Artikel : Bulein Annur - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Puasa Hari Arafah

Jumat, 16 Juli 21

Disunnahkan berpuasa pada hari Arafah bagi selain orang yang melakukan haji berdasarkan hadis riwayat Abu Qatadah- -bahwa Rasulullah- -bersabda,




Berpuasa hari Arafah aku mengharap Allah menghapus dosa-dosa pada tahun lalu dan dosa-dosa pada tahun yang akan datang. [1]

Aisyah- -berkata,




Tidak ada hari dalam setahun yang lebih aku sukai untuk berpuasa pada hari itu dari pada Hari Arafah.[2]

Imam an-Nawawi- -berkata dalam al-Majmu' (6/381),
Sabda Nabi- -mengenai puasa Hari Arafah bahwa "Ia dapat menghapus dosa-dosa di tahun yang lalu dan tahun yang akan datang." Dikemukakan oleh al-Mawardi- -dalam al-Hawi bahwa hadis ini memiliki dua penafsiran :
Pertama, Allah- -menghapus dosa-dosa yang dilakukan seseorang selama dua tahun.
Kedua, Allah- -menjaga seseorang dari melakukan dosa selama dua tahun, sehingga selama masa itu ia tidak akan bermaksiat.
As-Sarkhasi- -berkata, "Adapun pada tahun pertama, maka semua dosa yang dilakukan pada masa itu akan dihapus." Selanjutnya ia mengatakan, "Sementara itu ulama berbeda pendapat dalam memahami makna penghapusan dosa pada tahun yang akan datang. Sebagian mengatakan, 'Jika seseorang melakukan maksiat pada tahun itu, maka Allah- -akan menjadikan puasa Arafah yang lalu sebagai penghapusnya, sebagaimana ia menjadi penghapus dosa-dosa di tahun sebelumnya.' Sebagian lagi mengatakan, 'Allah- - menjaganya dari melakukan dosa-dosa di tahun depan'."
Penulis al-Uddah- -mengatakan bahwa penghapusan dosa-dosa pada tahun depan memiliki dua makna :
Pertama, maksudnya adalah tahun yang lalu. Sehingga maknanya adalah bahwa puasa itu menghapus dosa-dosa yang dilakukan pada dua tahun yang lalu.
Kedua, maksudnya memang menghapus dosa-dosa di tahun yang lalu dan tahun yang akan datang.
Dia juga berkata, "Tidak ada ibadah yang sama dengannya yang dapat menghapus dosa-dosa di masa yang akan datang. Ini hanya ada pada diri Rasulullah- -secara khusus, di mana Allah- -telah mengampuni kesalahannya yang lalu dan yang akan datang berdasarkan nash al-Qur'an."
Imam al-Haramain- -telah menyebutkan dua makna ini. Ia berkata, "Semua hadis-hadis yang menerangkan tentang penghapusan dosa, menurut saya berlaku pada dosa-dosa kecil dan bukan dosa besar." Inilah pendapatnya yang didukung oleh hadis shahih. Di antaranya hadits Utsman yang mengatakan, 'Aku mendengar Rasulullah- -bersabda,




Tidaklah seorang muslim didatangi oleh shalat wajib, lalu ia memperbaiki wudhunya, kekhusyuannya dan rukuknya, kecuali semua itu akan menghapuskan dosa-dosanya yang lalu, selama ia tidak melakukan dosa besar dan itu berlaku sepanjang masa. (HR. Muslim)
Abu Hurairah- -berkata bahwasanya Rasulullah- -bersabda,




Shalat lima waktu dan shalat Jum'at yang satu ke Shalat Jum'at yang lain akan menghapuskan dosa-dosa di antara keduanya selama dosa besar tidak dilakukan.(HR. Muslim)
Abu Hurairah- -juga berkata bahwasanya Rasulullah- -bersabda,




