara orang yang menyepelekan itu tidak memiliki udzur.

Namun, dalil ini disanggah dengan dikatakan bahwa keadaan orang tersebut menyepelekan tidaklah menghalangi qadha yang bersifat longgar-menurut kalangan yang mengatakan disyariatkannya qadha-berdasarkan zhahir ayat.


Pendapat yang Rajih (kuat):

Pendapat yang kuat-Wallahu Alam- adalah apa yang menjadi pendapat kalangan yang berpendapat dengan pendapat yang pertama, karena zhahir al-Quran dan sunnah.


Masalah Kedua:

Penundaan Qadha Ramadhan Hingga Ramadhan Berikutnya


A. Penundaan karena udzur

Para fuqaha sepakat akan bolehnya penundaan pelaksanaan qadha sampai setelah Ramadhan berikutnya jika udzur yang membolehkan untuk tidak berpuasa masih ada pada bulan Ramadhan berupa safar atau sakit dan selain keduanya sampai bulan Ramadhan berikutnya.

Ibnu Baththal - - mengatakan, Para ahli ilmu sepakat bahwa barang siapa telah mengqadha puasa Ramadhan pada bulan Syaban sebanyak yang ditinggalkannya bahwa ia telah menunaikan kewajibannya, dia tidak dikatakan sebagai orang yang menyepelekan (kewajibannya)[15] [16] karena tidak ada batas untuk akhir waktu pelaksanaan qadha. Karena, pada asalnya tidak ada pembatasan dan tidak ada riwayat yang menjelaskan pembatasannya.

Dan, oleh karena udzur ini membolehkan penundaan pelaksanaan puasa Ramadhan, maka kebolehannya untuk menunda pelaksanaan qadha tentunya lebih utama.

Akan tetapi, para ulama berbeda pendapat tentang gugurnya qadha dan wajibnya membayar fidyah, menjadi dua pendapat:

Pendapat pertama: Ia wajib mengqadha dan tidak wajib membayar fidyah.

Ini adalah madzhab Abu Hanifah, Malik, asy-Syafii dan Ahmad[17], Thawus, al-Hasan al-Bashri, an-Nakhai, Hamad bin Abi Sulaiman, al-Auzai, dan Ishak. Dan, ini merupakan pendapat kalangan Zhahiriyah [18]

Alasannya,

1- (Firman-Nya) maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain... Hal tersebut menunjukkan akan wajibnya qadha, tersibukkannya diri dengan qadha, dan tidak ada dalil yang menunjukkan akan gugurnya (kewajiban mengqadha).

2-Apa yang diriwayatkan oleh ad-Daruquthniy dari jalan Ibrahim bin Nafi al-Jalab, (ia menceritakan) telah menceritakan kepada kami Umar bin Wajih, (ia berkata) telah menceritakan kepada kami al-Hakam, dari Mujahid, dari Abu Hurairah dari Nabi - - , tentang seorang lelaki yang berbuka (tidak berpuasa) di bulan Ramadhan kemudian ia jatuh sakit, kemudian sehat (sembuh) namum belum saja berpuasa (qadha) hingga Ramadhan berikutnya mendapatinya, beliau mengatakan,




Ia berpuasa yang ia dapati, kemudian ia berpuasa bulan yang ia tidak berpuasa di dalamnya dan memberikan makan seorang miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkannya.[19]

3-Apa yang diriwayatkan ad-Daruquthniy dari jalan Atha dari Abu Hurairah tentang seseorang yang jatuh sakit di bulan Ramadhan, kemudian ia sehat, namun ia tidak segera berpuasa hingga Ramadhan berikutnya mendapati dirinya, beliau berkata,




Hendaknya ia berpuasa yang ia dapati dan untuk yang pertama, ia memberi makan sebanyak satu mud gandum untuk setiap seorang miskin untuk setiap hari (puasa yang ditinggalkannya). Lantas, apabila ia telah usai dari hal ini, selanjutnya ia berpuasa yang telah ia sepelekan.[20]

Di mana di dalamnya terdapat kewajiban meng-qadha.

4-Bahwa pada asalnya adalah terbebasnya seseorang dari kewajiban membayar fidyah, dan karena orang tersebut sejatinya tidaklah menyepelekan di dalam pengqadhaannya.

5-Dan oleh kerena orang tersebut telah dibolehkan untuk tidak berpuasa karena suatu udzur, maka kebolehan tersebut tidak hilang melainkan dengan hilangnya udzur tersebut, berdasarkan apa yang ditetapkan bahwa keberadaan hukum itu berkutat pada keberadaan illat (sebab)-nya. Ada illat ada hukum, tak ada illat tak ada hukum. Maka, selagi udzur tersebut masih terus melekat pada dirinya, maka masih melekat pula padanya hukum bolehnya tidak berpuasa, tidak wajibnya dirinya berpuasa dan ia pun tidak berdosa karena penundaan (qadha) yang dilakukannya.

6-Bahwa pada asalnya adalah kewajiban mengqadha puasa, dan orang tersebut mampu melakukannya. Maka, ia tidak perlu memberikan makan, karena siapa yang mampu melakukan sesuatu yang menjadi asal kewajibannya menghalanginya untuk melakukan gantinya.

7-Masalah ini dikiaskan dengan orang yang mengakhirkan qadha karena suata udzur, kemudian ia meninggal dunia sebelum udzur tersebut hilang. Maka, gugur darinya kewajiban mengqadha dan membayar kafarat. Adapun orang yang masih hidup, maka gugur darinya membayar kafarat bukan qadha, karena masih memungkinkannya untuk melakukan qadha.

Pendapat kedua: Ia membayar fidyah dan tidak berkewajiban mengqadha. Dengan pendapat ini Said bin Jubair dan Qatadah berpendapat. [21]

Alasannya,

1-Apa yang diriwayatkan Abdurrazzaq dari Mamar dari Ayyub, dari Nafi, dari Ibnu Umar - -, ia berkata, Barang siapa yang mendapati bulan Ramadhan berikutnya sementara ia sakit, tidak sehat dalam rentang waktu keduanya, maka ia mengganti bulan berikutnya dengan puasa, dan mengganti yang pertama dengan memberi makan satu mud gandum (untuk setiap hari puasa yang ditinggalkannya) dan ia tidak berpuasa. [22]

2-Apa yang diriwayatkan Abdurrazzaq dari Ibnu Juraij, dari Yahya bin Said, dari Ibnu Umar- -, Ia berkata, Barang siapa sakit di bulan Ramadhan, lalu mendapati Ramadhan berikutnya dalam keadaan sakit pula, maka hendaknya ia tidak berpuasa Ramadhan berikutnya tersebut, kemudian hendaknya ia berpuasa untuk yang pertama dan memberi makan satu mud untuk setiap hari Ramadhan yang pertama. Ia berkata, dan hal tersebut sampai kepadaku dari Umar bin Khaththab - - . [23]

3-Dan al-Baihaqi meriwayatkan dari jalan Juwairiyah bin Asma dari Nafi bahwa Abdullah (ibnu Umar - -) pernah mengatakan, Barang siapa berbuka (tidak berpuasa) beberapa hari di bulan Ramadhan saat ia jatuh sakit lantas ia meninggal sebelum mengqadhanya, maka digantikan untuknya dengan memberi makan seorang miskin sebanyak satu mud gandum untuk setiap puasa yang ditinggalkannya pada hari-hari tersebut. Lalu jika ia mendapati Ramadhan tahun berikutnya dan belum mengganti puasa Ramadhan sebelumnya, lalu ia mampu berpuasa (Ramadhan) tahun berikutnya, maka hendaknya ia memberi makan seorang miskin sebanyak satu mud gandum untuk setiap hari puasa yang ditinggalkannya dan hendaknya ia berpuasa Ramadhan tahun berikutnya.

Inilah yang shahih (benar) bahwa riwayat ini mauquf kepada Ibnu Umar. Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila meriwayatkannya dari Nafi. Ia telah melakukan kesalahan.[24]

4-Ad-Daruquthni berkata, dari jalan al-Hasan bin al-Hurr dari Nafi bahwa Abdullah (Ibnu Umar - -) berkata, Barang siapa yang mendapati Ramadhan berikutnya sementara ia mempunyai tanggungan puasa Ramadhan sebelumnya, maka hendaklah ia memberi makan seorang miskin sebanyak satu mud gandum sebagai ganti untuk setiap hari puasa yang ditinggalkannya.[25]

5-Apa yang disebutkan oleh al-Jashshash dari jalan Amru bin Maimun bin Mihran dari ayahnya, ia berkata, Seorang lelaki datang kepada Ibnu Abbas, lalu ia mengatakan, Aku sakit dua Ramadhan. Lantas, Ibnu Abbas mengatakan (kepada lelaki tersebut), sakitmu terus saja menyertaimu ataukah engkau mengalami sehat di antara kedua Ramadhan tersebut ? Lelaki itu pun menjawab, bahkan saya sempat mengalami sehat di antara kedua Ramadhan tersebut.

Ibnu Abbas kembali bertanya kepada lelaki tersebut,Apakah hal ini telah terjadi ?

Lelaki itu menjawab, Tidak.

Ibnu Abbas berkata, Jika demikian, tinggalkanlah perkara ini hingga benar-benar hal itu terjadi.

Lantas, lelaki tersebut bangkit menemui para sahabatnya. Lalu, ia memberitahukan kepada mereka hal tersebut. Merekapun mengatakan kepadanya, kembalilah engkau, lalu beritahukanlah kepadanya (Ibnu Abbas) bahwasanya hal tersebut benar-benar telah terjadi. Maka, lelaki itu atau yang lainnya pun kembali (menemui Ibnu Abbas) dan bertanya kepadanya. Ibnu Abbas pun mengatakan (kepadanya), Apakah ini telah terjadi ? lelaki itu pun menjawab, Iya. Lantas Ibnu Abbas mengatakan (kepada lelaki tersebut), Berpuasalah dua Ramadhan tersebut dan berilah makan 30 orang miskin.[26]

Atsar ini disanggah dengan dikatakan bahwa riwayat ini menyelisihi apa yang datang dari Abu Hurairah berupa wajibnya melakukan qadha.

6-Hal ini dikiaskan kepada orang yang telah lanjut usia, wanita hamil dan wanita menyusui apabila keduanya mengkhawatirkan terhadap anaknya, maka tidak wajib atas keduanya untuk mengqadha.

