Artikel : Bulein Annur - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Harta Simpanan yang Terlalaikan

Jumat, 10 Mei 24
***

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam Allah semoga tercurahkan kepadanya, beserta segenap keluarga dan para sahabatnya semuanya. Ya Allah Ya Tuhan kami, ajarilah kami apa-apa yang bermanfaat untuk kami. Berilah kemanfaatan kepada kami dengan apa-apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Tambahkanlah kepada kami ilmu. Perbaikilah keadaan kami semuanya. Dan, janganlah Engkau menyandarkan diri kami kepada diri kami sendiri sekejap mata pun. Amma badu :

Hadis berikut ini-hadis Syadad bin Aus- -merupakan hadis yang agung sekali, dan hadis ini termasuk hadis yang menghimpun banyak hal dan mengandung permohonan-permohonan yang sempurna, serta menghimpun kebaikan dalam urusan dunia dan akhirat. Hadis ini merupakan hadis yang valid dari Nabi kita yang mulia (Muhammad)-semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepada beliau-, diriwayatkan oleh ath-Thabrani dan yang lainnya dari Syadad bin Aus- - bahwa Nabi- -bersabda,


: , , , , ǡ .


Apabila engkau melihat manusia telah menghimpun dan menyimpan emas dan perak, maka simpanlah beberapa ungkapan kata ini ;

Ya Allah ! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam urusan dan tekad yang kokoh di atas kebenaran.

Aku pun memohon kepada-Mu hal-hal yang mewajibkan (datangnya) rahamat-Mu dan ampunan-Mu.

Aku pun memohon kepada-Mu kesyukuran terhadap nikmat-Mu dan kebaikan ibadah kepada-Mu.

Aku pun memohon kepada-Mu hati yang selamat (bersih) dan lisan yang jujur (benar).

Aku pun memohon kepada-Mu kebaikan apa-apa yang Engkau ketahui
Aku pun berlindung kepada-Mu dari keburukan apa-apa yang Engkau ketahui

Aku pun memohon ampun kepada-Mu untuk sesuatu (dosa dan kesalahan) yang Engkau ketahui.

Sesungguhnya Engau Maha Mengetahui segala hal yang ghaib.
***

Doa ini sangat agung sekali. Doa ini merupakan doa yang padat namun menghimpun banyak kebaikan. Bahkan, sesungguhnya ungkapan beliau :


,


Aku pun memohon kepada-Mu hal-hal yang mewajibkan (datangnya) rahamat-Mu dan ampunan-Mu.

Ungkapan kata-kata ini menghimpun kebaikan seluruhnya, sebagaimana hal tersebut dinaskan oleh Ibnul Qayyim- -di dalam kitabnya Miftah Daarissaaadah dan bahwa barang siapa terbimbing untuk hal itu sungguh ia telah terbimbing kepada lebaikan seluruhnya.

Alhasil, bahwa doa nan agung ini termasuk doa yang menghimpun banyak kebaikan. Dan, ketika Nabi- memberikan peringatan dengan peringatan nan agung terkait dengan doa ini, yaitu ketika manusia tengah sibuk dengan mengumpulkan dirham dan dinar dan hati mereka terlenakan dengan hal itu dan tersibukan untuk mengumpulkan dan mendapatkannya serta sedemikian condong kepada hal tersebut, maka hendaknya seorang mukmin menghimpun dan menyimpan permohonan-permohonan ini.
Sabda beliau- :


(( ))


