Artikel : Bulein Annur - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Kedahsyatan Ikhlas

Jumat, 08 Oktober 21

Ikhlas Amalan Hati Terpenting
Saudaraku-pembaca yang budiman-, ketahuilah bahwa ikhlas merupakan amalan hati yang terpenting dan paling agung kedudukannya. Bahkan, sesungguhnya amalan-amalan hati itu secara umum- lebih penting daripada amalan anggota badan. Berkata Ibnu Taimiyyah- -tentang amalan hati, Amalan-amalan hati merupakan pondasi keimanan dan pilar agama, seperti, mencintai Allah- -dan Rasul-Nya- -, bertawakkal kepada Allah- -, mengikhlaskan agama hanya untuk Allah- - semata, bersyukur kepada-Nya, bersabar terhadap ketentuan hukumNya, takut dan berharap kepadaNya. Kesemua amalan ini wajib hukumnya atas semua makhluk, dengan kesepakatan para imam agama (al-Fatawa, 5/10)

Ibnul Qayyim- -, ketika menjelaskan agungnya amalan hati, mengatakan, Amalan hati merupakan asas, sedangkan amalan anggota badan merupakan ikutan dan penyempurna. Dan sesungguhnya niat itu menempati posisi sebagaimana ruh, sementara amal perbuatan berposisi sebagai badan untuk angota-anggota tubuh yang apabila ruh memisahkan diri darinya nicaya bakal mati (tidak berguna). Oleh kerenanya, mengetahui hukum-hukum hati jauh lebih penting daripada mengetahui hukum-hukum anggota badan (Bada-I al-Fawaid, 3/224)

Beliau- -juga mengatakan, Barangsiapa merenungkan syariat, dalam hal yang menjadi sumbernya, niscaya ia mengetahui hubungan antara amal-amal anggota badan dengan amalan-amalan hati bahwasanya amalan anggota badan itu tidak akan bermanfaat tanpa adanya amalan hati dan bahwa amalan hati itu lebih wajib atas seorang hamba daripada amalan anggota badan. Bukankah seorang mukmin itu terbedakan dari orang munafik hanya karena apa yang ada di dalam hati mereka masing-masing berupa amalan-amalan yang membedakan antara keduanya ?!. Dan, ibadah hati itu jauh lebih agung, jauh lebih banyak, dan lebih langgeng daripada ibadah anggota badan. Maka, amalan hati itu merupakan kewajiban dalam setiap waktu kapan saja. (Bada-i al-Fawaid, 3/330)

Dengan ini, Anda-pembaca yang budiman- mengetahui pentingnya amalan-amalan hati itu, betapa tinggi kedudukannya, dan wajibnya merealisasikan amalan-amalan tersebut. Dan, yang paling penting dan paling istimewa di antara amalan-amalan hati tersebut adalah ikhlas.

Apa ikhlas itu ?

w (ikhlas) secara bahasa berarti (selamat). yakni, selamat dan bebas dari segala sesuatu yang melekat. Dan, al-Mukhlish (orang yang ikhlas) adalah orang yang mengesakan Allah-- secara murni, karenanya surat dinamakan dengan surat al-ikhlas, karena orang yang melafalkannya, ia telah mengikhlaskan tauhid hanya untuk Allah- - semata, dan kalimat al-ikhlas merupakan kalimat at-Tauhid (Lisanul Arob, 7/26, bab : , Fasal : , Madah : )

Dan dikatakan pula, (al-Khalish) adalah sesuatu yang hilang darinya hal-hal yang menodainya sehingga menjadi jernih (Taaj al-Arus, 9/272, bab : , Fasal : , Madah : )

Adapun pengertian ikhlas dan batasannya, secara istilah, terdapat banyak ungkapan para ulama mengenai hal tersebut.
Ada yang mendefinisikannya, Menyendirikan hak Allah- -dengan tujuan dalam melakukan ketaatan.
Ada juga yang mendefinisikannya, Penjernihan perbuatan dari perhatian makhluk.
Al-Harawiy mengatakan, Ikhlas adalah menjernihkan amal dari setiap hal yang dapat mengeruhkannya.
Sebagian yang lainnya mengatakan, (al-Mukhlish), orang yang ikhlas adalah orang yang tidak mempedulikan apa pun penilaian hati manusia terhadap dirinya karena kebaikan hatinya bersama Allah- -, dan ia tak suka manusia mengetahui sedikitpun kadar amal yang dilakukannya.

