Artikel : Bulein Annur - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Adab Kepada Allah- - dan RasulNya- -(bag.2)

Jumat, 22 Oktober 21
Pada bagian pertama tulisan ini telah disebutkan empat di antara adab kepada Allah- - dan RasulNya- - , yaitu,
1-Menujukan Ibadah kepada Allah- -Semata
2-Mengagungkan dan memuliakan Allah- -
3-Takut kepada Allah- -.
4-Mencintai Allah- - dan Rasul-Nya- - Lebih daripada yang lainnya.
Berikut ini adalah beberapa adab yang lainnya,

5-Bertawakkal Hanya kepada Allah- -Semata
Di samping bertawakkal kepada Allah- -semata, hendaknya pula menyerahkan seluruh perkara kepada Allah- - dan selalu bergantung kepada-Nya. Ini merupakan buah dari marifah kepada Allah- -, iman kepada-Nya, kepada kekuasaan-Nya yang agung dan maha luas, kekuatan-Nya, hikmah-Nya, dan ilmu-Nya yang meliputi setiap sesuatu. Tawakkal adalah buah dari pengetahuannya bahwa Allah- -senantiasa membela orang-orang yang beriman, serta keyakinan bahwasanya jika Allah- - menghendaki sesuatu, pasti akan terlaksana. Tidak ada satu pun yang dapat menghalanginya. Bahwasanya Dia- -berkuasa menjaga hamba-Nya dari segala perkara yang ia benci serta makar para musuh Allah- -dari kalangan setan, manusia maupun jin.

Berangkat dari situlah seorang hamba Mukmin hanya bertawakkal kepada Allah- -, tidak bertawakkal kepada selain-Nya, sebagaimana firman Allah,




...dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (Qs. al-Maidah : 23)

Tawakkal hanya kepada Allah- -ini akan memberikan pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan seorang Mukmin, di antaranya :
1. Perlindungan Allah- -terhadap hamba-Nya yang Mukmin dengan menjaganya dari keburukan manusia dan jin, serta dari seluruh keburukan, sebagaimana firman Allah- -,




dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya (Qs. Ath-Thalaq : 3)

Maka dari itu, barang siapa yang membaguskan tawakkal kepada Allah- -, niscaya Dia- -akan menjaganya dari setiap keburukan. Umar bin Khaththab- -pernah berkata : Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjaganya. Barang siapa bertawakkal kepada-Nya, niscaya Dia akan mencukupinya. Barang siapa memberi pinjaman kepada-Nya, niscaya Dia akan membalasnya. Barang siapa bersyukur kepada-Nya, niscaya Dia akan menambahnya.

2. Kekuatan hati seorang Mukmin, yaitu ia berani menyampaikan kalimat yang haq, menyeru kepada yang maruf dan mencegah dari yang munkar, berdakwah kepada Allah, melaksanakan semua perintah Allah- -, dan tidak takut terhadap celaan orang yang mencela. Ia tidak takut kepada siapa pun dalam membela hak-hak Allah- -. Sebab, ia mengetahui bahwasanya tidak ada seorang pun yang mampu mendatangkan manfaat ataupun mudharat kecuali atas izin Allah- -. Ia pun mengimani bahwasanya ajal dan rizki hanya berada di tangan Allah- -, sebagaimana sabda Rasulullah,


, ,


Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) membisikan ke dalam hati sanubariku bahwasanya tidak akan mati suatu jiwa hingga terpenuhi rizki dan ajalnya. Maka bertakwalah kalian kepada Allah, perbaguslah cara kalian dalam mencari rizki, dan janganlah rizki yang terlambat datangnya itu memaksa kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah tidak akan dapat diperoleh kecuali dengan mentaati-Nya (Abu Nuaim dalam al-Hilyah (X/27) dan yang lainnya dari Abu Umamah. Lihat kitab Shahihul Jaami(2085)

3. Bersahaja dalam mencari rizki. Sebab, seorang Mukmin mengetahui bahwasanya usaha dalam mencari kenikmatan dunia tidak akan menambah rizki yang telah Allah- -takdirkan, Allah- - tulis, dan Allah- -kehendaki. Demikianlah perintah Nabi- -, yakni, bersahaja dalam kebutuhan hidup di dunia. Sebagaimana hadis yang lalu.

