Artikel : Bulein Annur - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Amal Kebajikan yang Terus Menerus

Jumat, 03 September 21
Amal Kebajikan yang Terus Menerus
Allah- -berfirman,


[ : 46]


Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus menurus adalah lebih baik pahalanya di sisa Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan (Qs. al-Kahfi : 46)

Sebab turunnya ayat
Para ahli tafsir menyebutkan bahwa ayat ini turun terkait dengan Ainah bin Hishn, al-Aqra bin Habis dan lainnya dari kalangan kepala suku orang-orang Arab yang mengatakan kepada Nabi- -, Andai engkau menjauhkan mereka dari dirimu niscaya kami akan duduk di sampingmu, yang mereka maksudkan dengan perkataan mereka mereka ini adalah orang-orang fakir dari kalangan orang-orang yang beriman kepada Nabi- -seperti Ammar, Bilal, Suhaib, Salman al-Farisi dan yang semisal mereka ini.
Mereka juga mengatakan (kepada Nabi- -) ,Sungguh, bau badan mereka itu menyakitkan kami.
Maka Allah- menurunkan ayat terkait dengan hal ini, seraya berfirman,


[ : 28]


Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya ; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas. (Qs. al-Kahfi : 28) dan ayat setelahnya yang menyebutkan perihal kesudahan orang-orang yang zhalim dan orang-orang yang beriman dan beramal shaleh. Dengan hal tersebut Allah- -ingin menjelaskan kesudahan yang buruk mereka orang-orang yang menyombongkan diri terhadap orang-orang fakir dan kesudahan yang baik bagi orang-orang yang beriman.

Kemudian, Allah- -mengikuti hal tersebut dengan kisah dua orang lelaki yang seorang diberi dua buah kebun anggur dan apa yang menimpa keduanya berupa dibinasakannya kebun milik keduanya dan baiknya kesudahan orang yang beriman pada hari Kiamat, dengan firman-Nya,


[ : 44]


Di sana, pertolongan itu hanya dari Allah Yang Mahabenar. Dialah (pemberi) pahala terbaik dan (pemberi) balasan terbaik. (Qs. al-Kahfi : 44)

Kemudian, Allah- -mengikuti hal tersebut dengan menyebutkan perumpamaan kehidupan dunia dan apa yang terjadi di dalamnya yang tidak memakan waktu lama, kemudian Dia- -menjelaskan bahwa apa yang dibangga-banggakan oleh mereka terhadap orang-orang fakir hanyalah berupa harta dan anak-anak yang merupakan bagian dari perhiasan kehidupan dunia yang tidak akan tepat ada dan bahwa yang mereka berikan kepada orang-orang yang beriman termasuk al-baqiyat ash-Shalihat (Amal Kebajikan yang Terus Menerus) yang semestinya menjadi ajang perlombaan dan didorong untuk dilakukan karena itulah yang akan tetap ada dan akan terus memberikan kemanfaatan bagi kehidupan seseorang.

Firman-Nya- -,




Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.

Ungkapan ini meskipun ungkapan berita, namun disertai dengan indikator yang menunjukkan akan rendah dan hinanya urusan dunia. Hal ini ditunjukkan oleh adanya larangan untuk cenderung lebih memilihnya, lebih mengutamakannya, dan berbangga-bangga dengannya.

Kemudian Allah- -mengabarkan bahwa amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisa Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan orang yang melakukannya daripada keadaan orang yang memiliki harta dan anak tanpa amal shalih.

Ungkapan perbandingan seperti ini, biasa digunakan oleh orang-orang Arab sesamanya untuk membandingkan kebaikan sesuatu. Sekalipun boleh jadi di antara hal yang dibandingkan kebaikannya tersebut jauh berbeda atau bahkan boleh jadi salah satunya memang tidak ada kebaikannya sama sekali, seperti pula dalam firman Allah- -, yang membandingkan antara kebaikan tempat tinggal dan tempat istirahat penghuni Surga dengan penghuni Neraka,


[ : 24]


Penghuni-penghuni Surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya (Qs. al-Furqan : 24)

Padahal telah dimaklumi bahwasanya tidak ada sedikit pun kebaikan pada tempat tinggal penghuni Neraka.