7-Bahwa qadha Ramadhan dibatasi oleh waktu antara kedua Ramadhan. Maka, jika menundanya dari tahun pertama, berarti ia telah menundanya dari waktunya hingga waktu di mana puasa qadha tidak akan diterima, dan tidak sah dilakukan qadha pada waktu itu.[27]

8-Ibnu Qudamah - - mengatakan, Penundaan puasa Ramadhan dari waktunya hingga waktu di mana tidak diterima dan tidak sah melakukannya, bila mana tidak mewajibkan qadha maka hal itu mewajibkan untuk membayar fidyah, seperti orang yang telah lanjut usia.[28]

Argumentasi ini disanggah dari dua sisi :

Sisi pertama: Tidak diterimanya asal yang dikiaskan, di mana hal tersebut merupakan hal yang diperselisihkan oleh para ulama.

Sisi kedua: Pedapat mereka, Menunda puasa hingga waktu di mana qadha tidak diterima tidak dapat diterima, karena beberapa dalil pendapat pertama yang telah lalu.

Pendapat yang Rajih (Kuat);

Pendapat yang rajih (kuat) Wallahu Alam- adalah pendapat pertama; karena kuatnya dalil-dalilnya dan sanggahan terhadap beberapa dalil pendapat kedua.


B. Penundaan yang dilakukan tanpa udzur

Dalam hal ini ada dua masalah;

Masalah pertama: Keharaman melakukan penundaan hingga Ramadhan berikutnya.

Bila penundaan qadha hingga Ramadhan berikutnya dilakukan tanpa udzur, maka ada dua pendapat ulama.

Pedapat pertama: Seseorang tidak boleh menundanya, ia wajib mengqadha sebelum tibanya bulan Ramadhan berikutnya.

Ini adalah Madzhab Malikiyah[29], Syafiiyyah[30], dan Hanabilah[31]

Alasannya,

1-Hadis Aisyah - - yang telah lalu

Sisi pendalilannya:

Hadis tersebut menunjukkan akan wajibnya qadha kala tersisa waktu yang memungkinkan bagi seseorang untuk melakukan qadha, karena Aisyah - - tidak menunda qadha dari waktu itu, andai kata boleh niscaya ia bakal melakukannya.

Namun, argumentasi ini disanggah dengan dikatakan bahwa Aisyah - - memilih untuk melakukan qadha pada bulan Syaban karena Rasulullah - - tidak berhajat kepadanya pada bulan tersebut karena beliau - - berpuasa di bulan Syaban seluruhnya.

2- Bahwa puasa itu merupakan ibadah yang berulang, maka tidak boleh menunda yang pertama hingga datang yang kedua, seperti halnya shalat-shalat fardhu [32]

Pendapat kedua: Boleh bagi seseorang menunda qadha secara mutlak walaupun sampai Ramadhan berikutnya. Ini adalah madzhab Hanafiyah [33]

Alasannya,

1-Firman-Nya - -,




Maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain... [34]

Dalam ayat ini tidak ada pembatasan waktu dan pembatasan waktu dengan apa yang ada antara dua Ramadhan merupakan tambahan terhadap apa yang datang dalam nash tersebut.

Argumentasi ini disanggah dengan dikatakan bahwa pembatasan waktunya datang dalam hadis Aisyah - -.

2-Kemudian ini merupakan ibadah yang dibatasi waktu, pelaksanaan qadhanya tidak dibatasi oleh waktu sebelum datang waktu semisalnya, seperti seluruh bentuk ibadah.

3-Dan oleh karena qadha tersebut dibatasi dengan waktu antara dua Ramadhan, maka pengakhiran dari waktu qadha seperti pengakhiran dari waktu pelaksanaannya, sementara pengakhiran pelaksanaan dari waktunya tidak berkonsekwensi apa pun atas seseorang, melainkan hanya wajibnya berpuasa karena sebab bukan karena pengakhiran pelaksanaannya. Maka, demikian pula pengakhiran pelaksanaan qadha dari waktunya.[35]

Analogi ini disanggah dengan dikatakan bahwa ini merupakan analogi pembandingan dalam hal yang serupa.

Barangkali pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat pertama, karena pendapat tersebut lebih bersifat hati-hati dan lebih cepat dalam hal membebaskan diri dari tanggungan, dan juga karena dalil-dalil yang mereka kemukakan.


Masalah kedua: Wajibnya Membayar Fidyah

Sebab beda pendapat


Masalah ini diperselisihkan oleh para ulama. Sebab terjadinya beda pendapat ini, antara lain,

Silang pendapat kalangan para sahabat dalam masalah ini
Adanya perbedaan pendapat dalam hal pembatasan waktu melakukan qadha yaitu rentang waktu antara dua Ramadhan
Adanya perbedaan pendapat dalam hal penerapan analogi dalam masalah kafarat.[36]

Bila seseorang menunda pelaksanaan qadha hingga Ramadhan berikutnya tanpa udzur, para fuqaha berbeda pendapat dalam hal wajibnya membayar fidyah menjadi beberapa pendapat,

Pendapat pertama: Bahwa tak ada kewajiban apa pun atasnya selain ia berdosa, walaupun ia mengakhirkannya beberapa kali Ramadhan. Ini adalah madzhab kalangan Hanafiyah[37] dan dengan ini pula sebagian kalangan Syafiiyyah, di antaranya adalah al-Muzaniy[38] berpendapat, begitu pula sebagian kalangan Hanabilah[39], Ibnu Hazm dan Dawud[40], al-Hasan, Thawus, Hammad bin Abi Sulaiman, dan an-Nakhaiy [41]

Pendapat kedua: Bahwa orang tersebut diharuskan membayar satu kafarat walaupun ia mengakhirkannya beberapa kali Ramadhan.

Ini adalah madzhab Malikiyah[42], sebagian kalangan Syafiiyyah[43] berpendapat dengan pendapat ini, dan ini juga merupakan madzhab Hanabilah[44]

Dan, dengan ini pula Mujahid, Said bin Jubair, Atha, al-Qasim, az-Zuhriy, ats-Tsauriy, al-Auzaiy, al-Hasan bin Huyyai, al-Laits bin Saad, Ishak bin Rahawaih[45] berpendapat.

Dan, Yahya bin Aktsam menyebutkan bahwasnya kewajiban memberikan makan dinukil dari 6 orang dari kalangan para sahabat di mana tidak diketahui adanya penyelisihan sahabat yang lainnya terhadap pendapat keenam sahabat tersebut. Semoga Allah meridhai mereka semuanya.[46]

Pendapat ketiga: Bahwasanya wajib atas orang tersebut membayar kafarat-kafarat sejumlah Ramadhan yang ditundanya. Ini pendapat yang dibenarkan di kalangan Syafiiyah [47]

Dalil-dalil

Dalil pendapat pertama :


Dalil mereka akan tidak wajibnya membayar kafarat tersebut adalah :

Firman-Nya,




maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain... [48]

Sisi pendalilannya:

1-Bahwa Allah - - mewajibkan qadha sebanyak hari yang seseorang tidak berpuasa pada hari-hari yang lain, dan ini mencakup untuk penggantiannya setelah Ramadhan berikutnya, dan Allah tidak mewajibkan membayar kafarat.[49]

2-Ibnu Masud - -mengatakan perihal orang yang Ramadhan berikutnya mendapati dirinya sementara ia belum melakukan qadha, Orang tersebut berpuasa dan mengqadha yang pertama [50] Beliau - - tidak menyebutkan memberi makan.

3-Bahwa pada asalnya adalah bebasnya seseorang dari kewajiban, dan pewajiban merupakan hukum syari yang membutuhkan kepada dalil syari, sementara itu tidak ada dalil yang menegaskan hal itu.[51]

4-Bahwa hal itu merupakan puasa wajib, maka tidak wajib atas orang tersebut membayar kafarat karena penundaannya seperti pelaksanaannya dan nazar [52]

Hal ini disanggah dengan dikatakan bahwa nazar itu tidak terbatasi dengan waktu. Namun, bila nazar tersebut dibatasi dengan waktu maka wajib dilakukan pada waktu tersebut. Adapun pelaksanaan puasa bulan Ramadhan, tidak boleh mengakhirkannya dari waktunya tanpa udzur. Lalu, bila terdapat udzur, dibolehkan bagi seseorang untuk tidak berpuasa dan diberikan kelapangan waktu untuk mengqadhannya. Dan ada yang mengatakan, wajibnya membayar kafarat atas orang yang menyengaja tidak berpuasa di siang hari bulan Ramadhan dengan makan, minum dan lainnya, namun mereka semua sepakat akan wajibnya membayar kafarat karena seseorang melakukan hubungan intim, berbeda halnya dengan nazar.

5-Bahwa pembayaran fidyah itu diwajibkan sebagai ganti dari puasa ketika didapati kelemahan yang biasanya tidak bisa diharapkan adanya kemampuan kembali untuk melakukannya seperti terjadi pada orang yang telah lanjut usia. Sementara, pada diri orang yang meninggalkan puasa tanpa udzur tersebut tidak didapati sifat kelemahan tersebut karena ia mampu untuk melakukan qadha. Karenanya, kewajiban membayar fidyah atas dirinya yang disertai dengan kewajiban mengqadha tidak memiliki makna.[53]

6-Pengkiasan terhadap ibadah yang dibatasi dengan waktu, sesungguhnya pengqadhaannya tidak terhenti dengan waktu sebelum datangnya waktu yang semisalnya. Maka, demikian pula halnya puasa. [54]

7-Sesungguhnya qadha itu tidak dilipatgandakan jumlahnya karena sebab penundaan pelaksanaannya, maka dari itu fidyah tidak ditambahkan kepada kewajiban mengqadha, karena jika ditambahkan hal itu semakna dengan pelipatgandaan.

Kedua: Dalil mereka bahwa orang tersebut berdosa adalah karena orang tersebut mengakhirkan qadha dari waktu wajibnya tanpa udzur.


Dalil-dalil pendapat kedua:

Pertama, dalil mereka akan wajibnya membayar kafarat

1-Firman-Nya - -,




Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.