4. Seorang Mukmin berusaha dengan cara-cara yang disyariatkan. Hal itu berlaku dalam seluruh urusan hidupnya. Ia berusaha dengan cara-cara yang disyariatkan guna memenuhi hajat-hajatnya dan mengejar cita-citanya, dengan menyerahkan semua urusan kepada Allah- -. Ia menikah untuk mendapatkan keturunan yang shalih, namun ia menyerahkan urusan kepada Allah- -. Ia bertani dan mengairi sawahnya agar dapat memetik panen dan keuntungan. Meskipun demikian ia tahu bahwasanya segala sesuatu ada di tangan Allah- -. Ia berobat karena mengharapkan kesembuhan. Ia tahu bahwasanya kesembuhan itu ada di tangan Allah- -.
Tawakkal tidaklah menafikan usaha dengan cara-cara yang disyariatkan. Sebab, meninggalkan usaha secara total adalah tawakkal semu bukan tawakkal yang sesungguhnya.

6-Selalu Mengaitkan Diri kepada Allah- -
Hati seorang Mukmin selalu terkait kepada Rabbnya dengan cinta, pengagungan, tawakkal, inbah (taubat), pengharapan, serta rasa takut. Maka, ia pergi, bergerak, dan beraktivitas, sementara hatinya terkait kepada Rabbnya dan anggota badannya selalu bersama perintah Allah- -, mengharap rahmat-Nya, takut terhadap adzab-Nya, serta mengharapkan didatangkannya manfaat dan dijauhkannya dari mudharat. Sebab, ia telah mengetahui dan menyaksikan bukti-bukti yang menunjukkan kekuasaan, keagungan, dan hikmah rabbaniyyah yang sangat agung.

Barang siapa yang selalu mengaitkan hatinya kepada Allah- -, maka Allah- -pasti memenuhi semua hajatnya dan melindunginya dalam segala urusan.

7-Tunduk kepada Allah- - dan Merasa Butuh kepada-Nya
Tunduk kepada Allah- - dan merasa butuh kepada-Nya disebabkan seorang Mukmin menyaksikan hikmah Allah- -, kekuatan Allah- - yang tidak dapat dilawan, fenomena keagungan Allah- -, tanda-tanda ketidakbutuhan-Nya kepada makhluk-Nya, qayyumiyyah (berdiri sendiri)-Nya dalam kerajaan-Nya, dan keagungan-Nya yang Maha besar. Kemudian, ia kembali dan memikirkan keadaan dirinya sendiri serta seluruh makhluk Allah- -. Ia pun mendapati semua bertolak belakang dan berkebalikan dengan Allah- -. Mereka semua hina, lemah, fakir, banyak kekurangan, dan sangat membutuhkan Allah- - dalam seluruh urusan kehidupan mereka. Mereka tidak dapat terlepas dari Allah- - sedikit pun. Telah ditetapkan pula atas mereka kefanaan. Maka jika seorang Mukmin merasakan hal itu pada dirinya dan alam sekitarnya, akan bertambahlah ketundukannya kepada Allah- -, kerendahan, ketawadhuan, rasa butuh dan berlindung kepada-Nya, untuk menutupi segala kerendahan dan kekurangannya, mengampuni kesalahannya, dan memperbiki cacatnya.

Jika demikian, ketundukan dan rasa membutuhkan kepada Allah- -ini akan membuahkan pengaruh yang sangat banyak, di antaranya,
1. Ketawadhuan hamba di hadapan seluruh manusia : tidak sombong, takabbur, dan membanggakan diri. Sebaliknya, ia tawadhu di hadapan makhluk sebagai buah dari ketundukkannya kepada Allah- -. Sikap tawadhu ini merupakan sebab terbesar untuk memperbaiki hubungan seorang hamba dengan orang lain, sebagaimana sabda Rasulullah- -,




Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bertawadhu sehingga seseorang tidak menyombongkan diri dan berbuat aniaya terhadap orang lain (HR. Muslim)

2. Mengaitkan hati kepada Allah- -dalam setiap urusan : menyerahkan setiap urusan kepada-Nya dan menggantungkan semua hajat kepada Allah- -.

