Artikel : Bulein Annur - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Cabang-Cabang Iman

Jumat, 31 Oktober 25


Úóäú ÃóÈöì åõÑóíúÑóÉó ÞóÇáó ÞóÇáó ÑóÓõæáõ Çááøóåö -Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó- « ÇóáúÅöíúãóÇäõ ÈöÖúÚñ æóÓóÈúÚõæäó Ãóæú ÈöÖúÚñ æóÓöÊøõæäó ÔõÚúÈóÉð ÝóÃóÝúÖóáõåóÇ Þóæúáõ áÇó Åöáóåó ÅöáøóÇ Çááøóåõ æóÃóÏúäóÇåóÇ ÅöãóÇØóÉõ ÇáúÃóÐóì Úóäö ÇáØøóÑöíúÞö æóÇáúÍóíóÇÁõ ÔõÚúÈóÉñ ãöäó ÇáúÅöíúãóÇäö


Dari Abu Hurairah ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ ia berkata, Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda, “Iman itu ada 73 sampai 79 atau 63 sampai 69 cabang; cabang iman yang paling utama adalah ucapan áóÇ Åöáóåó ÅöáøóÇ Çááåõ dan cabang iman yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan, malu itu juga merupakan cabang dari iman.” [1]

[Penjelasan]

Hadis ini termasuk hadis yang paling menghimpun pengertian tentang iman dan menjelaskannya. Bahwa iman itu memiliki cabang yang cukup banyak. Hadis ini dikenal di kalangan para ulama dengan ‘ Hadis asy-Syu’ab’ atau ‘Hadis Syu’ab al-Iman’. Dan, di antara mereka (para ulama) ada yang menulis karya tersendiri terkait hal ini. Bahkan, di antara mereka ada yang menulis karya sampai berjilid-jilid banyaknya terkait hal ini.

Hadis ini memberikan faidah bahwa iman itu memiliki cabang-cabang atau bagian-bagian yang cukup banyak dan tidak terbatas pada sisi tertentu saja. Bahkan, berisikan tentang hal-hal yang terdapat di dalam hati, hal-hal yang ada dalam ucapan lisan, dan hal-hal yang dilakukan oleh anggota badan; dalam hadis yang ringkas lafazh-lafazhnya, yang mencakup banyak hal pada makna-maknanya dan petunjuk-petunjuknya ini telah menyebutkan beberapa hal yang terkait dengan hati, beberapa hal yang terkait dengan lisan, dan beberapa hal yang terkait dengan anggota badan; agar kita mengetahui cakupannya yang menyeluruh, dan cabang-cabangnya yang cukup banyak, dan bentuk-bentuknya yang beragam dan bermacam-macam. Seraya bersabda,


ÝóÃóÝúÖóáõåóÇ Þóæúáõ áóÇ Åöáóåó ÅöáøóÇ Çááøóåõ æóÃóÏúäóÇåóÇ ÅöãóÇØóÉõ ÇáúÃóÐóì Úóäö ÇáØøóÑöíúÞö æóÇáúÍóíóÇÁõ ÔõÚúÈóÉñ ãöäó ÇáúÅöíúãóÇäö


“Cabang iman yang paling utama adalah ucapan áóÇ Åöáóåó ÅöáøóÇ Çááåõ dan cabang iman yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan, malu itu juga merupakan cabang dari iman.”

ÇáúÍóíóÇÁõ “Malu”, tempatnya di hati, ÅöãóÇØóÉõ ÇáúÃóÐóì Úóäö ÇáØøóÑöíÞö “meyingkirkan gangguan dari jalan”, merupakan tindakan anggota badan, sedangkan ‘ucapan : áóÇ Åöáóåó ÅöáøóÇ Çááåõ ‘merupakan pengucapan dengan lisan dan merupakan akidah (keyakinan) di dalam hati. Agar kita tahu bahwa cabang-cabang iman ini tidaklah berada dalam satu level dan tidaklah berada pada satu tingkatan ; tetapi cabang-cabang ini ada yang berada pada level dan tingkatan yang tertinggi dan ada pula yang berada pada level dan tingkatan yang paling rendah. Sesuatu yang tertinggi dalam iman adalah ‘áóÇ Åöáóåó ÅöáøóÇ Çááåõ’ (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah), maka kalimat tersebut merupakan posisi yang tinggi, derajat yang agung, dan kedudukan yang tinggi. Kemudian, perkara-perkara agama yang lainnya berada pada level di bawahnya yang mana antara satu dengan lainnya memiliki perbedaan tingkatan yang cukup besar.