Ibnu Athiyyah mengatakan, Ayat ini, menurut imam Malik, dalam kasus orang yang mendapatkan bulan Ramadhan berikutnya sementara ia memiliki hutang puasa Ramadhan sebelumnya, dalam rentang waktu itu sejatinya ia mampu untuk berpuasa (qadha), namun ia tidak melakukannya, maka ia wajib membayar fidyah.[55]

Dan, al-Qadhi Iyadh - - mengatakan, Zaed bin Aslam, az-Zuhri dan Malik mengatakan, Ayat ini muhkam, turun dalam kasus orang yang sakit yang tidak berpuasa, kemudian ia sembuh namun tidak segera mengqadha puasa yang ditinggalkannya hingga bulan Ramadhan berikutnya mendapatinya, maka ia wajib berpuasa pada Ramadhan berikutnya tersebut, kemudian ia mengqadha (puasa yang ditinggalkan pada bulan Ramadhan sebelumnya) setelah ia berbuka (menyelesaikan puasa Ramadhan) dan ia pun berkewajiban memberi makan (seorang miskin) untuk setiap hari puasa yang ditinggalkannya ... dan makna () menurut pendapat ini, yakni, mereka mampu untuk mengqadha puasa yang diwajibkan atas mereka, namun mereka tidak mengqadhanya hingga Ramadhan berikutnya. [56]

Pendapat ini disanggah, bahwa hal tersebut menyelisihi tafsir yang datang dari kalangan para sahabat, sebagaimana telah lalu dalam kasus puasa orang yang telah lanjut usia.

2-Atsar Abu Hurairah - yang telah lalu, yaitu, apa yang diriwayatkan ad-Daruquthniy dari jalan Atha dari Abu Hurairah tentang seseorang yang jatuh sakit di bulan Ramadhan, kemudian ia sehat, namun ia tidak segera berpuasa hingga Ramadhan berikutnya mendapati dirinya, beliau berkata,




Hendaknya ia berpuasa yang ia dapati dan untuk yang pertama, ia memberi makan sebanyak satu mud gandum untuk setiap seorang miskin untuk setiap hari. Lantas, apabila ia telah usai dari hal ini, selanjutnya ia berpuasa yang telah ia sepelekan.[57]

Sisi pendalilannya:

Atsar tersebut menunjukkan bahwa barang siapa mengakhirkan qadha Ramadhan sampai Ramadhan berikutnya, maka ia berpuasa Ramadhan yang dijumpainya kembali, kemudian ia mengqadha puasa yang terlewat yang belum diqadhanya dan memberi makan seorang miskin untuk setiap puasa yang terlewat yang belum diqadhanya tersebut.

Ibnu Qudamah - - mengatakan, Tidak ada keterangan dari selain mereka dari kalangan para Shahabat yang menyelisihi (pendapat) mereka, dan diriwayatkan dari jalan yang lemah.[58]

3-Apa yang disebutkan oleh Ibnu Hazm dari Umar tentang orang yang mendapati bulan Ramadhan berikutnya sementara ia memiliki tanggungan kewajiban puasa qadha Ramadhan sebelumnya, bahwa orang tersebut berpuasa bulan Ramadhan yang didapatinya tersebut dan mengqadha (puasa yang belum dilakukannya) serta memberi makan (membayar fidyah).[59]

Atsar ini disanggah dengan dikatakan bahwa atsar ini lemah tidak dapat dijadikan sebagai argumentasi.

Apa yang datang dari Ibnu Umar berupa kewajiban memberi makan atas orang yang mengakhirkan memberi makan sebagai ganti qadha karena suatu udzur, maka bagi orang yang melakukannya tanpa udzur lebih utama.

Atsar tersebut disanggah dengan dikatakan bahwa Ibnu Umar menjadikan kewajiban memberi makan sebagai ganti dari mengqadha.

Dan, hal tersebut tidak dapat diterima, sebagaimana telah lalu penyebutannya dalam masalah sebelumnya.

Apa yang datang dari Ibnu Umar dalam kasus orang yang mendapati bulan Ramadhan berikutnya sementara ia masih memiliki tanggungan qadha puasa Ramadhan sebelumnya, Orang tersebut berpuasa Ramadhan tersebut dan mengqadha puasa Ramadhan sebelumnya serta memberi makan. [60]

Hal ini disanggah dengan dikatakan bahwa atsar ini lemah tidak dapat dijadikan hujjah.

Apa yang diriwayatkan oleh ad-Daruquthniy dari jalan Sufyan bin Uyainah, dari Abu Ishak, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, ia mengatakan, Barang siapa yang menyepelekan puasa Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya mendapati dirinya maka hendaknya ia berpuasa Ramadhan berikutnya yang didapatinya tersebut, kemudian hendaknya ia berpuasa yang telah terlewat dan memberi makan seorang miskin untuk setiap hari (puasa yang ditinggalkannya)[61]

Ad-Daruquthniy mengatakan, Mutharrif menyelisihinya. Ia meriwayatkannya dari Ishak, dari Mujahid, dari Abu Hurairah.

Sementara Ibnu Qudamah mengatakan, Dan tidak ada keterangan dari selain mereka dari kalangan para sahabat yang menyelisihi mereka.[62]

Sisi pendalilannya:

Atsar ini menunjukkan wajibnya puasa Ramadhan yang datang tersebut dan (wajibnya pula) mengqadha puasa yang terlewat, serta memberi makan seorang miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan.

Ijma (kesepakatan) para sahabat atas pendapat wajibnya membayar fidyah. Hal tersebut datang dari enam orang sahabat dan tidak diketahui adanya orang lain yang menyelisihi pendapat mereka.[63]

Hal ini disanggah dengan dikatakan bahwa ada di antara para sahabat yang berpendapat tidak wajib membayar fidyah, pendapat ini diriwayatkan dari Ali dan Ibnu Masud - - [64]

Bahwa puasa itu merupakan ibadah yang berulang, karena itu tidak boleh mengakhirkan yang pertama dari yang kedua. [65]

Bahwa apabila seseorang menundanya dengan sengaja hingga Ramadhan berikutnya, sungguh ia telah menundanya sampai ke suatu waktu yang tidak mungkin melakukannya di waktu tersebut, sementara boleh jadi ia mendapati waktu setelah Ramadhan dan boleh jadi pula ia tidak mendapatkannya. Dengan demikan maka seperti menunda berhaji dari tahun wajibnya sampai tahun berikutnya. [66]
Bahwa penundaan puasa Ramadhan dari waktunya bila tidak mewajibkan qadha maka mewajibkan fidyah, seperti orang yang telah lanjut usia.

Hal ini disanggah dengan dikatakan bahwa ini merupakan analogi dengan sesuatu yang berbeda, karena orang yang telah lanjut usia tidak mampu melakukan qadha pada asalnya, berbeda halnya dengan orang yang menunda qadha Ramadhan, ia adalah orang yang mampu melakukannya.

Kedua : Dalil mereka akan wajibnya membayar satu kafarat bila mengakhirkan qadha beberapa kali Ramadhan.

1-Bahwa qadha itu dibatasi oleh waktu antara dua Ramadhan, karena itu bila seseorang menundanya dari tahun pertama maka berarti ia telah mengakhirkannya dari waktunya, karena itu kafarat wajib atasnya, dan makna ini tidak terdapat pada setelah tahun pertama, karenanya hal ini tidak mewajibkan sebuah kafarat karena melakukan penundaan.[67]

2-Bahwa banyaknya penundaan tidak menambah hal yang wajib seperti bila seseorang mengakhirkan penunaian ibadah haji yang wajib beberapa tahun.

3-Dianalogikan dengan hukuman Hudud, sesungguhnya pemberlakuan hukuman hudud itu satu sama lain saling terkait, maka demikian pula fidyah.

Kedua: Dalil mereka bahwa seseorang berdosa bila mengakhirkannya dari waktu wajib adalah apa yang dijadikan dalil oleh kalangan yang berpendapat dengan pendapat yang pertama akan hal tersebut.


Dalil-dalil pendapat ketiga:

Pertama, Dalil mereka akan wajibnya membayar kafarat adalah apa yang dijadikan dalil oleh kalangan yang berpendapat dengan pendapat kedua akan hal tersebut. Dan, telah lalu sanggahannya.

Kedua, Dalil mereka akan wajibnya membayar beberapa kafarat sejumlah Ramadhan yang ditundanya.

1-Bahwa hal itu merupakan penundaan satu tahun, maka serupa dengan tahun pertama [68]

2-Bahwa hak-hak yang terkait dengan harta tidak saling terkait antara satu dengan lainnya.[69]

Ketiga : Dalil mereka bahwa seseorang berdosa bila mengakhirkannya dari waktu wajib adalah apa yang dijadikan dalil oleh kalangan yang berpendapat dengan pendapat yang pertama akan hal tersebut.

Pendapat yang rajih (kuat):

Pendapat yang rajih (kuat) Wallahu Alam- adalah dikatakan, tindakan memberi makan mustahab (disukai) karena adanya pendapat tersebut dari kalangan para sahabat.

Wallahu Alam

(Redaksi)


Sumber :

Al-Jami Li-Ahkami Ash-Shiyam, Prof. Dr. Khalid bin Ali al-Musyaiqih, penerbit : Maktabah ar-Rusyd, KSA, Jilid 4, hal.7-24

[1] Ahkam al-Quran, al-Jashshash, 1/208, Tabyin al-Haqa-iq, 1/336, Ahkamu al-Quran, Ibnul Arobiy, 1/78, Mawahib al-Jalil, 2/448, Mughniy al-Muhtaj, 1/488, al-Mubdi, 3/46, Syarh Muntaha al-Iradat, 1/456.

[2] Bada-i ash-Shana-i, 2/104

[3] Mawahib al-Jalil, 2/448

[4] Al-Majmu, 6/365, 366, Mughniy al-Muhtaj, 1/488, Nihayah al-Muhtaj, 3/211

[5] Qs. al-Baqarah: 184

[6] Ahkam al-Quran, al-Qurthubiy, 2/282

[7] Shahih al-Bukhari, kitab ash-Shaum, bab: Mata Yaqdhi Ramadhan, 2/239, dan Muslim, Kitab ash-Shiyam, bab: Qadha Ramadhan Fi Syaban, 1/802 (1146)

[8] Fathul Bariy, 4/191

[9] Idem

[10] Shahih Muslim-kitab ash-Shiyam- bab yang lalu, 1/803 (1146)

[11] Al-Mughniy, 3/144

[12] Qs. al-Baqarah : 148

[13] Qs. Ali Imran : 133

[14] Shahih al-Bukhari, bab : asy-Syuruth Fii al-Jihad (2732)

[15] Syarh Ibnu Baththal Ala al-Bukhari, 4/95

[16] Idem

[17] Ahkam al-Quran, al-Jashshash, 1/210, Ad-Durru Al-Mukhtar, 2/423, Al-Mudawwanah, 1/219, Al-Istidzkar, 10/226, Ahkam al-Quran, al-Qurthubiy, 2/283, al-Umm, 2/113, Raudhatu ath-Thalibin, 2/284, Fathu al-Jawad, 2/297, al-Kafi, Ibnu Qudamah, 1/459, Syarh Muntaha al-Iradat, 1/456, al-Muhalla, 6/394.