3. Bertambahnya keimanan seorang Mukmin karena apa yang disebutkan di atas merupakan bentuk ibadah yang sangat agung. Maka dari itu, tatkala seorang manusia telah menyempurnakan perkara ini, akan bertambahlah imannya dan semakin tinggi kedudukannya di sisi Allah- -.

8-Berlindung kepada Allah- -
Berlindung kepada Allah- - merupakan buah dari apa yang disebutkan sebelumnya. Apabila telah tertanam dalam jiwa seorang hamba bahwasanya Allah- - adalah pemilik segalanya, di tangan-Nyalah kekuasaan langit dan bumi, dan Dia- -Mahakuasa atas segala sesuatu, maka saat itulah ia akan berlindung kepada Allah- -, pemilik alam semesta, pemilik kemuliaan dan kekuasaan. Ia akan mendatangi pintu-Nya, mengakui semua nikmat yang telah Allah- -karuniakan kepadanya, serta mengakui kelemahan dan kekurangan dirinya dengan penuh pengharapan dan rasa takut kepada-Nya. Ia mengetahui bahwasanya tidak ada tempat lari dari-Nya kecuali kepada-Nya. Tidak ada yang bisa terlepas dari perhitungan Allah- -kecuali orang-orang yang dirahmati-Nya. Ia mengharapkan pertolongan dan kekuatan dari-Nya, khususnya pada saat tertimpa masibah dan bencana. Selain itu, ia meninggalkan sesuatu selain Allah- -, baik manusia, batu, malaikat, maupun wali yang shalih, dan menyandarkan seluruh hajatnya hanya kepada Allah- -semata. Sebab, ia mengetahui bahwasanya tidak ada yang memiliki sesuatu pun di alam semesta ini kecuali Allah- -. Sikap kembali dan bergantung kepada Allah- -ini merupakan inti dan hakikat ubudiyyah(peribadatan)

9-Malu kepada Allah- -
Malu kepada Allah merupakan adab yang sangat agung. Sesungguhnya seorang Mukmin jika telah tertanam dalam jiwanya bahwasanya Allah- -mendengar setiap ucapan, melihat setiap amal, mengetahui seluruh perkara baik yang tersembunyi maupun yang nyata, selalu mengawasinya, mengetahui seluruh keadaannya, dan mengawasi setiap apa yang dilakukan masing-masing jiwa, maka ketika itu ia akan merasa malu sebab Allah- -melihatnya mengucapkan kata-kata yang buruk, melakukan perbuatan jelek, atau berusaha dalam berbuat kerusakan. Rasa malu ini akan selalu ada dalam setiap keadaannya. Tidak pernah terlepas atau terpisah darinya selamanya, terlebih lagi saat ia bersendiri. Jika ia jauh dari pandangan manusia dan berdiam seorang diri, maka ia merasakan kebersamaan Allah- -dengannya. Dengan demikian, ia malu karena Allah- -melihatnya melakukan kemaksiatan.

Rasa malu ini merupakan suatu yang sangat bermanfaat bagi seorang hamba dan memiliki pengaruh yang sangat besar, di antaranya :
1. Bersegera melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Hal itu dilakukan karena malu jika Allah- -melihat hamba-Nya yang Mukmin meninggalkan suatu perintah atau melakukan larangan. Sesungguhnya seorang Mukmin malu jika Allah- - melihatnya dalam keadaan seperti itu.

