Artikel : Bulein Annur - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

“Bacakanlah Apa yang Diwahyukan Kepadamu” [Memahami Surat al-Kahfi, bag.11]

Jumat, 11 September 26

Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :


﴿æóÇÊúáõ ãóÇ ÃõæÍöíó Åöáóíúßó ãöäú ßöÊóÇÈö ÑóÈøößó áóÇ ãõÈóÏøöáó áößóáöãóÇÊöåö æóáóäú ÊóÌöÏó ãöäú Ïõæäöåö ãõáúÊóÍóÏðÇ (27)﴾
﴿æóÇÕúÈöÑú äóÝúÓóßó ãóÚó ÇáøóÐöíäó íóÏúÚõæäó ÑóÈøóåõãú ÈöÇáúÛóÏóÇÉö æóÇáúÚóÔöíøö íõÑöíÏõæäó æóÌúåóåõ æóáóÇ ÊóÚúÏõ ÚóíúäóÇßó Úóäúåõãú ÊõÑöíÏõ ÒöíäóÉó ÇáúÍóíóÇÉö ÇáÏøõäúíóÇ æóáóÇ ÊõØöÚú ãóäú ÃóÛúÝóáúäóÇ ÞóáúÈóåõ Úóäú ÐößúÑöäóÇ æóÇÊøóÈóÚó åóæóÇåõ æóßóÇäó ÃóãúÑõåõ ÝõÑõØðÇ (28)
æóÞõáö ÇáúÍóÞøõ ãöäú ÑóÈøößõãú Ýóãóäú ÔóÇÁó ÝóáúíõÄúãöäú æóãóäú ÔóÇÁó ÝóáúíóßúÝõÑú ÅöäøóÇ ÃóÚúÊóÏúäóÇ áöáÙøóÇáöãöíäó äóÇÑðÇ ÃóÍóÇØó Èöåöãú ÓõÑóÇÏöÞõåóÇ æóÅöäú íóÓúÊóÛöíËõæÇ íõÛóÇËõæÇ ÈöãóÇÁò ßóÇáúãõåúáö íóÔúæöí ÇáúæõÌõæåó ÈöÆúÓó ÇáÔøóÑóÇÈõ æóÓóÇÁóÊú ãõÑúÊóÝóÞðÇ (29)﴾ [ÇáßåÝ: 27-29]


Bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhanmu (Al-Qur’an). Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya dan engkau tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain kepada-Nya.

Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya melewati batas.

Katakanlah, “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Maka, siapa yang menghendaki (beriman), hendaklah dia beriman dan siapa yang menghendaki (kufur), biarlah dia kufur.” Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang-orang zalim yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta pertolongan (dengan meminta minum), mereka akan diberi air seperti (cairan) besi yang mendidih yang menghanguskan wajah. (Itulah) seburuk-buruk minuman dan tempat istirahat yang paling jelek. (al-Kahfi : 27-29)

Makna Global

Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman : “Dan bacalah -wahai Muhammad-apa yang Allah wahyukan kepadamu berupa al-Qur’an, dan sampaikanlah al-Quri’an itu kepada khalayak manusia dan ikutilah al-Qur’an itu; sesungguhnya tak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat Allah ; dan sekali-kali kamu tidak akan mendapatkan selain Rabbmu tempat berlindung dimana kamu berlindung kepada-Nya jika kamu tidak membacakan al-Qur’an, tidak pula mengikutinya dan tidak pula menyampaikannya (kepada manusia).