Kedudukan Ikhlas
Sesungguhnya ikhalas itu merupakan hakikat agama, dan kunci para Rasul- -Allah- -berfirman,




Padahal mereka hanya diperintahkan menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama (Qs. al-Bayyinah : 5)

Allah- -juga berfirman,




Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan (Qs. an-Nisa : 125)

Allah- -juga berfirman,




Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (Qs. al-Mulk : 2)

Fudhail bin Iyadh- -mengatakan, ( yang lebih baik amalnya) yakni, siapa yang paling ikhlas dan paling benar. Orang-orang bertanya kepadanya, Wahai Abu Ali, apa yang dimaksud dengan paling ikhlas dan paling benar ? ia pun menjawab, Sesungguhnya, amal itu bilamana dilakukan dengan penuh keikhlasan namun tidak benar, niscaya tidak diterima. Dan jika amal itu dilakukan dengan benar namun tidak ikhlas, juga tidak akan diterima, hingga benar-benar amal tersebut dilakukan dengan ikhlas lagi benar. Amal yang ikhlas adalah bila amal tersebut dilakukan semata-mata karena Allah, dan amal yang benar bila amal tersebut dilakukan sesuai petunjuk sunnah. Kemudian, ia membaca firman-Nya,


[ : 110]


...Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhan-nya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya. (Qs. al-Kahfi : 110)
Dan, Allah- -berfirman,


[ : 146]


Kecuali orang-orang yang bertaubat dan memperbaiki diri dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan dengan tulus ikhlas (menjalankan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu bersama-sama orang-orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang yang beriman (Qs. an-Nisa : 146)

Dari Abu Hurairah- -ia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah- -bersabda,




Allah- -berfirman, Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa melakukan suatu amalan di mana di dalamanya ia menyekutukanKu dengan selainKu, niscaya Aku tinggalkan dia dan sekutunya itu (HR. Muslim)

Keikhlasan Memperbesar Balasan
Termasuk hal yang selayaknya diingatkan di sini adalah bahwa bila keikhlasan itu mendominasi sebuah amal ketaatan apa pun bentuknya, niscaya Allah- -memberikan balasan yang besar terhadap pelakunya, meskipun zhahir amal ketaatan tersebut ringan atau sedikit. Ibnu Taimiyah- -berkata, Satu jenis amal, bisa jadi dilakukan seseorang, ia menyempurnakan keikhlasannya dan penghambaannya kepada Allah- -, karenanya Allah- -mengampuni dosa-dosa besar yang pernah dilakukannya, seperti dalam hadis al-Bithaqah. [1] Ini adalah keadaan orang yang mengucapkannya (yakni, mengucapkan kalimat tauhid, ) dengan penuh keikhlasan dan kejujuran, seperti yang dikatakan oleh orang ini. Kalaulah tidak demikian, para pelaku dosa-dosa besar yang masuk ke dalam Neraka, mereka semuanya mengucapkan kalimat tauhid. Namun, ucapan mereka tersebut tidak dapat mengungguli keburukan-keurukan mereka, seperti halnya ucapan pemilik bithaqah tersebut.

Kemudian, Ibnu Taimiyah- -menyebutkan hadis yang menceritakan tentang seorang wanita pezina yang memberi minum seekor anjing, lalu Allah- -mengampuni (dosa)nya.[2] Dan, seorang lelaki yang menyingkirkan gangguan dari jalan, lalu Allah- - mengampuni (dosa)nya.[3] Lantas, beliau- -mengatakan, Wanita ini memberikan minum anjing dengan keimanan yang murni yang ada di dalam lubuk hatinya, maka Allah- -mengampuni (dosa)nya. Kalaulah bukan karena itu, maka tidak setiap wanita pezina yang memberikan minuman terhadap seekor anjing akan diampuni (dosa)nya. Dengan demikian, amal itu bertingkat-tingkat keutamaannya tergantung pada apa yang ada di dalam hati pelakunya berupa keimanan dan pengagungannya. (Minhaj as-Sunnah, 6/218)

