Artikel : Bulein Annur - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Adab Kepada Allah- - dan RasulNya- -(bag.1)

Senin, 18 Oktober 21
Sesungguhnya adab yang paling agung, yang mencakup seluruh adab Islami, baik perkataan maupun perbuatan adalah adab kepada Allah- - dan RasulNya- -. Karena, pada hakikatnya itulah agama secara menyeluruh.
Di antara adab kepada Allah- -dan RasulNya- - adalah :
1-Menujukan Ibadah kepada Allah- -Semata
Tidak diragukan lagi bahwasanya menujukan ibadah hanya kepadaNya- -merupakan adab teragung kepada Allah- -. Ini juga merupakan buah teragung dari keimanan kepada Allah- -., marifah kepada-Nya, iman kepada rububiyah-Nya, nama-nama dan sifat-sifatNya, dan pengkhususan ibadah hanya kepadaNya karena Dia- -.adalah pemilik, pengatur, dan penguasa. Dialah- -. yang telah menciptakan segenap makhluk dan melimpahkan rizki kepada mereka, tidak ada sekutu bagiNya. Oleh karena itu hanya Dialah- -.Dzat yang berhak untuk disembah. Tidak boleh memalingkan satu bentuk ibadah pun kepada selain Allah- -, siapa pun dia, baik Malaikat yang didekatkan, seorang Nabi yang diutus, wali yang shalih, batu, pohon, binatang atau yang selainnya.

Ini menjelaskan batilnya perbuatan sebagian orang yang menisbatkan dirinya kepada Islam dari para penyembah kubur, tempat-tempat keramat, dan kuburan orang-orang shaleh. Orang-orang itu mengharapkan dari mereka untuk mendatangkan manfaat, menolak mudharat, serta mengabulkan berbagai macam hajat. Padahal orang mati yang berada di kubur tidak memiliki kemampuan untuk mendatangkan manfaat atau menolak mudharat bagi diri merekaa sendiri, apalagi bagi orang lain. Ini merupakan kesyirikan yang sangat besar kepada Allah- -. Sangat disayangkan, musibah ini telah merata di seluruh negeri kaum Muslimin sehingga kedustaan dan khurafat merupakan perkara yang tidak dapat dipungkiri. Di balik kedok inilah, harta manusia dimakan secara batil dan kemungkaran merajalela.

Celakalah orang yang telah dikotori oleh akalnya yang sakit hingga meyakini bahwasanya makhluk ini memiliki kemampuan untuk mendatangkan manfaat dan madharat.

Allah- - berfirman,


[ : 17]


Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah hanyalah berhala-berhala, dan kamu membuat kebohongan. Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rizki kepadamu; maka mintalah rizeki dari Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepadaNya. Hanya kepada-Nya kamu akan dikembalikan. (Qs. al-Ankabut : 17)

Allah- -juga berfirman,


(13) (14) [ : 13 14]


Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.
Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruanmu, dan sekiranya mereka mendengar, mereka juga tidak memperkenankan permintaanmu. Dan pada hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu seperti yang diberikan oleh (Allah) Yang Mahateliti (Qs. al-Fathir : 13-14)
Ayat-ayat dalam hal ini sangat banyak.

Adab ini memiliki atsar yang agung dan terpuji, di antaranya,
1-Keikhlasan ibadah hanya bagi Allah semata : sedikit maupun banyak, besar maupun kecil. Oleh karena itu, seorang hamba yang taat beribadah dan ikhlas tidaklah melihat di hadapannya kecuali Allah- -. Ia menghidupkan dan mengkhususkan ibadah hanya kepada-Nya. Ia menjauhi seluruh perkara yang bertentangan dengan keikhlasan, atau yang dapat mengurangi kesempurnaannya.