Kemudian Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengarahkan dan membimbing Nabi-Nya Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó kepada salah satu adab yang sangat penting, seraya berfirman : kekanglah jiwamu -wahai Muhammad – bersama para sahabatmu orang-orang yang menyembah Rabb mereka semata, dan mereka berdoa memohon kepada-Nya pada awal waktu siang dan akhir waktunya dengan penuh keikhlasan dalam melakukan peribadahan kepadaNya, dan janganlah kamu palingkan pandanganmu dari mereka kepada selain mereka dari kalangan orang-orang kafir yang kaya dan memiliki kedudukan ; karena engkau senang untuk bermajlis dengan mereka. Dan, jangan pula kamu mentaati orang yang Kami jadikan hatinya lalai dari mengingat Kami dan hawa nafsunya menguasainya, dan urusannya dalam semua amalnya menjadi tersia-siakan dan melampoi batas.

Kemudian Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì memerintahkan Nabi-Nya Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó untuk menyampaikan kalimat hak dengan lantang, seraya berfirman : “Dan katakanlah kepada mereka orang-orang lalai bahwa apa yang Aku datangkan kepadamu adalah kebenaran dari Rabb kalian. Maka, jika kalian mau (beriman), silakan kalian beriman, dan jika kalian mau (kafir), silakan kalian kafir. Namun, ingat, Kami telah menyiapkan untuk orang-orang kafir api yang sangat panas yang nyala apinya akan mengelilingi mereka dari segenap penjuru, dan jika mereka orang-orang kafir ini yang berada di neraka meminta bantuan untuk didatangkan air karena saking luar biasanya rasa haus yang mereka rasakan, akan didatangkan kepada mereka air yang sangat berbau busuk lagi hitam dan sangat panas sekali yang akan memanggang wajah-wajah mereka. Alangkah buruknya minuman yang diberikan kepada mereka ini, dan alangkah buruknya neraka sebagai tempat berdiam dan istirahatnya mereka ini.

Tafsir Ayat

[Firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì]


﴿æóÇÊúáõ ãóÇ ÃõæÍöíó Åöáóíúßó ãöäú ßöÊóÇÈö ÑóÈøößó áóÇ ãõÈóÏøöáó áößóáöãóÇÊöåö æóáóäú ÊóÌöÏó ãöäú Ïõæäöåö ãõáúÊóÍóÏðÇ (27)﴾


Bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhanmu (Al-Qur’an). Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya dan engkau tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain kepada-Nya.

Korelasi Ayat Ini dengan Ayat Sebelumnya

Bahwa ketika Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì telah menurunkan kepada NabiNya Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó apa yang Dia turunkan berupa kisah Ahlu al-Kahfi (orang-orang yang tinggal di dalam gua) ; Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì perintahkan beliau agar beliau menceritakan dan membacakan kepada orang-orang yang hidup semasa beliau apa-apa yang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì wahyukan kepadanya dari kitab-Nya tentang kisah ahlu al-Kahfi dan tentang selain mereka.[1]

Dan juga ketika cakupan al-Qur’an menunjukkan kepada kisah ashabul kahfi, dari sisi bahwa kisah tersebut termasuk perkara ghaib ketika disandarkan kepada Rasul Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó, bahwa hal tersebut merupakan wahyu yang mengandung mu’jizat ; Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì perintahkan beliau untuk mendawamkan pengkajiannya dan pengajarannya dan agar beliau membersamai terus para sahabatnya.[2]

Dan juga, ketika Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì telah mengkhabarkan bahwa hal-hal ghaib di langit dan di bumi adalah milikNya, maka tidak ada jalan bagi para makhluk kepada hal tersebut kecuali melalui jalan yang Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì khabarkan kepada para hamba-Nya, sementara al-Qur’an ini mengandung banyak berita tentang perkara-perkara ghaib; maka Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì perintahkan beliau untuk menerimanya dan memusatkan perhatiannya kepadanya, (dengan menyampaikannya kepada manusia) seraya berfirman [3] :


æóÇÊúáõ ãóÇ ÃõæÍöíó Åöáóíúßó ãöäú ßöÊóÇÈö ÑóÈøößó


Bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhanmu (Al-Qur’an)