Shalat lima waktu, Shalat Jum'at yang satu ke Shalat Jum'at yang lain dan Ramadhan yang satu ke Ramadhan yang lain akan menghapuskan kesalahan yang terjadi di antara waktu-waktu itu selama dosa besar dijauhi.(HR. Muslim)
Saya katakan :
Makna hadis-hadis ini mempunyai dua penafsiran :
Pertama, amal ibadah tersebut dapat menghapus dosa-dosa kecil selama tidak ada dosa besar. Sedangkan jika ada dosa besar, maka ia tidak dapat menghapus apa pun, baik dosa besar maupun dosa kecil.
Kedua, penafsiran ini yang lebih benar. Yaitu bahwa ibadah-ibadah tersebut dapat menghapus semua dosa kecil (tanpa disyaratkan tidak adanya dosa besar). Jadi pengertian hadis itu adalah, "Ibadah tersebut dapat menghapus semua dosa seseorang kecuali dosa besarnya."
Qadhi Iyadh- -berkata, "Apa yang dijelaskan dalam hadis-hadis ini tentang penghapusan dosa-dosa kecil tanpa dosa-dosa besar merupakan pendapat Ahli Sunnah. Sedangkan dosa-dosa besar hanya dapat dihapus dengan taubat atau rahmat Allah."
Ada sebuah pertanyaan yang muncul, yaitu bahwa di dalam hadis ini terdapat redaksi seperti itu dan di dalam hadis-hadis shahih yang lain terdapat redaksi yang semakna. Maka bila wudhu telah menghapus dosa, dosa apa yang akan dihapus shalat ? Bila shalat lima waktu menghapus dosa-dosa, dosa yang mana lagi yang dihapus oleh shalat berjama'ah ? Begitu pula dengan puasa Ramadhan, puasa hari Arafah yang menghapus dosa selama dua tahun, puasa hari Asyura yang menghapus dosa selama setahun dan ucapan aminnya makmum yang bersamaan dengan ucapan aminnya malaikat akan menghapus dosa yang lalu ?
Jawabannya adalah-sebagaimana yang dikemukakan para ulama-bahwa semua ibadah ini bisa menghapus dosa. Bila terdapat dosa yang bisa dihapus, yakni dosa kecil, maka ia akan menghapusnya. Sedangkan bila tidak ada dosa kecil dan dosa besar, maka akan dituliskan untuknya satu kebaikan dan diangkat satu derajat. Hal itu seperti shalat para Nabi, kaum yang shaleh, anak-anak kecil, puasa, wudhu dan ibadah mereka. Bila ada dosa besar dan tidak ada dosa kecil, maka kita berharap semua itu dapat meringankan dosa-dosa besar.

Tidak disunnahkan puasa hari Arafah di Arafah
Salah satu tuntunan Nabi- - dan khulafa Rasyidin adalah berbuka (tidak berpuasa) pada hari Arafah di tanah Arafah.
Ketika orang-orang ragu tentang puasa Nabi- -pada hari Arafah, Maimunah mengirimkan kepada beliau- - wadah berisi susu,lalu sambil berdiri di tempat wukuf beliau meminumnya, sedang para sahabat menyaksikannya.

Hadis-hadis yang menerangkan tentang masalah ini
Maimunah- berkata, "Orang-orang ragu tentang puasa Nabi- -pada hari Arafah, maka aku mengirim wadah berisi susu kepada beliau yang saat itu tengah berwukuf, lalu beliau meminumnya, sedang semua orang menyaksikannya. [3]

Ummu al-Fadhl binti al-Harits berkata, "Orang-orang berdebat di dekatnya pada hari Arafah tentang puasa Nabi- -, sebagian mengatakan,'Beliau puasa.' Sebagian yang lain mengatakan, 'Beliau tidak puasa.' Lalu aku mengirim wadah berisi susu kepada beliau- -yang tengah wuquf di atas untanya, lalu beliau- -meminum susu itu [4]

Ibnu Umar- pernah ditanya tentang puasa hari Arafah di tanah Arafah, lalu dia menjawab,




Aku berhaji bersama Nabi- -dan beliau tidak berpuasa Arafah, bersama Abu Bakar dan beliau juga tidak berpuasa Arafah, bersama Umar dan beliau juga tidak berpuasa Arafah dan bersama Utsman dan beliau juga tidak berpuasa hari Arafah. Sedangkan aku juga tidak puasa dan tidak menyuruh berpuasa serta tidak melarangnya." [5]

Atsar yang berasal dari para sahabat dan tabi'in
1-Ubaid bin Umar- berkata,




Umar pernah berkeliling pada hari Arafah ke tempat-tempat penginapan (tenda) orang yang tengah haji, sehingga karena panas beliau masuk ke perkemahan suatu kaum, lalu beliau diberikan minum berupa minuman yang terbuat dari campuran tepung, lalu beliaupun meminumnya.[6]