Himpunlah dan simpanlah beberapa ungkapan kata ini

Ini merupakan peringatan bahwa ungkapan-ungkapan ini (yang akan disebutkan oleh beliau- ) merupakan harta simpanan yang terlalaikan, tersisihkan dan tersia-siakan, banyak orang di mana dirham dan dinar telah membuat mereka menjadi cemas dan terlalaikan dari harta simpanan ini. Dan, (sejatinya) harta simpanan itu tidaklah terbatas pada ungkapan-ungkapan doa ini secara khusus. Bahkan, semua perhatian dari seseorang terhadap agama dan syariat, ketaatan dan ibadah kepada Allah- - ini merupakan harta simpanan sejati. Dan ketika doa-doa nan agung ini menjadi pintu gerbang dan kunci serta pembantu bagi seorang hamba untuk meraih kebaikan dengan berbagai bentuknya yang sangat melimpah ruah dan ketaatan-ketaatan dan pintu-pintu kebaikan dengan berbagai macamnya, hingga hal ini menjadi sebuah simpanan yang sangat berharga. Karena, ketika Anda berdoa dengan doa-doa nan agung ini yang bersifat global dan singkat namun menghimpun banyak kebaikan, Anda memintanya kepada Rabb Anda Dzat yang Maha Agung dan Maha Tinggi dengan jujur melalui doa-doa ini yang menghimpun kebaikan dan pintu-pintu kebaikan dunia dan akhirat, maka kesemuanya ini tanpa diragukan- merupakan harta simpanan.

Dan para ulama-semoga Allah merahmati mereka- telah memberikan peringatan terkait perkara doa satu hal yang dilalaikan oleh banyak orang, yaitu, bahwa seseorang bila ia telah berdoa dengan sebuah permohonan semestinya mengikuti doa dan permintaannya tersebut dengan upaya melakukan sebab untuk meraih hal yang dimohonkannya kepada Allah Dzat yang Maha Agung dan Maha Tinggi. Jadi, doa itu hendaknya diikuti dengan melakukan sebab-sebab. Misalnya, telah valid riwayat dari Nabi- bahwa beliau mengatakan setiap hari setelah shalat Subuh setelah beliau salam-sebagaimana dalam hadis Ummu Salamah yang terdapat di dalam kitab-kitab as-Sunan, beliau mengucapkan :


ǡ ǻ


Ya Allah ! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima.

Andaikan seseorang berdoa dengan doa ini setelah shalat Subuh, kemudian ia keluar dari masjid menuju rumahnya dan kemudian (setibanya di rumahnya) ia meletakkan kepala di atas bantalnya dan tidur sampai Zhuhur, niscaya ilmu tidak akan mendatanginya di tempat tidurnya. (Karena) Nabi- bersabda dalam hadis lain,


(( ))


Sesungguhnya ilmu itu (hanya dapat diraih) dengan belajar.

Sehingga, doa haruslah diikuti dengan melakukan sebab; ia berdoa kemudian pergi menghadir majlis ilmu, ia berdoa kemudian menyibukkan dirinya dengan menghafal ilmu, ia berdoa kemudian mengulang-ulang masalah-masalah ilmu, dan seterusnya.

Maka, doa-doa yang akan disebutkan di dalam hadis Syadad ini merupakan harta simpanan yang berharga bagi orang yang terbimbing untuk dengan baik berdoa dengan doa-doa ini, dan secara baik pula untuk bertawajjuh kepada Allah- -dengan memintanya disertai dengan mengetahui apa-apa yang terkandung di dalamnya berupa permintaan yang tinggi, dan mengiringi hal tersebut dengan mengerahkan segenap kesungguhan diri untuk meraih permintaan-permintaan tersebut dan untuk memperoleh maksud dan tujuan nan agung tersebut. Sungguh, Rasulullah- - pernah bersabda,


(( ))


Bersemangatlah kamu untuk mendapatkan sesuatu yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah.

Maka, hendaknya seseorang menggabungkan antara doa dan upaya melakukan sebab.

Doa beliau- -,


,


Ya Allah ! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam urusan dan tekad yang kokoh di atas kebenaran.

Yang dimaksud dengan urusan adalah agama Allah-- dan jalan-Nya yang lurus yang diridhai-Nya untuk para hamba-Nya, Dia tidak ridha bagi mereka agama selainnya. Dan, keteguhan berada di atas urusan ini merupakan perkara yang berada di tangan Allah --. Maka, Dialah Dzat yang meneguhkan dan mengokohkan orang yang dikehendaki-Nya, sebagaimana Allah- -berfirman,


{ }[:27]


Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat (Ibrahim : 27)

Jadi, keteguhan di atas urusan ini merupakan perkara yang berada di tangan Allah --. Jika Allah--tidak meneguhkan hamba-Nya niscaya kesesatan-kesesatan berbagai bentuk fitnah akan dapat membinasakannya dan memalingkannya dari agama Allah- -. Maka, doa ini diawali dengan bertawajjuh kepada Allah--agar Dia meneguhkannya di atas agama-Nya yang lurus dan agar Dia melindunginya dari ketergelinciran hati dan penyimpangannya, dan termasuk doa yang sangat banyak dipanjatkan Nabi kita- - adalah :


(( )) .