Keikhlasan kepada Allah- -saja merupakan pokok agama ini dan rukunnya yang paling kuat. Sebagaimana firman Allah- -,


[ : 11]


Katakanlah, Sesungguhnya aku diperintahkan agar menyembah Allah dengan penuh ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. (Qs. az Zumar : 11)

2-Jauh dari riya

Di dalam perkataan maupun perbuatan. Ini merupakan kelanjutan dari pengaruh sebelumnya. Sesungguhnya seorang yang benar keikhlasan di dalam hatinya, maka seluruh perkataan dan perbuatannya akan bersumber dari keikhlasan ini. Yang ia lihat dengan mata hati dan bashirah (akal) hanyalah Rabbnya. Maka dari itu, terhapuslah riya dalam ucapan dan perbuatannya. Ia tidak lagi mencari keuntungan dunia atau keridhaan salah seorang dari makhluk di balik semua itu. Bahkan, ia semata-mata mencari keridhaan Allah dan mengharap dapat melihat wajah-Nya yang mulia. Jika niat seorang hamba telak ikhlas, begitu juga amal dan kehendaknya bersih dari riya dan keinginan duniawi, maka yang demikian itu merupakan sebab terbesar untuk meraih kebaikan agama maupun dunia.

3- Memerangi segala bentuk syirik dan riya karena seorang Mukmin melihat bahwasanya ia harus memerangi segala bentuk kesyirikan, kebohongan, dan khurafat dengan seluruh kemampuan yang ia miliki. Selain itu, menjelaskan kepada manusia tentang kesesatan dan kebatilannya, serta melawannya baik dengan lisan, tangan, maupun harta hingga tidak ada lagi fitnah dan agama seluruhnya bagi Allah- -.

2-Mengagungkan dan memuliakan Allah- -
Seorang yang beriman mengagungkan dan memuliakan Allah- -ketika menyaksikan kekuasaan-Nya terhadap alam semesta, melihat keagungan rububiyah di sekitarnya berupa segenap makhluk dan segala yang ada, yang menunjukkan keagungan al-Khaliq (sang pencipta) dan kekuasaan-Nya yang tiada batas. Tatkala seseorang mengimani bahwasanya Allah- -memiliki sifat-sifat yang sempurna dan bersih dari segala kekurangan, serta bahwasanya makhluk tidak mampu meliputi ilmu-Nya dan tidak juga mengetahui hakikatnya. Ketika ia menyasiksan semua itu dan mengimaninya, niscaya hatinya akan dipenuhi rasa pengagungan terhadap Allah- -. Pengagungan yang tidak ada bandingannya dan segenap makhluk terasa kecil di hatinya. Ia tidak melihat sesuatu yang memiiliki keagungan dan kemuliaan yang hakiki kecuali Allah- -.

Pengagungan ini akan membuahkan beberapa perkara, di antaranya,
1-Bersegera untuk melakukan ketaatan dan amal kebaikan
2-Menjauhi segala bentuk maksiat, kejelekan, dan kerusakan
3-Tidak merasa takut kepada makhluk dalam membela hak Allah- - dan menegakkan kalimat haq, baik kepada orang yang ia harapkan maupun yang ia takuti.

3-Takut kepada Allah- -.
Takut kepada Allah- -merupakan adab tertinggi kepada Allah- -. Rasa takut ini muncul dari marifah (mengenal) kekuasaan Allah- -, kekuasaan-Nya terhadap makhluk, keagungan kekuasaan-Nya, kerasnya siksaan dan hukuman Allah- -terhadap musuh-musuhNya, musuh para Rasul, dan wali-waliNya, serta adzab yang diturunkan kepada mereka di dunia. Rasa takut juga muncul dengan memperhatikan ayat-ayat ancaman dan memikirkan apa yang telah disediakan oleh Allah- - bagi musuh-musuh-Nya berupa azab di alam kubur dan di Neraka Jahannam. Begitu pula ketika seorang Muslim meyakini bahwasanya Allah- -berkuasa untuk mengazab seluruh makhluk jika Dia- - menghendaki. Tidak ada yang dapat menolak keputusanNya dan tidak ada yang dapat terlepas dari hukum-Nya. Bahwasanya azab Allah- -tidak dapat dibayangkan dahsyatnya. Jika seorang Muslim mengimani semua itu niscaya akan membuahkan rasa takut kepada Allah- -; hingga rasa takut memenuhi hatinya, berjalan di seluruh urat nadinya, dan mengalir seperti aliran darah. Rasa takut ini akan mencegah seorang Muslim dari perbuatan maksiat kepada Allah- - dan mencegahnya untuk melakukan perkara yang Dia benci, sebagaimana firman-Nya,


