Artikel : Bulein Annur - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Hijrah Rasulullah- -dan Kisah Suraqah

Jumat, 20 Agustus 21
Hijrah Rasulullah- -dan Kisah Suraqah

Dari 'Aisyah- -berkata, "Tidak ada yang aku ingat mengenai kedua orang tuaku, melainkan mereka telah memeluk Islam. Dan tidak ada hari yang berlalu pada kami kecuali setiap hari Rasulullah- -datang ke rumah kami pada menjelang siang yakni pagi dan sore.

Ketika kaum Muslimin ditimpa musibah, Abu Bakar berhijrah ke Habasyah. Setibanya di daerah yang bernama Barkal Ghimad, beliau berpapasan dengan Ibnu Daghinah, seorang pemimpin suku. Dia bertanya, 'Hendak pergi kemana engkau wahai Abu Bakar ?' Abu Bakar menjawab,'Aku diusir oleh kaumku. Karena itu aku akan mengembara di bumi ini untuk menyembah Allah.' Ibnu Daghinah berkata, 'Wahai Abu Bakar, sesungguhnya orang seperti engkau ini tidak boleh pergi dan tidak boleh diusir. Karena engkau mengusahakan yang tidak ada, menyambung silaturahim, membantu orang yang sengsara, memuliakan tamu dan menolong orang yang ditimpa bahaya dalam menegakkan kebenaran. Aku akan melindungimu. Kembalilah dan tetaplah menyembah Tuhanmu di negerimu.'

Abu Bakar kembali dengan ditemani Ibnu Daghinah. Kemudian pada sore hari Ibnu Daghinah menemui pemuka-pemuka Quraisy, dia berkata,"Sesungguhnya orang seperti Abu Bakar tidak boleh pergi dan diusir. Mengapa kalian mengusir dia, padahal dia mengusahakan yang tidak ada, menyambung silaturahim, membantu orang yang sengsara, memuliakan tamu dan menolong orang yang ditimpa bencana dalam menegakkan kebenaran?'

Orang-orang Quraisy pun tidak menyangkal kesediaan Ibnu Daghinah sebagai pelindung Abu Bakar. Kemudian mereka berkata kepada Ibnu Daghinah,'Suruhlah Abu Bakar menyembah tuhannya di rumahnya, dia boleh shalat dan membaca apa yang dikehendakinya di sana. Jangan sekali-kali menyakiti kami dengan perbuatannya, dan jangan melakukannya secara terang-terangan. Sesungguhnya kami khawatir wanita-wanita dan anak-anak kami akan terpengaruh.'

Kemudian Ibnu Daghinah menyampaikan pesan itu kepada Abu Bakar. Maka semenjak itu Abu Bakar senantiasa menyembah Tuhannya di rumahnya saja, tidak terang-terangan ketika mengerjakan shalat, dan tidak pernah membaca selain di rumahnya sendiri.

Lantas timbul pikiran bagi Abu Bakar, maka ia membangun masjid di depan rumahnya. Dia mengerjakan shalat dan membaca al-Qur'an dengan leluasa di masjid itu. Lalu para wanita dan anak-anak orang musyrik beramai-ramai mendatanginya dan mereka heran melihatnya. Abu Bakar adalah orang yang mudah menangis, dia tidak dapat menahan air matanya jika membaca al-Qur'an.

Keadaan seperti ini sangat mengejutkan pemuka-pemuka musyrikin Quraisy. Lalu mereka memanggil Ibnu Daghinah. Ibnu Daghinah menemui mereka. Mereka berkata, 'Sesungguhnya kami mempercayakan Abu Bakar berada dalam perlindunganmu untuk menyembah Tuhannya hanya di rumahnya saja. Namun kini dia telah melampaui batas. Bahkan membangun masjid di halaman rumahnya, kemudian dengan leluasa dan terang-terangan dia mengerjakan shalat dan membaca al-Qur'an. Padahal kami sangat khawatir jika wanita-wanita dan anak-anak kami terpengaruh. Karena itu cegahlah ia. Apabila ia mau menyembah Tuhannya hanya di rumahnya saja, dia boleh melakukannya. Dan jika dia tidak mau bahkan dia melakukan secara terang-terangan dan leluasa, mintalah kepadanya supaya ia mengembalikan jaminan perlindungan darimu. Karena kami sendiri tidak suka merusak perjanjian denganmu sementara kami juga tidak menyetujui Abu Bakar bersikap terang-terangan seperti itu.'

Kemudian Ibnu Daghinah mendatangi Abu Bakar, lalu berkata, 'Engkau telah memaklumi apa yang aku janjikan kepadamu. Dapatkah engkau menepati janji itu ? Ataukah engkau akan mengembalikan jaminan perlindungan dariku, sebab aku tidak menginginkan mendengar orang Arab mengatakan bahwa aku merusak janji yang telah kujanjikan kepada seseorang.'

Abu Bakar berkata, 'Aku kembalikan kepadamu jaminan perlindunganmu, aku lebih suka jaminan perlindungan Allah- -.'

