Artikel : Bulein Annur - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Hidup Selamat Bersama al-Quran

Kamis, 29 April 21

Keselamatan merupakan bagian dari harapan yang diidam-idamkan oleh setiap orang. Setiap orang sedemikian berharap bahkan menempuh beragam cara dan jalan demi untuk mendapatkan keselamatan yang diharapkannya tersebut. Namun, tidak jarang di antara manusia yang melupakan al-Quran sebagai panduan hidupnya yang akan menunjukkannya ke jalan keselamatan yang sesungguhnya, bukan hanya selamat di kehidupan dunia, bahkan selamat pula di kehidupan akhirat, kehidupannya yang sesungguhnya.

Allah - - berfirman,


.


Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menjelaskan, dengan kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang itu dari gelap gulita kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjukkan ke jalan yang lurus. (al-Maidah: 15-16)

Telah datang kepada kalian cahaya dan kitab yang nyata, yaitu al-Quran al-Karim. Dengan kitab yang nyata tersebut Allah memberikan petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti ridha-Nya untuk meniti jalan keamanan dan keselamatan, mengeluarkan mereka dengan izin-Nya dari kegelapan kekufuran menuju cahaya iman, dan memberi mereka taufik kepada agama yang lurus (At-Tafsir Al-Muyassar, 2/190)

Karenanya, siapa yang mengharapkan keselamatan haruslah ia hidup bersama al-Quran. Yakni, hidupnya senantiasa diterangi dengan cahaya al-Quran dan ia berjalan menyusuri jalan-jalan kehidupan dengan mengikuti petunjuk-petunjuk al-Quran. Demikian inilah yang senantiasa menghiasi kehidupan sang teladan Rasulullah - . Beliau - - senantiasa mengikuti petunjuk Rabbnya, al-Quran, yang diwahyukan oleh Allah - - kepadanya.

Allah - - berfirman,




Katakanlah (Muhammad), Aku bukanlah Rasul yang pertama di antara rasul-rasul, dan aku tidak tahu apa yang akan diperbuat terhadapku dan terhadapmu. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku, dan aku hanyalah pemberi peringatan yang menjelaskan. (al-Ahqaf: 9)

Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku, yakni, aku tidak mengikuti kecuali al-Quran, aku tidak membuat-buat hal baru dari sisiku sedikitpun (Maalim At-Tanzil, 7/254)

Itulah kesungguhan sang teladan, beliau - - mengikuti petunjuk al-Quran sebagai bentuk ketaatan beliau - - kepada Rabbnya yang memerintahkannya untuk mengikuti al-Quran. Sebagaimana firman-Nya kepadanya,




Ikutilah apa yang telah diwahyukan Tuhanmu kepadamu (Muhammad); tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. (al-Anam: 106)

Kepatuhan beliau - - terhadap perintah Rabbnya untuk mengikuti petunjuk al-Quran sedemikian melekat pada dirinya, sehingga hal itu menjadi bagian dari akhlak beliau - - yang sedemikian agung.

Saad bin Hisyam bin Amir - - mengatakan, Aku pernah datang kepada Aisyah, lalu aku katakan (kepadanya), Wahai Ummul Mukminin! kabarkan kepadaku tentang akhlak Rasulullah - -. Aisyah pun mengatakan,


{ }


Akhlak beliau - - adalah al-Quran. Tidakkah engkau pernah membaca firman Allah -,




Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur. (al-Qalam: 4)

Aku katakan, Sesungguhnya aku ingin hidup membujang (tidak menikah).

Aisyah menanggapi seraya mengatakan, Janganlah engkau lakukan, tidakkah engkau membaca (firman-Nya),




Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (al-Ahzab: 21)

Sungguh, Rasulullah - - telah menikah dan mempunyai anak (HR. Ahmad di dalam al-Musnad, no. 24645. Syuaib al-Arnauth berkata : Hadis Shahih)

Karena itu, barang siapa menginginkan keselamatan dan kebahagiaan haruslah ia mengikuti jejak sang teladan Muhammad - -, berakhlak dengan al-Quran dengan mengikuti petunjuk-petunjuk al-Quran.

Petunjuk al-Quran Mencakup Kebahagiaan Dunia dan Akhirat

Jumlah nash-nash yang termaktub dalam al-Quran dan hadis Rasulullah - - mengenai petunjuk al-Quran yang mencakup kebahagiaan dunia dan akhirat banyak sekali. Dalam tulisan ini, akan disebutkan beberapa saja di antaranya sekedar untuk mengingatkan.

Allah - - berfirman sebagai pujian atas kitab-Nya yang mulia dan pemberi petunjuk bagi hamba-hamba-Nya untuk diperhatikan.




Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Yunus: 57)

Ibnu Katsir - berkata, (pelajaran) maksudnya pencegah dari hal-hal yang keji. (dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada) maksudnya dari syubhat (yang tidak jelas) dan syak (ragu-ragu) seperti menghapus kotoran dan najis. (Tafsir Ibnu Katsir, 4/21)

Allah - - berfirman,




Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (an-Nahl: 89)

Ibnu Masud - - berkata tentang maksud ayat ini bahwa Allah- - menjelaskan pada kita dalam al-Quran segala ilmu dan segala sesuatu.

Mujahid - - berkata, Setiap yang halal dan yang haram.

Ibnu Katsir - - setelah mengisahkan dua perkataan di atas menjelaskan bahwa perkataan Ibnu Masud - - lebih umum dan mencakup segala ilmu yang bermanfaat pada zaman dahulu dan ilmu-ilmu yang belum terungkap. Al-Quran juga menegaskan setiap yang halal dan haram serta apa-apa yang dibutuhkan oleh manusia dalam perkara dunia, agama, kehidupan dan tempat mereka kembali (Tafsir Ibnu Katsir, 4/513)

Allah - - berfirman,




Barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka (Thaha: 123)

Ibnu Abbas - - berkata, Allah menjamin bagi orang yang membaca al-Quran dan mengamalkan isinya, maka ia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat. (Tafsir al-Qurthubi, 11/258)

Allah - - berfirman,




Kitab (al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (al-Baqarah: 2)

Ibnu Sadi - - berkata, al-Huda yaitu apa yang menghasilkan petunjuk dari kesesatan dan kesamaran, dan apa yang dengannya didapatkan petunjuk ke jalan yang bermanfaat.

Firman Allah - -, (hudan) yang dibuang Mamulnya (yakni, tanpa disebutkan objeknya) bukannya petunjuk untuk kemaslahatan seseorang, tidak pula sesuatu yang bersifat khusus bagi seseorang, melainkan dengan lafazh umum, karena maksudnya adalah petunjuk bagi seluruh kemaslahatan dunia dan akhirat. Maka al-Quran memberi petunjuk bagi para hamba dalam masalah-masalah agama yang pokok dan cabang. Juga penjelas antara kebenaran dengan kebatilan, yang shahih dengan yang lemah serta bagaimana menempuh jalan yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat mereka (Tafsir as-Sadiy, 1/40)

Allah - - berfirman,




Sesungguhnya al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus. (al-Isra: 9).

Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithiy - - berkata, Allah menyebutkan pada ayat yang mulia ini bahwa al-Quran yang agung ini yang merupakan kitab samawi yang paling agung dan yang paling mencakup semua ilmu dan paling akhir waktu diturunkannya oleh Rabb semesta alam, (memberi petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus), maksudnya jalan yang terbaik, teradil dan paling benar. (Adh-waul Bayan, 3/17)

Pembaca yang budiman

Dorongan untuk mendapatkan hidayah dan mengikuti petunjuk al-Quran juga datang dari hadis-hadis Rasulullah - -.

Zaid bin Arqam - - bercerita, Rasulullah - - berkhutbah di sisi kami dekat sumber air bernama Khumman antara Makkah dan Madinah. Beliau - - memuji Allah - - dan bersyukur kepada-Nya, kemudian memberi peringatan, lalu bersabda,




Wahai manusia! Sesungguhnya aku manusia yang khawatir jika datang seorang Rasul Tuhanku, lantas aku memenuhi panggilannya, maka aku tinggalkan bagi kalian dua perkara yang berat; Yang pertama, Kitabullah (al-Quran) yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Maka, berpegang teguhlah kalian dengannya.

Lantas, beliau - - memberikan dorongan agar timbul kecintaan dalam hati kami terhadap kitabullah(Shahih Muslim, no. 6378)

Dalam riwayat lain,




Kitabullah, di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Barang siapa berpegang teguh dengannya maka ia telah mendapatkan petunjuk dan barang siapa yang menyelisihinya akan sesat. (Shahih Muslim, no. 6380).

Di dalam riwayat Jabir - - yang panjang ketika mensifati cara Nabi - - menunaikan ibadah haji bahwa beliau - - bersabda dalam khutbahnya di hari Arafah,




Aku telah meninggalkan pada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh dengannya niscaya kalian tidak akan sesat selamanya, yaitu Kitabullah (HR. Abu Dawud, no.1907 )

Pembaca yang budiman

Dari penyebutan beberapa ayat dan hadis di atas, jelaslah bahwa Allah - - dan Rasul-Nya - - sedemikian tegas mendorong kita untuk mengikuti petunjuk al-Quran, dan hal itu merupakan kunci bagi kita untuk membuka pintu keselamatan dalam kehidupan kita. Karenanya, tidak sepatutnya kita meninggalkan al-Quran dan berpaling darinya. Karena, meninggalkan al-Quran dan berpaling darinya merupakan kezhaliman dan pelakunya terancam dengan keburukan.