2-Sa'id bin Jubair- berkata,


-


Aku mendatangi Ibnu Abbas yang sedang memakan buah delima di Arafah, lalu ia menceritakan bahwa Rasulullah- - berbuka (tidak berpuasa) di Arafah.[7]

3-Atha'- -berkata bahwa Abdullah bin Abbas- mengundang saudaranya Ubaidillah bin Abbas- untuk menyantap makanan pada hari Arafah, lalu ia berkata, "Aku sedang puasa." Ibnu Abbas- berkata, "Kalian adalah keluarga Nabi- -yang menjadi teladan dan aku telah melihat Nabi- -pada hari ini diberi susu lalu beliau meminumnya." [8]

4-Atha bin Thawus- - berkata bahwa bapaknya tidak berpuasa pada hari Arafah bila ia dalam perjalanan di tanah Arafah. Namun jika ia sedang tinggal bersama keluarganya, ia berpuasa.[9]

5-Waki'- -berkata, "Sufyan ats-Tsauri- -berpendapat tidak ada puasa pada hari Arafah (di Arafah). Dia shalat Zhuhur dan Asar bersama imam di Arafah, lalu ia kembali ke kendaraannya, lalu makan siang dan kemudian wukuf. [10]

Sebagian kaum salaf ada yang memilih puasa daripada berbuka

Al-Qasim bin Muhammad berkata, "Aku melihat Aisyah- -pada sore hari Arafah, saat orang-orang sudah mulai pergi (matahari sudah tenggelam) kemudian ia berhenti sebentar hingga tempat tersebut menjadi sepi. Lalu ia minta dibawakan minuman dan mulai buka puasa." [11]

Urwah bin Zubair berkata, "Bapakku tidak pernah berada di Arafah melainkan dia selalu puasa." [12]

Hasan al-Basri- -senang berpuasa pada hari Arafah dan ia menganjurkan orang untuk melakukannya. Bahkan al-Hajjaj pun memerintahkan kaum Muslimin untuk berpuasa. Hasan al-Bashri berkata, "Aku melihat Utsman Ibnu Abi al-Ash-berpuasa di Arafah pada hari yang sangat panas dan orang-orang melindunginya dari udara panas tersebut. [13]

Pendapat Para Ulama
Mayoritas ulama berpendapat sunnah berbuka (tidak berpuasa) pada hari Arafah di tanah Arafah berdasarkan riwayat yang shahih dari Nabi- -dan para sahabatnya.

Perkataan ath-Thahawi dalam Syarah Musykil al-Atsar (2/73),
Hal itu menunjukkan bahwa dimakruhkannya puasa pada hari Arafah-dalam atsar pertama- karena alasan kesulitan yang berat saat wukuf di Arafah. Ini adalah pendapat Abu Hanifah, Abu Yusuf dan Muhammad asy-Syaibani- .

Perkataan an-Nawawi dalam al-Majmu' (6/380),
Adapun orang yang sedang melakukan haji dan berada di Arafah, maka imam asy-Syafi'i dan para muridnya mengatakan dalam al-Mukhtashar , "Disunnahkan baginya berbuka."

Perkataan Ibnu Abdil Barr dalam at-Tahmid (21/158),
Malik, ats-Tsauri dan asy-Syafi'i memilih berbuka pada hari Arafah di tanah Arafah.
Ismail meriwayatkan dari Ibnu Abi Uwais dari Malik bahwa ia (imam Malik) memerintahkan berbuka pada hari Arafah bagi orang yang melakukan haji. Malik mengatakan bahwa Rasulullah- - berbuka pada hari itu.
Imam asy-Syafi' berkata,"Saya menyukai puasa hari Arafah dilakukan oleh selain orang yang melakukan haji. Sedangkan orang yang melakukan haji, maka saya lebih menyukainya berbuka agar ia memiliki kekuatan untuk berdoa."

Perkataan imam Ahmad [14]
Disunnahkan puasa Arafah di sini. Sedangkan di tanah Arafah tidak disunnahkan. Para ulama meriwayatkan bahwa Nabi- -berbuka di tanah Arafah.