Yakni, dan bacakanlah -wahai Muhammad- apa yang Allah wahyukan kepadamu berupa al-Qur’an dan sampaikanlah al-Qur’an itu kepada khalayah manusia, serta ikutilah ia dengan membenarkan berita-beritanya dan mengamalkan apa-apa yang terkandung di dalamnya, dengan menunaikan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya.[4]

Seperti kata Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :


﴿ÇÊøóÈöÚú ãóÇ ÃõæÍöíó Åöáóíúßó ãöäú ÑóÈøößó﴾ [ÇáÃäÚÇã: 106]


Ikutilah apa (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu. (al-An’am : 106)

Dan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga berfirman :


﴿ÅöäøóãóÇ ÃõãöÑúÊõ Ãóäú ÃóÚúÈõÏó ÑóÈøó åóÐöåö ÇáúÈóáúÏóÉö ÇáøóÐöí ÍóÑøóãóåóÇ æóáóåõ ßõáøõ ÔóíúÁò æóÃõãöÑúÊõ Ãóäú Ãóßõæäó ãöäó ÇáúãõÓúáöãöíäó (91) æóÃóäú ÃóÊúáõæó ÇáúÞõÑúÂäó﴾ [Çáäãá: 91-92]


Sesungguhnya aku (Nabi Muhammad) hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Makkah) yang telah menjadikannya suci dan memiliki segala sesuatu. Aku diperintahkan agar masuk ke dalam golongan orang-orang muslim. (Aku juga hanya diperintahkan) agar membacakan Al-Qur’an (kepada manusia)…(an-Naml : 91-92)

Dan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga berfirman :


﴿ÝóÇÓúÊóãúÓößú ÈöÇáøóÐöí ÃõæÍöíó Åöáóíúßó Åöäøóßó Úóáóì ÕöÑóÇØò ãõÓúÊóÞöíãò﴾ [ÇáÒÎÑÝ: 43]


Maka, berpegang teguhlah pada (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya engkau berada di jalan yang lurus.(az-Zukhruf : 43)

Dan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga berfirman :


﴿æóÑóÊøöáö ÇáúÞõÑúÂäó ÊóÑúÊöíáðÇ﴾ [ÇáãÒãá: 4]


Bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. (Al-Muzammil : 4)

[Firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì ]


áóÇ ãõÈóÏøöáó áößóáöãóÇÊöåö


Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya

Yakni, tidak ada seorang pun yang akan dapat mengubah kalimat-kalimat[5] Syar’iyyah Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, sehingga dia mengubah al-Qur’an dengan mengubah berita-beritanya, mengganti hukum-hukumnya, atau memalingkan makna-maknanya yang benar [6] (kepada makna yang tidak benar) dan dia juga tidak akan dapat merubah kalimat-kalimat kauniyah-Nya.[7]

Seperti kata Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :


﴿æóÊóãøóÊú ßóáöãóÊõ ÑóÈøößó ÕöÏúÞðÇ æóÚóÏúáðÇ áóÇ ãõÈóÏøöáó áößóáöãóÇÊöåö﴾ [ÇáÃäÚÇã: 115]


Telah sempurna kalimat Tuhanmu (Al-Qur’an) dengan (mengandung) kebenaran dan keadilan. Tidak ada (seorang pun) yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. (al-An’am : 115)

Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga berfirman :


﴿ÅöäøóÇ äóÍúäõ äóÒøóáúäóÇ ÇáÐøößúÑó æóÅöäøóÇ áóåõ áóÍóÇÝöÙõæäó﴾ [ÇáÍÌÑ: 9]


Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya. (al-Hijr : 9)

Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga berfirman :


