Artikel : Bulein Annur - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Puasa Syaban

Jumat, 03 Maret 23

**

Disunnahkan memperbanyak puasa pada Bulan Syaban untuk mengikuti perbuatan Rasulullah- -, di mana beliau selalu berpuasa pada bulan tersebut kecuali beberapa hari saja beliau berbuka.

Aisyah- -berkata,




Rasulullah- -selalu berpuasa hingga kami mengatakan beliau tidak pernah berbuka dan beliau pun berbuka hingga kami mengatakan beliau tidak pernah berpuasa. Aku tidak pernah melihat Rasulullah- -berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa seperti yang dilakukannya pada bulan Syaban. (HR. al-Bukhari)

Sementara dalam riwayat Muslim dikatakan,




Aku tidak pernah melihat Nabi- -berpuasa dalam satu bulan melebihi banyaknya puasa yang beliau lakukan pada bulan Syaban. Kadang beliau berpuasa pada bulan Syaban sebulan penuh dan kadang hanya beberapa hari saja beliau berbuka pada bulan itu.

Dari Aisyah- -, dia berkata,




Nabi- -tidak pernah berpuasa dalam satu bulan melebihi banyaknya puasa yang beliau lakukan pada bulan Syaban. Sesungguh beliau pernah berpuasa Syaban sebulan penuh. Beliau pernah bersabda, Lakukan amal ibadah yang kalian mampu melakukannya. Sesungguhnya Allah tidak pernah merasa bosan hingga kalian sendiri yang bosan. Shalat yang paling dicintai Nabi- -adalah yang dilakukan secara kontinyu walaupun sedikit. Dan Rasulullah- -bila melakukan shalat, beliau melakukannya secara kontinyu. (HR. al-Bukhari)

Aisyah- -, juga berkata,




Rasulullah- -berpuasa pada bulan Syaban dan Ramadhan dan berupaya berpuasa hari Senin dan Kamis (HR. An-Nasai)

Ummu Salamah- -, berkata,




Aku tidak pernah melihat Rasulullah- -berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali pada bulan Syaban dan Ramadhan. (HR. at-Tirmidzi dan yang lainnya) [1]

Masalah yang muncul

Bagaimana menyatukan riwayat yang menyatakan bahwa Nabi- -berpuasa pada bulan Syaban sebulan penuh dan riwayat yang menyatakan beliau tidak pernah berpuasa sebulan penuh dalam satu bulan selain pada bulan Ramadhan ?

Jawaban dari pertanyaan ini adalah

Imam at-Tirmidzi dalam al-jami (3/105) mengutip pernyataan Ibnul Mubarak yang menyatakan, Dalam bahasa Arab jika seseorang berpuasa pada sebagian besar bulan boleh dikatakan dia berpuasa sebulan lamanya. Misalnya juga dikatakan, Si Fulan shalat sepanjang malam padahal mungkin saja dia makan malam dan melakukan sebagian kesibukan lain.

Abu Isa at-Tirmidzi berkata, Seakan Ibnul Mubarak melihat bahwa kedua hadis ini sama. Ia berkata, Makna hadis ini adalah bahwa Rasulullah- melakukan puasa pada sebagian besar bulan.

Kesimpulannya adalah bahwa riwayat pertama menafsirkan dan menjelaskan riwayat kedua. Artinya, riwayat yang berbunyi,




Aku tidak pernah melihat Rasulullah- -berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa seperti yang dilakukannya pada bulan Syaban. menafsirkan dan menjelaskan riwayat yang menyatakan,




Rasulullah- -berpuasa pada bulan Syaban sebulan penuh.

Jadi yang dimaksud dengan sebulan penuh adalah sebagian besar saja dan ini adalah bentuk majaz yang jarang digunakan.