Perkataan Ibnul Qayyim dalam Tahdzib as-Sunan (3/322)
Beberapa atsar yang menerangkan tentang larangan puasa hari Arafah di tanah Arafah antara lain adalah :
Pertama, apa yang diriwayatkan an-Nasai dari Amr bin Dinar dari Atha' dari Ubaid bin Umair bahwa ia berkata, "Umar telah melarang puasa hari Arafah di tanah Arafah." [15]
Kedua, apa yang diriwayatkan oleh an-Nasai juga dari Abi as-Sawar bahwa ia berkata, "Aku bertanya kepada Ibnu Umar tentang puasa hari Arafah di tanah Arafah dan beliau melarangnya." Yang dimaksud adalah puasa Arafah di tanah Arafah sesuai hadis yang diriwayatkan oleh Nafi' bahwa ia berkata, "Ibnu Umar ditanya tentang puasa hari Arafah. Lalu ia menjawab, 'Rasulullah- -, Abu Bakar, Umar dan Utsman tidak melakukannya."

Atha berkata, "Abdullah bin Abbas mengundang al-Fadhl bin Abbas pada hari Arafah untuk menikmati makanan. Lalu ia berkata, 'Saya sedang puasa.' Abdullah bin Abbas berkata, 'Jangan puasa, karena Rasulullah- - pernah dihidangkan susu pada hari Arafah lalu beliau meminumnya. Maka janganlah puasa, karena orang-orang akan mengikuti jejakmu'. [16] HR. An-Nasai. Kemudian an-Nasai berkata, "al-Bukhari dan Muslim dalam ash-Shahihain mengeluarkan riwayat dari Kuraib dari Maimunah bin al-Harits bahwa ia mengatakan, 'Orang-orang ragu tentang puasa Nabi- -pada hari Arafah, maka aku mengirim wadah berisi susu kepada beliau yang saat itu tengah wukuf, lalu beliau meminumnya, sedang semua orang menyaksikannya.'

Dikatakan bahwa mungkin Maimunah mengirim satu wadah susu dan Ummu Fadhl juga mengirim satu wadah susu. Atau keduanya bergabung karena mereka bersaudara, lalu mereka bersepakat mengirim satu wadah, lalu dinisbatkanlah pengiriman itu kepada Maimunah, juga kepada Ummu al-Fadhl.

Diriwayatkan secara shahih bahwa Rasulullah- -berbuka di tanah Arafah dan dalam riwayat shahih lainnya Rasulullah- -bersabda bahwa puasa hari Arafah dapat menghapus dosa selama dua tahun.

Namun pendapat yang benar adalah bahwa bagi kaum Muslimin di seluruh belahan bumi disunnahkan melakukan puasa Arafah. Sedangkan bagi orang-orang yang berada di Arafah disunnahkan berbuka. Karena Rasulullah- -telah memilih berbuka untuk dirinya dan para Khulafa Rasyidin juga telah berbuka.

Dengan berbuka ada kekuatan fisik untuk berdoa yang merupakan ibadah paling utama bagi seorang hamba. Dan hari Arafah adalah hari raya bagi orang-orang yang berada di sana, maka tidak disunnahkan bagi mereka berpuasa.

Sebagian ulama ada yang memilih puasa. Sebagian lagi memilih berbuka. Sebagian yang lain membedakan antara orang yang tidak kuat puasa (dan yang kuat) dan antara yang bisa mendapat manfaat (dan yang tidak mendapat manfaat). Ini adalah pilihan Qatadah. Sedang yang memilih puasa adalah Ibnu Zubair dan Aisyah.

Atha' berkata, "Saya berpuasa pada hari Arafah di tanah Arafah jika sedang musim dingin dan berbuka jika sedang musim panas." [17]

Sementara itu sebagian kaum Salaf tidak memerintahkan dan tidak pula melarang. Mereka mengatakan, "Siapa yang mau boleh puasa dan siapa yang mau boleh tidak puasa."

Wallahu A'lam

(Redaksi)

Sumber :
Shiyam at-Tathawwu' Fadha-il Wa Ahkam, Usamah Abdul Aziz, ei, hal. 34-44


Catatan :
[1] HR. Muslim, no. 1162

[2] Hadis hasan dikeluarkan oleh ath-Thabrani dalam Tahdzib al-Atsar (1/600, 691, Musnad Umar) melalui jalan Abi Qais Abdurrahman bin Tsarwan dari Huzail bin Syurahbil dari Masruq dari 'Aisyah.
Saya katakan :
Hadis ini hasan karena Abi Qais derajatnya di bawah tsiqah.

