***
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
﴿æóÇÕúÈöÑú äóÝúÓóßó ãóÚó ÇáøóÐöíäó íóÏúÚõæäó ÑóÈøóåõãú ÈöÇáúÛóÏóÇÉö æóÇáúÚóÔöíøö íõÑöíÏõæäó æóÌúåóåõ æóáóÇ ÊóÚúÏõ ÚóíúäóÇßó Úóäúåõãú ÊõÑöíÏõ ÒöíäóÉó ÇáúÍóíóÇÉö ÇáÏøõäúíóÇ æóáóÇ ÊõØöÚú ãóäú ÃóÛúÝóáúäóÇ ÞóáúÈóåõ Úóäú ÐößúÑöäóÇ æóÇÊøóÈóÚó åóæóÇåõ æóßóÇäó ÃóãúÑõåõ ÝõÑõØðÇ (28)
æóÞõáö ÇáúÍóÞøõ ãöäú ÑóÈøößõãú Ýóãóäú ÔóÇÁó ÝóáúíõÄúãöäú æóãóäú ÔóÇÁó ÝóáúíóßúÝõÑú ÅöäøóÇ ÃóÚúÊóÏúäóÇ áöáÙøóÇáöãöíäó äóÇÑðÇ ÃóÍóÇØó Èöåöãú ÓõÑóÇÏöÞõåóÇ æóÅöäú íóÓúÊóÛöíËõæÇ íõÛóÇËõæÇ ÈöãóÇÁò ßóÇáúãõåúáö íóÔúæöí ÇáúæõÌõæåó ÈöÆúÓó ÇáÔøóÑóÇÈõ æóÓóÇÁóÊú ãõÑúÊóÝóÞðÇ (29)﴾ [ÇáßåÝ : 28-29]
Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya melewati batas.
Katakanlah, “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Maka, siapa yang menghendaki (beriman), hendaklah dia beriman dan siapa yang menghendaki (kufur), biarlah dia kufur.” Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang-orang zalim yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta pertolongan (dengan meminta minum), mereka akan diberi air seperti (cairan) besi yang mendidih yang menghanguskan wajah. (Itulah) seburuk-buruk minuman dan tempat istirahat yang paling jelek. (al-Kahfi : 28-29)
Makna Global
Kemudian Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengarahkan dan membimbing Nabi-Nya Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó kepada salah satu adab yang sangat penting, seraya berfirman : kekanglah jiwamu -wahai Muhammad – bersama para sahabatmu orang-orang yang menyembah Rabb mereka semata, dan mereka berdoa memohon kepada-Nya pada awal waktu siang dan akhir waktunya dengan penuh keikhlasan dalam melakukan peribadahan kepadaNya, dan janganlah kamu palingkan pandanganmu dari mereka kepada selain mereka dari kalangan orang-orang kafir yang kaya dan memiliki kedudukan ; karena engkau senang untuk bermajelis dengan mereka. Dan, jangan pula kamu mentaati orang yang Kami jadikan hatinya lalai dari mengingat Kami dan hawa nafsunya menguasainya, dan urusannya dalam semua amalnya menjadi tersia-siakan dan melampoi batas.
Kemudian Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì memerintahkan Nabi-Nya Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó untuk menyampaikan kalimat hak dengan lantang, seraya berfirman : “Dan katakanlah kepada mereka orang-orang lalai bahwa apa yang Aku datangkan kepadamu adalah kebenaran dari Rabb kalian. Maka, jika kalian mau (beriman), silakan kalian beriman, dan jika kalian mau (kafir), silakan kalian kafir. Namun, ingat, Kami telah menyiapkan untuk orang-orang kafir api yang sangat panas yang nyala apinya akan mengelilingi mereka dari segenap penjuru, dan jika mereka orang-orang kafir ini yang berada di neraka meminta bantuan untuk didatangkan air karena saking luar biasanya rasa haus yang mereka rasakan, akan didatangkan kepada mereka air yang sangat berbau busuk lagi hitam dan sangat panas sekali yang akan memanggang wajah-wajah mereka. Alangkah buruknya minuman yang diberikan kepada mereka ini, dan alangkah buruknya neraka sebagai tempat berdiam dan istirahatnya mereka ini.