Pendapat ini ditolak oleh ath-Thibbi dengan alasan, Karena kata semuanya (sebulan penuh) merupakan penegasan bahwa yang dimaksud adalah keseluruhan bulan dan sebagai penolakan terhadap bentuk majaz. Maka penafsirannya dengan sebagian bulan bertentangan dengan hal itu. Ia selanjutnya mengatakan, Makna hadis itu dapat dipahami bahwa kadang Rasulullah- - berpuasa pada bulan Syaban sebulan penuh dan kadang pada sebagian besarnya saja agar tidak dianggap puasa wajib seperti puasa Ramadhan.

Ada pula yang mengatakan, Yang dimaksud dengan sebulan penuh adalah bahwa Rasulullah- - terkadang berpuasa di awal bulan, terkadang di akhirnya dan terkadang pada pertengahannya, sehingga sebulan itu hampir tidak kosong dari kegiatan puasa dan tidak ada waktu tertentu yang dibedakan dari waktu yang lain.

Az-Zain bin Al-Munir mengatakan, Perkataan Aisyah bisa ditafsirkan sebagai bentuk penekanan bahwa yang dimaksud adalah sebulan penuh. Atau perkataannya yang kedua muncul belakangan setelah perkataannya yang pertama, di mana ia menyampaikan bahwa awalnya Rasulullah- - berpuasa pada sebagian besar bulan Syaban dan pada akhirnya beliau berpuasa selama sebulan penuh.

Pendapat ini jelas sebuah pemaksaan, dan yang benar adalah pendapat yang pertama. Pendapat ini diperkuat oleh riwayat Abdullah bin Syaqiq dari Aisyah sebagaimana tersebut dalam shahih Muslim dan riwayat Saad bin Hisyam dari Aisyah yang tersebut dalam sunan an-Nasai. Redaksinya,




Rasulullah- -tidak pernah berpuasa sebulan penuh sejak beliau datang ke Madinah selain puasa Ramadhan.

Hadits ini seperti hadits Ibnu Abbas [2] yang akan disebutkan pada bab berikutnya.

Hikmah Memperbanyak Puasa Pada Bulan Syaban

Perkataan Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari (4/252),

Terdapat beberapa pendapat yang berbeda-beda mengenai hikmah Rasulullah- memperbanyak puasa pada bulan Syaban. Di antaranya adalah :


1. Rasulullah- -kadang tidak sempat melakukan puasa tiga hari setiap bulan lantaran sedang dalam perjalanan atau ada kesibukan lain, sehingga hutang-hutang puasa itu menumpuk lalu beliau mengqadhanya pada bulan Syaban. Pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu Baththal dan didukung oleh sebuah hadits dhaif yang dikeluarkan ath-Thabrani dalam al-Mujam al-Ausath melalui jalan Ibnu Abi Laila dari saudaranya Isa dari bapaknya dari Aisyah bahwa ia berkata,




Rasulullah- -selalu berpuasa tiga hari dalam setiap bulan. Namun terkadang beliau menundanya hingga terkumpul hutang-hutang puasa itu selama setahun lalu beliau mengqadhanya pada bulan Syaban.

Ibnu Abi Laila adalah perawi yang lemah dan hadis setelahnya yang terdapat dalam masalah ini menunjukkan kelemahan riwayatnya tersebut.


2. Rasulullah- - memperbanyak puasa pada bulan Syaban untuk mengagungkan bulan Ramadhan. Pendapat ini didukung oleh hadis riwayat at-Tirmidzi melalui jalan Shadaqah bin Musa dari Tsabit dari Anas bahwa ia berkata,




Nabi- - pernah ditanya, Puasa apa yang lebih utama setelah puasa Ramadhan ? Beliau menjawab, Puasa Syaban untuk mengagungkan Ramadhan.

At-Tirmidzi berkata, Ini adalah hadits gharib dan Shadaqah menurut para kritikus hadits bukanlah perawi yang kuat haditsnya.