Ketika itu Rasulullah- -berada di Mekkah beliau bersabda kepada orang-orang muslim, 'Sesungguhnya telah diperlihatkan Allah kepadaku tempat hijrahmu, aku lihat pada tanah yang berpasir dan berbatu hitam ditumbuhi pohon kurma berada di antara dua bukit tempat yang berbatu-batu. '

Tidak lama kemudian, kaum Muslimin hijrah ke Madinah yaitu sesudah Rasulullah- -mengatakan yang demikian itu dan berhijrah pula ke Madinah orang-orang yang tadinya telah berhijrah ke Habasyah. Abu Bakar pun bersiap-siap untuk hijrah ke Madinah tetapi Rasulullah- -bersabda kepadanya, 'Perlahan-lahan wahai Abu Bakar sesungguhnya aku mengharap pula izin Allah turun untuk diriku.' Abu Bakar bertanya,'Demi ayahku menjadi tebusannya apakah engkau juga mengharapkan yang demikian itu ? Rasulullah- -menjawab, 'Ya.' Kemudian Abu Bakar menunggu Rasulullah- - untuk menemani beliau dia telah menyiapkan dua ekor untanya. Kedua unta tersebut makan dengan daun samur selama empat bulan (HR. al-Bukhari, Fathul Baari, 4/475; Ahmad, 6/198)

Dari Ibnu Syihab dari 'Urwah bahwa 'Aisyah berkata, "Pada suatu hari ketika kami sedang duduk-duduk di rumah Abu Bakar di siang hari lalu ada seseorang berkata kepada Abu Bakar,'Ini Rasulullah- -dengan muka tertutup datang kepada kami hal yang tidak pernah dilakukan sebelumnya,' ketika itu Abu Bakar berkata, 'Ibu dan ayahku menjadi tebusanmu, Demi Allah, Nabi- -tidak akan datang saat ini melainkan karena ada urusan yang sangat penting.'

Ketika Rasulullah- -datang ke rumah Abu Bakar beliau meminta izin untuk masuk rumah lalu Abu Bakar memberi izin kemudian beliau masuk. Nabi- -berkata kepada Abu Bakar,'Keluarkan orang-orang yang ada di rumahmu.' Abu Bakar menjawab,'Demi ayahku menjadi tebusannya ya Rasulullah, yang ada di rumah ini adalah keluargamu juga.' Nabi- -bersabda, 'Sesungguhnya aku telah diizinkan untuk keluar berhijrah.' Abu Bakar berkata, 'Ayahku menjadi tebusannya, ya Rasulullah, ambillah salah satu dari dua ekor untaku.' Rasulullah menjawab, 'Aku ambil seekor tetapi dengan harganya.'

Kemudian kami mempersiapkan kedua unta yang akan dikendarai itu dengan sebaik-baiknya, dan kami mempersiapkan bekal makanan yang kami taruh dalam kantung. Kemudian Asma' bintu Abu Bakar memotong sepotong tali ikatnya, lalu mengikatkannya pada mulut kantung tersebut. Karena itu, ia disebut Dzatun Nithaqain.

Kemudian Rasulullah- -dan Abu Bakar sampai di sebuah gua di bukit Tsur. Keduanya tinggal di dalamnya selama tiga malam, sementara Abdullah bin Abu Bakar menemani bermalam di sisi keduanya. Ia seorang pemuda yang cerdas dan cerdik. Ia baru pergi dari keduanya menjelang pagi, lalu pada pagi hari bersama kaum Quraisy di Makkah. Tidaklah ia mendengar suatu perkara untuk menipu daya keduanya melainkan ia memahaminya, lalu ia membawa berita tersebut kepada keduanya pada malam hari. Sementara Amir bin Fuhairah, budak Abu Bakar, menggembalakan sejumlah kambing di hadapan keduanya dan membawanya kepada keduanya ketika waktu Isya' berlalu. Sehingga pada malam hari keduanya dapat minum susu segar dan susu panas. Kemudian Amir bin Fuhairah membawa pulang kambing-kambingnya pada malam hari, ia melakukan hal itu setiap malam dari tiga malam tersebut. Rasulullah- -telah menyewa seorang pria dari Bani ad-Dail; dia berasal dari Bani Abd bin Adi, seorang yang mahir sebagai petunjuk jalan. Ia telah bersumpah di tengah keluarga al-Ash bin Wail as-Sahmi, dan ia masih berada dalam agama kaum kafir Quraisy. Keduanya mempercayakan kepadanya dan menyerahkan kedua kendaraannya kepadanya. Keduanya memintanya supaya datang ke gua Tsur setelah tiga malam dengan membawa kendaraan keduanya pada pagi hari ketiga. Kemudian Amir bin Fuhairah dan penunjuk jalan bertolak bersama keduanya. Penunjuk jalan membawa mereka melalui jalan pesisir."