Wahai Dzat yang membolak-balikan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.

Doa beliau- - :




Dan (aku juga memohon kepada-Mu) tekad yang kokoh di atas kebenaran.

Ar-Rusydu, yang dimaksudkan dengan ungkapan kata ini di sini adalah ; kebenaran, petunjuk, dan pengetahuan tentang agama Allah--. Para ulama-semoga Allah merahmati mereka-mengatakan : sesungguhnya al-Huda (petunjuk) dan ar-Rusyd (kebenaran) bila keduanya berkumpul secara bersamaan dalam satu nash, maka yang dimaksud dengan al-Huda adalah ڒ (ilmu yang bermanfaat) , sedangkan ar-Rusyd maksudnya adalah ͒ (amal shaleh). Adapun bila disebutkan masing-masing kedua kata tersebut secara menyendiri mencakup kedua makna ini secara bersamaan (yakni, ilmu yang bermanfaat dan amal shaleh). Maka, yang dimaksudkan dengan ar-Rusyddi sini (di dalam doa ini) adalah agama secara keilmuan dan amalan.

Dan doa beliau- - :




Dan (aku juga memohon kepada-Mu) tekad yang kokoh di atas kebenaran.

Hal demikian ini dipanjatkan karena banyak orang boleh jadi telah mendapatkan kejelasan tentang kebenaran, telah nampak padanya kebenaran tersebut, tanda-tanda kebenaran itu telah terlihat jelas olehnya, akan tetapi tekadnya buruk, tekadnya menjadi terhalangi untuk mengikuti kebenaran itu, maka dia mengetahui namun tidak melakukan karena kelemahan tekadnya itu. Karena sebagaimana halnya bahwa seseorang itu memerlukan ilmu yang akan menunjukkannya, maka pada saat yang sama ia pun memerlukan kesemangatan yang tinggi dan tekad yang kuat yang akan mendorongnya. Dengan demikan, ia membutuhkan dua hal tersebut secara bersamaan, ia membutuhkan kesemangatan dan tekad dan ia pun butuh kepada ilmu, ar-Rusyd, dan pengetahuan tentang kebenaran. Adapun bila ia mengenal dan mengetahui kebenaran sementara dirinya tidak memiliki tekad dan semangat untuk melakukan kebenaran itu niscaya ia bakal mengendor dari beramal dan boleh jadi malah ilmunya tersebut menjadi bumerang bagi dirinya bukan menjadi hujjah baginya. Oleh karena ini, beliau- - mengatakan,




Dan (aku juga memohon kepada-Mu) tekad yang kokoh di atas kebenaran.

Betapa banyak perkara yang diketahui oleh seseorang dan ia pun mempelajarinya, tetapi jiwanya melemah dari mengamalkannya karena kelemahan tekad. Jika demikian, maka betapa seorang hamba butuh kepada suatu tekad yang disuplai oleh Allah- -agar menjadi penolong baginya untuk beramal dengan apa-apa yang dibimbing oleh Allah- - kepada mengilmui tentang kebenaran, kebaikan dan petunjuk.

Doa beliau- - :


,


Aku pun memohon kepada-Mu hal-hal yang mewajibkan (datangnya) rahamat-Mu dan ampunan-Mu.