Saya katakan :

Hadis ini juga bertentangan dengan riwayat Muslim dari Abu Hurairah secara marfu bahwa Rasulullah- - bersabda,




Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Muharram.


3. Hikmah Nabi- - memperbanyak puasa pada bulan Syaban karena istri-istri beliau biasa mengqadha puasa Ramadhan pada bulan Syaban. Ini berbeda dengan hikmah mengapa para istri Nabi- - menunda mengqadha puasa


4. Ramadhan hingga bulan Syaban. Yaitu karena mereka sibuk bersama Rasulullah- - sehingga tidak bisa mengqadha puasa Ramadhan.


5. Hikmahnya lagi adalah karena setelah bulan Syaban datang bulan Ramadhan dan puasa pada bulan itu adalah wajib, maka Rasulullah- - meperbanyak puasa pada bulan Syaban sebanyak ia berpuasa sunnah selama dua bulan karena di bulan Ramadhan tidak ada kesempatan untuk melakukannya.

Pendapat yang lebih benar dari semua itu adalah apa yang dijelaskan dalam riwayat yang lebih shahih dari riwayat-riwayat di atas, yakni riwayat yang dikeluarkan an-Nasai dan Abu Dawud serta dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dari Usamah bin Zaid bahwa ia berkata,


: :


Aku bertanya (kepada Rasulullah- -), Wahai Rasulullah, mengapa aku tidak melihatmu berpuasa dalam satu bulan seperti banyaknya engkau berpuasa pada bulan Syaban ? Beliau menjawab,Itu adalah bulan yang dilupakan manusia antara Rajab dan Ramadhan dan itu adalah bulan saatnya semua amal diangkat kepada Rabb alam semesta, maka aku ingin amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa.

Bidah Menetapkan Puasa Pada Pertengahan Bulan Syaban

Menetapkan puasa secara khusus pada hari pertengahan bulan Syaban tanpa hari-hari yang lain karena diyakini memiliki keutamaan yang tidak dimiliki hari-hari lain itu adalah perbuatan bidah. Ini karena tidak ada dalil shahih yang menjelaskannya.

Hadis-hadis yang ada dalam masalah ini adalah hadis yang sangat lemah dan bahkan maudhu(palsu).

Ali bin Abi Thalib- mengatakan bahwa Rasulullah- - bersabda,


. .


Bila malam pertengahan bulan Syaban tiba, maka lakukanlah shalat di malam harinya dan puasa di siang harinya, karena sesungguhnya Allah turun pada malam itu pada saat matahari tenggelam ke langit dunia, lalu Dia berfirman, Adakah orang yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku pasti mengampuninya ? Adakah orang yang meminta rizki, maka Aku pasti memberinya ? Adakah orang tertimpa musibah, maka Aku pasti menyelamatkannya ? Adakah ini, adakah itu...hingga fajar terbit. [3]

Pendapat al-Mubarakfuri dalam Tuhfat al-Ahwadzi (3/444),

Saya tidak mendapatkan hadis marfu yang shahih tentang puasa pada hari pertengahan bulan Syaban. Mengenai hadis Ali- -yang diriwayatkan Ibnu Majah dengan redaksi,


. .


Bila malam pertengahan bulan Syaban tiba, maka lakukanlah shalat di malam harinya dan puasa di siang harinya, karena sesungguhnya Allah turun pada malam itu pada saat matahari tenggelam ke langit dunia, lalu Dia berfirman, Adakah orang yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku pasti mengampuninya ? Adakah orang yang meminta rizki, maka Aku pasti memberinya ? Adakah orang tertimpa musibah, maka Aku pasti menyelamatkannya ? Adakah ini, adakah itu...hingga fajar terbit.

Saya telah mengetahui bahwa ini adalah hadis yang sangat lemah.

Ali- -juga memiliki hadis lain yang redaksinya berbunyi,




Bila pada hari itu seseorang berpuasa, maka seperti berpuasa selama enam puluh tahun yang lalu dan enam puluh tahun yang akan datang.

