Artikel : Bulein Annur - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Perang Tabuk Pada Bulan Rajab Tahun Kesembilan Hijriyah (bag.1)

Jumat, 10 Februari 23

**

Rasulullah- -menetap di Madinah antara bulan Dzulhijjah dan Rajab, kemudian memerintahkan kaum muslimin bersiap-siap untuk menyerang Romawi.

Az-Zuhri, Yazid bin Ruman, Abdullah bin Abu Bakar, Ashim bin Umar bin Qatadah, dan ulama-ulama kami lainnya, semuanya berkata kepadaku tentang Perang Tabuk seperti yang disampaikan kepadanya. Sebagian dari mereka menceritakan apa yang tidak diceritakan sebagian lainnya. Mereaka berkata, Rasulullah- memerintahkan sahabat-sahabatnya bersiap-siap untuk menyerang Romawi. Itu terjadi ketika muslimin mengalami masa-masa sulit, cuaca sangat panas, musim kemarau, buah-buahan mulai ranum, orang-orang lebih menyukai berada di dekat buah-buah mereka dan tempat berteduh mereka, serta tidak suka berangkat dalam kondisi seperti itu. Rasulullah- sendiri jarang keluar untuk perang kecuali merahasiakannya dan menjelaskan bahwa beliau menginginkan bukan daerah yang beliau tuju, kecuali Perang Tabuk di mana beliau menjelaskannya kepada kaum muslimin, karena perjalanannya sangat jauh, masa-masa yang sangat sulit, dan banyaknya musuh yang ingin beliau tuju. Rasulullah- menjelaskan hal yang demikian agar manusia mengadakan persiapan. Betul kali ini, Rasulullah- memerintahkan kaum Muslimin bersiap-siap dan menjelaskan kepada mereka bahwa beliau hendak menyerang Romawi.

Pada suatu hari ketika tengah bersiap-siap, Rasulullah- bersabda kepada Al-Jadd bin Qais, salah seorang dari Bani Salamah, Hai al-Jadd, apakah pada tahun ini engkau ikut memerangi orang-orang berkulit kuning (Romawi) ? Al-Jadd bin Qais berkata, Wahai Rasulullah, berilah aku izin dan engkau jangan menjerumuskanku ke dalam fitnah. Demi Allah, kaumku telah mengenaliku bahwa tidak ada orang laki-laki yang cepat tertarik kepada wanita daripada aku. Oleh karena itu, aku khawatir jika aku melihat wanita-wanita berkulit kuning (Romawi), maka aku tidak sabar. Rasulullah- memalingkan muka dari Al-Jadd bin Qais dan bersabda, Aku mengizinkanmu. Tentang al-Jadd bin Qais ini, turunlah firman Allah- -,


[ : 49]


Di antara mereka ada yang berkata, Berilah saya izin dan janganlah engkau menjerumuskanku ke dalam fitnah. Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang kafir (at-Taubah : 49)

Maksudnya, jika Al-Jadd bin Qais khawatir tergoda wanita-wanita Romawi, itu tidak akan terjadi padanya. Namun, fitnah yang ia telah terjatuh ke dalamnya itu lebih besar, yaitu tidak ikut berangkat perang bersama Rasulullah- dan lebih menyukai dirinya daripada diri beliau- . Oleh karena itu, Allah- -berfirman,




dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang kafir

Sebagian orang-orang munafik berkata kepada sebagian yang lain, Janganlah kalian berangkat pada musim panas seperti ini. Mereka berkata seperti itu karena ingin mengecilkan arti jihad, membuat keraguan tentang kebenaran, dan menggoyahkan Rasulullah- . Kemudian Allah- -menurunkan ayat tentang mereka,


(81) (82) [ : 81 - 83]


Mereka berkata, Janganlah kalian berangkat (pergi berperang) di panas terik ini. Katakanlah, Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas, jikalau mereka mengetahui. Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.

Ibnu Ishaq- -berkata :

Rasulullah- tetap bersemangat untuk berangkat, memerintahkan manusia bersiap-siap dan menyingsingkan lengan baju, menghimbau orang-orang kaya agar mereka berinfak, dan menanggung biaya jihad di jalan Allah. Kemudian sejumlah sahabat-sahabat yang kaya menanggung biaya jihad karena mengharap pahala Allah- -. Utsman bin Affan- -berinfak dalam jumlah besar dimana tidak ada seorang pun yang berinfak sebesar itu. [1]