Tak Ada Keikhlasan, Tak Ada Nilai Balasan
Sebaliknya, kita dapati bahwa melakukan ketaatan tanpa adanya keikhlasan dan kejujuran terhadap Allah- -, maka kataatan tersebut tidak bernilai dan tidak pula berpahala. Bahkan, pelakunya membuka diri terhadap ancaman yang keras, sekalipun ketaatan yang dilakukannya tersebut termasuk amalan yang agung, semisal berinfak di jalan-jalan kebaikan, memerangi orang-orang kafir, mempelari ilmu syari. Hal ini seperti datang dalam hadis Abu Hurairah- - di mana ia mengatakan,Aku pernah mengdengar Rasulullah- - bersabda,


. . .

. . . .
. .


Sesungguhnya manusia yang pertama-tama diadili pada hari Kiamat adalah seorang lelaki yang meninggal dunia saat berjihad memerangi orang kafir. Ia pun didatangkan, lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmat-Nya (yang telah diberikan kepadanya selama hidupnya di dunia), ia pun mengakuinya. Allah berkata (kepadanya), lantas apakah yang telah engkau perbuat terhadap nikmat-nikmat tersebut ?. Ia pun mengatakan, Aku telah berperang karena Engkau hingga aku akhirnya terbunuh. Allah berfirman,kamu dusta, akan tetapi kamu berperang agar dikatakan sebagai seorang pemberani. Dan hal itupun telah dikatakan kepadamu. Lantas, diperintahkanlah agar orang tersebut diseret di atas wajahnya sampai ia dilemparkan ke dalam Neraka.
Dan, seseorang yang belajar ilmu dan ia pun mengajarkannya dan membaca al-Quran. Ia didatangkan, lalu Allah mengingatkan akan nikmat-nikmatNya yang telah diberikan kepadanya, ia pun mengakuinya. Lantas, Allah mengatakan (kepadanya), Lalu apa yang kamu perbuat padanya? ia menjawab, Aku mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan aku membaca Al-Qur`an karena-Mu. Allah berfirman, Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu menuntut ilmu agar kamu dikatakan seorang alim dan kamu membaca Al-Qur`an agar dikatakan, Dia adalah qari`, dan hal itu telah dikatakan kepadamu (di dunia). Kemudian diperintahkan agar ia diseret di atas wajahnya sampai ia dilemparkan ke dalam neraka.
Dan seseorang yang diberikan keluasan (harta) oleh Allah dan Dia memberikan kepadanya semua jenis harta. Maka ia didatangkan lalu Allah mengingatkannya tentang nikmat-nikmatNya (yang telah diberikan kepadanya), maka ia pun mengakuinya. Allah berfirman, Lalu apa yang kamu perbuat padanya? ia pun menjawab, Aku tidak meninggalkan satu jalan pun yang Engkau senang kalau seseorang berinfak di situ kecuali aku berinfak di situ karena-Mu. Allah berfirman, Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu melakukan hal itu agar dikatakan, Dia orang yang dermawan, dan hal itu telah dikatakan padamu (di dunia). Kemudian diperintahkan agar ia diseret di atas wajahnya sampai ia dilemparkan ke dalam Neraka.(HR. Muslim)
Ikhlas Membutuhkan Kesungguhan
Tidak diragukan bahwa untuk benar-benar ikhlas dalam mengerjakan segala bentuk ketaatan membutuhkan kepada kesungguhan yang besar hingga seorang hamba mendapatkan keikhlasan itu secara sempurna.

Sahl bin Abdillah at-Tusturiy- -pernah ditanya, Hal apakah yang paling berat atas jiwa ? ia menjawab, al-ikhlash (keikhlasan), karena tidak ada untuk keikhlasan itu sedikitpun bagian padanya.

Sufyan ats-Tsauriy- -mengatakan, Tak ada sesuatu yang paling berat untuk aku terapi daripada niatku, sesungguhnya niat itu berbolak balik pada diriku.