[18] Al-Maunah, 1/482

[19] Sunan ad-Daruquthniy, di dalam kitab ash-Shiyam (2320)

Di dalam tanqih at-tahqiq 1/387 (dikatakan bahwa) Ibrahim al-Jalab dikatakan oleh Abu Hatim sebagai seorang rawi pendusta, dan Ibnu Wajih bukanlah seorang (rawi) yang tsiqah (kredibel).

[20] Sunan ad-Daruquthniy, di dalam kitab ash-Shiyam (2368), dan beliau mengatakan, sanad yang benar mauquf

[21] Al-Majmu 6/366, Ahkam al-Quran, oleh al-Jashshash, 1/256

[22] Al-Mushannaf, 4/235 (7623), dan sanadnya shahih

[23] Al-Mushannaf, 4/235 (7624).

Demikian disebutkan dalam al-Mushannaf, dan barang kali yang benar adalah kemudian ia berpuasa Ramadhan berikutnya.

[24] As-Sunan al-Kubra, oleh al-Baihaqi, 4/424 (8216). Dan, al-Baihaqi menshahihkannya.

[25] Sunan ad-Daruquthni, 2/196

[26] Ahkamu al-Quran, al-Jashshash, 1/256, dan aku belum mengkajinya di dalam kitab-kitab atsar.

[27] Al-Majmu, 6/364

[28] Al-Mughniy, 3/85

[29] Mawahib al-Jalil, 2/44

[30] Al-Hawi al-Kabir, 3/251, al-Majmu Syarh al-Muhadzdzab, 6/410

[31] Al-Mughniy, 4/400, al-Inshaf Maa Syarh al-Kabir, 7/498

[32] Al-Mughniy, 3/144

[33] Al-Mabsuth, 3/77, Bada-i ash-Shana-i, 2/631

[34] Qs. al-Baqarah: 184

[35] Al-Mabsuth, 3/77

[36] Bidayatu al-Mujtahid, 1/505

[37] Al-Hidayah, 2/354, Fathul Qadir, 2/354, ad-Durru al-Mukhtar, 2/423

[38] Raudhatu ath-Thalibin, 2/384, al-Majmu, 6/364

[39] Al-Inshaf, 3/334

[40] Al-Muhalla, 6/394, Ahkam al-Quran, al-Qurthubiy, 2/283

[41] Sunan al-Baihaqiy, 4/253

[42] Al-Mudawwanah, 1/219, al-Istidzkar, 10/224-226, Syarh az-Zarqaniy, 2/192, at-Taaj Wa al-Iklil, 3/387, Mawahib al-Jalil, 3/387, Ahkamu al-Quran, al-Qurthubiy, 2/283, asy-Syarh ash-Shaghir, 1/253

[43] Al-Umm, 2/103, al-Majmu Syarh al-Muhadzab, 6/363-366, al-Hawiy, 3/453, Raudhatu ath-Thalibin, 2/267, Mughniy al-Muhtaj, 2/175

[44] Al-Mughniy, 3/145, al-Mubdi, 3/46, Syarh az-Zarkasyi, 2/610, Mathalib Uli an-Nuha, 3/132

[45] Al-Binayah Syarh al-Hidayah, 3/693, al-Istidzkar, 10/225, al-Majmu Syarh al-Muhadzab, 6/363, Syarh az-Zarkasyi, 2/42, al-Mughniy Maa Syarh al-Kabir, Ibnu Qudamah, 3/85-86

[46] Al-Istidzkar, 10/224-226, al-Mughniy, 4/401

[47] Hasyiyah asy-Syarqawiy Ala at-Tahrir, 1/443

[48] Qs. al-Baqarah : 184

[49] Ahkamu al-Quran, al-Jashshash, 1/211

[50] Disebutkan (oleh Ibnu Hazm) di dalam al-Muhalla, 6/395.

[51] Nailul Authar, 4/235, al-Muhalla, 4/407

[52] Asy-Syarh al-Kabir, Ibnu Qudamah, 2/46

[53] Bada-i ash-Shana-i, 2/103

[54] Al-Mabsuth, 3/77

[55] Tafsir Ibnu Athiyyah, 2/109

[56] Ikmal al-Muallim, 4/100

[57] Sunan ad-Daruquthniy, di dalam kitab ash-Shiyam (2368), dan beliau mengatakan, sanad yang benar mauquf

[58] Al-Mughniy, 4/401

[59] Telah ditakhrij sebelumnya.

[60] Al-Muhalla, 6/394, dan beliau mengatakan : Sanadnya munqathi (terputus).

[61]Sunan ad-Daruquthniy, 2/197 (91), dan imam an-Nawawi mengatakan: sanadnya shahih (al-Majmu 6/364). Dan, Abdurrazzaq (dalam Mushannafnya) 4/236 meriwayatkan dari Mamar dari Jafar bin Barqan dari Maimun bin Mihran, ia berkata, Aku pernah duduk di sisi Ibnu Abbas, tiba-tiba seorang lelaki datang, lalu ia mengatakan, Dua Ramadhan aku lewati, Ibnu Abbas pun mengatakan (kepada lelaki tersebut),Demi Allah, apakah ini benar-benar telah terjadi ? ia mengatakan, Iya, ia mengatakan: Tidak. Lalu, ia pun pergi, kemudian laki-laki lain datang, lalu ia mengatakan, Sungguh, seseorang telah melewati dua Ramadhan. Ibnu Abbas pun mengatakan (kepada lelaki tersebut), Demi Allah, apakah ini benar-benar telah terjadi ? Iya, jawab lelaki itu. Ibnu Abbas berkata,




Bila demikian, ... hendaknya ia puasa dua bulan dan memberikan makan 60 orang miskin. Sanadnya hasan

[62] al-Mughniy, 3/86

[63] Mukhtashar Ikhtilaf al-Ulama 2/22, al-Bayan, al-Umraniy 3/542

[64] al-Istidzkar, 10/225

[65] al-Mughniy, 4/400

[66] Kitab puasa dari Syarh al-Umdah 1/353

[67] Al-Muhadzdzab, 1/252

[68] al-Muhadzab, 1/252

[69] Fathu al-Jawad, 2/297

Hit : 107 | Index Annur | kirim ke teman | versi cetak | Bagikan

| Index Shaum

 
   
Statistik Situs
Rabu,23-6-2021 M 30:55:19 
Hijri: 14 Zulqo'dah 1442 H
Hits ...: 255167396
Online : 63 users

Pencarian

cari di  

 

Iklan

















Jajak Pendapat
Rubrik apa yang paling anda sukai di situs ini ?

Analisa
Buletin
Fatwa
Kajian
Khutbah
Kisah
Konsultasi
Nama Islami
Quran
Tarikh
Tokoh
Doa
Hadits
Mu'jizat
Sakinah
Akidah
Fiqih
Sastra
Resensi
Dunia Islam
Berita Kegiatan
Kaset
Kegiatan
Materi KIT
Firqah
Ekonomi Islam
Senyum
Download


Hasil Jajak Pendapat

Mutiara Hikmah

Imam Syafi-i berkata, Bersabaralah terhadap berbagai musibah dan mohonlah perlindungan kepada Allah dari neraka dengan bertakwa. (Manaqib Imam Syafi'i)

( Index Mutiara )


Fiqh Wanita

Benarkah Kaum Wanita Tidak Boleh Masuk Masjid Karena Mereka Adalah Najis

Jika Mendapat Kesucian Setelah Shubuh

Haid Datang Beberapa Saat Sebelum Matahari Terbenam

Merasa Ada Darah Tapi Belum Keluar Sebelum Matahari Terbenam

Hukum Wanita Yang Mandi Setelah Jima', Kemudian Keluar Cairan Dari Kemaluannya

Hukum Orang Yang Kentut Terus Menerus.

Shalat Dengan Pakaian Terkena Najis

Hukum Orang Haidh Berdiam di Masjid

Hukum air kencing anak yang mengenai pakaian wanita

Menggunakan air laut untuk berwudlu

Hukum Operasi Cesar

Menyentuh wanita dalam keadaan berwudhu'

Menyentuh wanita asing(selain isteri) dalam keadaan berwudhu'

Hukum membawa Mushaf ke dalam WC

Bersuci dari Air Kencing Bayi

Hukum Wudhunya Orang yang Menggunakan Kutek

Hukum Wudhunya Orang yang Menggunakan Inai (Pacar)

Hukum Wudhunya Wanita yang Tidak Menghilangkan Kutek

Membasuh Kepala Bagi Wanita

Hukum Mengusap Rambut yang Disanggul (dikepang)

Sifat Mandi Junub dan Perbedaan dengan Mandi Haidh

Melepaskan Ikatan Rambut Untuk Mandi Haidh

Haruskah Meresapkan Air ke Dalam Kulit Kepala Dalam Mandi Junub?

Samakah Wanita yang Memiliki Rambut Panjang yang Tidak Digulung dengan yang Digulung

Hukum Mengusap Kain Penutup Kepala Saat Mandi Junub

Haruskah Dua Kali Bersuci Karena Dua Hadats

Wajib Mandikah Wanita Yang Bermimpi (Mimpi Basah)

Jika Seorang Wanita Bermimpi dan Mengeluarkan Cairan yang Tidak Mengenai Pakaiannya, Apakah Ia Wajib Mandi

Wajib Mandikah Bila Keluarnya Mani Karena Syahwat Tanpa Bersetubuh

Berdosakah Seorang Wanita yang Mimpi Bersetubuh Dengan Seorang Pria

Wajib Mandikah Jika Seorang Wanita Memasukkan Tangannya ke Dalam Kemaluannya atau Jika Seorang Dokter Memasukkan Tangannya ke Dalam Kemaluannya

Jika Seorang Ragu Tentang Junubnya

Bolehkah Menunda Mandi Wajib Hingga Terbit Fajar

Bolehkah Orang yang Junub Tidur Sebelum Berwudhu

Mandi Junub Merangkap Mandi Jum'at, atau Merangkap Mandi Haidh dan Mandi Nifas

Apakah Penggunaan Inai Pada Masa Haidh Akan Mempengaruhi Sahnya Mandi Setelah Masa Haidh?