2. Malu Allah- -kepada hamba. Sesungguhnya balasan itu sesuai dengan amal. Barang siapa malu kepada Allah- - untuk berbuat maksiat, niscaya Allah- -akan malu mengazabnya pada hari Kiamat. Dalam sebuah hadis Rasulullah- -bersabda tentang tiga orang yang berada dalam sebuah majlis ilmu :




Adapun salah seorang dari mereka kembali kepada Allah, maka Allah pun menyambutnya. Seorang yang lain malu kepada Allah, maka Allah pun malu kepadanya. Sementara yang lain lagi berpaling, maka Allah pun berpaling darinya. (HR. al-Bukhari, 66 dan Muslim, 2176 dari Abu Waqid al-Laitsi)

3. Menanamkan pada diri seorang Mukmin rasa malu kepada makhluk. Sesungguhnya barang siapa yang membiasakan malu kepada Allah- -, maka rasa malu itu akan menghalanginya untuk melakukan keburukan. Rasa malu itu akan menjadi kebiasaan, tabiat dan perangainya sehingga menjadikannya malu kepada manusia dan mencegahnya dari perbuatan buruk. Malu adalah bagian dari iman, sebagaimana sabda Nabi- -,


a


Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang, dan malu adalah cabang dari iman. (HR. Muslim, 35 dari Abu Hurairah)

10-Mengamalkan Konsekwensi Makna Asma (Nama) dan Sifat Allah- -
Mengamalkan konsekwensi makna Asma (Nama) dan Sifat Allah- -merupakan buah keimanan yang sangat agung. Sebab, seorang yang beriman kepada Allah- -meyakini apa-apa yang ditetapkan bagi Dia- -dari nama-nama-Nya yang husna (indah) dan sifat-sifat-Nya yang ulyai (tinggi), dan menetapkan bagi-Nya kesempurnaan makna-maknanya yang hakiki, serta makna-makna ini tertanam dalam jiwanya serta meresap ke dalam hatinya, maka keimanan ini akan membuahkan hasil yang nyata dalam perilaku dan muamalahnya, tanpak pada anggota badannya dan tercermin dari perkataan maupun perbuatannya.

Maka barang siapa beriman bahwasanya Allah- -Maha Mendengar niscaya ia tidak akan berbicara dengan ucapan yang dapat mengundang kemurkaan Allah- -, takut Allah- - akan mencatatnya dan mengadzabnya karena hal itu. Barang siapa mengimani bahwasanya Allah- -Maha Melihat, menyaksikan dan mengawasi, niscaya ia akan takut Allah- -melihatnya berbuat maksiat dan mengadzabnya dengan siksa yang pedih. Maka dari itu, ia pun tercegah dari perbuatan maksiat dan berhenti melakukannya. Barang siapa meyakini bahwasanya Allah- - Mahaperkasa, niscaya ia tidak akan tunduk kepada selain Allah- - dan tidak merendahkan diri kecuali kepada-Nya. Barang siapa mengimani bahwasanya Allah- -berkuasa menahan dan membentangkan rizki, niscaya ia tidak akan meminta kelapangan rizki atau yang lainnya kecuali kepada-Nya. Barang siapa mengimani bahwasanya Allah- -Maha Kuat lagi Maha Perkasa, niscaya akan semakin bertambah ketundukannya kepada-Nya dan kekuatan seluruh manusia terasa kecil dalam dirinya sehingga ia tidak merasa takut dan lemah di hadapan mereka.

Demikian halnya dengan semua nama-nama dan sifat Allah- - yang lain. Kita harus merasakan hakikat maknanya secara sempurna dan mengamalkan seluruh konsekwensinya. Inilah hakikat menghitung nama-nama Allah yang disebutkan oleh Rasulullah- - dalam sebuah hadis :




Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa menghitungnya, niscaya ia masuk Surga (HR. al-Bukhari, 6410, Muslim, 2677 dan lafazh ini miliknya, dari Abu Hurairah)

Menghadirkan makna nama-nama Allah- -yang husna (indah) dan sifat-sifat-Nya yang ulya (tinggi) merupakan suatu yang sangat bermanfaat bagi seorang Mukmin. Di samping itu, merupakan sebab terbesar yang meluruskan perilaku maupun anggota badannya hingga menjadi sebab kebaikan hatinya, anggota badan, serta amal perbuatannya. Ini merupakan realisasi kebenaran tauhid.

Wallahu Alam

(Redaksi)

Sumber :
Mausuah al-Aadaab al-islamiyyah, Abdul Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada, E.I. hal. 24-31


























Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatannur&id=944