Ini merupakan permohonan yang agung, menghimpun kebaikan seluruhnya. hal-hal yang mewajibkan (datangnya) rahamat, yakni, amal-amal, ketaatan-ketaatan, dan berbagai macam bentuk peribadatan yang akan menjadi sebab diperolehnya rahmat dan keberuntungan oleh seorang hamba. Untuk mendapatkan rahmat Allah- -dan keridhaan-Nya tersebut haruslah dilakukan sebab-sebabnya, yaitu berupa amal-amal shaleh, itulah hal-hal yang mewajibkan datangnya rahmat. Sementara hal ini, yakni, tindakan seorang hamba berupa melakukan sesuatu yang akan mewajibkan dirinya mendapatkan rahmat Allah- -merupakan perkara yang berada di tangan Allah- -, Dia- - memberikan taufik untuk itu kepada orang yang dikehendaki-Nya dan Dia menunjukkan kepadanya orang yang dikehendaki-Nya pula.

Jadi, ungkapan : (hal-hal yang mewajibkan (datangnya) rahamat-Mu), yakni, amal-amal yang dengannya akan diperoleh rahmat.

Dan, pewajiban di sini, merupakan pengharusan sebagai anugerah, karunia, dan pemberian kenikmatan dari Allah- -. Dia- - mewajibkan diri-Nya untuk meliputkan rahmat-Nya dan akan menganugerahkan keridhaan-Nya terhadap orang yang memurnikan (ketaannya dalam menjalankan) agamanya untuk Allah- -, bagus dalam peribadatannya dan pendekatan dirinya kepada Allah--.

(dan hal-hal yang mewajibkan (datangnya) ampunan-Mu.)

Yang dimaksud dengan Azaa-im al-Maghfirah, yaitu amal-amal yang ditekadkan oleh seorang hamba dan hatinya berkeinginan kuat untuk melakukannya untuk mendapatkan ampunan Allah- -, di antaranya adalah kejujurannya di dalam bertaubat kepada Allah- -, kejujurannya di dalam kembalinya kepada Allah--, kejujurannya dalam menjauhkan dirinya dari dosa-dosa yang menyebabkan kemurkaan dan kemarahan Allah- -, kejujurannya dalam mengerjakan amal-amal shaleh dan pendekatan diri kepada Allah- -dengannya agar mendapatkan ampunan Allah- -dan rahmat-Nya.

Doa Nabi- -:


,


Aku pun memohon kepada-Mu kesyukuran terhadap nikmat-Mu dan kebaikan ibadah kepada-Mu.

Ungkapan ini termasuk ungkapan doa yang padat dan menghimpun banyak kebaikan. Dan telah valid riwayat dari Nabi- bahwa beliau pernah mengatakan kepada sahabat Muadz bin Jabal :


(( : ))


Wahai Muadz ! Demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu. Jangan kamu tinggalkan untuk mengatakan pada penghujung setiap shalat, Ya Allah ! Tolonglah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadah kepada-Mu.

Dan, di sini (di dalam doa beliau ini), beliau mengatakan,


, .


Aku pun memohon kepada-Mu kesyukuran terhadap nikmat-Mu dan kebaikan ibadah kepada-Mu.

Beliau mengatakan : (kesyukuran terhadap nikmat-Mu). Tidak ada satu pun bentuk kenikmatan yang didapatkan oleh seorang hamba itu melainkan dari Allah- -lah (datangnya), dan nikmat Allah- - yang diberikan kepada hamba-Nya tidaklah terhingga, sedangkan yang diminta dari hamba itu adalah agar ia menjadi orang yang bersyukur kepada Allah- -atas nikmat-nikmat-Nya, menjadi seorang hamba yang memuji-Nya atas karunia, anugerah, dan pemberian-Nya, sedangkan jika Allah- -tidak memberikan pertolongan kepada hamba-Nya yang dengannya seorang hamba dapat menjadi orang yang bersyukur kepada Allah- -, niscaya sang hamba tidak akan termasuk golongan orang-orang yang bersyukur. Oleh karena ini, para ulama- - mengatakan : sesungguhnya kesyukuran itu sendiri merupakan kenikmatan dari Allah- -. Kesyukuran seorang hamba kepada Allah- -ini merupakan kenikmatan dari Allah- -, di mana Allah- -memberikan taufik kepada hamba-Nya untuk itu. Oleh karenanya, beliau- -meminta kepada Allah-- dalam rangkaian doanya ini taufik untuk mensyukuri nikmat, seraya mengatakan :


.