Apakah Tubuh Orang yang Sedang Junub Itu Najis Sebelum Ia Mandi Junub

Masa di Mana Para Wanita yang Sedang Nifas Tidak Boleh Melaksanakan Shalat

Pendapat yang Kuat Tentang Masa Nifas

Nifas, Suci Sebelum Empat Puluh Hari Lalu Berpuasa

Apakah Wanita Nifas yang Suci Sebelum Genap Empat Puluh Hari Tetap Wajib Melaksanakan Ibadah

Nifas, Jika Darah Terus Mengalir Setelah Empat Puluh Hari

Darah Nifas Berhenti Sebelum Empat Puluh Hari, Apakah Hal Ini Membolehkan Shalat Walaupun Darah Itu Kembali Lagi Pada Hari Keempat Puluh

Apakah Masa Nifas Itu Dapat Lebih dari Empat Puluh Hari?

Tidak Mengeluarkan Darah Setelah Melahirkan, Bolehkah Suaminya Mencampurinya?

Jika Wanita Hamil Keluar Darah Banyak Tapi Bayi yang Dikandungnya Tidak Keluar ( Keguguran )

Bila Seorang Wanita Hamil Mengalami Goncangan Namun Ia Tidak Tahu Apakah Kandungannya Keguguran atau Tidak, Dalam Keadaan Ia Mengalami Haidh

Hukum Darah yang Menyertai Keguguran Prematur Sebelum Sempurnanya Bentuk Janin dan Setelah Sempurnanya Janin

Hukum Darah yang Mengalir Terus Menerus Dalam Waktu yang Lama Setelah Keguguran

Keguguran Pada Umur Tiga Bulan Kehamilan, Apakah Tetap Wajib Shalat

Hukum Darah yang Keluar Setelah Keluarnya Janin ( Keguguran )

Keguguran Sebelum dan Setelah Terbentuknya Janin

Banyak Mengeluarkan Darah Saat Keguguran

Keguguran Pada Bulan Ketiga dari Masa Kehamilan, Kemudian Setelah Lima Hari Melaksanakan Puasa dan Shalat

Wajibkah Puasa dan Shalat Bagi Wanita yang Mengalami Keguguran

Kapankah Darah Keguguran Prematur Dianggap Darah Nifas

Mengeluarkan Darah Lebih dari Tiga Hari Sebelum Persalinan

Mengeluarkan Darah Lima Hari Sebelum Datangnya Masa Nifas

Mengeluarkan Darah Satu atau Dua Hari Sebelum Persalinan

Kewajiban Wanita Nifas Pada Akhir Masa Nifas

Darah Nifas Mengalir Kembali Setelah Empat Puluh Hari

Hukum Darah Nifas yang Keluar Lagi

Hal-hal yang Mewajibkan Mandi

Hukum Berhadats Kecil Dan Menyentuh Mushaf

Mencium Istri Tidak Membatalkan Wudhu

Darah Nifas Berhenti Kemudian Kembali Lagi Setelah Empat Puluh Hari

Yang Dibolehkan Bagi Suami Terhadap Istrinya yang Sedang Nifas

Apakah Disyaratkan Empat Puluh Hari untuk Dibolehkannya Mencampuri Istri Setelah Melahirkan

Hukum Membaca Al-Quran Tanpa Wudhu

Boleh Menyentuh Kaset Rekaman Al-Quran Bagi Yang Sedang Junub

Bersetubuh Setelah Tiga Puluh Hari Melahirkan

Darah yang Keluar dari Wanita yang Melahirkan Melalui Operasi

Apakah Tubuh Wanita Nifas Menjadi Najis

Apakah Tubuh Wanita Nifas Menjadi Najis

Cara Shalat Wanita yang Terus Mengeluarkan Darah

Seorang Wanita Meninggalkan Shalat Karena Mengeluarkan Darah, Lalu Beberapa Hari Kemudian Ia Mengeluarkan Da-rah Haidh yang Sebenarnya

Setelah Operasi dan Sebelum Masa Haidh Mengeluarkan Darah Hitam, Kemudian Setelah Itu Masa Haidh Datang

Seorang Wanita Telah Berhenti Masa Haidhnya Karena Usianya yang Sudah Lanjut Kemudian Dalam Suatu Perjalanan Ia Mengeluarkan Darah Terus Menerus

Wanita Mengeluarkan Darah yang Bukan Darah Haidh dan Bukan Pula Darah Nifas

Setelah Bersuci dari Haidh yang Biasanya Selama Sem-bilan atau Sepuluh Hari, Keluar Lagi Darah Pada Waktu-waktu yang Tidak Tentu

Di Bulan Ramadhan Mengeluarkan Darah Sedikit yang Terus Berlanjut Sepanjang Bulan

Setelah Nifas Mengeluarkan Darah Sedikit yang Bukan di Masa Haidh

Cara Bersucinya Wanita Mustahadhah

Perbedaan Antara Darah Haidh dan Darah Istihadhah

Penjelasan Tentang Cairan Berwarna Kuning dan Cairan Keruh Serta Hukumnya, Juga Tentang Cairan Putih (Keputihan)

Penggunaan Pil-pil Pencegah Kehamilan Mengakibatkan Timbulnya Cairan Keruh yang Merusak Haidh

Mengeluarkan Cairan Keruh Sehari atau Dua Hari Sebelum Datangnya Masa Haidh

Hukum Cairan Kuning yang Keluar Sehari atau Dua Hari Sebelum Masa Haidh

Meninggalkan Shalat Karena Mengeluarkan Cairan Keruh Sebelum Haidh

Hukum Cairan Kuning yang Keluar dari Wanita Setelah Suci

Mengeluarkan Tetasan Bening yang Berwarna Agak Kuning di Luar Waktu Haidh

Apakah Cairan yang Keluar dari Wanita Itu Najis dan Membatalkan Wudhu

Hukum Orang yang Yakin Bahwa Cairan-cairan Itu Tidak Membatalkan Wudhu

Jika Wanita yang Mengeluarkan Cairan Terus Menerus Itu Berwudhu, Bolehkah Ia Melakukan Shalat Sunat dan Membaca Al-Qur'an

Jika Wanita yang Mengeluarkan Cairan Terus Menerus Itu Berwudhu, Tapi Kemudian Setelah Berwudhu Itu dan Sebelum Shalat Cairan Itu Keluar Lagi

Bolehkah Wanita yang Terus Mengeluarkan Cairan Melakukan Shalat Dhuha Dengan Wudhu Shalat Shubuh

Bolehkah Melakukan Shalat Tahajud Dengan Wudhu Shalat Isya Bagi Wanita yang Terus Mengeluarkan Cairan?

Cukupkah Membasuh Anggota Wudhu Bagi Wanita Yang Terus Mengeluarkan Cairan?

Bagaimana Hukumnya Jika Cairan Itu Mengenai Bagian Tubuh

Tidak Berwudhu Saat Mengeluarkan Cairan Itu Karena Tidak Tahu

Mengapa Tidak Ada Riwayat dari Rasulullah SAW yang Menyatakan Bahwa Cairan yang Keluar dari Wanita Dapat Membatalkan Wudhu, Sementara Para Shahabiyah Sangat Menjaga Cairan yang Keluar ?

Apa Betul Syaikh Ibnu Utsaimin Berpendapat Bahwa Cairan Tidak Membatalkan Wudhu ?

Mengeluarkan Cairan Setelah Mandi Junub dan Setelah Bangun Tidur

Wanita Hamil Mengeluarkan Cairan Sejak Satu Bulan

Cairan Kuning yang Keluar dari Wanita Perawan dan Janda Tanpa Mimpi

Keluarnya Mani Beserta Air Kencing Kemudian Setelah Itu Keluar Mani Tanpa Syahwat

Saya Mengeluarkan Cairan Putih dan Terkadang Cairan Itu Keluar Ketika Saya Sedang Shalat

Hukum Cairan yang Keluar Setetes Demi Setetes

Hukum Membaca Kitab Tafsir Bagi Wanita Haidh

Bagaimana Shalat Orang Yang Mengidap Penyakit Kencing Netes?

Hukum Kencing Berdiri

Panas Matahari Tidak Menghilangkan Najis

Terkena Najis Setelah Berwudhu

Doa Membasuh Muka Pada Saat Berwudhu.

Doa Mandi Junub

Terkena Najis Setelah Berwudhu

Apakah Menyentuh Wanita Membatalkan Wudhu?

Hukum Mimpi (junub) Namun Tidak Keluar Mani

Menyisir Rambut dan Memotong Kuku Saat Haidh


Senyum
Tes Kecerdasan !
Jawablah pertanyaan dibawah ini tanpa melihat kunci jawaban terlebih dahulu !

Pertanyaan pertama: jika anda sedang mengikuti lomba lari, kamudian anda bisa mendahului pelari yang kedua, maka pada urutan berapakah anda sekarang?????

Jawaban !
jika anda menjawab bahwa anda diurutan pertama
Maka jawaban anda salah
Sebab jika anda mendahului pelari kedua maka anda hanya menggantikan posisinya diurutan kedua tidak menggantikan posisi pelari urutan pertama.

Sekarang soal kedua: tapi jawablah dengan cepat gak pake lama, oke ?

Pertanyaan: jika anda mendahului pelari terakhir, maka anda diurutan ????

Jawaban:
Jika jawaban anda adalah terakhir atau sebelum akhir, maka jawaban anda salah

Karena bagaimana mungkin anda mendahului pelari terakhir padahal yang terakhir itu adalah anda !!!?


Fatwa Puasa

Kapan Remaja Putri Diwajibkan untuk Berpuasa?