Sejumlah orang dari kaum Muslimin-orang-orang yang menangis- mendatangi Rasulullah- . Mereka adalah tujuh orang dari kaum Anshar dan selain kaum Anshar. Dari Bani Amr bin Auf adalah Salim bin Umar, Ulbah bin Zaid saudara Bani Haritsah, Abu Laila Abdurrahman bin Kaab saudara Bani Mazin bin an-Najjar, Amr bin Humam bin Al-Jamuh saudara Bani Salamah, Abdullah bin al-Mughaffal al-Muzan-sebagian orang berkata, yang benar ialah Abdullah bin Amr al-Muzani, Harami bin Abdullah saudara Bani Waqif, dan Irbadh bin Sariyah Al-Fazari. Mereka semua meminta Rasulullah- membiayai persiapan jihad mereka, karena mereka orang-orang miskin. Rasulullah- bersabda, Aku tidak mempunyai apa-apa untuk membiayai jihad kalian. Mereka pun keluar dari tempat Rasulullah- dengan menangis karena sedih sebab mereka tidak mendapatkan infak untuk pembiayaan persiapan jihad mereka.

Aku mendengar bahwa Ibnu Yamin bin Umair bin Kaab an-Nadhri bertemu Abu Laila Abdurrahman bin Kaab dan Abdullah bin Al-Mughaffal, keduanya sedang menangis. Ibnu Yamin bin Umair bin Kaab an-Nadhri berkata kepada keduanya, Kenapa engkau berdua menangis? Kedunya menjawab, Kami datang kepada Rasulullah- dan meminta beliau menanggung kami, tapi kami melihat beliau tidak mempunyai apa-apa untuk menanggung kami, karena kami tidak mempunyai bekal untuk berangkat bersama beliau. Kemudian Ibnu Yamin bin Umair bin Kaab An-Nadhri memberikan untanya dan sedikit kurma kepada kedua sahabat tersebut, lalu kedua sahabat tersebut berangkat bersama Rasulullah. Menurut sebuah riwayat mereka adalah sejumlah orang dari Bani Ghifar.

Orang-orang Arab datang kepada Rasulullah- guna meminta uzur, namun Allah- -tidak memberi uzur kepada mereka.

Rasulullah- terus menyiapkan perjalanan dan menentukan waktu pemberangkatan. Di sisi lain, beberapa orang dari para sahabat menangguhkan niatnya untuk menyusul Rasulullah- hingga mereka tertinggal dari beliau tanpa keragu-raguan di dalam hati dan bukan karena kemunafikan, mereka adalah Kaab bin Malik bin Abu Kaab saudara bani Salamah, Murarah bin Rabi saudara Bani Amr bin Auf, Hilal bin Umayah saudara Bani Waqif, dan Abu Khaitsamah saudara Bani Salim bin Auf. Mereka semua adalah orang-orang jujur dan keislaman mereka tidak diragukan. Ketika Rasulullah- berangkat, beliau memasang tenda di Tsaniyyatul Wada.

Abdullah bin Ubaiy bin Salul memasang tendanya menyendiri di bawah Rasulullah- menghadap ke Gunung Dzubab. Para ulama berkata bahwa Abdullah bin Ubai bin Salul dan teman-temannya itu banyak. Ketika Rasulullah- meneruskan perjalanan, Abdullah bin Ubai bin Salul tidak ikut berangkat bersama orang-orang munafik dan orang-orang yang serba ragu.

Rasulullah- menunjuk Ali bin Abi Thalib untuk menjaga keluarga beliau dan menyuruhnya berada di tempat mereka. Hal ini disebarluaskan orang-orang munafik. Mereka berkata, Nabi menunjuk Ali karena merasa berat menyuruhnya dan memberi keringanan kepadanya. Ketika orang-orang berkata seperti itu, Ali bin Abi Thalib- - mengambil senjata, kemudian berangkat hingga berhasil menyusul Rasulullah- yang ketika itu berhenti di Jurf [2] Ali bin Abi Thalib- -berkata, Wahai Nabi Allah, orang-orang munafik berkata bahwa engkau meninggalkanku di Madinah karena engkau merasa berat menyuruhku, dan memberi keringanan kepadaku. Rasulullah- bersabda, Mereka bohong. Aku meninggalkanmu di Madinah untuk menjaga keluargaku, oleh karena itu, pulanglah dan jagalah keluargaku dan kelurgamu. Hai Ali, apakah engkau tidak ridha kalau kedudukanmu terhadapku itu seperti kedudukan Nabi Harun terhadap Nabi Musa ? Hanya saja, tidak ada nabi sepeninggalku. Ali bin Abi Thalib- -pun pulang ke Madinah, sedang Rasulullah- melanjutkan perjalanan.