æóÃóÏúäóÇåóÇ ÅöãóÇØóÉõ ÇáúÃóÐóì Úóäö ÇáØøóÑöíÞö


“dan cabang iman yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.”

Antara dua cabang iman ini –yakni : cabang “ áóÇ Åöáóåó ÅöáøóÇ Çááåõ yang merupakan cabang iman yang paling tinggi, dan cabang “menyingkirkan gangguan dari jalan” yang merupakan cabang iman yang paling rendah-terdapat cabang-cabang iman lainnya yang cukup banyak. Di antaranya ada yang mendekati cabang yang tertinggi, dan di antaranya ada yang lebih dekat kepada cabang yang terendah.

Dan, agar kita tahu juga bahwa orang yang memiliki iman satu sama lainnya saling memiliki kelebihan dalam keimanan. Bukankah cukup jelas adanya perbedaan tingkatan-tingkatan orang-orang yang memiliki iman dalam melaksanakan cabang-cabang keimanan ini ? Bahkan, sesungguhnya seorang muslim itu ia mendapati dari dirinya pada sebagian hari-harinya adanya pertambahan dan adanya perbanyakan pada dirinya dalam hal melakukan cabang-cabang keimanan ini. Sementara pada sebagian hari-harinya yang lain ia juga mendapati adanya kekurangan di dalam melakukan cabang-cabang keimanan tersebut. Dan ini merupakan hal yang sangat jelas yang menunjukkan bahwa iman itu kadang bertambah kadang berkurang, dan bahwa pemiliknya boleh jadi memiliki beberapa keunggulan atas yang lainnya dalam hal tersebut. Oleh karena itu, seorang sahabat yang mulia yang bernama Umair bin Habib al-Khathmiy ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ mengatakan :


ÇóáúÅöíúãóÇäõ íóÒöíúÏõ æóíóäúÞõÕõ ¡ Þöíúáó áóåõ : æóãóÇ ÒöíóÇÏóÊõåõ æóãóÇ äõÞúÕóÇäõåõ ¿ ÞóÇáó ÅöÐóÇ ÐóßóÑúäóÇ Çááåó æóÓóÈøóÍúäóÇåõ æóÍóãöÏúäóÇåõ ÒóÇÏó ¡ æóÅöÐóÇ ÛóÝóáúäóÇ äóÞóÕó


Iman itu mengalami pertambahan dan pengurangan. Ditanyakan kepada beliau,’Apa yang menyebabkan pertambahannya dan apa pula yang menyebabkan pengurangannya ?’ Beliau menjawab, ‘Ketika kita mengingat Allah, mensucikan-Nya, dan memuji-Nya, iman itu bertambah. Dan ketika kita lalai, iman itu berkurang.’ [2]

Maka, iman itu bertambah dan berkurang. Dan, hal ini dirasakan oleh setiap orang dari dirinya sendiri.

[Beberapa Faidah]

Hadis nan agung ini mencakup sejumlah faidah yang cukup banyak terkait dengan keimanan, antara lain :

1-Bahwa iman itu memiliki cabang-cabang yang cukup banyak dan bentuk-bentuk yang beragam. Beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda,’ ÈöÖúÚñ æóÓóÈúÚõæúäó ‘ (73 sampai 79) ‘. Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa bilangan ini tidak memiliki pemahaman. Yang menjadi maksudnya adalah untuk menunjukkan jumlah yang banyak.

2-Bahwa amalan-amalan masuk ke dalam penyebutan ‘iman’ ; baik amalan-amalan tersebut adalah amalan-amalan anggota badan; seperti menyingkirkan gangguan dari jalan, atau pun amalan-amalan tersebut adalah amalan-amalan hati ; seperti malu.