Karenanya, maka sesungguhnya nafsu yang memerintahkan kepada keburukan itu mengeruhkan keikhlasan yang ada di dalam hati para Mukallaf (Orang-orang yang telah terkena beban kewajiban syariat). Seperti kata Ibnul Qayyim- -tentang nafsu itu, Dan nafsu itu memperlihatkan keikhlasan dalam rupa yang akan membuat seseorang lari darinya, yaitu keluar dari kendali akal sehat dan lemah yang karenanya setahap demi setahap akan melemahkan keadaan pemiliknya di tengah-tengah manusia. Maka, kapan saja ia berupaya mengikhlaskan amal-amal yang dilakukannya, tidak beramal sedikit pun karena siapa pun, nafsu itu bakal menjauhkan mereka, dan mereka pun akan berupaya menjauhkan diri dari orang yang berupaya untuk ikhlas dalam beramal tersebut. Nafsu yang memerintahkan kepada keburukan itu akan menjadikan mereka benci dan mereka pun akan membenci orang yang berupaya untuk mengikhlaskan amalnya. (ar-Ruuh, hal. 392)

Akhirnya, kita memohon kepada Allah- - semoga melindungi kita dari rongrongan nafsu yang nemerintahkan kepada kejelekan ini, sehingga kita berharap dapat menjaga keikhlasan niat kita dalam melakukan amal-amal ketaatan kepada Allah- - apa pun bentuknya. Amin

Wallahu Alam
(Redaksi)
Rujukan :
1. Al-Ikhlash Wa Asy-Syirk Al-Ashghar, Dr. Abdul Aziz bin Muhammad al-Abd al-Lathif.
2. Al-Ikhlash Wa Atsaruhu Fi Qabuli al-Amal, Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thayyar.

Catatan :
[1] Yaitu hadis berikut ini,


: : :
. . .


Dari Abu Abdurrahman al-Afiriy kemudian al-Habaliy, ia berkata, Aku pernah mendengar Abdullah bin Amr bin al-Ash berkata, Rasulullah- bersabda,
Sungguh Allah akan membebaskan seseorang dari umatku di hadapan seluruh manusia pada hari Kiamat. Ketika itu dibentangkan 99 gulungan (dosa) miliknya. Setiap gulungan dosa panjangnya sejauh mata memandang. Kemudian Allah berfirman, Apakah ada yang kamu ingkari dari semua catatan ini, apakah para (malaikat) pencatat amal telah menganiayamu? Ia menjawab, Tidak wahai Rabbku. Allah bertanya, Apakah kamu memiliki uzur (alasan)? Ia menjawab, Tidak wahai Rabbku. Allah berfirman, Bahkan sesungguhnya kamu memiliki satu kebaikan di sisi-Ku dan sungguh pada hari ini kamu tidak dianiaya sedikit pun.
Kemudian dikeluarkanlah sebuah kartu (bithaqah) bertuliskan :




(Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya)

Lalu Allah berfirman, Datangkan timbanganmu. Ia berkata, Wahai Rabbku, apalah artinya kartu ini dibandingkan seluruh gulungan (dosa) itu? Allah berfirman, Sungguh kamu tidak akan dianiaya. Kemudian diletakkanlah gulungan-gulungan tersebut pada satu daun timbangan dan kartu itu pada daun timbangan yang lain. Maka gulungan-gulungan (catatan dosa) tersebut terangkat dan bithaqah (kartu) itu lebih berat. Demikianlah, tidak ada satu pun yang lebih berat dari sesuatu yang padanya terdapat nama Allah (HR. Tirmidzi no. 2563, Ibnu Majah no. 4290, dinilai shahih oleh Al-Albani).
[2] Yaitu hadis berikut ini,


- -


Dari Abu Hurairah- -, ia berkata, Nabi- -bersabda, "Pada suatu ketika ada seekor anjing mengelilingi sebuah sumur. Anjing itu hampir mati kehausan. Tiba-tiba anjing tersebut terlihat oleh seorang wanita pelacur dari kalangan bani Israil. Maka ia membuka sepatu botnya. Kemudian dia menciduk air dengan sepatunya, lalu anjing itu diberi minum. Karena hal itu, dosa-dosa wanita pelacur itu diampuni." (HR. Muslim, no. 5998)
[3] Yaitu hadis berikut ini,


:


Dari Abu Hurairah- -dari Nabi- -beliau bersabda,Seorang lelaki melewati sebuah duri di jalan, lalu ia mengatakan,Aku benar-benar akan menyingkirkan duri ini agar tidak membahayakan seorang muslim pun, maka (Allah) mengampuni (dosa)nya. (HR. al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad, no. 229)





Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatannur&id=942