Abu Khaitsamah kembali kepada keluarganya di hari yang panas setelah Rasulullah- berjalan berhari-hari. Setibanya di Madinah, ia mendapati kedua istrinya di gubug keduanya di kebun kurma. Masing-masing dari kedua istrinya mengapur gubugnya, mendinginkan air di dalamnya, dan menyiapkan makanan. Ketika Abu Khaitsamah masuk ke dalam gubug, ia berdiri di pintu gubuk kemudian melihat kedua istrinya dan apa yang keduanya perbuat. Ia berkata,Rasulullah - sedang di bawah sinar matahari, angin, dan hawa panas, sedang Abu Khaitsamah berada di dalam naungan yang dingin, makanan yang telah siap disantap, dan dua istrinya yang cantik di kebunnya ? Ini tidak adil. Abu Khaitsamah berkata kepada kedua istrinya, Demi Allah, aku tidak akan masuk ke gubug salah seorang dari kalian berdua, hingga aku berhasil menyusul Rasulullah- , oleh karena itu, siapkan perbekalan untukku. Kedua istri Abu Khaitsamah melaksanakan perintahnya. Abu Khaitsamah sendiri pergi ke untanya dan menyiapkannya, kemudian berangkat menyusul Rasulullah- hingga bertemu beliau berhenti di Tabuk. Umair bin Wahb Al-Jumahi yang juga mengejar Rasulullah- bertemu Abu Khaitsamah di jalan, kemudiaan keduanya berjalan berdua.

Ketika keduanya mendekati Tabuk, Abu Khaitsamah berkata kepada Umair bin Wahb, Sesungguhnya aku mempunyai dosa, oleh karena itu, tidak ada salahnya kalau engkau di belakangku hingga aku terlebih dahulu tiba di tempat Rasulullah. Umair bin Wahb mengabulkan keinginan Abu Khaitsamah. Ketika Abu Khaitsamah telah mendekati tempat Rasulullah- yang ketika itu berhenti di Tabuk, orang-orang berkata, Musafir datang. Rasulullah- bersabda, Dialah Abu Khaitsamah. Orang-orang berkata, Wahai Rasulullah, demi Allah, dia Abu Khaitsamah. Setelah menghentikan untanya, Abu Khaitsamah berjalan dan mengucapkan salam kepada Rasulullah- . Rasulullah- bersabda kepada Abu Khaitsamah, Kenapa engkau tidak berangkat dari awal, hai Abu Khaitsamah ? Abu Khaitsamah menyebutkan alasan kenapa ia tertinggal kepada Rasulullah- dan beliau pun berkata baik kepadanya.

Ketika Rasulullah- berjalan melewati Al-Hijr [3] beliau berhenti di sana dan para sahabat mengambil air dari sumurnya. Ketika para sahabat datang dari sumur tersebut, Rasulullah- bersabda, Janganlah kalian meminum sedikit pun air sumur Al-Hijr, jangan berwudhu dengan airnya untuk shalat, tepung yang kalian buat berikan kepada unta dan kalian jangan memakannya meski cuma sedikit, dan salah seorang dari kalian pada malam ini jangan keluar kecuali berdua. Para sahabat mentaati perintah Rasulullah- tersebut, kecuali dua orang dari Bani Saidah.

Salah seorang dari keduanya keluar untuk buang hajat, sedang orang satunya keluar mencari untanya. Adapun orang yang keluar untuk buang hajat, ia tercekik di tempat buang hajat. Sedang orang satunya yang mencari untanya, ia terbawa angin hingga terlempar di dua Gunung Thayyi. Kejadian tersebut dilaporkan kepada Rasulullah- kemudian beliau bersabda, Bukankah aku telah melarang salah seorang dari kalian keluar kecuali berdua ? Rasulullah- mendoakan orang yang tercekik di tempat buang hajat kemudian ia sembuh. Adapun orang satunya yang terlempar di dua Gunung Thayyi, maka orang-orang Thayyi menghadiahkannya kepada Rasulullah- ketika beliau tiba di Madinah.

Keesokan harinya, ...
Apa yang terjadi ?
Nantikan lanjutan kisahnya pada bagian kedua dari tulisan ini, insya Allah.

Wallahu Alam

(Redaksi)

Sumber :
Tahdzibu Sirah Ibnu Hisyam, Abdus Salam Harun, ei, hal. 350-354

Catatan :

[1] Ibnu Hisyam berkata : Telah menceritakan kepadaku orang yang kupercayai bahwa Utsman bin Affan- -mengeluarkan infak untuk pasukan al-Usrah pada perang Tabuk ini sebesar seribu dinar. Rasulullah- berdoa untuknya : Ya Allah ridhailah Utsman, karena aku ridha kepada.

[2] al-Jurf adalah nama tempat sekitar tiga mil dari Madinah ke arah Syam, disitulah terletak tanah milik Umar bin Al-Khaththab- -dan milik penduduk Madinah.

[3] Al-Hijr adalah nama kampung di salah satu sudut kota Madinah, di situ terdapat mata air dan sumur milik Bani Suleim.




Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatannur&id=1008