3-Bahwa bentuk-bentuk iman itu tidaklah berada dalam satu tingkatan dalam hal keutamaan; tetapi bertingkat-tingkat yang saling berbeda antara satu dengan yang lainnya, dan merupakan amalan-amalan yang satu dengan yang lainnya memiliki keutamaan yang berbeda-beda. Dan, merupakan cabang-cabang di mana sebagian cabangnya lebih utama atas sebagian cabang yang lainnya ; oleh karena itu, beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda “ÃóÚúáóÇåóÇ “ (cabang iman yang tertinggi) dan “ÃóÏúäóÇåóÇ “(cabang iman yang terendah) ; maka ini menunjukkan adanya tingkatan-tingkatan yang berbeda-beda di antara cabang-cabang iman.

4-Bahwa iman itu bertambah dan berkurang, menguat dan melemah, dan bahwa orang-orang yang memiliki iman tidaklah berada pada satu tingkatan, tetapi terdapat adanya perbedaan-perbedaan tingkatan yang cukup besar di antara mereka, di mana hal tersebut sesuai dengan sejauh mana seseorang mengambil bagian dari cabang-cabang iman, apakah bertambah ataukah berkurang, apakah kuat ataukah lemah.

Dan, termasuk hal yang dimaklumi bahwa orang-orang yang memiliki iman dalam hal melakukan cabang-cabang ini –cabang-cabang iman dan bentuk-bentuknya- terdapat perbedaan-perbedaan tingkatan yang cukup besar di antara mereka, dan mereka-secara garis besar- dalam hal perbedaan-perbedaan tingkatan ini terbagi ke dalam tiga kelompok yang disebutkan oleh Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì di dalam firman-Nya :


Ëõãøó ÃóæúÑóËúäóÇ ÇáúßöÊóÇÈó ÇáøóÐöíäó ÇÕúØóÝóíúäóÇ ãöäú ÚöÈóÇÏöäóÇ Ýóãöäúåõãú ÙóÇáöãñ áöäóÝúÓöåö æóãöäúåõãú ãõÞúÊóÕöÏñ æóãöäúåõãú ÓóÇÈöÞñ ÈöÇáúÎóíúÑóÇÊö ÈöÅöÐúäö Çááøóåö Ðóáößó åõæó ÇáúÝóÖúáõ ÇáúßóÈöíÑõ [ÝÇØÑ : 32]


“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzhalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar (Fathir : 32)

5-Pentingnya tauhid dan agungnya kedudukannya, dan bahwa tauhid merupakan perintah pertama dan pondasinya, di atas tauhid-lah berdirinya agama Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. dan tauhid itu adalah apa yang ditunjukan oleh kalimat áóÇ Åöáóåó ÅöáøóÇ Çááåõ , karena kalimat ini adalah kalimat tauhid, dan kalimat ini –sebagaimana di dalam hadis ini- merupakan cabang iman yang paling tinggi ; karena sesungguhnya cabang iman yang tertinggi adalah “Þóæúáó áóÇ Åöáóåó ÅöáøóÇ Çááåõ “ (ucapan, ‘áóÇ Åöáóåó ÅöáøóÇ Çááåõ’ , tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah). Dan, yang dimaksud dengan ‘pengucapan kalimat tersebut’ , yakni, dengan hati sebagai sebuah akidah/keyakinan, dan dengan lisan sebagai sebuah pengucapan dan pelafalan; karena asal dalam ucapan apabila dimutlakkan mencakup perkataan hati dan perkataan lisan; seperti firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :


ÞõæáõæÇ ÂãóäøóÇ ÈöÇááøóåö [ÇáÈÞÑÉ : 136]


Katakanlah, “Kami beriman kepada Allah “ (al-Baqarah : 136)

Maksudnya, bukan sekedar, ‘katakanlah oleh kalian kalimat tersebut dengan lisan-lisan kalian’, tetapi : ucapkanlah kalimat tersebut dengan hati-hati kalian sebagai bentuk keimanan dan keyakinan, dan (ucapkanlah pula kalimat tersebut) dengan lisan-lisan kalian sebagai sebuah pengucapan dan pelafalan.