Tafsir Ayat
[Firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì]
æóÇÕúÈöÑú äóÝúÓóßó ãóÚó ÇáøóÐöíäó íóÏúÚõæäó ÑóÈøóåõãú ÈöÇáúÛóÏóÇÉö æóÇáúÚóÔöíøö íõÑöíÏõæäó æóÌúåóåõ
Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya.
Yakni, kekanglah dirimu -wahai Muhammad- bersama para sahabatmu orang-orang yang beribadah dan menyembah Rabb mereka pada pagi hari dan petang hari, dan berdoa kepada-Nya dan mengingat-Nya, dengan penuh keikhlasan kepada-Nya dalam mengerjakan hal-hal tersebut. [1]
Seperti kata Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
﴿æóáóÇ ÊóØúÑõÏö ÇáøóÐöíäó íóÏúÚõæäó ÑóÈøóåõãú ÈöÇáúÛóÏóÇÉö æóÇáúÚóÔöíøö íõÑöíÏõæäó æóÌúåóåõ﴾ [ÇáÃäÚÇã: 52]
Janganlah engkau (Nabi Muhammad) mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari, sedangkan mereka mengharapkan keridaan-Nya. (al-An’am : 52)
Dari Sa’d bin Abi Waqash ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, ia berkata :
ßõäøóÇ ãóÚó ÇáäøóÈöíøö Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó ÓöÊøóÉó äóÝóÑò¡ ÝÞÇá ÇáãõÔÑößæäó ááäÈíøö Õáøóì Çááåõ Úáíå æÓáøóã: ÇØÑõÏú åÄáÇÁ áÇ íóÌÊóÑöÆæäó ÚáíäÇ! ÞÇá: æßäÊõ ÃäÇ æÇÈäõ ãÓÚæÏò¡ æÑÌáñ ãöä åõÐóíá¡ æÈöáÇáñ¡ æÑÌáÇäö áÓÊõ ÃõÓãøöíåãÇ¡ ÝæÞÚ Ýí äÝÓö ÑóÓæáö Çááå Õáøóì Çááåõ Úáíå æÓáøóã ãÇ ÔÇÁ Çááåõ Ãä íÞÚó¡ ÝÍÏøóË äÝÓóå¡ ÝÃäÒá Çááåõ ÚÒøó æÌáøó : æóáóÇ ÊóØúÑõÏö ÇáøóÐöíäó íóÏúÚõæäó ÑóÈøóåõãú ÈöÇáúÛóÏóÇÉö æóÇáúÚóÔöíøö íõÑöíÏõæäó æóÌúåóåõ [ÇáÃäÚÇã: 52]
Saat kami, enam orang tengah bersama Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó, berkatalah orang-orang Musrikin kepada Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó : usirlah mereka ini, agar mereka tidak berani menyerang kami ! ia (Sa’d) mengatakan, ‘saat itu, aku, Ibnu Mas’ud, seorang lelaki dari suku Hudzail, Bilal, dan dua lelaki, aku tidak bisa menyebutkan nama dua orang tersebut. Maka, terjadilah pada diri Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó apa yang Allah kehendaki untuk terjadi, lalu beliau berbicara pada dirinya sendiri, maka Allah ÚóÒøóæóÌóáøó menurunkan (ayat ini) :
æóáóÇ ÊóØúÑõÏö ÇáøóÐöíäó íóÏúÚõæäó ÑóÈøóåõãú ÈöÇáúÛóÏóÇÉö æóÇáúÚóÔöíøö íõÑöíÏõæäó æóÌúåóåõ
Janganlah engkau (Muhammad) mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari, sedangkan mereka mengharapkan wajah-Nya. (al-An’am : 52) [2]
Dan dari Anas bin Malik ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ berkata, Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :
áóÃóäú ÃóÞúÚõÏó ãóÚó Þóæúãò íóÐúßõÑõæúäó Çááåó ÊóÚóÇáóì ãöäú ÕóáóÇÉö ÇáúÛóÏóÇÉö ÍóÊøóì ÊóØúáõÚó ÇáÔøóãúÓõ¡ ÃóÍóÈøõ Åöáóíøó ãöäú Ãóäú ÃõÚúÊöÞó ÃóÑúÈóÚóÉð ãöäú æóáóÏö ÅöÓúãóÇÚöíúáó¡ æóáóÃóäú ÃóÞúÚõÏó ãóÚó Þóæúãò íóÐßõÑõæúäó Çááåó ãöäú ÕóáóÇÉö ÇáúÚóÕúÑö Åöáóì Ãóäú ÊóÛúÑõÈó ÇáÔøóãúÓõ¡ ÃóÍóÈøõ Åöáóíøó ãöäú Ãóäú ÃõÚúÊöÞó ÃóÑúÈóÚóÉð.