[3] HR. al-Bukhari, no. 1989 dan Muslim, no. 1124

[4] HR. al-Bukhari, no. 1988 dan Muslim, no. 1123

[5] HR. at-Tirmidzi, no. 751, an-Nasa-i dalam as-Sunan al-Kubra (2/no.2826), Ahmad (2/47, 50)

[6] Riwayat ini shahih dan dikeluarkan oleh Abdurrazzaq (8/78) dari jalan Ibnu Juraij, ia berkata, "Atha' menyampaikan kepadaku bahwa ia mendengar Ubaid bin Umair berkata." Lalu ia menyebut riwayat ini.

[7] Riwayat ini shahih dan dikeluarkan oleh an-Nasai dalam al-Kubra (2/2814, 2815); Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf, no. 7816; ath-Thabari dalam Tahdzib al-Atsar (1/no.576, 577, 578, Musnad Umar); al-Fakihi dalam Akhbar Makkah, no. 2772; al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra, (4/288-289) melalui jalan Ayyub dari Sa'id bin Jubair.

[8] Riwayat ini shahih dan dikeluarkan oleh an-Nasai dalam al-Kubra (2/no.2821) ; ath-Thabari dalam Tahdzib al-Atsar (1/no. 567, Musnad Umar) melalui jalan Ibnu Juraij, ia berkata, "Atha menyampaikan kepadaku dari Abdullah bin Abbas."

[9] Riwayat ini shahih dan dikeluarkan ath-Thabari dalam Tahdzib al-Atsar (1/591, Musnad Umar). Ia berkata, Abu Kuraib menceritakan kepadaku, Waki' menceritakan kepada kami dari Sufyan.

[10] Riwayat ini shahih dan dikeluarkan oleh Abdurrazzaq, no. 7852 melalui jalan Ma'mar bin Thawus dari bapaknya.

[11] Riwayat ini shahih dan dikeluarkan ath-Thabari dalam Tahdzib al-Atsar (1/606, Musnad Umar) meIalui jalan Yahya bin Sa'id, ia berkata, "Aku mendengar al-Qasim bin Muhamad berkata..." Ia menyebut hadis ini.

[12] Riwayat ini shahih dan dikeluarkan ath-Thabari dalam Tahdzib al-Atsar (1/604, Musnad Umar) meIalui jalan Hisyam bin Urwah dari bapaknya.

[13] Riwayat ini shahih dan dikeluarkan ath-Thabari dalam Tahdzib al-Atsar (1/602, Musnad Umar) dari Muhammad bin Ali bin al-Hasan dari an-Nadhar bin Syumail dari Asy'ats bin Abdul Malik dari al-Hasan. Riwayat Asy'ats dinukil oleh Humaid ath-Thawil sebagaimana yang dikeluarkan oleh ath-Thabari dalam Tahdzib al-Atsar (1/603, Musnad Umar)

[14] Syarh al-'Umdah (2/762)

[15] Riwayat ini shahih dan dikeluarkan oleh an-Nasai dalam al-Kabir (2/2824); ath-Thabari dalam Tahdzib al-Atsar (91/592, Musnad Umar) melalui jalan Amr bin Dinar dari Atha' dari Ubaid bin Umair, ia berkata, "Umar telah melarang berpuasa pada hari Arafah" (tanpa menyebut di tanah Arafah)
Saya katakan : Hadis ini sanadnya shahih.

[16] Riwayat ini shahih dan dikeluarkan oleh an-Nasai dalam al-Kabir (2/2822); ath-Thabari dalam Tahdzib al-Atsar (1/no.565, Musnad Umar) melalui jalan Ibnu Juraij, ia berkata, "Atha' menceritakan kepada kami."

[17] Riwayat ini shahih dari Atha' dan dikeluarkan oleh Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf, no. 7822 dari Ibnu Juraij, ia berkata, "Aku bertanya kepada 'Atha', 'Apakah kamu melakukan puasa Arafah ? " Ibnu Juraij selanjutnya menyebutkan riwayat ini.

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatannur&id=930