[ : 16]


Demikianlah Allah mengancam hamba-hamba-Nya (dengan azab itu). Wahai hamba-hamba-Ku, maka bertakwalah kepada-Ku. (Qs. az-Zumar : 16)


[ : 113]


Dan demikianlah Kami menurunkan al-Quran dalam bahasa Arab, dan Kami telah menjelaskan berulang-ulang di dalamnya sebagian dari ancaman, agar memberi pengajaran bagi mereka (Qs. Thaha : 113)

Rasa takut ini merupakan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi seorang Muslim, terlebih lagi semasa ia muda dan kuat. Maka sudah selayaknya rasa takut ini senantiasa dimiliki dan tidak terlepas dari seorang Muslim di segala kondisi dan sepanjang umurnya.

Seorang Mukmin yang takut kepada Allah- -akan dapat memetik faidah yang sangat besar. Tidak adanya rasa takut kepada-Nya merupakan adab yang buruk dan dapat mendorong seseorang jatuh ke dalam maksiat kepada-Nya, melanggar hukum-hukum-Nya, serta mengerjakan apa yang diharamkan Allah- -.

Rasa takut kepada Allah- - akan membuahkan banyak hal, di antaranya,
1-Meninggalkan maksiat kepada Allah- -dan menjauhinya
2-Menunaikan semua kewajiban dan amal ketaatan, serta bersegera melakukannya dan selalu menjaganya.
3-Selalu bergantung kepada Allah- -. Sebab, tidak ada tempat lari dari-Nya kecuali kepada-Nya dan tidak ada yang dapat menyelamatkan dari azab-Nya kecuali Dia- -samata.
4-Ketetapan hati di hadapan para makhluk dan tidak merasa takut kepada mereka. Sebab, hati yang dipenuhi rasa takut kepada Allah- -tidak akan takut kepada selain-Nya.


4-Mencintai Allah- - dan Rasul-Nya- - Lebih daripada yang lainnya
Mencintai Allah- -dan Rasul-Nya- - melebihi yang lainnya merupakan adab yang sangat agung kepada Allah- -dan Rasul-Nya- -. Asal dari cinta ini adalah ketika seorang Mukmin yang menyaksikan dengan mata hati dan bashirahnya keagungan kekuasaan Allah- -dan hikmah-Nya, juga ilmu dan keagungan-Nya; ketika ia mengimani sifat-sifat Allah yang indah dan sempurna, yang bersih dari segala aib dan cela; ketika ia melihat dengan mata bashirah-nya sifat-sifat Allah yang mulia dan sempurna; dan melihat kesantunan Allah- -yang tidak menyegerakan azab dan hukuman kepada para pelaku maksiat, bahkan Dia- -menangguhkan dan sabar terhadapnya. Di samping itu, ketika ia menyaksikan rahmat Allah- -yang maha luas, yaitu Dia- -melimpahkan rizki kepada para hamba-Nya, baik yang Mukmin maupun yang kafir, dan tidak memutus limpahan rizki itu disebabkan dosa-dosa mereka. Sesungguhnya Allah- -adalah pemilik keutamaan yang agung atas menusia dan pemilikk segala nikmat dalam kehidupan mereka, sebagaimana firman-Nya,


[ : 53]


Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah (an-Nahl : 53)

Dialah- -yang telah menciptakan manusia dari ketiadaan sebagaimana Dialah yang mengatur segala urusan manusia serta menetapkan syariat yang membawa kemaslahatan bagi agama dan dunia mereka. Ketika seorang Mukmin menyaksikan itu semua, niscaya hatinya akan dipenuhi oleh rasa cinta kepada Allah- -. Cinta yang tiada batasnya. Cinta yang membawa pemiliknya untuk mentaati Allah- -dengan ketaatan yang mutlak. Pemilik cinta itu akan selalu berusaha untuk meraih keridhaan-Nya dengan melakukan segala yang Allah- -ridhai dan meninggalkan segala perkara yang Dia benci.

Sudah seharusnya cinta ini mengalahkan seluruh cinta yang lain dan menjadi asal dari semua cinta sehingga seluruh cinta kepada selain Allah- -merupakan cabang darinya.

