Artikel : Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits
Hukum Enggan Menasehati Karena Takut Riya
Selasa, 02 Februari 10


Pertanyaan :

Seorang wanita bertanya dengan mengatakan: Saya takut riya, sampai-sampai saya tidak bisa menasehati orang lain atau mencegahnya dari perbuatan-perbuatan tertentu, seperti; menggunjing, menghasud dan lain-lain. Saya khawatir itu bisa menimbulkan riya pada diri saya, dan saya khawatir orang mengiranya riya. Karena itu saya tidak menasehati mereka sedikitpun, bahkan terdetik dalam hati saya bahwa merekapun orang-orang terpelajar, mereka tidak membutuhkan nesehat. Bagaimana petunjuk Syaikh ?


Jawaban :

Ini termasuk reka perdaya setan untuk menghalangi manusia dari berdawah, dan menegakkan amar maruf nahi mungkar. Diantaranya adalah dengan meniupkan keraguan bahwa ini termasuk riya, atau khawatir orang-orang menganggapnya riya. Seharusnya anda tidak memperdulikan hal ini, bahkan anda seharusnya menasehati saudari-saudari dan saudara-saudara anda jika anda melihat penyepelean kewajiban atau perbuatan haram seperti menggunjing, menghasud dan tidak berhijab terhadap laki-laki non muhrim. Jangan takut riya, tapi ikhlaskan karena Allah, tulusnya terhadapNya, dan bergembiralah dengan kebaikan. Tinggalkan tipu daya setan dan bisikan-bisikannya, karena Allah Maha Mengetahui maksud yang ada di dalam hati anda dan Allah pun Maha Mengetahui keikhlasan anda karena Allah Subhanahu Wata'ala dan loyalitas anda terhadap para hambaNya.

Tidak diragukan lagi, bahwa riya adalah syirik kecil, tidak boleh dilakukan. Namun seorang mukmin atau mukminah tidah boleh meninggalkan yang diwajibkan Allah atasnya yang berupa dawah serta menegakkan amar maruf nahi mungkar karena takut riya. Kendati demikian hendaknya waspada terhadap hal ini, hendaknya ia melaksanakannya di tengah-tengah kaum laki-laki dan perempuan. Baik laki-laki maupun perempuan sama saja dalam hal ini. Allah Subhanahu Wata'ala telah menjelaskannya, sebagaimana firmanNya :



Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta'at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (At-Taubah: 71)

[Majalatul Buhuts, edisi 37, hal. 171-172, Syaikh Ibnu Baz]


Sumber: Fatwa-Fatwa Terkini, jilid 2, hal: 342-343, cet: Darul Haq Jakarta, diposting oleh Wandy Hazar S.Pd.I.

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatfatwa&id=1150