﴿æóÅöÐóÇ ÊõÊúáóì Úóáóíúåöãú ÂíóÇÊõäóÇ ÈóíøöäóÇÊò ÞóÇáó ÇáøóÐöíäó áóÇ íóÑúÌõæäó áöÞóÇÁóäóÇ ÇÆúÊö ÈöÞõÑúÂäò ÛóíúÑö åóÐóÇ Ãóæú ÈóÏøöáúåõ Þõáú ãóÇ íóßõæäõ áöí Ãóäú ÃõÈóÏøöáóåõ ãöäú ÊöáúÞóÇÁö äóÝúÓöí﴾ [íæäÓ: 15]


Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami secara jelas, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami (di akhirat) berkata, “Datangkanlah kitab selain Al-Qur’an ini atau gantilah!” Katakanlah (Muhammad), “Tidaklah pantas bagiku menggantinya atas kemauanku sendiri.” (Yunus : 15)

[Firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :]


æóáóäú ÊóÌöÏó ãöäú Ïõæäöåö ãõáúÊóÍóÏðÇ


dan engkau tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain kepada-Nya.

Yakni, dan engkau -wahai Muhammad- tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì di mana engkau akan berlari menuju kepadanya, dan engkau melindungi diri dengannya dari siksa, jika engkau tidak membacakan al-Qur’an, mengikutinya dan menyampaikannya.[8]

Seperti kata Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :


﴿Þõáú Åöäøöí áóäú íõÌöíÑóäöí ãöäó Çááøóåö ÃóÍóÏñ æóáóäú ÃóÌöÏó ãöäú Ïõæäöåö ãõáúÊóÍóÏðÇ﴾ [ÇáÌä: 22]


Katakanlah, “Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan aku tidak akan memperoleh tempat berlindung selain-Nya. (al-Jin : 22)

Dan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :


﴿íóÇÃóíøõåóÇ ÇáÑøóÓõæáõ ÈóáøöÛú ãóÇ ÃõäúÒöáó Åöáóíúßó ãöäú ÑóÈøößó æóÅöäú áóãú ÊóÝúÚóáú ÝóãóÇ ÈóáøóÛúÊó ÑöÓóÇáóÊóåõ æóÇááøóåõ íóÚúÕöãõßó ãöäó ÇáäøóÇÓö﴾ [ÇáãÇÆÏÉ: 67]


Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika engkau tidak melakukan (apa yang diperintahkan itu), berarti engkau tidak menyampaikan risalah-Nya. Allah menjaga engkau dari (gangguan) manusia. (al-Maidah : 67)

Faedah :

1-Firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :


æóÇÊúáõ ãóÇ ÃõæÍöíó Åöáóíúßó ãöäú ßöÊóÇÈö ÑóÈøößó áóÇ ãõÈóÏøöáó áößóáöãóÇÊöåö¡


Bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhanmu (Al-Qur’an). Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya

Yakni, tidak ada dari kalangan manusia yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. Kalaulah tidak demikian, sesungguhnya Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dapat menggantinya; Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :


ãóÇ äóäúÓóÎú ãöäú ÂíóÉò Ãóæú äõäúÓöåóÇ äóÃúÊö ÈöÎóíúÑò ãöäúåóÇ Ãóæú ãöËúáöåóÇ [ÇáÈÞÑÉ: 106]


Ayat yang Kami nasakh (batalkan) atau Kami jadikan (manusia) lupa padanya, pasti Kami ganti dengan yang lebih baik atau yang sebanding dengannya. (al-Baqarah : 106)

Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga berfirman :


æóÅöÐóÇ ÈóÏøóáúäóÇ ÂíóÉð ãóßóÇäó ÂíóÉò... ÇáÂíÉó [ÇáäÍá: 101] .


Apabila Kami ganti suatu ayat di tempat ayat yang lain, (an-Nahl : 101)

2-Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :


æóÇÊúáõ ãóÇ ÃõæÍöíó Åöáóíúßó ãöäú ßöÊóÇÈö ÑóÈøößó


Bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhanmu (Al-Qur’an)

Pada kasus penyandaran kata Rabb kepada Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóã (yaitu, pada firman-Nya “ÑóÈøößó” (Rabb kamu, wahai Rasulullah) terdapat dalil yang menunjukkan bahwa apa yang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì wahyukan kepada Rasul-Nya Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóã termasuk hal yang menunjukkan kesempurnaan perhatian-Nya kepada beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóã.