Allah- -berfirman,




Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepda Allah(Qs. al-Baqarah : 165)

Sementara Nabi- -, beliau adalah manusia yang paling banyak kebaikannya. Beliau datang untuk menyampaikan syariat dan agama Allah- -, serta mengajak kepada jalan yang lurus, yakni jalan menuju Surga, dan kepada seluruh kebaikan. Di samping itu, beliau- -memperingatkan manusia dari jalan yang buruk, yakni, Neraka.

Beliau- -telah mengerahkan segala daya untuk itu dan upaya beliau tidak kurang dalam menyampaikan kebenaran. Setiap muslim di alam ini merupakan hasil dakwah Muhammad- -. Oleh karena itulah, sudah selayaknya bagi seorang Muslim untuk mencintai Allah- -dan Rasul-Nya- -lebih daripada selainnya, sebagaimana sabda Rasulullah- -dalam sebuah hadis,




Tiga perkara yang dengannya seseorang dapat merasakan manisnya iman ; Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selainnyaalhadis (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hendaknya pula Nabi- -menjadi makhluk yang paling dicintai oleh seorang Muslim, sebagaimana sabda beliau- -,




Tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan manusia seluruhnya. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Maka jika seorang Mukmin menyaksikan itu semua, mengimaninya, dan mengakuinya dalam hati, niscaya hati akan dipenuhi rasa cinta kepada Allah- -dan cinta kepada Rasul-Nya- -. Cinta yang tidak tertandingi dan tersaingi oleh cinta yang lain, sebagaimana firman Allah- -tentang orang-orang yang beriman,




Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepda Allah(Qs. al-Baqarah : 165)

Maka dari itu, rasa cinta kepada Allah- -dan Rasul-Nya- -melebihi cintanya kepada istri dan anaknya, bahkan melebihi cintanya kepada dirinya sendiri. Sampai-sampai, seluruh cintanya kepada yang lain merupakan cabang dari cinta kepada Allah- -. Tidaklah ia mencintainya kecuali (karena Allah), (untuk Allah), dan (di jalan Allah). Cinta inilah yang menjadikan ia mencintai orang-orang shaleh karena mereka adalah orang-orang yang mencintai Allah- -. Selain itu, menjadikan ia cinta kepada amal-amal shaleh karena itu merupakan suatu yang dicintai Allah- -dan dapat menolongnya untuk mencintai-Nya. Dengan demikian, cinta kepada Allah- -merupakan tanggung jawab setiap hamba, yang mempengaruhi seluruh cintanya serta menjadi sumber semua ucapan dan perbuatannya.

Sudah selayaknya bagi seorang hamba mengetahui bahwasanya ia tidak akan dapat mencintai Allah- -kecuali jika didahului oleh cinta Allah- -kepada dirinya. Kerena sesungguhnya jika Allah- - mencintai seorang hamba, niscaya Dia- -akan memberikan taufik kepadanya untuk mencintai-Nya dan membantu hamba tersebut untuk mendapatkannya. Jika seorang hamba bersungguh-sungguh untuk mendapatkan cinta ini, maka akan bertambahlah cinta Allah- -kepadanya, sebagaimana firman-Nya,


... ...


Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya (Qs. a-Maidah : 54)

Allah- -mendahulukan penyebutan cinta-Nya sepada mereka sebelum cinta mereka kepada Allah- -. Sekali pun huruf wau tidak selalu memberikan arti tertib, namun urutan yang disebutkan dalam ayat ini mengisyaratkan kepada apa yang kami sebutkan. Allahu Alam

Bagaimana tidak cinta kepada Allah- -dalam hati seorang Mukmin dapat mengalahkan cinta kepda selain-Nya ? Bagaimana tidak hatinya dipenuhi dengan cinta itu hingga menyibukannya dari mencintai selain-Nya ? Allah- -adalah dzat yang paling banyak berbuat kebaikan dan memberikan nikmat kepada manusia, paling pemaaf terhadap kesalahan-kesalahan mereka, dan paling santun terhadap kejahilan mereka. Dia- -telah memuliakan manusia atas semua makhluk. Dialah- -yang menciptakan mereka dari ketiadaan dan melimpahkan kepada mereka berbagai macam kenikmatan. Bukankah semua itu akan menumbuhkan rasa cinta yang sempurna, yang khusus kepada Allah- -dalam hati seorang Mukmin ?