Remaja Putri Berusia Dua Belas atau Tiga Belas Tahun Tidak Berpuasa di Bulan Ramadhan

Tidak Berpuasa Selama Masa Haidh, dan Setiap Kali Tidak Berpuasa Ia Memberi Makan, Apakah Wajib Qadha Baginya

Istri Saya Hamil dan Mengeluarkan Darah Pada Permulaan Ramadhan

Mendapat Kesucian dari Haidh atau dari Nifas Sebelum Fajar dan Tidak Mandi Kecuali Setelah Fajar

Seorang Wanita Mendapat Kesuciannya dari Nifas Dalam Satu Pekan, Kemudian Ia Berpuasa Bersama Kaum Muslimin, Setelah Itu Darah Tersebut Datang Lagi

Mendapat Kesucian Setelah Tujuh Hari Melahirkan Lalu Berpuasa di Bulan Ramadhan

Setelah Empat Puluh Hari Sejak Melahirkan, Darah yang Keluar Berubah, Apakah Saya Harus Shalat dan Puasa

Melahirkan di Bulan Ramadhan dan Tidak Mengqadha Setelah Bulan Ramadhan Karena Ada Kekhawatiran Pada Bayi, Kemudian Pada Bulan Ramadhan Selanjutnya Ia Melahirkan Lagi

Bagaimana Hukumnya Wanita Hamil Dan Menyusui Jika Tidak Berpuasa Pada Bulan Ramadhan

Bagaimana Hukumnya Jika Wanita Menyusui Tidak Berpuasa Pada Bulan Ramadhan

Bolehkah Wanita Hamil Tidak Berpuasa

Bagaimana Hukumnya Wanita Hamil yang Tidak Puasa Karena Khawatir Terhadap Janinnya

Meninggalkan Puasa Dengan Sengaja Selama Enam Hari di Bulan Ramadhan Karena Ujian Sekolah

Memaksa Isteri untuk Tidak Berpuasa Dengan Cara Mencampurinya

Memaksa Istri untuk Tidak Berpuasa

Seorang Pria Musafir Tiba di Rumahnya Pada Siang Hari Ramadhan Lalu Ingin Menggauli Istrinya

Apakah Keluar Darah dari yang Hamil Termasuk yang Membatalkan Shaum

Suami Mencium dan Mencumbui Istrinya di Siang Hari Ramadhan

Mencampuri Istri di Siang Hari Ramadhan -1

Mencampuri Istri di Siang Hari Ramadhan -2

Mencampuri Istri di Siang Hari Ramadhan - 3

Hukum Menggunakan Celak Mata dan Perlengkapan Kecantikan Lainnya di Siang Hari Ramadhan -1

Hukum Menggunakan Celak Mata dan Perlengkapan Kecantikan Lainnya di Siang Hari Ramadhan -2

Hukum Menggunakan Celak Mata dan Perlengkapan Kecantikan Lainnya di Siang Hari Ramadhan -3

Menggunakan Inai Pada Rambut Saat Berpuasa

Mengobati Pilek dengan Obat yang Dihirup Melalui Hidung

Apakah Keluarnya Air Ketuban Dapat Membatalkan Puasa

Mengqadha Puasa Bagi yang Tidak Puasa Karena Hamil

Tidak Mampu Mengqadha Puasa

Tidak Berpuasa Karena Sakit Lalu Meninggal Beberapa Hari Setelah Ramadhan

Orang Meninggal yang Mempunyai Tanggungan Puasa

Sekarang Berusia Lima Puluh Tahun, Dua Puluh Tujuh Tahun yang Lalu Tidak Menjalankan Puasa Ramadhan Selama Lima Belas Hari

Beberapa Tahun yang Lalu Tidak Berpuasa Ramadhan Karena Haidh dan Belum Mengqadhanya

Mempunyai Utang Puasa Selama Dua Ratus Hari Karena Ketidaktahuannya dan Sekarang Sedang Sakit

Minum Obat Beberapa Saat Setelah Fajar

Di Depan Keluarganya Ia Berpuasa, Namun Sebenarnya Dengan Cara Sembunyi-sembunyi Ia Tidak Berpuasa Selama Tiga Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan Kedua Telah Datang Tapi Ia Belum Mengqadha Puasa Ramadhan yang Lalu

Tidak Pernah Mengqadha Puasa yang Ditinggalkannya Karena Haidh Sejak Diwajibkan Baginya Berpuasa

Tidak Berpuasa Karena Menyusui Anaknya Dan Belum Mengqadhanya, Kini Anak Itu Telah Berusia Dua Puluh Empat Tahun

Belum Mengqadha Puasa yang Ditinggalkan Pada Dua Tahun Pertama Sejak Menjalankan Puasa Wajib

Menunda Qadha Puasa Hingga

Hikmah dari Diwajibkannya Mengqadha Puasa Tanpa Mengqadha Shalat Bagi Wanita Haidh

Tidak Berpuasa Selama Dua Ramadhan Karena Sakit, Kemudian Pada Ramadhan Ketiga Ia Berpuasa, Apa yang Harus Dilakukan untuk Dua Ramadhan yang Telah Lewat

Meninggalkan Puasa Ramadhan Selama Empat Tahun Karena Gangguan Kejiwaan

Ibu Saya Telah Lanjut Usia, Ia Berpuasa Selama Lima Belas Hari Kemudian Tidak Berpuasa Karena Tak Sanggup Puasa

Mencegah Haidh Agar Bisa Berpuasa

Saya Pernah Bertanya Kepada Seorang Dokter, Ia Mengatakan, Bahwa Pil Pencegah Haidh Itu Tidak Berbahaya

Mengkonsumsi Pil Pencegah Haidh Agar Bisa Berpuasa Bersama Orang-Orang Lainnya

Hukum Mencicipi Makanan Ketika Berpuasa

Mengeluarkan Darah Selama Tiga Tahun, Apa yang Harus Dilakukan di Bulan Ramadhan

Bernadzar untuk Berpuasa Selama Satu Tahun

Hukum Mengisi Bulan Ramadhan Dengan Begadang, Berjalan-jalan di Pasar dan Tidur

Faktor-faktor yang Mendukung Wanita di Bulan Ramadhan

Apa Hukum Berbicara Dengan Seorang Wanita atau Menyentuh Tangannya di Siang Hari Ramadhan

Mengakhirkan Qadha Puasa Ramadhan Hingga Datang Ramadhan Berikutnya.

Berlebihan Dalam Hidangan Buka Puasa

Nilai Sosial Puasa

Apa Yang Lazim Dan Yang Wajib Dilakukan Orang Yang Berpuasa?

Tetesan Obat Mata Tidak Merusak Puasa

Menelan Pil Pencegah Haid

Mencampuri Isteri Pada Hari yang Diragukan

Memberi Makan Kaum Miskin Sebagai Pengganti Puasa Orang Lanjut Usia

Orang yang Tidak Mampu Berpuasa

Terapi di Bulan Ramadhan

Berbukanya Musafir

Berbukanya Wanita Hamil dan Wanita yang Menyusui

Onani/Masturbasi dan Bersetubuh di Siang Bulan Ramadhan

Hukum Darah yang Keluar dari Orang yang Sedang Berpuasa

Masih makan dan minum saat fajar karena ia tidak tahu.

Menonton Televisi Bagi yang Berpuasa

Seorang Musafir Tidak Berpuasa Lalu Ia Memaksa Isterinya yang Sedang Berpuasa untuk Berhubungan Badan

Wajib Puasa Bagi Wanita yang Telah Haidh

Bila Seorang Wanita Melanjutkan Puasanya Kendatipun Keluar Darah Haidh

Mengqadha Puasa Beberapa Tahun

Menyepelekan Puasa Sejak Pertama Kali Mengalami Haidh

Berbuka Karena Kesibukannya Dalam Bangunan dan Persiapan Nikah

Orang yang Meninggal di Bulan Ramadhan Tidak Wajib Mengqadha Sisa Harinya

Puasa dan Terapi

Sekitar Nadzar Puasa

Bertekad Puasa Tiga Hari (Tgl 13, 14, 15)

Puasa Pada Hari Sabtu

Hukum Puasanya Orang Yang Tidak Shalat Tarawih

Hukum Mencium Bagi yang Berpuasa

Darah yang Merusak Puasa

Hukum Berbekam Bagi yang Berpuasa dan Hukum Keluarnya Darah

Meninggal Pada Bulan Ramadhan

Terlihatnya Hilal (Bulan) Ramadhan Atau Syawwal di Suatu Negara Tidak Mengharuskan Negara-Negara Lain Mengikutinya

Tidur Sepanjang Hari Ketika Puasa

Berkumur Sampai Airnya Masuk ke Tenggorokan

Hukum Menggunakan Minyak Wangi di Siang Bulan Ramadhan

Makan Karena Lupa Ketika Puasa

Banyak Mandi Ketika Puasa

Tidak Mengqadha Puasa Karena Menghawatirkan Bayinya

Laksanakan Puasa Qadha Lebih Dulu

Panjangnya Malam dan Siang Saat Ramadhan

Negara yang Terlambat Terbenamnya Matahari

Anak Kecil Tidak Wajib Puasa Tapi Disuruh Melaksanakannya

Berbuka Berdasarkan Pemberitahuan Penyiar

Puasa Wishal

Hukum Hidangan Orang Tua

Itikaf dan Syaratnya

Hukum Makan Sahur Ketika Adzan Subuh Atau Beberapa Saat Setelahnya

Tanda Subuh Adalah Terbitnya Fajar

Berpedoman Pada Ruyat (Penglihatan) Biasa

Puasa Berdasarkan Satu Ruyat (Penglihatan)

Minum Karena Tidak Tahu Sudah Subuh

Menggunakan Pasta Gigi Saat Berpuasa

Penderita Mag Dan Puasa

Jika Seorang Wanita Suci Setelah Subuh, Maka Ia Harus Berpuasa Dan Mengqadha

Puasa Dan Junub

Puasanya Orang Yang Meninggalkan Shalat. Berpuasa Tapi Tidak Shalat

Bersetubuh Di Siang Hari Ramadhan Ketika Safar

Sahur Setelah Subuh

Minum Setelah Adzan Subuh

Minum Ketika Adzan Subuh

Suntikan Di Siang Hari Ramadhan

Hukum Mengeluarkan Darah Dari Orang Yang Sedang Berpuasa

Hukum Cuci Darah Bagi Yang Berpuasa

Hukum Menggunakan Krim Kulit

Hukum Menggunakan Inhaler Bagi Yang Berpuasa

Apakah Debu Membatalkan Puasa?