Aku pun memohon kepada-Mu kesyukuran terhadap nikmat-Mu

Beliau- mengatakan (melanjutkan doanya) :




Dan (aku pun mohon kepada-Mu) kebaikan ibadah kepada-Mu.

Beliau- tidak mengatakan, aku pun memohon kepada-Mu untuk dapat beribadah kepada-Mu. Tetapi, beliau mengatakan, kebaikan ibadah kepada-Mu ; dan ini mengandung permintaan kepada Allah- - hal yang mana ibadah tidak akan diterima melainkan dengan hal itu, yaitu, ikhlash (memurnikan niat dan ketaatan) untuk Dzat yang diibadahi dan mengikuti (petuntuk) Rasul (-Nya). Inilah dia kebagusan ibadah itu ; hendaknya ibadah itu untuk Allah- -semata, dan mencocoki sunnah. Seperti firman Allah- -,




Untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.(al-Mulk : 2)

Fudhail bin Iyadh - - mengatakan : (yakni, siapa yang paling ikhlas dan paling benar). Ditanyakan kepada beliau, Wahai Abu Ali, apa yang dimaksud dengan siapa yang paling ikhlas dan paling benar ? beliau menjawab, Sesungguhnya amal itu bila dilakukan dengan ikhlas sementara tidak benar, niscaya tidak diterima. Dan bila amal itu dilakukan dengan benar sementara tidak ikhlas, niscaya tidak akan diterima pula. Amal yang ikhlas adalah selagi amal tersebut dilakukan karena Allah- -, sedangkan amal yang benar adalah selagi amal tersebut dilakukan di atas sunnah (petunjuk Nabi- ).

Kemudian, beliau- -berkata (melanjutkan doanya) :


, ǻ


Aku pun memohon hati yang selamat/bersih dan lisan yang jujur (benar).

Ungkapan doa ini juga termasuk doa yang singkat namun padat isinya dan termasuk doa nan agung. Adapun keselamatan/kebersihan hati , sungguh tidak ada keselamatan bagi seorang hamba pada hari Kiamat melainkan dengan hal ini. (Allah- -berfirman)


.


(Yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (asy-Syuara : 88-89)

Dan yang dimaksud dengan {} yakni, bersih dari setiap hal yang dimurkai dan dibenci Allah- -. Dan, hal pertama dalam hal itu adalah (kebersihan/keselamatan dari) kesyirikan kepada Allah- -yang merupakan dosa yang paling besar dan dosa yang paling berbahaya. Barang siapa datang pada hari Kiamat tidak dengan membawa hati yang selamat/bersih dari kesyirikan, maka tak ada harapan baginya pada hari itu untuk medapatkan ampunan, tidak pula untuk mendapatkan rahmat. Tak ada jatah baginya kecuali Neraka, kekal ia di dalamnya selama-lamanya, seperti firman Allah- -,


(36) (37) [ : 36 37]


Dan orang-orang yang kafir, bagi mereka neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan hingga mereka mati, dan tidak diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir.

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami (dari neraka), niscaya kami akan mengerjakan kebaikan, yang berlainan dengan yang telah kami kerjakan dahulu. (Dikatakan kepada mereka), Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan ? Maka rasakanlah (azab Kami), dan bagi orang-orang yang zalim tidak ada seorang penolong pun. (Fathir : 36-37)

Dan yang dimaksud dengan orang-orang yang zhalim (dalam ayat ini) adalah orang-orang Musyrik, orang-orang yang kafir terhadap Allah- -.

Dan termasuk keselamatan/kebersihan yang diminta adalah keselamatan/kebersihan dari ke-bidah-an (perkara baru yang diada-adakan) dan al-ahwa (hawa nafsu). Hawa nafsu itu muncul dari sebuah penyakit di dalam hati dan polesan dengan nafsu, penyimpangan dan kecondongan kepadanya, serta berpaling dan menolak petunjuk Nabi yang mulia- -. Dan di dalam hadis yang diriwayatkan dari Nabi- - dan maknanya benar, tidak ada keraguan padanya :




Salah seorang di antara kalian tidak beriman sebelum hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.