Sungguh aku duduk bersama satu kaum (sekelompok orang) yang tengah berdzikir kepada Allah selepas shalat Subuh hingga terbit matahari, lebih aku sukai daripada aku membebaskan empat orang budak dari keturunan Ismail. Dan sungguh, aku duduk bersama satu kaum (sekelompok orang) yang tengah berdzikir kepada Allah selepas shalat Asar sampai tenggelam matahari, lebih aku sukai daripada aku memerdekakan empat (orang budak) [3]
[Firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì]
æóáóÇ ÊóÚúÏõ ÚóíúäóÇßó Úóäúåõãú ÊõÑöíÏõ ÒöíäóÉó ÇáúÍóíóÇÉö ÇáÏøõäúíóÇ
Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia.
Yakni, janganlah engkau palingkan pandangan kedua matamu -wahai Muhammad- dari orang-orang yang tengah beribadah kepada Rabb mereka di pagi dan sore hari ; karena ketidak bagusan penampilan dan pakaian mereka, sebagai bentuk merendahkan mereka, lantas engkau mengarahkan pandanganmu kepada orang-orang yang memiliki kemulian dan kedudukan, orang-orang kaya dan orang yang memiliki harta perdagangan yang banyak, engkau tertarik untuk duduk bersama mereka ini sebagai ganti dari mereka itu. [4]
Seperti kata Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
﴿áóÇ ÊóãõÏøóäøó Úóíúäóíúßó Åöáóì ãóÇ ãóÊøóÚúäóÇ Èöåö ÃóÒúæóÇÌðÇ ãöäúåõãú æóáóÇ ÊóÍúÒóäú Úóáóíúåöãú æóÇÎúÝöÖú ÌóäóÇÍóßó áöáúãõÄúãöäöíäó﴾ [ÇáÍÌÑ: 88]
Jangan sekali-kali engkau (Muhammad) menujukan pandanganmu (tergiur) pada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang kafir). Jangan engkau bersedih hati atas (kesesatan) mereka dan berendahhatilah engkau terhadap orang-orang mukmin.(al-Hijr : 88)
Dan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga berfirman :
﴿æóáóÇ ÊóãõÏøóäøó Úóíúäóíúßó Åöáóì ãóÇ ãóÊøóÚúäóÇ Èöåö ÃóÒúæóÇÌðÇ ãöäúåõãú ÒóåúÑóÉó ÇáúÍóíóÇÉö ÇáÏøõäúíóÇ áöäóÝúÊöäóåõãú Ýöíåö æóÑöÒúÞõ ÑóÈøößó ÎóíúÑñ æóÃóÈúÞóì﴾ [Øå: 131]
Janganlah sekali-kali engkau tujukan pandangan matamu pada kenikmatan yang telah Kami anugerahkan kepada beberapa golongan dari mereka (sebagai) bunga kehidupan dunia agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.(Thaha : 131)
Faedah :
1-Firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
æóÇÕúÈöÑú äóÝúÓóßó ãóÚó ÇáøóÐöíäó íóÏúÚõæäó ÑóÈøóåõãú ÈöÇáúÛóÏóÇÉö æóÇáúÚóÔöíøö íõÑöíÏõæäó æóÌúåóåõ æóáóÇ ÊóÚúÏõ ÚóíúäóÇßó Úóäúåõãú
Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka.