Ibnu Syihab berkata, "Abdurrahman bin Malik al-Mujliji, ia adalah keponakan Suraqah bin Malik bin Ju'tsum, mengabarkan kepadaku, ayahnya menceritakan kepadanya bahwa ia mendengar Suraqah bin Ju'tsum berkata, 'Para utusan kaum kafir Quraisy datang kepada kami, mereka menyediakan untuk diri Rasulullah- - dan Abu Bakar tebusan masing-masing dari keduanya, bagi siapa yang membunuhnya atau menawannya. Ketika aku duduk di salah satu majlis kaumku, Bani Mujlid, seorang dari mereka datang, sehingga ia berdiri di hadapan kami, sedangkan kami duduk. Ia mengatakan, 'Wahai Suraqah, tadi aku melihat bayangan hitam di pesisir. Aku mengiranya Muhammad dan sahabatnya.' Aku tahu bahwa mereka itu memang mereka, maka aku berkata kepadanya, 'Mereka itu bukan mereka, tetapi kamu melihat fulan dan fulan bepergian.' Kemudian aku berada di majlis itu sesaat, kemudian aku beranjak, lalu masuk rumah. Lalu aku perintahkan sahaya wanitaku supaya membawa keluar kudaku di balik bukit dan menambatkannya untukku. Aku ambil tombakku lalu keluar lewat belakang rumah. Aku mendaki bukit itu dengan runcing tombak dan turun dari atasnya sehingga aku sampai pada kudaku. Kemudian aku menungganginya dan memacunya dengan cepat sehingga aku dekat kepada mereka. Tapi kudaku tersandung dan aku terjatuh darinya. Aku berdiri, dan aku mengeluarkan tanganku pada tabung anak panah, lalu aku mengeluarkan anak panah darinya dan memutarnya (untuk mengundi nasib) apakah aku dapat membinasakan mereka atau tidak. Ternyata yang keluar ialah yang tidak aku sukai. Aku tetap menaiki kudaku dan tidak mempedulikan hasil undian dengan anak panah tersebut. Kuda itu mendekatkanku, sehingga aku mendengar bacaan Rasulullah- -, dan beliau tidak menoleh dan Abu Bakarlah yang banyak menoleh. Kedua kaki depan kudaku terperosok di tanah hingga mencapai kedua lututnya. Aku pun terpelanting darinya. Aku membentaknya lalu bangkit, dan nyaris tidak dapat mengeluarkan kedua kakinya. Ketika kuda itu sudah tegak berdiri, tiba-tiba bersamaan dengan tercabutnya kedua kakinya datanglah badai dari langit seperti kabut. Aku putar lagi anak panah, ternyata yang keluar ialah yang tidak aku inginkan. Maka aku memanggil mereka berdua bahwa mereka aman dariku. Mereka pun berhenti. Lalu aku menunggangi kuda hingga aku sampai kepada mereka. Terbesitlah dalam hatiku ketika aku menemui apa yang aku temui, yaitu ditahan oleh mereka bila Rasulullah- -memerintahkannya. Maka, aku katakan kepadanya,'Sesunggguhnya kaummu telah menyediakan tebusan untukmu.' Aku mengabarkan kepada mereka tentang apa yang diinginkan manusia terhadap mereka. Aku menawarkan kepada mereka perbekalan, tapi keduanya tidak menerima pemberianku dan tidak minta kepadaku. Beliau hanya mengatakan, 'Rahasiakanlah tentang keberadaan kami !' Maka aku meminta kepadanya supaya menuliskan untukku bukti damai. Kemudian beliau memerintahkan kepada Amir bin Fuhairah, lalu menulis pada sepotong tulang. Kemudian Rasulullah- -berlalu." (HR. al-Bukhari secara mu'allaq dengan lafal penegasan dari Ibnu Syihab, 7/238, al-Fath)

Pelajaran yang dapat dipetik :
1. Anjuran untuk menciptakan suasana aman, tenang, dan lancar kemudian menyerahkan segala urusan kepada Allah- -.
2. Memilih waktu yang cocok untuk menziarahi kawan-kawan terdekat.
3. Ketenangan Rasulullah- -dan tsiqahnya kepada Allah- -.
4. Kemuliaan jiwa dan enggan menerima hadiah berupa kendaraan kecuali dengan harganya.
5. Anjuran untuk menepati janji dan larangan berkhianat.
6. Anjuran untuk bersilaturahim.
7. Anjuran untuk bersopan santun kepada ulama.
8. Menaruh perhatian kepada masjid, sebab ia merupakan pondasi berdirinya suatu daulah (pemerintahan).
9. Larangan untuk memanfaatkan suatu jabatan yang sedang dipegang.
10. Kerendahan hati Nabi- - sehingga tidak ada orang yang mengetahui saat kedatangannya.
11. Anjuran untuk menyerahkan segala urusan yang di luar kemampuan hamba kepada Allah- -begitu juga dalam hal balasan.
12. Pemimpin yang sukses adalah yang ikut serta bersama rakyat yang dipimpinnya dalam pekerjaan dan pembangunan.

Wallahu A'lam
(Redaksi)

Sumber :
Sittuna Qishshah Rawaha an-Nabi- - Wash Shahabah al-Kiram, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab. Ei, hal. 125-131.


Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatannur&id=935