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu al-Jauzi dalam al-Maudhuat (hadis-hadis palsu) dan dalam komentarnya ia mengatakan, Sanadnya gelap.

Pertanyaan yang diajukan kepada Syaikh Shalih bin Fauzan- -.

Apakah disyariatkan (dianjurkan dalam agama) melakukan shalat pada malam pertengahan Syaban dan melakukan puasa pada siang harinya ?

Jawaban Syaikh Shalih bin Fauzan :

Tidak ada hadis yang shahih dari Nabi- tentang anjuran shalat pada malam pertengahan bulan Syaban secara khusus dan puasa pada siang harinya secara khusus pula. Tidak ada satu pun hadis shahih dari Nabi- tentang hal itu yang dapat dijadikan acuan. Malam pertengahan bulan Syaban adalah malam yang sama dengan malam-malam lain. Bila seseorang memiliki kebiasaan melakukan shalat malam, maka dia boleh melakukannya pada malam tersebut seperti pada malam-malam lainnya tanpa ada keistimewaan khusus yang dimiliki malam itu. Sebab menetapkan waktu tertentu untuk melakukan ibadah harus memiliki dalil yang shahih dan jika dalil yang shahih tidak ada, maka itu dapat disebut bidah dan setiap bidah adalah kesesatan.

Demikian juga tidak ada dalil secara khusus dari Nabi- -tentang disyariatkannya puasa pada tanggal 15 Bulan Syaban atau pada pertengahan bulan tersebut. Adapun hadis-hadis yang terdapat dalam masalah ini, semuanya adalah hadis palsu sebagaimana dikemukakan para ulama. Akan tetapi bagi orang yang memiliki lebiasaan berpuasa pada hari-hari putih (tanggal 14, 15, 16), maka ia boleh melakukan puasa pada bulan Syaban seperti pada bulan-bulan lainnya tanpa mengkhususkan hari itu saja. Misalnya Rasulullah- -selalu berpuasa dan bahkan memperbanyak puasa pada bulan ini (Syaban) tanpa mengkhususkan hari itu saja, tetapi hari itu masuk secara kebetulan.

Wallahu Alam

(Redaksi)

Sumber :

Shiyam at-Tathawwu; Fadail Wa Ahkam, Usamah Abdul Aziz, E.I, hal. Hal.61-70


Catatan :

[1] Sanad hadis ini shahih dan dikeluarkan oleh at-Tirmidzi, no. 726, an-Nasai, no. 2351, 2174; an-Nasai dalam as-Sunan al-Kubra (2/no.2485); Ibnu Majah, no. 1648; Ahmad (6/293-294, 300) ; ad-Darimi dalam as-Sunan (2/17) ; Abdun bin Humaid (1536) ; ath-Thahawi dalam syarh Maani al-Atsar (2/82). Semuanya melalui jalan Mansur dari Salim bin Abi Jad dari Abi Salamah bin Abdurrahman dari Ummu Salamah. Riwayat Salim didukung oleh riwayat Muhammad bin Ibrahim at-Taimi dan dikeluarkan oleh Abu Dawud, no. 2336; an-Nasai, no. 2175, 2352 dan dalam as-Sunan al-Kubra, no. 2486; Ahmad (6/311). Riwayat ini diriwyatkan melalui jalan Syubah dari Taubah Al-Anbari dari Muhammad bin Ibrahim. Riwayat dari Muhammad ini berbeda-beda. Ada yang meriwayatkan dari Ibrahim melalui jalan ini (dari Muhammad bin Ibrahim dari Abu Salamah dari Ummu Salamah). Sementara ada yang meriwayatkan dari Muhammad bin Ibrahim dari Abu Salamah dari Aisyah dengan lafazh yang pertama. Riwayat kedua ini dikeluarkan oleh an-Nasai, no. 2176, 2177, 2353 dan ath-Thahawi dalam Syarh Maani al-Atsar (2/2908). Riwayat Muhammab bin Ibrahim yang kedua (riwayat dari Aisyah) didukung oleh beberapa periwayat yang antara lain :