Bagaimana pula tidak cinta kepada Nabi- -melebihi cintanya kepada semua makhluk, sedangkan seorang Muslim mengetahui keutamaan beliau, cinta Allah- -kepada beliau, dan kebaikan beliau kepada segenap makhluk, hingga menjadikan Rasulullah- -sebagai orang yang paling ia cintai ?

Cinta kepada Allah- -ini akan membuahkan hasil yang sangat banyak, di antaranya,
1-Seorang Mukmin hanya akan mencintai orang-orang shaleh karena mereka adalah orang-orang yang dicintai Allah- -.
2-Seorang Mukmin akan mencintai amal-amal shaleh, berupa amal-amal kebaikan, kebajikan dan ketaatan. Sebab, semua itu dicintai oleh Allah- -dan dapat menolongnya untuk meraih cinta Allah- -.
3-Seorang Mukmin akan membenci segala apa yang dibenci Allah- -, yakni, orang-orang kafir, munafik dan para pelaku maksiat, dan amal-amal keburukan. Sebab, Allah- -membenci semua itu dan membenci penganutnya. Sesungguhnya seorang yang mencintai sesuatu tentu hasratnya akan mengikuti keridhaan yang dicintainya.
4-Bersegera melaksanakan segala kewajiban karena itu adalah perintah Allah- -, tidak bermalas-malasan mengerjakannya. Kemudian, menambahnya dengan memperbanyak amalan-amalan nafilah (sunnah) karena semua itu akan menolongnya untuk meraih cinta Allah- -, sebagaimana tersebut dalam sebuah hadis qudsi, Allah- -berfirman,




Barang siapa memerangi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang terhadapnya. Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku sukai daripada perkara-perkara yang telah Aku wajibkan atasnya. Hamba-Ku terus-menerus mendekatkan diri kepad-Ku dengan amalan-amalan nafilah (sunnah) hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, niscaya Aku akan menjadi pendengaran yang dengannya ia mendengar, penglihatan yang dengannya ia melihat, tangan yang dengannya ia bertindak, dan kaki yang dengannya ia melangkah (HR. al-Bukhari)
5-Menjauhi kemaksiatan dan segala perkara yang mendatangkan kemarahan Allah- -karena semua itu dibenci oleh-Nya. Orang yang benar-benar mencintai Allah- -tidak akan mungkin mendurhakai-Nya atau berbuat sesuatu yang dapat mendatangkan kemurkaan-Nya. Sebaliknya, ia akan selalu melakukan apa yang dicintai oleh Allah- - dan meninggalkan apa yang Dia benci, sungguh bagus ucapan seseorang yang mengatakan :


n


Engkau mendurhakai Allah, sementara engkau menampakkan kecintaan kepada-Nya.
Ini adalah suatu permisalan yang buruk.
Seandainya tulus cintamu, niscaya engkau akan mentaatinya
Sesungguhnya orang yang mencintai pasti akan taat kepada yang dicintainya.

6-Bersemangat untuk mengikuti sunnah Rasulullah- - : berpegang teguh dengannya dan tidak meninggalkan atau menjauhinya. Sebab, hal itu merupakan bukti ketulusan cinta kepada Allah- -dan cinta kepada Rasulullah- -, serta menjadi penolong untuk mendapatkan cinta-Nya, sebagaimana firman Allah- -,


[ : 31]


Katakanlah (Muhammad), Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.
Selain itu, berusaha menghindari serta berhati-hati dari menyelisihi sunah Nabi- -atau terjatuh pada perkara yang menyelisihinya.
7-Banyak berdzikir kepada Allah- -. Sebab, barang siapa yang mencintai sesuatu dan cintanya itu bertambah, niscaya dia akan banyak mengingatnya. Tidak akan hilang dari ingatannya meskipun hanya sekejap. Maka jika telah sempurna rasa cinta kepada Allah- - dalam hati seorang Mukmin, niscaya ia akan terus menerus berdzikir kepada Allah- -dengan hati, mapun lisannya. Ia akan memperbanyak dzikir kepada-Nya dan selalu melakukannya hingga tidak pernah terlepas darinya. Rasa cinta kepada Allah- -telah menguasai seluruh anggota badannya. Dzikir ini merupakan sebab terbesar untuk mendekatkan diri kepada Allah- -, perkara yang sangat bermanfaat bagi seorang hamba Mukmin, dan untuk keistiqamahan seluruh anggota badannya.