Semisal dengan hal itu adalah sabda Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó :


Þõáú ÂãóäúÊõ ÈöÇááøóåö Ëõãøó ÇÓúÊóÞöãú


Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah.’ [3]

“ÝóÃóÚúáóÇåóÇ : Þóæúáõ áóÇ Åöáóåó ÅöáøóÇ Çááåõ “(maka, cabang iman yang tertinggi adalah ucapan ‘Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah’), yakni, cabang iman yang tertinggi seseorang mengucapkan “áóÇ Åöáóåó ÅöáøóÇ Çááåõ “ (sebagai sumber) dari sebuah akidah/keyakinan, keimanan dan pengesaan (terhadap Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì) , adapun apabila seseorang mengatakan “áóÇ Åöáóåó ÅöáøóÇ Çááåõ “semata-mata hanya sekedar ucapan belaka, dan ia tidak merealisasikan tauhid yang ditunjukkannya, maka sesungguhnya kalimat tersebut tidak akan memberikan manfaat kepadanya (pengucapnya).

6-Keutamaan “áóÇ Åöáóåó ÅöáøóÇ Çááåõ “dan keagungan kedudukan kalimat yang berkah ini, sampai-sampai Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda,


ÃóÝúÖóáõ ÇáÐøößúÑö áóÇ Åöáóåó ÅöáøóÇ Çááåõ


“Seutama-utama dzikir adalah adalah (ucapan) áóÇ Åöáóåó ÅöáøóÇ Çááåõ (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah).” [4] ; maka kalimat tersebut merupakan seutama-utama dzikir dan kalimat tersebut merupakan cabang iman yang tertinggi, dan kalimat tersebut juga merupakan pondasi bangunan Islam yang teragung, seperti kata Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó :


Èõäöìó ÇáúÅöÓúáÇóãõ Úóáóì ÎóãúÓò ÔóåóÇÏóÉö Ãóäú áóÇ Åöáóåó ÅöáøóÇ Çááøóåõ...


“Islam dibangun di atas lima (rukun) ; (pertama) persaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah...” al-Hadis [5].

Dan, kalimat tersebut merupakan kunci (pembuka) dakwah para Rasul, [Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman] :


æóãóÇ ÃóÑúÓóáúäóÇ ãöäú ÞóÈúáößó ãöäú ÑóÓõæáò ÅöáøóÇ äõæÍöí Åöáóíúåö Ãóäøóåõ áóÇ Åöáóåó ÅöáøóÇ ÃóäóÇ ÝóÇÚúÈõÏõæäö [ÇáÃäÈíÇÁ : 25]


“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku.” (al-Anbiya : 25)

7-Bahwa tauhid dan perhatian terhadap persoalan tersebut merupakan perkara yang hendaknya diprioritaskan atas seluruh perkara lainnya. Karena sesungguhnya ‘sikap memprioritaskan’ menunjukkan akan perhatian dan pengagungan ; karena Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó memprioritaskan kalimat ini atas setiap bentuk cabang-cabang iman dan semua bentuk persoalan agama yang lainnya; maka, dari sini, diambil faidah bahwa wajib atas setiap orang agar perhatiannya terjutu pada perkara tauhid, dengan mendalaminya, memahaminya dan mengamalkannya ; diprioritaskan atas perhatiannya terhadap persoalan-persoalan agama yang lainnya. Bagaimana tidak ?!! sementara tauhid adalah pondasi di mana agama akan berdiri kokoh di atasnya; karena sesungguhnya perumpamaan kalimat tauhid itu dalam agama seperti perumpaan akar bagi pohon, dan pondasi bagi bangunan, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,


Ãóáóãú ÊóÑó ßóíúÝó ÖóÑóÈó Çááøóåõ ãóËóáðÇ ßóáöãóÉð ØóíøöÈóÉð ßóÔóÌóÑóÉò ØóíøöÈóÉò ÃóÕúáõåóÇ ËóÇÈöÊñ æóÝóÑúÚõåóÇ Ýöí ÇáÓøóãóÇÁö [ÅÈÑÇåíã : 24]


“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang) ke langit.” (Ibrahim : 24)

8-Pentingnya bersikap baik kepada para hamba-hamba Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dengan semua bentuk sikap baik yang telah disiapkan dan dimudahkan bagi seseorang, dan bahwasanya pintu ini termasuk pintu-pintu yang tinggi (yang akan mengangkat derajat seseorang yang tinggi) di sisi Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Dan termasuk hal tersebut adalah tindakan menyingkirkan gangguan dari jalan, yakni, dari jalan kaum Muslimin.

