Artikel : Bulein Annur - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Tercelanya Berlebihan

Jumat, 17 Juni 22

Berlebihan merupakan tindakan yang tercela. Tercelanya tindakan ini disinggung di dalam kitab Allah- -. Dan, Allah- -juga memberikan peringatan dan celaan terhadap para pelaku tindakan ini, menjelaskan tentang apa yang Allah - - persiapkan bagi mereka berupa hukuman di dunia dan di akhirat. Disebutkan di dalam al-Quran di lebih dari 20 tempat tentang peringatan terhadap sikap dan tindakan berlebihan ini dan celaan terhadap orang-orang yang bersikap dan bertindak berlebihan. Allah- - menghabarkan bahwasanya Dia- -tidak menyukai orang-orang yang bersikap dan bertindak demikian. Allah- -berfirman,


[ : 31]


Jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan (al-Araf : 31)

Allah- -juga mengabarkan bahwa orang-orang yang berlebih-lebihan merupakan penduduk Neraka. Dia- -berfirman,


[ : 43]


Sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka. (al-Ghafir : 43)

Allah- -juga mengabarkan bahwa berlebih-lebihan merupakan sebab kebinasaan para pelakunya dan turunnya hukuman kepada mereka, di dunia dan di akhirat. Allah- -berfirman,


[ : 9]


Kemudian Kami tepati janji (yang telah Kami janjikan) kepada mereka. Maka Kami selamatkan mereka dan orang-orang yang Kami kehendaki dan Kami binasakan orang-orang yang melampaui batas (al-Anbiya : 9)

Allah- -juga berfirman,


[ : 16]


Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (al-Isra : 16)

Allah- -juga mengabarkan bahwa berlebih-lebihan merupakan sesuatu yang diperindah oleh nafsu yang selalu mendorong kepada kejahatan dan merupakan sesuatu yang dihiasi oleh setan. Allah- -berfirman,


[ : 12]


Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan. (Yunus : 12)

Allah- -juga mengabarkan bahwa berlebih-lebihan merupakan sebab yang mewajibkan pelakunya terhalang dari mendapatkan hidayah dan taufiq dari Allah- -. Allah- -berfirman,


[ : 28]


Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (Ghafir : 28)

Allah- -juga berfirman,


[ : 34]


Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu. (Ghafir : 34)
Ayat-ayat yang semakna dangan ayat-ayat ini cukup banyak jumlahnya.

Israf (belebih-lebihan) adalah tindakan melampaui kesederhanaan dan batas keseimbangan. Tidak hanya berlaku dalam hal pendayagunaan harta semata sebagaimana yang dipahami oleh banyak orang.
Iyas bin Muawiyah- -mengatakan,




Sesuatu yang engkau melampaui perintah Allah, maka hal tersebut adalah saraf (tindakan melampaui batas atau berlebih-lebihan)

Dengan demikian, maka tindakan melampaui batas atau berlebih-lebihan itu memiliki bentuk dan rupa yang cukup banyak dan beragam, tidak sebatas pada aspek pendayagunaan harta, makan dan mimun atau hal-hal lain yang bersifat konsumtif.

Dan, tindakan melampaui batas atau berlebih-lebihan yang paling berbahaya dan paling buruk adalah kekufuran terhadap Allah- -Tuhan semesta alam dan penyekutuan terhadap-Nya dengan mengadakan tandingan-tandingan bagi-Nya serta mendustakan para Rasul dan para Nabi-Nya. Allah- - berfirman,


[ : 127]


Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal. (Thaha : 127)

Termasuk bentuk israf (melampaui batas atau berlebih-lebihan) adalah israf dalam hal membunuh, yaitu dengan membunuh orang yang bukan pembunuh, atau bertindak melampaui batas terhadap keluarga atau kerabat pembunuh secara zhalim dan melampaui batas. Atau, bertindak melampaui batas terhadap si pembunuh itu sendiri dengan memperlakukannya semena-mena. Kesemua itu merupakan israf (tindakan melampaui batas atau berlebih-lebihan) lagi diharamkan. Allah- - berfirman,