Maka, untuk meraih kedudukan nan agung ini seorang hamba memerlukan kesungguhan membina dirinya di atas keselamatan dan kebersihan hati.

Sementara, keselamatan/kebersihan hati itu merupakan perkara yang berada di dalam tangan ar-Rabb (Allah- -), hatimu tak akan selamat/bersih kecuali bila Allah- -menyelamatkan/membersihkannya dan tidak mungkin akan menjadi baik, kecuali bila Allah- -memperbaikinya. Maka, betapa banyak seorang hamba butuh untuk memelas kepada Rabbnya dengan berdoa agar Dia- -menganugerahkan kepadanya hati yang selamat/bersih; selamat/bersih dari kesyirikan, selamat/bersih dari ke-bidah-an, selamat/bersih dari terfitnah oleh kemaksiatan-kemaksiatan dan dosa-dosa, dan gerakan-gerakan hati dengan mencari dan melampiaskan syahwat-syahwat yang diharamkan yang akan mendatangkan kemurkaan Allah- -dan kemarahan-Nya.

Dan (kelanjutan) doa beliau- - :


ǻ


Dan (aku pun memohon kepada-Mu) lisan yang jujur/benar.

Dalam doa ini terdapat permintaan taufik kepada Allah- - karena penyifatan lisan dengan kejujuran, dan kejujuran pada lisan terjadi dengan kecocokan lisan terhadap hati dan keadaan batin dan zhahirnya sama. Adapun bila zhahirnya berbeda dengan batinnya, maka ini adalah kemunafikan. Sedangkan kemunafikan itu merupakan pemisah bagi kejujuran.

Lalu, jika perbedaan antara zhahir dan batin terjadi dalam hal keyakinan, maka ini adalah an-Nifaq al-Akbar (Kemunafikan Besar), seperti firman Allah- -


{ }[:1]


Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (Muhammad), mereka berkata, Kami mengakui, bahwa engkau adalah Rasul Allah. Dan Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya; dan Allah menyaksikan bahwa orang-orang munfik itu benar-benar pendusta (al-Munafiqun : 1)

Mereka berdusta dalam hal bahwa apa yang mereka katakan itu dengan lisan-lisan mereka tidak selaras dengan apa yang disembunyikan hati mereka. Karena hati mereka itu menyimpan kekufuran kepada Allah- -, dan apa yang mereka katakan dengan lisan mereka merupakan perkara yang tidak cocok dengan apa yang ada di dalam hati. Maka, kemunafikan terbesar ini mengeluarkan (seseorang) dari agama yang mewajibkan pelakunya menempati tingkatan yang paling bawah dari Neraka. Adapun bila zhahir berbeda dengan batin dari sisi amal, maka ini termasuk kemunafikan kecil dan hal tersebut termasuk dosa besar. Di dalam hadis disebutakan,


(( : ))


Tanda orang munafik ada tiga ; (pertama) apabila berbicara dusta, (kedua) apabila berjanji mengingkari, dan (ketiga) apabila dipercaya berkhianat.
Kesemuanya ini adalah termasuk nifak amali (kemunafikan dalam hal amal), hal tersebut termasuk dosa besar dan bukan merupakan kekufuran besar yang memindahkan seseorang dari agama. Kekufuran besar yang memindahkan (seseorang) dari agama adalah hal-hal yang terkait dengan keyakinan.

Dan, ungkapan doa beliau- - :


ǻ


Dan (aku pun memohon kepada-Mu) lisan yang jujur/benar.

Di dalamnya terdapat petunjuk yang jelas bahwa kejujuran dan pembenaran bukan hanya di dalam hati, namun kejujuran itu berada di hati dan di lisan. Sebagaimana (disebutkan) di dalam hadis ini. Dan, anggota badan pun dapat membenarkan. Dalam hadis, Nabi- - bersabda,


ǡ


"Sesungguhnya Allah telah menetapkan pada setiap anak cucu Adam bagiannya dari perbuatan zina yang pasti terjadi dan tidak mungkin dihindari, maka zinanya mata adalah melihat sedangkan zinanya lisan adalah ucapan, zinanya nafsu keinginan dan berangan-angan, dan kemaluan membenarkannya atau mendustakannya."