Menyingkirkan gangguan dari jalan kaum Muslimin merupakan amal yang mudah ; akan tetapi pahalanya di sisi Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì merupakan pahala yang besar, dan tindakan tersebut merupakan bentuk sedekah dari orang yang menyingkirkan gagungan dari jalan tersebut kepada saudara-saudaranya kaum Muslimin. Maka, menyingkirkan gangguan dari jalan merupakan bentuk sedekah.

Dan, bentuk ini juga termasuk bagian dari petunjuk yang menunjukkan berbeda-bedanya tingkatan manusia dalam keimanannya, cabang-cabangnya dan bentuk-bentuknya; karena, jika anda memperhatikan keadaan manusia bersama dengan cabang ini di antara cabang-cabang iman, niscaya Anda dapati bahwa mereka itu secara global terbagi menjadi tiga kelompok :

1-Satu golongan, mereka meletakkan gangguan di jalan.

2-Satu golongan lagi, mereka membiarkan gangguan itu ada di jalan.

3-Satu golongan lagi, mereka menyingkirkan gangguan dari jalan ; di mana mereka inilah sebaik-baik manusia dan yang paling utama di antara mereka, serta orang-orang yang paling bermanfaat bagi para hamba Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Dan, telah datang di dalam hadis dari Nabi kita Muhammad Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó , bahwa ada seorang lelaki melewati sebuah ranting pohon berduri di sebuah jalan (yang dilewati oleh) kaum Muslim, lalu ia mengatakan :


æóÇááåö áóÇ ÃóÏóÚõ åóÐóÇ Ýöí ØóÑöíúÞö ÇáúãõÓúáöãöíúäó ÝóíõÄúÐöíúåöãú


“Demi Allah, aku tidak akan membiarkan ini di jalan kaum Muslimin, karena akan mengganggu mereka.”

Lalu, ia menyingkirkannya dari jalan tersebut. Maka, Allah berterima kasih atas tindakannya. Maka, Dia (Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì) memasukkan orang tersebut ke Surga.” [6]

9-Hendaknya seorang muslim tidak menganggap remeh atau kecil amal-amal baik sedikit pun juga; karena boleh jadi kadang Anda melakukan amal yang Anda memandangnya sebagai amal yang sedikit atau remeh dan Anda juga memandang bahwa ganjarannya sedikit di sisi Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, padahal boleh jadi amal yang Anda pandang sedikit atau remeh ini justru menjadi sebab Anda masuk surga; seperti apa yang terjadi pada kisah laki-laki ini yang disebutkan beritanya oleh Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó .

10-Pentingnya mengikhlaskan niat hanya karena Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dalam melakukan amal-amal, termasuk amal-amal yang dimaksudkan untuk memberikan manfaat kepada orang lain ; semisal menyingkirkan gangguan dari jalan; karena sesungguhnya amal-amal ini tidak masuk dalam kategori amal shaleh seseorang kecuali bila ia melakukannya dalam rangka untuk mencari wajah Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Maka, barang siapa melakukan amal-amal ini karena untuk mencari sanjungan manusia dan pujian mereka, ia tidak bermaksud untuk mendekatkan diri dengannya kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì ; maka sesungguhnya amal ini tidak termasuk dalam kategori amal shalehnya ; karena tidak termasuk dalam amal shaleh kecuali apa-apa yang dimaksudkan dengannya untuk mendekatkan diri (kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì), dan apa-apa yang diinginkan darinya wajah Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì,
ÅöäøóãóÇ äõØúÚöãõßõãú áöæóÌúåö Çááøóåö áóÇ äõÑöíÏõ ãöäúßõãú ÌóÒóÇÁð æóáóÇ ÔõßõæÑðÇ [ÇáÅäÓÇä : 9]
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih darimu.” (al-Insan : 9)

11-Agungnya posisi rasa malu dan hal tersebut termasuk amalan hati. Dan bahwa rasa malu itu termasuk iman dan masuk ke dalam cabang-cabangnya. Rasa malu merupakan perhiasan yang penuh berkah dan sebuah bentuk (akhlak) nan agung ; apabila rasa malu ini berdiri tegak di dalam hati seorang hamba, niscaya rasa malu itu bakal memagarinya dari perkara-perkara yang nista dan bakal mendorongnya untuk melakukan hal-hal yang utama. Dan, barang siapa yang rasa malu itu tercerabut dari hatinya, niscaya ia tidak mempedulikan dengan apa dirinya terjatuh ke dalam sesuatu berupa keburukan dan kefasikan. Di dalam hadis disebutkan,