[ : 28]


(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram. (Qs. ar-Rad : 28)

Maka hati dan lisan seorang Mukmin selalu sibuk dengan dzikir, dan perkara-perkara yang merupakan bagian darinya, seperti tasbih, tahmid, takbir, tahlil, istighfar, doa, dan tilawah al-Quran; serta cabang darinya, seperti amar maruf nahi munkar, dakwah kepada Allah, kalimah thayyibah (ucapan-ucapan yang baik), dan lain sebagainya.
8-Memperbanyak shalawat kepada Nabi- -. Hal itu merupakan buah dari cinta yang dalam kepada Nabi- - dalam hati seorang Mukmin dan buah dari marifah seorang Mukmin terhadap keutamaan bershalawat kepada beliau- -.
9-Penjagaan seorang Mukmin terhadap perintah Allah- - pada anggota badannya, yaitu dengan selalu bersemangat melakukan ketaatan dan menjauhi segala bentuk maksiat, hingga seluruh gerak atau pun diamnya senantiasa disertai rasa cinta kepada Allah- -. Tidaklah bergerak anggota badannya kecuali untuk sesuatu yang diridhai Allah- -. Hal ini dibenarkan oleh firman Allah- - dalam sebuah hadis qudsi :




Maka jika Aku telah mencintainya, niscaya Aku akan menjadi pendengaran yang dengannya ia mendengar, penglihatan yang dengannya ia melihat, tangan yang dengannya ia bertindak, dan kaki yang dengannya ia melangkah. Jika ia meminta, niscaya akan Aku kabulkan dan jika ia meminta perlindungan, niscaya akan Aku lindungi (HR. al-Bukhari)
Dalam riwayat lain disebutkan :


...


Dengan-Ku ia mendengar, dengan-Ku ia melihat, dan dengan-Ku ia bertindak..
Maksudnya, bahwa seluruh anggota badan tidak bergerak kecuali atas dasar cinta kepada Allah- -. Tidaklah ia berusaha kecuali dalam perkara yang dicintai Allah- -berupa amal-amal kebaikan, kebajikan dan ketaatan.
10-Penjagaan Allah- -terhadap hamba yang Mukmin. Sebab, seseorang yang mencintai-Nya dengan sebenar-benar mencintai-Nya, niscaya Allah- -akan mencintai-Nya. Barang siapa yang dicintai Allah- -, niscaya Allah- -menjaganya dari segala keburukan. Barang siapa yang menjaga perintah dan larangan Allah- -, niscaya Allah- -akan menjaganya, sebagaimana sabda Rasulullah- -,




Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau dapati Dia di hadapanmu. (HR. at-Tirmidzi)
Dalam riwayat lain : , di depanmu.
11-Allah- -akan mengabulkan permohonan hamba-Nya yang Mukmin dan memberikan apa yang ia minta. Ini merupakan buah dari cinta Allah- -kepada hamba-Nya, yang merupakan konsekwensi dari cinta hamba kepada Rabbnya. Yakni, Dia- - akan mengabulkan apa yang ia minta, melindunginya dari apa yang ia minta perlindungan darinya, dan menjauhkannya dari perkara yang ia benci-kecuali yang memang telah Allah- -takdirkan menimpanya. Hal ini dibenarkan oleh firman Allah- -dalam sebuah hadis qudsi :




Jika ia meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri. Dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku lindungi (HR. al-Bukhari)

Semua itu tidak akan diperoleh kecuali setelah seorang hamba mencintai Allah- -.

Wallahu Alam

(Redaksi)

Sumber :

Mausuah al-Aadaab al-islamiyyah, Abdul Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada, E.I. hal. 15-23

























Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatannur&id=943