Hukum Orang Yang Puasa Dan Shalat Hanya Pada Bulan Ramadhan

Hukum Orang Yang Puasa Tapi Tidak Shalat

Menggunakan Siwak Di Bulan Ramadhan

Hukum Bersiwak Bagi Yang Berpuasa Setelah Tergelincirnya Matahari

Apakah Tanggalnya Gigi Geraham Orang Yang Sedang Berpuasa Membatalkan Puasanya?

Hukum Berenang Bagi Orang Yang Sedang Berpuasa

Mencicipi Makanan Oleh Orang Yang Sedang Berpuasa

Menunda Qadha Puasa Hingga Tiba Ramadhan Berikutnya

Menghadiahkan Pahala Puasa Untuk Orang Yang Sudah Meninggal

Orang Yang Meninggal Dengan Menanggung Qadha Puasa

Apakah orang yang meninggal dengan menanggung utang qadha puasa boleh dipuasakan untuknya (diqadhakan)?

Hukum Mengqadha Enam Hari Puasa Syawwal

Mengqadha Enam Hari Puasa Ramadhan di Bulan Syawwal, Apakah Mendapat Pahala Puasa Syawwal Enam Hari

Apakah Suami Berhak untuk Melarang Istrinya Berpuasa Sunat

Hukum Puasa Sunnah Bagi Wanita Bersuami

Hukum Zakat Yang Diserahkan Ke Lembaga Zakat Atau Instansi Pemerintah

Wajibnya Zakat Pada Perhiasan Wanita Yang Digunakan Sebagai Pehiasan Atau Dipinjamkan, Baik Berupa Emas Maupun Perak

Wajibnya Zakat Pada Perhiasan Wanita Jika Mencapai Nishab Dan Tidak Diproyeksikan Untuk Perdagangan

Apakah Seorang Wanita Harus Menggabungkan Perhiasan Putri-Putrinya Ketika Hendak Mengeluarkan Zakat Perhiasannya?

Apa Hukum Zakat Perhiasan Yang Dikenakan

Hukum Buka Warung Di Siang Hari Bulan Ramadhan

Lupa Meniatkan Puasa Bulan Syawwal Dari Sejak Malam Hari, Sah Tidak?

BAGAIMANA MENENTUKAN AWAL PUASA

HIKMAH DIWAJIBKAN MENGQADHA PUASA TETAPI TIDAK MENGQADHA SHALAT

BAGAIMANA PUASA YANG BENAR?

NIAT BERBUKA,TAPI BELUM MAKAN DAN MINUM APAKAH MEMBATALKAN PUASA?

beberapa tanda Lailatul Qadr

Puasa Muharram dan 'Asyura

Nilai Sosial Puasa

Apa Yang Lazim Dan Yang Wajib Dilakukan Orang Yang Berpuasa

Tetesan Air Mata Tidak Merusak Puasa

Menelan Pil Pencegah Haid

Berlebihan Dalam Hidangan Buka Puasa

Hukum Makan Sahur Ketika Adzan Subuh Atau Beberapa Saat Setelahnya

Menggunakan Pasta Gigi Saat Berpuasa

Penderita Mag Dan Puasa

Bersetubuh Di Siang Hari Ramadhan Ketika Safar

Suntikan Di Siang Hari Ramadhan

Hukum Mengeluarkan Darah Dari Orang Yang Sedang Berpuasa

Hukum Berenang Bagi Orang Yang Sedang Berpuasa

Mencicipi Makanan Oleh Orang Yang Sedang Berpuasa

HUKUM ORANG YANG PUASA TETAPI TIDAK SHOLAT

Meninggal Pada Bulan Ramadhan

Hukum Orang Yang Mengakhirkan Qadha Puasa Hingga Datang Ramadhan Berikutnya

Perbedaan Ru-yah

Shaum (Berpuasa) Berdasarkan Hisab.

Hukum Puasa Bagi Orang Yang Melanjutkan Makan Sahurnya Setelah Adzan?

Hukum Shiam (Puasa) Yang Dilakukan Pada Masa Nifas.

Mengqadha Shiyam (Puasa) Yang Telah Terlupakan Selama Sepuluh Tahun

Bolehkah Membatalkan Shiyam (Puasa) Yang Diqhadha?

Kafarat Bagi Orang Yang Mengumpuli Istrinya Di Siang Hari Bulan Ramadhan

Mengqadha Shiyam Yang Terlupakan Jumlahnya

Beberapa Permasalahan Wanita Dalam Melakukan Shiyam.

Penentuan Hari dan Shiyam (Puasa) Arafah Pada Tiap Negara

Bidahkah Puasa 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah ?

Hisab Dijadikan Acuan Dalam Menentukan Awal dan Akhir Ramadhan

Masalah-Masalah Yang Berkaitan Dengan Niat Dalam Melaksanakan Shiyam (Puasa)

Makan Sahur Ketika Fajar Terbit Tanpa Disadari

Air Yang Masuk Ke Tenggorokan Tanpa Sengaja Ketika Berwudhu

KADAR FIDYAH BAGI ORANG YANG TIDAK MAMPU BERPUASA KARENA TUA ATAU SAKIT

Memakai Obat Mata Dan Telinga Ketika Berpuasa

Permasalahan-Permasalahan Yang Berkaitan Dengan I'tikaf

Apakah Ada Perselisihan Pendapat Tentang Dianjurkannya Puasa Di Sembilan Hari Awal Bulan Dzulhijah

Menyikapi Dua Hadits Yang Bertentanggan Dalam Masalah Puasa 1-9 Dzulhijjah

Hukum Tidak Berpuasa Karena Alasan Pekerjaan

Hukum tetap berpuasa selama masa haidh karena tidak tahu

Menelan Pil Pencegah Haid

Apakah malam lailatul qadar jatuh pada malam ke-27 dari bulan Ramadhan

Hukum mengakhirkan qadha puasa Ramadhan sebelumnya sampai memasuki bulan Ramadhan yang baru?

Orang Yang Meninggal Dengan Menanggung Qadha' Puasa

Antara Berbuka atau Berpuasa Saat Safar (Bepergian)

Jika Terjadi Perbedaan Hari Arafah

Jika Puasa Arafah Jatuh Pada Hari Sabtu..?

Berpuasa Tapi Meninggalkan Shalat

Antusias Ibadah Saat Ramadhan Saja

Kesalahan Sebagian Muda-Mudi Saat Puasa


Kajian Ramadhan

Menyambut Bulan Ramadhan

Keutamaan Bulan Ramadhan

Penentuan Awal dan Akhir Ramadhan

Kiat-Kiat Menghidupkan Bulan Ramadhan...!

Panduan Ringkas Puasa Ramadhan

Hikmah dan Manfa'at Puasa

Qiyam Ramadhan

Adab Shalat Tarawih Bagi Wanita

Nuzulul Qur'an Sebagai Peringatan atau Pelajaran

I'tikaf Hukum dan Keutamaanya

Menggapai Lailatul Qadar

Ramadhan Bersama al-Qur'an

Kesalahan-Kesalahan Dalam Bulan Ramadhan (1)

Kesalahan-Kesalahan Dalam Bulan Ramadhan (2)

Zakat Fitrah

Kebahagiaan Bersama Iedul Fithri

Ramadhan Telah Berlalu

Keutamaan Puasa Enam Hari Syawal

Waspada Terhadap Hadits-Hadits Dha'if (Lemah) Seputar Ramadhan


Fatwa Haji & Qurban

Apa hikmah thawaf(disekitar Ka'bah)? Apakah hikmah mencium Hajar Aswad adalah tabarruk (memohon barakah) kepadanya?

Disyari'atkannya menyembelih hewan qurban

Hukum menyembelih hewan qurban dan cara membagikan dagingnya

Mana yang lebih utama, berqurban dengan menyembelih sapi atau domba?

Menyembelih seekor sapi untuk tujuh orang

Seekor unta untuk satu orang

Umur hewan qurban

Hewan Yang Tidak Sah Dijadikan Hewan Qurban

Berqurban dengan harga hewan qurban

Penerima daging hewan qurban

Membagikan hewan qurban kepada orang kafir

Menyembelih sebelum Imam menyembelih

Barang siapa ingin berqurban, maka janganlah mengambil(memotong) rambut dan kukunya

Hukum wanita yang melakukan haji tanpa mahram

Hukum orang yang ingin melakukan haji namun masih memiliki hutang

Mahram Tidak Sanggup Mendampingi Dalam Ibadah Haji

Wanita Yang Mengaku Islam Ingin Menunaikan Haji

Apakah Suami Seorang Perempuan Bisa Menjadi Mahram Bagi Bibi Perempuan Tersebut

Wanita Ingin Haji Didampingi Anak Laki-Lakinya Yang Belum Baligh

Pergi Haji Hanya Ditemani Wanita Yang Dipercaya

Mahram Wanita Meninggal Pada Saat Ibadah Haji

Izin Suami Untuk Pergi Haji

Hukum Haji Bagi Wanita Tidak Mendapat Izin Dari Suaminya

Biaya Haji Ditanggung Wanita

Mengganti Haji Wanita Tua Lagi Buta

Wanita Haji Bersama Lelaki Yang Bukan Mahram

Wanita Pergi Haji Bersama Lelaki Shalih Yang Disertai Keluarganya

Seorang Wanita Mendatangkan Ibunya Untuk Diajak Pergi Haji

Anak Laki-Laki Yang Sudah Mumayyiz Menjadi Mahram

Wanita Pergi Haji Dengan Harta Suaminya

Wanita Haid Melewati Miqat Dengan Tidak Ihram

Puasa di Jeddah Lalu Berihram Haji Tanggal Delapan

Wanita Niat Haji Tamattu', Kemudian Tidak Memungkinkan Thawaf Dan Sa'i Kemudian Dia Menuju Ke Mina Dan Arafah

Mencium Hajar Aswad Pada Waktu Mulai Thawaf

Wanita Shalat di Belakang Maqam Ibrahim

Wanita Mendaki Shafa dan Marwah

Apakah lari-lari kecil pada tiga putaran pertama dari thawaf qudum khusus bagi laki-laki saja