[ : 33]


Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan. (al-Isra : 33)

Termasuk israf pula adalah melakukan perbuatan keji dan buruk. Oleh karena itu, Nabi Luth- -dalam nasehatnya dan peringatannya yang disampaikannya kepada kaumnya mengatakan,


[ : 81]


Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. (al-Araf : 81)

Dan Allah- - berfirman ketika menyebutkan rangkaian hukuman yang ditimpakan kepada mereka,


(31) (32) (33) (34) [ : 31 - 34]


Ibrahim bertanya: "Apakah urusanmu hai para utusan?"
mereka menjawab: "Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth),
agar Kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah,
yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk membinasakan orang-orang yang melampaui batas. " (adz-Dzariyat : 31-34)

Dan, secara umum bahwa setiap orang yang melakukan tindakan dosa dan kesalahan, maka hal tersebut termasuk kategori israf (berlebih-lebihan atau melampaui batas) dan pelakunya berpeluang mendapatkan hukuman.

Adapun tindakan berlebih-lebihan atau melampaui batas dalam hal pendayagunaan harta, makan, minum, berpakaian dan hal-hal lainnya merupakan perkara yang telah masyhur dan diketahui. Allah - -berfirman,


[ : 31]


Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.(al-Araf : 31)

Imam Ahmad- - di dalam Musnadnya meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari hadis Abdullah bin Amr bin al-Ash- bahwa Nabi- - bersabda,




Makanlah, minumlah, bersedekahlah dan kenakanlah pakaian tanpa kesombongan dan berlebih-lebihan.

Dan, imam al-Bukhari di dalam Shahihnya meriwayatkan secara muallaq dari Ibnu Abbas- bahwa ia mengatakan,


:


Makanlah apa yang kamu inginkan, kenakanlah pakaian yang kamu inginkan. Janganlah dua hal menjatuhkanmu ke dalam kesalahan, yaitu, (1) berlebih-lebihan dan (2) kesombongan.

Israf, tindakan berlebih-lebihan atau melampaui batas terkait dengan harta benda, makanan, minuman, pakaian adalah segala hal yang melampaui batas dalam hal ini, baik dalam hal mendapatkannya atau dalam hal cara mendayagunakannya. Kesemuanya itu mungkin dimasuki oleh tindakan berlebih-lebihan atau melampaui batas. Karena, setiap hal yang melampaui batas syariat dalam hal-hal tersebut, baik dalam upaya mendapatkan harta atau pendayagunaannya, maka hal tersebut termasuk bentuk israf dan pelakunya menawarkan diri untuk mendapatkan hukuman.

Dengan demikian maka harta hasil riba, suap, judi, menipu orang lain, bertindak curang terhadap mereka dalam melakukan transaksi jual beli, kesemuanya itu merupakan tindakan melampaui batas dan berlebih-lebihan dalam hal upaya mendapatkan harta benda.

Begitu pula halnya mengonsumsi makan dan minuman yang diharamkan oleh Allah- -, seperti mengonsumsi hal-hal yang dapat menghilangkan kesadaran atau melemahkan, minum khamer, menghisap rokok, dan yang lainnya. Kesemua itu merupakan tindakan melampaui batas atau berlebih-lebihan. Betapa banyak harta yang hilang tanpa guna dalam transaksi jual beli hal-hal yang diharamkan ini. Kesemuanya itu merupakan bentuk tindakan melampaui batas atau berlebih-lebihan dan pelakunya menawarkan diri untuk mendapatkan hukuman.