1. Abdullah bin Ubaid dan dikeluarkan oleh Muslim, no. 1156

2. Abu Nadhar Salim al-Madani dan dikeluarkan oleh al-Bukhari, no. 1969

3. Yahya bin Katsir dan dikeluarkan oleh al-Bukhari, no. 1970 dan Muslim, no. 782.

4. Yahya bin Said dan dikeluarkan oleh an-Nasai, no. 2354.

5. Zaid bin Abi Attab dan dikeluarkan oleh an-Nasai dalam as-Sunan al-Kubra (2/2909)

6. Muhammad bin Amr dan dikeluarkan oleh at-Tirmidzi, no. 737; an-Nasai dalam as-Sunan al-Kubra (2/2908); Ibnu Abi Syaibah (3/103); Abdu bin Humaid, no. 1514.

At-Tirmidzi setelah meriwayatkan hadis Ummu Salamah mengatakan, Hadis Ummu Salamah adalah hadis hasan. Hadis ini juga diriwayatkan dari Abu Salamah dari Aisyah. Ibnu Hajar yang menshahihkan kedua riwayat ini mengatakan dalam Fath al-Bari (4/252), Ada kemungkinan Abu Salamah meriwayatkan dari Aisyah dan juga dari Ummu Salamah. Saya katakan (Ibnu Hajar), Itu dapat dikuatkan dengan bukti bahwa Muhammad bin Ibrahim at-Taimi terkadang meriwayatkan dari Aisyah dan terkadang dari Ummu Salamah sebagaiman yang dikeluarkan oleh an-Nasai.

[2] Al-Bukhari, no. 1971. Dari Ibnu Abbas ia berkata,




Nabi- -tidak pernah melakukan puasa selama sebulan penuh selain bulan Ramadhan. Beliau berpuasa hingga seseorang berkata, Demi Allah beliau tidak berbuka dan beliau berbuka hingga seseorang berkata, Demi Allah, beliau tidak berpuasa.

[3] Hadis ini sangat lemah sekali dan dikeluarkan oleh Ibnu Majah, no. 1388 melalui jalan Abdurrazzaq dari Ibnu Abi Sabrah dari Ibrahim bin Muhammad dari Muawiyah bin Abdillah bin Jafar dari bapaknya dari Ali bin Abi Thalib.

Saya katakan :

Sanadnya sangat lemah dan kecacatannya terletak pada Ibnu Abi Sabrah yang bernama Abu Bakar bin Abdillah bin Muhammad bin Ibnu Abi Sabrah. Para ulama menuduhnya telah memalsukan hadis. Ahmad berkata, Dia perawi yang sangat lemah, dia adalah pemalsu hadis dan dia seorang pendusta. Ibnu Main berkata, Hadisnya sangat lemah. Ibnu al-Madini berkata, Dia perawi yang lemah hadisnya.Kadang Ibnu Main mengatakan, Dia perawi yang hadisnya munkar dan menurut saya dia seperti Ibnu Abi Yahya. Ibnu Adi berkata, Mayoritas riwayatnya tidak shahih dan dia termasuk pemalsu hadis. Mengenai gurunya terdapat perbedaan pendapat. Apakah dia adalah Ibnu Abi Yahya ? Jika benar dia Ibnu Abi Yahya, maka dia tidak lebih baik dari muridnya dan jika dia bukan Ibnu Abi Yahya, maka dia perawi yang majhul (tidak jelas identitasnya). Adz-Dzahabi dalam Mizan al-Itidal berkata, Mungkin dia (gurunya) adalah Ibnu Abi Yahya dan jika bukan, maka dia bukan perawi yang dikenal (masyhur).






Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatannur&id=1011