Apa yang dimaksud Amal kebajikan yang terus menerus ?
Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang maksud dari amal kebajikan yang terus menerus di sini.
a. Sekelompok dari mereka mengatakan, (amal kebajikan yang terus menerus) adalah shalat lima waktu.
Pendapat ini diriwayatkan oleh Sufyan ats-Tsauri dari Abdullah bin Muslim dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas.
Diriwayatkan pula oleh Abdullah bin Yazid bin Hurmuz dari Ubaidillah bin Abdillah bin Utbah dari Ibnu Abbas juga.
Dan dikatakan oleh Amru bin Syurahubail, Ibrahim an-Nakhaiy, dan Abu Maisarah. Demikian pula dikatakan oleh Masruq dan Ibnu Abi Mulaikah.
b. Jumhur ulama mengatakan (amal kebajikan yang terus menerus) adalah ucapan,

Subhanallah, Wal Hamdulillah, Wa Laa Ilaaha Illallah, Wallahu Akbar
(Maha suci Allah, Segala puji bagi Allah, Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Maha Besar)
Diriwayatkan oleh jamaah dari Abu Uqail Zahrah bin Mabad dari al-Harits maula Utsman dari Utsman bin Affan- -.
Juga shahih diriwayatkan dari Ibnu Abbas- -.
Sufyan ats-Tsauriy meriwayatkannya juga dari Abdullah bin Muslim bin Hurmuz dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas- -.
Dan, Hajjaj meriwayatkan dari Ibnu Juraij dari Mujahid (ia berkata) telah mengabarkan kepadaku Abdullah bin Utsman bin Khutsaim dari Nafi bin Sarjas bahwasanya ia bertanya kepada Ibnu Umar- -tentang )amal kebajikan yang terus menerus), maka beliau mengatakan,




Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Allah Maha Besar, Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, Tidak ada daya dan tidak pula kekuatan kecuali atas pertolongan Allah.

Ibnu Juraij dan Atha bin Abi Rabah mengatakan seperti itu.
Dan inilah pendapat Said bin al-Musayyab, Mujahid, Muhammad bin Kab al-Qurazhiy, al-Hasan, Qatadah dan Jumhur ahli tafsir.
Yang lain berpendapat, (amal kebajikan yang terus menerus), yaitu, (perkataan yang baik).
Pendapat ini kembali kepada pendapat yang sebelumnya, karena ucapan,




Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Allah Maha Besar, termasuk bentuk ucapan yang baik. Hanya saja, itu lebih umum darinya dari sisi tidak terbatas pada ungkapan kata-kata ini saja. Bahkan masuk di dalamnya, membaca al-Quran dan dzikir-dzikir yang lainnya. Pendapat ini diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas- -.

Sekelompok yang lain berpendapat bahwa )amal kebajikan yang terus menerus), yaitu, amal-amal shaleh semuanya berupa perkataan dan perbuatan.
Diriwayatkan oleh Ibnu Juraij dari Atha al-Khurasaniy dari Ibnu Abbas. Dan diriwayatan oleh Muawiyah Ibnu Shalih dari Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas, ia berkata perihal firman Allah- -, , ia adalah Dzikrullah (mengingat Allah) dengan ucapan, (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah), (Allah Maha Besar), (Maha suci Allah), (segala puji bagi Allah), (Maha berkah Allah), (aku memohon ampun kepada Allah), (semoga Allah bersholawat kepada Rasulullah) dan lain sebagainya, puasa, shalat, haji, bersedekah, membebaskan budak, jihad, menyambung tali silturahim, dan semua amal baik, kesemua itu adalah (amal kebajikan yang terus menerus) yang akan tetap ada (pahalanya) di dalam Surga bagi orang yang melakukannya selama ada langit dan bumi.
Pendapat ini juga dikatakan oleh Ibnu Zaed.

Pendapat ini dirajihkan (dikuatkan) oleh Ibnu Jarir ath-Thabari dan dipilih oleh Ibnu Athiyyah dan yang lainnya, lafazh dibawa maknanya kepada makna umum, dan sisi pertimbangannya cukup kentara karena kapan mungkin untuk membawa lafazh al-Quran kepada makna yang bersifat umum di mana hal tersebut akan lebih banyak faedahnya, maka hal tersebut lebih utama.
Namun, hal ini apabila tidak ada hal lain yang menghalangi dari hal tersebut.

Sementara di sini ada tafsiran dari Nabi- -yang valid berasal dari beliau yang menunjukkan kepada pendapat yang kedua (pendapat Jumhur).
Mengkhabarkan kepada kami hal itu Abu Muhammad Isa bin Abdurrahman al-Maqdisi dengan bacaanku, ia berkata, menceritakan kepada kami Abu Abdillah Muhammad bin Abdil Wahid al-Hafizh (ia berkata) menceritkan kepada kami al-Qasim bin Abdillah ash-Shaffar (ia berkata) telah menceritakan kepada kami kakekku Umar bin Ahmad bin Mansur (ia berkata) telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Khalaf asy-Syairaziy (ia berkata) telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdillah al-Hafizh) (ia berkata) telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Shalih bin Hani (ia berkata) telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya (ia berkata) telah menceritakan kepada kami Abu Umar Hafsh bin Umar (ia berkata) telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muslim (ia berkata) telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ajlan dari Said bin Abi Said al-Maqburi dari Abu Hurairah- - ia berkata, Rasulullah- -bersabda,