Dalam hal berpakaian, betapa banyak manusia yang terjatuh kedalam beragam bentuk tindakan melampaui batas atau berlebi-lebihan yang diharamkan ini, di mana mereka melampaui batasan-batasan yang telah ditentukan dan diataur oleh Allah- -, baik dalam bentuk mengenakan hal-hal yang dikenakan yang secara dzatnya diharamkan oleh syariat; seperti (memakai) emas dan kain sutra bagi kalangan lelaki. Atau pun dalam bentuk melampaui batas syariat dalam hal mengenakannya; seperti isbal pada pakaian dan mengenakan pakaian syuhrah (ketenaran), dan yang lainnya. Kesemuanya itu termasuk tindakan berlebih-lebihan atau melampaui batas yang diharankan dan pelakunya telah menawarkan diri untuk mendapatkan hukuman.

Termasuk pula tindakan berlebih-lebihan atau melampaui batas adalah berlebih-lebihan dalam menyelenggarakan acara-acara atau perayaan, terlebih acara atau pesta pernikahan dan yang semisalnya. Betapa banyak di dalamnya terjadi berbagai bentuk dan ragam tindakan melampaui batas dan berlebih-lebihan yang sangat buruk. Belum lagi tentang adanya beragam tindakan yang diharamkan dan gambar-gambar yang mungkar. Hal tersebut masuk dalam cakupan tindakan berlebih-lebihan atau melampaui batas dan pelakunya telah menawarkan diri untuk mendapatkan hukuman.

Dengan demikian tindakan melampaui batas atau berlebih-lebihan merupakan pintu yang lebar, diketahui oleh setiap orang yang mau memahaminya dan merenungkannya.

Karena itu, tidakkah kita sepantasnya bertakwa kepada Rabb kita, Allah- - dan hendaknya pula kita ingat bahwa sesungguhnya tempat kembali kita pasti kepada Allah- -, bahwa sesungguhnya kita akan berdiri di hadapan-Nya- -, bahwa sesungguhnya Dia- -akan menanyai kita, karena itulah hendaknya kita mempersiapkan jawaban atas pertanyaan yang akan diajukan kepada kita. Hendaknya jawaban tersebut merupakan jawaban yang benar. Allah- -benar-benar telah mengajak para hamba-Nya di dalam satu ayat di dalam al-Quran-yang ayat ini disifati dengan bahwa ayat ini merupakan ayat yang paling diharapkan di dalam al-Quran- untuk bertaubat kepada-Nya dari tindakan israf (melampaui batas atau berlebih-lebihan) dalam segala bentuknya, seraya mengingatkan hamba-hamba-Nya bahwasanya Dia- akan menerima taubat orang-orang yang bertaubat dan akan merima inabah orang-orang yang kembali kepada-Nya, betapapun (besarnya) dosa itu dan betapapun (banyaknya) kejahatan itu. Allah- berfirman,


[ : 53]


Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Az-Zumar : 53)

Dan di antara doa yang terdapat di dalam al-Quran al-Karim adalah,


[ : 147]


"Ya Tuhan Kami, ampunilah dosa-dosa Kami dan tindakan-tindakan Kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". (Ali Imran : 147)

Dan telah valid di dalam Shahih Muslim bahwa Nabi kita- -biasa mengucapkan di antara tasyahud dan salam di dalam shalatnya,




Allahumma ighfir lii maa qaddamtu wa maa akhkhartu wa maa as-rartu wa maa alantu, wa maa asraftu, wamaa anta alamu bihi minnii. Antal Muqaddimu Wa Antal Muakhiru. Laa Ilaaha Illaa Anta.
Ya Allah ! Ampunilah dosa yang telah aku lakukan dan yang aku akhirkan, apa yang aku rahasiakan dan apa yang aku tampakkan, apa yang aku lakukan secara berlebih-lebihan dan apa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku. Engkau yang mendahulukan dan mengakhirkan, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau."

Semoga Allah- -meluruskan langkah-langkah kita semua, memperbaiki kondisi kita seluruhnya. Sesungguhnya Dia - - Maha Mendengar dan Mengijabah doa. Dialah Dzat yang menjadi tumpuan harapan kita. Cukuplah Allah- -menjadi penolong bagi kita dan Dia- -adalah sebaik-baik pelindung.
Amin

(Redaksi)

Sumber :
Al-Israafu, Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Badr- -.


Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatannur&id=978