Apakah Wanita Mempercepat Sa'i Tatkala Berada

Wanita Menyesal Karena Berumrah, Tapi Tidak Men-ziarahi Makam Rasul

Wanita Mencium Hajar Aswad

Wanita Keluar Dari Muzdalifah

Wanita Mencukur Rambut Pada Saat Haji Dan Umrah

Bentuk Pakaian Ihram Bagi Wanita

Wanita Telah Menyelesaikan Semua Manasik Haji Kecuali Melempar Jumrah Karena Punya Anak Kecil

Wakil Dalam Melempar Jumrah

Wanita Telah Selesai Dari Seluruh Manasik Kecuali Menggunting Rambut

Thawaf Ifadhah Diganti Dengan Thawaf Wada'

Hikmah Dilarang Mengenakan Pakaian Berjahit Saat Ihram

Melaksanakan Ibadah Haji Tanpa Ihram

Menggauli Istri Disaat Ibadah Haji

Menggauli Istri Setelah Tahallul Awal

Wanita Haid Tinggal di Jeddah Sebelum Thawaf Ifadhah dan Thawaf Wada' Setelah Suci Digauli Suaminya

Wanita Meletakkan Kayu atau Pengikat Untuk Mengangkat Jilbab Dari Wajahnya

Rambut Kepala Rontok Dengan Sendirinya

Wanita Pulang ke Negerinya Sebelum Thawaf Ifadhah

Pakaian Ihram Wanita Dan Hukum Mengenakan Cadar dan Sarung Tangan

Hukum Sarung Tangan Dan Kaos Kaki Saat Ihram

Hukum Mengenakan Purdah Dan Masker Saat Ihram

Hukum Membuka Wajah Dan Telapak Tangan

Menggauli Istri Setelah Selesai Ihram

Hukum Ihram Disaat Haid

Wanita Berihram Dari Miqat Sebelum Suci

Wanita Ihram Bersama Suaminya Dalam Keadaan Haid dan Tatkala Ia Telah Suci, Ia Umrah Sendirian

Wanita Dalam Kondisi Haid Dan Nifas Saat Akan Ihram

Ihram Dari Sail Dalam Keadaan Haid Lalu Pergi ke Jeddah dan Setelah Suci Menyempurnakan Ibadah Haji

Pemalsuan Pasport Tidak Mempengaruhi Keshahan Ibadah Haji

Fadhilah Ibadah Haji Itu Sangat Besar

Tidak Wajib Melakukan Ibadah Haji Kecuali Orang Yang Mampu

Suatu Masalah Penting Bagi Orang Yang Thawaf

Setiap Orang Dari Anda Wajib Bayar Fidyah

Anda Mempunyai Dua Pilihan

Tidak Apa-Apa Istirahat Sejenak Di Waktu Thawaf

Shalat Sunnat Dua Rakaat Thawaf Boleh Di Lakukan Di Setiap Masjid

Hajinya Orang Yang Meninggalkan Shalat

Berihram Dengan Dua Haji Atau Dua Umrah Tidak Boleh?

Perempuan Haid Sebelum Melaksanakan Thawaf Ifadhah Dan Tidak Bisa Menunggu Hingga Suci

Hukum Melontar Dengan Kerikil Bekas Pakai

Apa Yang Sebaiknya Dilakukan Oleh Orang Yang Berkesempatan Menunaikan Ibadah Haji?

Ketaatan-Ketaatan Itu Mempunyai Ciri Yang Tampak Pada Pelakunya

Kewajiban Orang Yang Telah Kembali Ke Kampung Halamannya Terhadap Keluarganya Seusai Melaksanakan Ibadah Haji

Perempuan Telah Berniat Padahal Ia Sedang Haid Atau Nifas

Menghajikan Orang Tua (Ayah) Dengan Harta Yang Telah Diwasiatkan

Melaksanakan Haji Dibiayai Suatu Yayasan

Menunaikan Ibadah Haji Dengan Hutang Atau Kredit

Pakain Berjahit Yang Dilarang Adalah Jahitannya Yang Meliputi Seluruh Tubuh

Mendahulukan Sai Daripada Thawaf

Cukur Rambut Itu Gugur Bagi Orang Yang Berkepala Botak (Tidak Berambut)

Harus Melakukan Thawaf Wada (Perpisahan) Jika Kepulangannya Tertunda Di Mekkah

Hukum Melontar Jumroh Aqabah Di Malam Hari

Sanggahan Terhadap Orang Yang Berpendapat Bahwa Jeddah Adalah Miqat

Ini Termasuk Sunnah Yang Dilupakan

Tutuplah Kepala Anda... Anda Wajib Bayar Fidyah

Sai Itu Adalah Salah Satu Rukun Haji

Nabi Tidak Pernah Menentukan Doa Khusus Untuk Thawaf

Tidak Ada Kewajiban Bagi Anda

Yang Wajib Adalah Tinggal Di Perkemahan Paling Akhir

Inilah Hari-Hari Tasyriq

Ini Adalah Maksiat Besar

Bagi Orang Yang Akan Menunaikan Ibadah Haji Atau Umrah Wajib Mempelajari Hukum-Hukumnya

Keteladanan Itu Ada Pada Rasulullah

Saat Thawaf atau Sa'i Afdhalnya Adalah Menyibukkan Diri Dengan Dzikir

Hukumnya Berbeda, Tergantung Kepada Perbedaan jenis Iddah

Anda Wajib Bertobat Kepada Allah Dan Mengulangi Thawaf

Anda Wajib Menundukkan Pandangan

Thawaf Wada Itu Adalah Nusuk Wajib

Tersentuh Tubuh Wanita Tidak Membatalkan Thawaf

Tidak Boleh Bagi Jamaah Haji Keluar Ke Jeddah Pada Hari Idul Adha

Bagi Orang Yang Sehat Tidak Boleh Mewakilkan Di Dalam Melontar Jumroh

Jamaah Haji Pergi Ke Jeddah

Seputar Sai Dan Thawaf

Hukum Melontar Jumroh Pada Hari-Hari Tasyriq Sekaligus

Tidak Mabit Di Muzdalifah Apakah Mewajibkan Hadyu?

Waktu Melontar Jumroh Aqabah

Menghadiahkan Pahala Amal Seperti Thawaf

Hak Allah Lebih Penting Daripada Hak Suami

Larangan-Larangan Ihram

Menggunakan Pil Pencegah Haid Untuk Ibadah Haji

Hikmah Di Balik Mencium Hajar Aswad

Hukum Meletakkan Surat Pada Kelambu Kabah Dan Menujukannya Kepada Rasulullah a Atau Selain Beliau

Kepergian Wanita Untuk Haji Atau Umrah Tanpa Didampingi Mahramnya

An-Nusuk dan Macam-macamnya

Kepergian Wanita Untuk Haji Atau Umrah Tanpa Didampingi Mahramnya

Hukum Ibadah Haji

Hukum Ibadah Umrah

Kewajiban Melaksanakan Ibadah Haji Itu Segera, Ataukah Dapat Ditunda

Syarat Wajib Haji dan Umrah

Syarat Ijza (Tertunaikannya Kewajiban) di Dalam Melaksanakan Ibadah Haji

Etika Bepergian untuk Menunaikan Haji

Apa yang Harus Dipersiapkan Oleh Seorang Muslim untuk Menunaikan Haji dan Umrah?

Mempersiapkan Diri Dengan Taqwa

Waktu Musim Haji

Hukum Melakukan Ihram Haji Sebelum Ketentuan Waktunya Tiba

Penjelasan Tentang Miqat Haji (Tempat-tempat Berihram)

Hukum Berihram Sebelum Sampai di Tempat Ihram (Miqat)

Hukum Orang yang Melalui Miqat Dengan Tidak Berihram

Perbedaan Antara Ihram Sebagai Kewajiban dan Ihram Sebagai Rukun Haji

Hukum Melafalkan Niat di Saat Berihram

Tata Cara Berihramnya Orang yang Datang ke Mekkah Melalui Udara

Tata Cara Melakukan Ibadah Haji

Rukun Umrah

Rukun Haji

Hukum Meninggalkan Salah Satu Rukun Haji atau Umrah

Kewajiban-kewajiban Haji

Hukum Mengabaikan Salah Satu dari Kewajiban Haji atau Umrah

Cara Menunaikan Haji Qiran

Hukum Melakukan Umrah Sesudah Beribadah Haji

Hukum Berpindah Niat dari Satu Bentuk Ibadah Haji ke Bentuk Ibdah Haji yang Lain

Hukum dan Ketentuan-ketentuan Mewakilkan Kepada Orang Lain di Dalam Menunaikan Haji

Syarat Seorang Pengganti Dalam Menunaikan Ibadah Haji

Mencari Uang Dengan Cara Menghajikan Orang Lain yang Niatnya Hanya Mencari Uang Semata

Apakah Orang yang Mengerjakan Haji untuk Orang Lain Mendapat Pahala Sebagian Amalan Haji?

Arti Mewakili Sebagian Amalan Haji

Mengkiaskan Perwakilan Dalam Melontar Kepada Amalan/ Manasik Haji Lainnya

Tidak Mampu Menyempurnakan Salah Satu Manasik, Apa yang Harus Dilakukan?

Hukum Orang yang Wafat di Saat Sedang Ihram Menunaikan Manasik

Cara Bersyarat Jika Tak mampu Menyempurnakan Amalan Haji

Kalimat Bersyarat

Pantangan Ihram

Hukum Meletakkan Sesuatu yang Menempel di Kepala Orang yang Sedang Ihram

Perbedaan Antara Niqab dengan Burqa

Bagaimana Cara Wanita yang Sedang Berihram Menutup Wajahnya di Hadapan Laki-Laki

Haji Yang Bagaimana Yang Dapat Menghapus Dosa Itu?

Berkurban Untuk Mayit, Bolehkah?

Mengucapkan NIAT Ketika BERQURBAN

Menyembelih Kurban Bagi Seorang Yang Melaksanakan Haji Untuk Orang Lain

Tuntunan Melaksanakan Ibadah Haji

 
YAYASAN AL-SOFWA
Jl.Raya Lenteng Agung Barat No.35 PostCode:12810 Jakarta Selatan - Indonesia
Phone: 62-21-78836327. Fax: 62-21-78836326. e-mail: info@alsofwah.or.id | website: www.alsofwah.or.id | Member Info Al-Sofwa
Artikel yang dimuat di situs ini boleh dicopy & diperbanyak dengan syarat mencantumkan sumber: http://alsofwah.or.id serta tidak untuk komersil.