Åöäøó ãöãøóÇ ÃóÏúÑóßó ÇáäøóÇÓõ ãöäú ßóáóÇãö ÇáäøõÈõæøóÉö ÇáúÃõæáóì ÅöÐóÇ áóãú ÊóÓúÊóÍúíö ÝóÇÕúäóÚú ãóÇ ÔöÆúÊó


“Sesungguhnya di antara tapak tilas yang didapatkan seseorang dari titah kenabian yang pertama adalah, ‘Jika engkau tidak mempunyai rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.’ “ [7]

12-Motivasi dan dorongan untuk menimba dan mempelajari Ilmu syar’i serta mendalami agama Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì ; karena Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó ketika menyebutkan bahwa cabang-cabang iman itu banyak, dan bahwa cabang-cabang iman itu ada yang tertinggi dan ada yang terendah ; penyebutan ini mengandung motivasi dan dorongan bagi para hamba untuk mempelajari iman ini beserta cabang-cabangnya ; baik di antara cabang-cabang iman itu yang berada dekat dengan cabang iman yang tertinggi atau pun cabang-cabang iman itu yang berada dekat dengan cabang iman yang terendah. Oleh karena ini, para ulama ÑóÍöãóåõãõ Çááåõ telah mengerahkan segenap kesungguhan yang cukup besar dalam upaya mendalami apa yang ada di dalam hadis ini sendiri, sampai-sampai ada sebagian di antara mereka yang mengarang kitab sebanyak 7, 8 dan 9 jilid; sebagai upaya untuk mendalami hadis nan agung ini. Sebagian lainnya, ada yang mengkaji secara mendalam tentang hadis ini beberapa tahun lamanya. Dan di antara berita yang sangat menakjubkan adalah kisah Ibnu Hibban ÑóÍöãóåõ Çááåõ bersama hadis ini yang dikabarkannya sendiri.

Ibnu Hibban ÑóÍöãóåõ Çááåõ mengatakan, “Aku telah menggali makna hadis ini beberapa waktu lamanya ; dan hal demikian itu karena madzhab kami adalah bahwa Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó tidaklah berbicara sama sekali melainkan disertai dengan adanya faidah, dan tidak ada sesuatu pun dari sunnahnya yang tidak diketahui maknanya ; maka aku menghitung-hitung berbagai bentuk ketaatan yang termasuk bagian dari keimanan ; ternyata ketaatan-ketaatan itu melebihi jumlah yang cukup banyak yang telah aku hitung-hitung ; maka aku merujuk kepada (kitab-kitab) sunnah ; lalu aku menghitung satu demi satu setiap bentuk ketaatan yang disebutkan oleh Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó yang termasuk bagian dari keimanan ; ternyata ketaatan-ketaatan itu jumlahnya kurang dari 73 buah, maka aku merujuk kepada apa yang disebutkan dalam kitab (al-Qur’an) berupa firman Rabb kita, dan aku membacanya satu ayat demi satu ayat dengan disertai tadabbur (perenungan dan penghayatan). Aku menghitung satu demi satu setiap ketaatan yang disebutkan olah Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì bahwa hal tesebut termasuk iman, dan aku mengesampingkan apa yang menjadi balasannya dari ketaatan-ketaatan tersebut. Ternyata, segala sesuatu yang diperhitungkan oleh Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dan Rasul-Nya Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó termasuk dari bentuk keimananan di dalam kitabnya, dan setiap bentuk ketaatan yang Allah dan Rasul-Nya jadikan sebagai bagian dari keimanan di dalam sunnah-sunnahnya sejumlah 79 cabang, tidak kurang dan tidak pula lebih sedikit pun; dengan begitu, tahulah aku bahwa yang dimaksudkan Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æÓóáøóãó dalam sabda beliau bahwa ‘Iman itu ada 73 sampai 79 cabang’ adalah apa yang terdapat di dalam al-Qur’an dan Sunnah ; maka aku sebutkan masalah ini dengan sempurna ; dengan menyebutkan cabang-cabangnya dalam kitab ‘Washfu al-Iman Wa Syu’abihi’ dengan harapan bahwa di dalamnya terdapat kecukupan bagi orang yang berkenan untuk merenunginya ketika ia mau merenunginya, sehingga hal tersebut tidak membutuhkan pengulangannya di dalam kitab ini.” [8]

Alhasil, bahwa termasuk faidah hadis ini adalah motivasi dan dorongan untuk menuntut ilmu, dan pentingnya perhatian terhadap memahami perkara iman dan memahami cabang-cabangnya dan bentuk-bentuknya yang beragam.