Allah - - berfirman,




Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, lalu dia berpaling darinya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? (al-Kahfi: 57)

Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi menjelaskan ayat ini dan yang semisalnya, seraya berkata, Allah - - menyebutkan ayat yang mulia ini dengan menjelaskan bahwa tidak seorang pun yang lebih berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri selain dari orang yang jika disebutkan/diingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya (al-Quran) lalu berpaling

Dan apa yang disebutkan dalam ayat ini bahwa sebesar-besarnya perbuatan aniaya adalah berpaling dari ayat-ayat Allah, disebutkan pula di tempat lain tambahan keterangan tentang apa yang dihasilkan oleh perbuatan tercela ini.

Di antara akibat buruk mereka adalah bahwa orang tersebut tergolong manusia yang paling berbuat aniaya, Allah menutup hatinya sehingga tidak mengetahui kebenaran dan tidak memperoleh petunjuk selamanya.




Sungguh, Kami telah menjadikan hati mereka tertutup, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka. Kendatipun engkau (Muhammad) menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk untuk selama-lamanya. (al-Kahfi: 57).

Di antaranya juga bahwa siksaan Allah - - akan ditimpakan kepada orang yang berpaling dari peringatan. Sebagaimana firman-Nya,




Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling darinya? Sungguh, Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang berdosa (as-Sajdah: 22)

Di antaranya pula bahwa keadaan orang yang berpaling dari peringatan itu seperti himar (keledai). Sebagaimana Allah - - berfirman,


.


Lalu mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)? seakan-akan mereka keledai liar yang lari terkejut. (al-Muddatsir: 49-50)

Di antaranya pula bahwa orang yang berpaling dari peringatan itu terancam dengan bencana petir seperti petir yang ditimpakan kepada kaum Aad dan Tsamud. Sebagaimana firman-Nya,




Jika mereka berpaling maka katakanlah, Aku telah memperingatkan kamu akan (bencana) petir seperti petir yang menimpa kaum Aad dan kaum Tsamud. (Fushshilat: 13)

Di antaranya pula bahwa orang yang berpaling dari peringatan itu akan menjalani kehidupan yang sempit dan kebutaan. Sebagaimana firman-Nya,




Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. (Thaha: 124)

Di antaranya pula bahwa orang yang berpaling dari peringatan itu akan dimasukkan ke dalam azab yang amat berat. Sebagaimana firman-Nya,




Dan barang siapa berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang sangat berat (Qs. al-Jinn : 17)

Di antaranya pula bahwa orang yang berpaling dari peringatan itu akan diadakan baginya setan sebagai teman karibnya yang menyesatkannya. Sebagaimana firman-Nya,




Dan barang siapa yang berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pengasih (al-Quran), Kami biarkan setan (menyesatkannya) dan menjadi teman karibnya. (az-Zukhruf: 36)

Dan banyak akibat lain dari yang disebutkan di atas yang merupakan akibat buruk dan siksa yang pedih akibat berpaling dari peringatan ayat-ayat Allah - -. (Adh-waul Bayan, 3/309-310)

Akhirnya, kita mohon kepada Allah - - agar menjauhkan kita dari hal-hal yang dibenci-Nya, semisal berpaling dari peringatan ayat-ayat-Nya, dan lain sebagainya. Dan, menunjukkan kita kepada hal-hal yang diridha-Nya, semisal memahami kitab-Nya, mengikuti petunjuk-petunjuk ayat-ayat-Nya, dan menegakkan hukumnya sepanjang siang dan malam sesuai dengan yang diinginkan-Nya. Sesungguhnya Dia- - Maha Mulia dan Maha Memberi. Amin. Wallahu Alam. (Redaksi).

Referensi :

1. Adh-waul Bayan Fii Idhahi al-Quran bil Quran, Muhammad al-Amin asy-Syinqithi.
2. An-Nashihah Li Kitabillah, Dr. Hafizh bin Muhammad al-Hikami.
3. At-Tafsir Al-Muyassar, Dr. Hikmat Basyir et. al.
4. Maalim At-Tanzil, al-Husain bin Masud al-Baghawi.
5. Shahih Muslim, Muslim bin al-Hajjaj an-Naisaburi.
6. Sunan Abi Dawud, Sulaiman bin al-Asyats as-Sijistani.
7. Tafsir al-Quran al-Azhim, Ismail bin Umar bin Katsir ad-Dimasyqi.

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatannur&id=917