Padanya terdapat perintah untuk bersahabat dengan orang-orang yang baik, dan mengerahkan segenap kesanggupan diri untuk berteman, membersamai, dan membaur bersama mereka, meskipun mereka itu adalah orang-orang fakir ; karena sesungguhnya dalam pertemanan dan membersamai mereka terdapat banyak faedah yang tidak terhitung. [5]
2-Dalam firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
æóÇÕúÈöÑú äóÝúÓóßó ãóÚó ÇáøóÐöíäó íóÏúÚõæäó ÑóÈøóåõãú ÈöÇáúÛóÏóÇÉö æóÇáúÚóÔöíøö íõÑöíÏõæäó æóÌúåóåõ æóáóÇ ÊóÚúÏõ ÚóíúäóÇßó Úóäúåõãú
Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka.
Terdapat petunjuk yang menunjukkan bahwa bermajelis dengan orang-orang Shaleh harus lebih diprioritaskan atas majelis-majelis selain mereka, dan orang-orang Mukmin sangat dianjurkan untuk melakukan hal tersebut. [6]
3-Dalam firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
æóÇÕúÈöÑú äóÝúÓóßó ãóÚó ÇáøóÐöíäó íóÏúÚõæäó ÑóÈøóåõãú ÈöÇáúÛóÏóÇÉö æóÇáúÚóÔöíøö íõÑöíÏõæäó æóÌúåóåõ æóáóÇ ÊóÚúÏõ ÚóíúäóÇßó Úóäúåõãú ÊõÑöíÏõ ÒöíäóÉó ÇáúÍóíóÇÉö ÇáÏøõäúíóÇ
Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia.
Terdapat bimbingan dan arahan agar seseorang dapat menuntun jiwanya untuk menghadapi hal-hal yang tidak disukainya, dan mencari jalan pendekatan diri kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì , dan memalingkannya dari apa-apa yang akan dapat mencerabutnya dari keinginannya. [7]
4-Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
æóÇÕúÈöÑú äóÝúÓóßó ãóÚó ÇáøóÐöíäó íóÏúÚõæäó ÑóÈøóåõãú ÈöÇáúÛóÏóÇÉö æóÇáúÚóÔöíøö
Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari
Pada ayat yang mulia ini terdapat (faedah, yaitu) keutamaan berkumpul untuk berdzikir dan berdoa [8]
5-Firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
æóÇÕúÈöÑú äóÝúÓóßó ãóÚó ÇáøóÐöíäó íóÏúÚõæäó ÑóÈøóåõãú ÈöÇáúÛóÏóÇÉö æóÇáúÚóÔöíøö íõÑöíÏõæäó æóÌúåóåõ
Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya.
Di dalamnya terdapat faedah ‘keutamaan ikhlash’ dan bahwa keikhlasan merupakan poros segala sesuatu. [9]
6-Firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
æóÇÕúÈöÑú äóÝúÓóßó ãóÚó ÇáøóÐöíäó íóÏúÚõæäó ÑóÈøóåõãú ÈöÇáúÛóÏóÇÉö æóÇáúÚóÔöíøö íõÑöíÏõæäó æóÌúåóåõ æóáóÇ ÊóÚúÏõ ÚóíúäóÇßó Úóäúåõãú ÊõÑöíÏõ ÒöíäóÉó ÇáúÍóíóÇÉö ÇáÏøõäúíóÇ
Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia.