13-Bahwa termasuk bagian dari keimanan adalah apa yang terdapat di dalam hati. Termasuk pula apa yang diucapkan oleh lisan. Termasuk pula apa-apa yang dilakukan dengan anggota badan; seperti menyingkirkan gangguan dari jalan. Dengan demikian, iman itu bukan hanya sesuatu yang terdapat dalam hati saja; tetapi, iman itu-seperti kata Ahlu Sunnah- : ucapan, keyakinan, dan perbuatan ; ucapan dengan lisan, keyakinan dalam hati, dan perbuatan dengan anggota badan. Juga, amalan hati. Hati itu memiliki amalan yang cukup banyak ; antara lain, rasa malu, sebagaimana disebutkan di dalam hadis ini.

Dan, barang siapa yang cabang-cabang iman itu banyak yang telah diketahuinya dan ia menginginkan sesuatu yang akan dapat membantunya untuk melakukannya dan memperbanyaknya, maka hendaklah ia memperbanyak dzikir kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Karena, Abdullah bin Bisr ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki mengatakan (kepada Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó) :


íóÇ ÑóÓõæúáó Çááåö Åöäøó ÔóÑóÇÆöÚó ÇáúÅöÓúáóÇãö ÞóÏú ßóËõÑóÊú Úóáóíøó ÝóÃóÎúÈöÑúäöí ÈöÔóíúÁò ÃóÊóÔóÈøóËõ Èöåö


Ya Rasulullah ! Sesungguhnya syariat-syariat Islam telah banyak yang menjadi kewajibanku, maka beritahukan kepadaku sesuatu yang dapat aku jadikan sebagai pegangan !"

Beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda,


áóÇ íóÒóÇáõ áöÓóÇäõßó ÑóØúÈðÇ ãöäú ÐößúÑö Çááåö


“Hendaknya lisanmu senantiasa basah karena berdzikir kepada Allah.” (HR. at-Tirmidzi dan yang lainnya) [9]

Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó menunjukkan kepada lelaki tersebut sesuatu yang akan dapat membantunya untuk melakukan syariat-syariat Islam dan banyak melakukannya, yaitu, dzikrullah (mengingat Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì).

Maka, barang siapa membiasakan diri mengingat Allah ÓñÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì niscaya syariat-syariat itu akan menjadi mudah dan fleksibel baginya ; karena sesungguhnya dzikir merupakan hal terbesar yang akan membantu seseorang untuk melakukan ketaatan; karena dzikir itu akan menanamkan pada diri seorang hamba kecintaan kepada ketaatan dan mempemudah ketaatan itu untuk dilakukannya, serta menjadikan ketaatan itu lezat rasanya; di mana ia tidak mendapati adanya beban dan kerepotan pada ketaatan yang dilakukannya tersebut.

Wallahu A’lam

(Redaksi)

Sumber :

Ahaadiitsu al-Iiman, Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, hal. 51-58.

Catatan :

[1] HR. al-Bukhari (9) dan Muslim (35), dan lafazh ini adalah miliknya.

[2] HR. Ibnu Sa’d di dalam ath-Thabaqaat, 4/381 dan Ibnu Abi Syaibah di dalam al-Mushannaf, 32339.

[3] HR. Muslim (38) dan Ahmad (15416), dan lafazh ini adalah miliknya.

[4] HR. at-Tirmidzi (3383) dan Ibnu Majah (3800), dan dihasankan oleh al-Albani

[5] HR. al-Bukhari (8) dan Muslim (16)

[6] HR. Ahmad dengan redaksi yang semisalnya (8498)

[7] HR. al-Bukhari (6120)

[8] Shahih Ibnu Hibban (1/124-125)

[9] HR. Ahmad (17680), at-Tirmidzi (2329) dan dishahihkan oleh al-Albani.


Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatannur&id=1141