Dan dalam satu riwayat :


ǡ ǡ


Telah ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, ia bakal terjadi dan tak mungkin dihindari. Maka, kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengarkan, lisan zinanya adalah berucap, tangan zinanya adalah menyentuh, kaki zinanya adalah melangkah, dan hati (zinanya) adalah berkeinginan dan berangan-angan. Hal itu dibenarkan oleh kemaluan atau didustakannya.

Beliau- -menamakan tindakannya (tindakan kemaluan), -di mana hal itu termasuk bagian dari anggota badan-, dengan pembenaran atau pendustaan. Dengan demikian, pembenaran sebagaimana halnya terjadi pada hati, pada lisan, terjadi juga pada anggota-anggota badan. Dan, selayaknya seorang muslim jujur terhadap Allah- -dalam hatinya, lisannya dan amal-amal (anggota badan)nya.

Kemudian, beliau- -menutup doanya yang agung ini dengan penutupan yang singkat kata-katanya dan padat maknanya, seraya mengatakan :




Aku pun memohon kepada-Mu kebaikan apa-apa yang Engkau ketahui

Aku pun berlindung kepada-Mu dari keburukan apa-apa yang Engkau ketahui

Aku pun memohon ampun kepada-Mu untuk sesuatu (dosa dan kesalahan) yang Engkau ketahui.

Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui segala hal yang ghaib.

Ungkapan ini termasuk ungkapan yang global dan mencakup berbagai hal.

Beliau- -mengatakan :




Aku pun memohon kepada-Mu kebaikan apa-apa yang Engkau ketahui

Ini merupakan permohonan untuk mendapatkan kebaikan semuanya, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu. Maka, ungkapannya :




Aku pun memohon kepada-Mu kebaikan apa-apa yang Engkau ketahui

Yakni, aku memohon kepadamu segala bentuk kebaikan seluruhnya yang terliputi oleh ilmu-Mu.

(Beliau- -mengatakan selanjutnya)




Aku pun berlindung kepada-Mu dari keburukan apa-apa yang Engkau ketahui

Yakni, aku berlindung kepada-Mu dari segala bentuk keburukan seluruhnya, di mana ilmu Allah- -meliputi segala sesuatu.

Jadi, ini adalah permohonan kepada Allah- -segala bentuk kebaikan seluruhnya dan permohonan perlindungan kepada-Nya dari segala bentuk keburukan seluruhnya, hal-hal yang diketahui oleh sang hamba dan hal-hal yang tidak diketahuinya. Sebagaimana dalam doa beliau- -yang lain-di mana doa tersebut termasuk doa yang ungkapannya singkat maknanya mencakup banyak hal- yang disebutkan di dalam hadis Aisyah- -di dalam al-Musnad,


(( )) .


Ya Allah ! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan seluruhnya, baik yang segera atau yang tertunda, baik yang aku ketahui atau aku belum ketahui. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan seluruhnya, baik yang segera atau yang tertunda, baik yang aku ketahui atau aku belum ketahui.

Beliau- -berkata (melanjutkan doanya) :




Aku pun memohon ampun kepada-Mu untuk sesuatu (dosa dan kesalahan) yang Engkau ketahui.

Ungkapan ini, di dalamnya terdapat istighfar (permohonan ampunan) dari dosa-dosa seorang hamba seluruhnya; baik yang telah lalu terjadinya atau pun yang belum lama terjadinya, baik yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun yang dilakukan secara terang-terangan, yang pertamanya dan yang terakhirnya, karena ilmu Allah- -meliputi hal itu seluruhnya.
Semoga Allah- -mengampuni(dosa-dosa)-ku dan (dosa-dosa) Anda sekalian.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah.

(Redaksi)

Sumber :

Fakniz Haa-ulaa-i al-Kalimaati, Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Badr- -.

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatannur&id=1072