Di dalam ayat ini terdapat faedah bahwa seorang insan tidak selayaknya meninggalkan urusan akhirat dan ibadah untuk melakukan urusan dunia. [10]
7-Firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
æóÇÕúÈöÑú äóÝúÓóßó ãóÚó ÇáøóÐöíäó íóÏúÚõæäó ÑóÈøóåõãú ÈöÇáúÛóÏóÇÉö æóÇáúÚóÔöíøö íõÑöíÏõæäó æóÌúåóåõ æóáóÇ ÊóÚúÏõ ÚóíúäóÇßó Úóäúåõãú
Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka
Di dalamnya terdapat faedah disukainya tindakan berdzikir dan berdoa serta ibadah (lainnya) pada dua ujung siang (yakni, pagi dan petang) ; karena Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì memuji mereka karena tindakan mereka, dan setiap tindakan di mana Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì memuji pelakunya, hal tersebut menunjukkan bahwa Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mencintainya, dan bila mana Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mencintainya, maka Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì memerintahkannya (untuk dilakukan) dan Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì pun memotivasi para hamba-Nya untuk melakukannya. [11]
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Catatan :
[1] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/236. Majmu’ al-Fatawa, karya : Ibnu Taimiyah, 11/59. Madarij as-Saalikin, karya : Ibnul Qoyyim, 2/155. Tafisir Ibnu Katsir, 5/152. Tafsir as-Sa’diy, hal. 475. Adh-Waa-ul Bayan, karya : asy-Syinqithiy, 3/263, 264. Tafsir Ibnu Utsaimin -surat al-Kahfi, hal. 58.
Berkata Ibnu Taimiyah :
Dan adapun firman-Nya :
æóÇÕúÈöÑú äóÝúÓóßó ãóÚó ÇáøóÐöíäó íóÏúÚõæäó ÑóÈøóåõãú ÈöÇáúÛóÏóÇÉö æóÇáúÚóÔöíøö íõÑöíÏõæäó æóÌúåóåõ
Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya.
Maka, ayat ini berlaku umum bagi siapa saja yang pada dirinya terdapat sifat ini, seperti orang-orang yang tengah mengerjakan shalat Subuh dan shalat Ashar dengan berjama’ah; karena sesungguhnya mereka menyeru Rabb mereka di pagi hari dan di sore hari dengan mengharapkan wajah-Nya. (Majmu’ al-Fatawa, 11/59. Dan lihat juga : Adh-Waa-ul Bayan, karya : asy-Syinqithiy, 3/263, 264.
[2] HR. Muslim, 2413.
[3]Diriwayatkan oleh Abu Dawud (3667) dan lafazh ini adalah miliknya, ath-Thabraniy di dalam ad-Du’a (1878), al-Baihaqi di dalam Syu’abul Iman (561). Sanad hadis ini dihasankan oleh al-‘Iraqi di dalam Takhrij al-Ihya (1/54), dihasankan juga oleh al-Albani di dalam Shahih Sunan Abu Dawud (3667)
[4] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/237, 239. Tafsir al-Qurthubiy, 10/391. Tafsir Ibnu Katsir, 5/154. Adh-Waa-ul Bayan, karya : Syinqithiy, 3/264. Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 61.
Berkata al-Qurthubiy :
Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåó æóÓóáøóãó tidak bermaksud akan melakukan hal tersebut, akan tetapi Allah melarangnya dari melakukan hal tersebut, dan ini tidak lebih dari firman-Nya : áóÆöäú ÃóÔúÑóßúÊó áóíóÍúÈóØóäøó Úóãóáõßó [ÇáÒãÑ: 65] “Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan gugurlah amalmu…”(az-Zumar : 65), sekalipun Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì melindungi beliau dari melakukan kesyirikan (Tafsir al-Qurthubiy : 10/391)
[5] Lihat : Tafsir as-Sa’diy, hal. 475.
[6] Lihat : An-Nukat ad-Daalah ‘Ala al-Bayan, karya : al-Qashob, 2/196.
[7] Lihat : An-Nukat ad-Daalah ‘Ala al-Bayan, karya : al-Qashob, 2/193.
[8] Lihat : Syarh Riyadhushsholihin, karya : Ibnu Utsaimin, 5/530.
[9] Lihat : Syarh Riyadhushsholihin, karya : Ibnu Utsaimin, 5/530.
[10] Lihat : Syarh Riyadhushsholihin, karya : Ibnu Utsaimin, 5/530.
[11] Lihat : Tafsir as-Sa’diy, hal. 475.