3-Firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :


æóÇÊúáõ ãóÇ ÃõæÍöíó Åöáóíúßó ãöäú ßöÊóÇÈö ÑóÈøößó


Bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhanmu (Al-Qur’an)

Kata kerja ÃõæÍöíó disebutkan dalam bentuk mabni lil majhul ; karena pembicaraan di sini bersama Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóã, di mana hal itu dapat dipastikan bahwa yang memberikan wahyu kepada beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóã adalah Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. [9]

4-Firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :


æóÇÊúáõ ãóÇ ÃõæÍöíó Åöáóíúßó ãöäú ßöÊóÇÈö ÑóÈøößó áóÇ ãõÈóÏøöáó áößóáöãóÇÊöåö


Bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhanmu (Al-Qur’an). Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya.

Di dalamnya terdapat pengagungan terhadap al-Qur’an, pada kandungannya terdapat dorongan (terhadap seseorang) untuk menyambutnya dengan baik, mengikutinya, dan menyampaikannya kepada orang lain [10].

5-Firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :


æóáóäú ÊóÌöÏó ãöäú Ïõæäöåö ãõáúÊóÍóÏðÇ


Dan engkau tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain kepada-Nya

Maka, bila dipastikan bahwasanya Dia- ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-lah semata tempat berlindung itu pada semua perkara dan urusan, maka dipastikan bahwa Dia-lah Dzat yang berhak disembah dan diibadahi, Dzat yang diharapkan dalam kondisi lapang dan sempit, Dzat yang dibutuhkan pada semua keadaan, Dzat yang diminta dalam semua permintaan-permintaan. [11]

Wallahu A’lam

(Redaksi)

Catatan :

[1] Lihat : Tafsir Abu Hayyan, 7/165.

[2] Lihat : Tafsir al-Baidhawiy, 3/279.

[3] Lihat : Tafsir as-Sa’diy, hal. 475.

[4] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/234, Tafsir as-Sa’diy, hal. 475. Adh-Waa-ul Bayan, karya : asy-Syinqithiy, 3/261, Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 55.

[5] Berkata Ibnul Jauziy :

Pada firman-Nya : áóÇ ãõÈóÏøöáó áößóáöãóÇÊöåö , Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya, terdapat dua pendapat. Pertama : (maknyanya) orang-orang yang biasa membuat-buat kedustaan tak akan mempu untuk menambah-nambahi sesuatu yang ada di dalam kalimat-kalimat itu dan tak akan mampu pula untuk menguranginya. Kedua : (maknanya) : tidak ada keingkaran bagi janji-janji-Nya (yang telah disampaikan-Nya di dalam al-Qur’an) dan tidak ada pula yang dapat mengubah kententuan hukum-Nya (yang telah ditetapkan-Nya di dalam al-Qur’an) (Tafsir Ibnul Jauziy, 2/69, dan lihat : 2/24).

Ibnu Jarir mengatakan :

áóÇ ãõÈóÏøöáó áößóáöãóÇÊöåö , yakni, tidak ada yang akan dapat mengubah apa-apa yang Dia ancamkan dengan kalimat-Nya kepada orang-orang yang menentang dan menyelisihi-Nya, serta orang-orang yang beramal dengan senyelisihi kitab ini yang telah Kami wahyukan kepadamu (wahai Muhammad) (Tafsir Ibnu Jarir, 15/234).