Ambillah perisai kalian ! Kami berkata : Ya Rasulullah, apakah karena musuh telah datang ? Beliau menjawab, Bukan. Tetapi perisai kalian dari (siksa) Neraka adalah ucapan,




Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Allah Maha Besar.
Karena sesungguhnya kata-kata tersebut akan datang pada hari Kiamat sebagai penyelamat, kata-kata tersebut akan berada di depan, dan kata-kata tersebut adalah (amal kebajikan yang terus menerus) (HR. al-Hakim)

Hadis ini memiliki penguat, diriwayatkan Ibnu Jarir ath-Thabari di dalam tafsirnya, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Yunus bin Abdil Ala (ia berkata) telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb (ia berkata) telah menceritakan kepada kami Amru bin al-Harits bahwa Darraj Abu Samah menceritakan kepadanya dari Abu al-Haitsam dari Abu Said al-Khudriy- -bahwa Rasulullah- -bersabda,




Perbanyaklah oleh kalian (amal kebajikan yang terus menerus), dikatakan kepada beliau, apa itu wahai Rasulullah. Beliau menjawab, al-Millah. Dikatakan kepada beliau, apakah al-Millah itu, wahai Rasulullah ? beliau bersabda, Takbir, tahlil, tasbih, tahmid, dan tidak ada daya dan kekuatan melainkan atas pertolongan Allah.
Bilamana hadis ini valid maka tentunya lebih utama dijadikan sebagai rujukan untuk tafsir ungkapan , begitu pula halnya apa yang valid dari sahabat Utsman, Ibnu Abbas dan selain keduanya dari kalangan para sahabat- -.

Beberapa hadis tentang keutamaan Tasbih, Tahmid, Tahlil dan Takbir

Banyak hadis yang menerangkan tentang keutamaan ungkapan kata-kata ini, di antaranya :

1-Hadis Samurah bin Jundab- -.


- - .


Dari Samurah bin Jundab- -ia berkata, Rasulullah- -bersabda, Ungkapan kata yang paling dicintai oleh Allah ada empat ; (1) (Maha suci Allah),(2) (Segala puji bagi Allah),(3) (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah), dan (4) (Allah Maha Besar). Tidak membahayakanmu dengan kata mana saja engkau memulainya.(HR. Muslim)

2-Hadis Abu Shalih- -




Dari Abu Shalih dari sebagian sahabat Nabi- - dari Nabi- -, beliau bersabda, Ungkapan kata yang paling utama adalah (Maha suci Allah), (Segala puji bagi Allah), (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah), (Allah Maha Besar) (HR. Ahmad)

3-Hadis Abu Hurairah- -


- -


Dari Abu Hurairah- -, ia berkata, Rasulullah- -bersabda, Sungguh aku mengucapkan, (Maha suci Allah), (Segala puji bagi Allah), (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah), dan (Allah Maha Besar) lebih aku cintai daripada terbitnya matahari. (HR. Muslim)

4-Hadis Abu Hurairah dan Abu Said- -.


:


Dari Abu Hurairah- -dan Abu Said al-Khudriy dari Nabi- -beliau bersabda, Sesungguhnya Allah telah memilih empat dari ungkapan kata; (1) (Maha suci Allah),(2) (Segala puji bagi Allah),(3) (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah), dan (4) (Allah Maha Besar). Maka, barang siapa mengucapkan, (Maha suci Allah), dituliskan untuknya 20 hasanah (kebaikan) dan dihapus darinya 20 kejelekan. Barang siapa mengucapkan, (Allah Maha Besar) maka seperti itu. Barang siapa mengucapkan (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah), maka seperti itu juga. Dan, barang siapa mengucapkan, berasal dari dirinya niscaya bakal dituliskan untuknya 30 hasanah (kebaikan) dan dihapus darinya 30 keburukan. (HR. an-Nasai)

5-Hadis Imran bin Hushain- -


:


Dari Imran bin Hushain, ia berkata, Rasulullah- -bersabda,Tidak mampukah salah seorang di antara kalian untuk melakukan amal setiap hari (yang pahalanya) seperti (besarnya) gunung uhud ? Mereka berujar, Ya Rasulullah ! siapa gerangan orang yang mampu melakukannya ?! beliau bersabda, Setiap kalian mampu melakukannya. Mereka kembali berujar, Wahai Rasulullah, apakah itu ? beliau menjawab, (ucapan) lebih besar dari (gunung) Uhud. (ucapan) lebih besar dari (gunung) Uhud, (ucapan) lebih besar dari (gunung) Uhud, dan (ucapan) lebih besar dari (gunung) Uhud. (HR. an-Nasai)

6-Hadis Ibnu Masud- -


- -


Dari Ibnu Masud- -, ia berkata, Rasulullah- -bersabda, Aku berjumpa dengan Ibrahim- - pada malam aku di-isra-kan. Ia mengatakan kepadaku,wahai Muhammad sampaikan salam dariku kepada umatmu, dan beritahu mereka bahwa Surga itu tanahnya harum, airnya segar, dan bahwa Surga itu tanahnya luas/lapang dan bahwa tanaman-tanamannya adalah,




Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Allah Maha Besar. (HR. at-Tirmidzi)

7-Hadis Abu Hurairah- -


- -


Dari Abu Hurairah- -, ia bekata, Rasulullah- - bersabda, Apabila kalian melewati taman-taman Surga, mampirlah dan bersukarialah menikmati jamuannya. Ia (Abu Hurairah- -) berkata,Aku pun bertanya, Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud taman Surga itu ? beliau pun menjawab, Masjid-masjid. Aku katakan lagi, Apa jamuannya, wahai Rasulullah ? beliau menjawab :




Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah yang Maha Besar. (HR. At-Tirmidzi)

8-Hadis Anas bin Malik- -.


: :


Dari Anas- -,ia berkata, Seorang Arab dusun datang kepada Nabi- - lalu ia mengatakan, wahai Rasulullah, ajarilah aku kebaikan ! Maka Nabi- -memegang tangannya, lalu mengatakan (kepadanya) : katakanlah,




Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Maha Besar (HR. al-Baihaqi)

Tambahan Hauqalah ke dalam

Telah disebutkan dalam hadis Abu Said al-Khudriy- -adanya tambahan ungkapan hauqalah ke dalam . Dan demikian pula Utsman- -menyebutkannya di dalam penafsirannya terhadap .

Adapun makna ungkapan hauqalah ini adalah pengkhususan diri Rabb- -dengan masyiah (kehendak) dan kekuatan dan peniadaan seorang hamba dari segala upaya dan tindakan kecuali dengan kehendak-Nya- -yang meliputi kehendaknya. Sehingga seorang hamba bersandar semata-semata hanya kepada-Nya saja dalam segala urusannya.

Oleh karenanya, Nabi- -menjadikannya termasuk harta simpanan Surga.

Dalam hadis Abu Musa al-Asyariy- -, Nabi- -pernah berkata kepadanya,




Wahai Abu Musa atau wahai Abdullah (hamba Allah), maukah kamu aku tunjukkan kepada sebuah ungkapan kata yang termasuk harta simpanan Surga ? Tentu, jawabku. Beliau bersabda, (ungkapan kata tersebut adalah) (Tidak ada daya dan kekuatan melainkan atas pertolongan Allah). (HR. al-Bukhari)
Dalam hadis Abu Dzar- -, ia berkata :


( ) . : ( )


Rasulullah- pernah mengatakan kepadaku, maukah kamu aku tunjukkan kepada harta simpanan yang termasuk harta simpanan Surga ?. Aku pun menjawab, tentu, wahai Rasulullah. Beliau bersabda, (Tidak ada daya dan kekuatan melainkan atas pertolongan Allah). (HR. Ibnu Majah)

Agungnya Kedudukan
Karena agungnya kedudukan ini, Nabi- -menjadikannya sebagai ganti dari membaca al-Quran bagi orang yang tidak bisa membacanya.


: - - : . : . : : . : - - : .


Dari Abdullah bin Abi Aufa- -ia berkata, Seorang lelaki datang kepada Rasulullah- -, lalu ia mengatakan,saya tidak bisa dengan baik membaca al-Quran, maka ajarilah aku sesuatu yang hal itu mencukupiku dari al-Quran. Beliau pun bersabda,




Segala puji bagi Allah, Maha suci Allah, Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selin Allah, Allah Maha Besar, dan Tidak ada daya dan kekuatan melain atas pertolongan Allah.
Kala lelaki tersebut usai menghitung ungkapan-ungkapan kata tersebut, ia berujar, Wahai Rasulullah, ini untuk Rabbku, lantas apa yang aku katakan untuk diriku ?
Beliau bersada, ucapkanlah,




Ya Allah, Ampunilah aku, rahmatilah aku, tunjukilah aku, berilah rizki padaku, dan berilah afiyat kepadaku.
Abdullah bin Abi Aufa berkata, lalu lelaki itu pun menggenggam ungkapan katak-kata tersebut, kemudian ia pun beranjak pergi. Maka, Rasulullah- -pun bersabda,


.


Orang ini telah memenuhi kedua tangannya dengan kebaikan. (HR. al-Baihaqi)

Wallahu Alam
(Redaksi)

Sumber :
Juz-un Fii Tafsiri al-Baqiyat ash-Shalihat, Shalahuddin Khalil bin Kaikaldiy. Tahqiq : Badruz Zaman Muhammad Syafii an-Naibaliy


Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatannur&id=937