Ibnu Juzziy mengatakan :

Berkemungkinan bahwa yang dimaksud dengan ‘kalimat-kalimat’ di sini adalah al-Qur’an, sehingga maknanya, tak seorang pun yang akan mampu mengganti al-Qur’an dan mengubahnya. Berkemungkinan pula bahwa yang dimaksud dengan ‘kalimat-kalimat’ (di sini) adalah Qadha dan Qadar (Tafsir Ibnu Juzziy, 1/464). Dan, lihat pula : Majmu’ al-Fatawa, karya : Ibnu Taimiyah, 16/245.

[6] Lihat : Ma’aniy al-Qur’an, karya : Zajjaj, 3/280. Tafsir Zamakhsyariy, 2/716. Tafsir al-Baidhawiy, 3/279. Tafsir Ibnu Katsir, 5/151. Tafsir Syaukaniy, 3/333. Tafsir al-Alusiy, 8/243, 244. Tafsir as-Sa’diy, hal. 475. Adh-Waa-ul Bayan, karya : asy-Syinqithiy, 3/261.

Al-Biqaa-‘iy mengatakan :


(ÝáÇ ÚõÐÑó Ýí ÇáÊÞÕíÑö Ýí ÅÈáÇÛöåÇ).


Maka, tidak ada udzur pada kekurangan dalam menyampaikannya (Nazhmu ad-Durar, 12/48)

[7] Lihat : Tafsir Ibnu Utsaimin -surat al-kahfi, hal. 57.

Berkata Ibnu Utsaimin :

Firman-Nya : áóÇ ãõÈóÏøöáó áößóáöãóÇÊöåö yakni, áÇ ÃÍÏó íÓÊØíÚõ Ãä íõÈÏøöáó ßáãÇÊöå¡ áÇ ÇáßæäíÉó æáÇ ÇáÔÑÚíÉó, tidak ada seorang pun yang dapat mengganti kalimat-kalimat-Nya, tidak pada kalimat-kalimatNya yang bersifat kauniyyah, tidak pula pada kalimat-kalimatNya yang bersifat syar’iyyah. (referensi yang lalu)

Beliau ÑóÍöãóåõ Çááåõ juga mengatakan : “Adapun (kalimat-kalimatNya) yang bersifat syar’iyyah, maka tak ada seorang pun yang akan mampu secara syar’iy untuk mengganti kalimat-kalimat-Nya yang bersifat syar’iyyah tersebut. Dan, penafiyan (peniadaan) di sini bukan menafikan keberadaan, akan tetapi penafiyan di sini adalah untuk menafikan adanya kemungkinan secara syar’iy. Maka, tidak ada seorang pun yang akan mampu secara syar’i untuk mengubah kalimat-kalimat Allah yang bersifat syar’iyyah; oleh karena itu, wajib atas semuanya untuk berpasrah diri kepada Allah. Lantas, kalau ada yang mengatakan :

“Kami dapati ada orang yang mengganti kalamullah…” kita katakan : ini penggantian yang bersifat syar’iy, dan penggantian yang bersifat syar’iy, boleh jadi kadang dilakukan oleh manusia, sehingga mereka mengubah kalam (Allah) itu dari tempatnya, dan mereka menafsirkan kalamullah dengan sesuatu yang tidak dikehendaki Allah. (referensi yang lalu)

[8] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/234. Tafsir al-Qurthubiy, 10/389. Bada-‘I al-Fawaa-id, karya : Ibnul Qayyim, 1/169. Tafsir Ibnu Katsir, 5/151. Nazhmu ad-Durar, karya : al-Biqa’iy, 12/48. Tafsir as-Sa’diy, hal. 475. Adh-Waa-ul Bayan, karya : Syinqithiy, 3/262. Tafsir al-Kahfi, karya : Ibnu Utsaimin, hal. 57.

[9] Lihat : Nazhmu ad-Durar, karya : al-Biqa’iy, 12/48.

[10] Lihat : Taisir al-Karimi ar-Rahman, karya : as-Sa’diy, hal. 475.

[11] Lihat : Taisir al-Karimi ar-Rahman, karya : as-Sa’diy, hal. 475.




Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatannur&id=1179