Artikel : Hadits - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Miraj Nabi- -

Jumat, 09 Februari 24
**

Allah- -berfirman,


[ : 1]


Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjidil Haram ke al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (al-Isra : 1)
**

Ayat di atas berbicara tentang Isra, sedangkan tentang Miraj, Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkannya,




Dari Anas bin Malik dari Malik bin Shashaah- - bahwa Nabi- -bercerita kepadanya tentang malam saat beliau di-Isra-kan, beliau bersabda, Ketika aku sedang berada di Hijr Ismail dalam keadaan berbaring tiba-tiba ada yang datang menghampiriku sambil berkata dan aku mendengar ucapannya yang mengatakan, Bedahlah bagian sini hingga bagian sini. Aku bertanya kepada Jarud yang berada di sampingku, Apa maksudnya ? Ia berkata, Dari pangkal tenggorokan sampai bagian dadanya dan aku mendengarnya ia berkata dari bagian dadanya hingga pusarnya, lalu ia mengeluarkan hatiku, kemudian dibawakan bejana emas yang berisi iman, maka hatiku pun dicucinya, kemudian dijahit dan dikembalikan pada tempat semula.




Kemudian aku dibawakan seekor hewan tunggangan yang lebih kecil dari bighal (peranakan antara kuda dan keledai) dan lebih besar dari keledai. Jarud berkata kepadanya, Itu adalah Buraq, wahai Abu Hamzah ? Anas berkata, Ya, ia meletakkan langkah kakinya di penghujung pandangan matanya. Kemudian aku dibawa naik di atasnya.




Jibril berangkat membawaku hingga sampai di langit dunia, beliau pun minta dibukakan. Seraya ditanya, Siapa ini ?, Jibril menjawab, Jibril. Siapa yang bersamamu ? Jibril menjawab, Muhammad Apakah diutus kepada-Nya ? Ya. Jawab Jibril. Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang. Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, beliau bertemu dengan Adam- -, Jibril berkata : Ini adalah kakekmu Adam, ucapkanlah salam kepadanya, maka aku pun mengucapkan salam kepadanya dan ia pun membalasnya, kemudian berkata, Selamat datang putra dan Nabi yang shalih.




Kemudian Jibril membawaku naik lagi menuju langit kedua. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya Siapa ini?, Jibril menjawab, Jibril. Siapa yang bersamamu ? Jibril menjawab, Muhammad. Apakah diutus kepada-Nya? Ya. Jawab Jibril. Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang. Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, di sana beliau bertemu dengan Yahya dan Isa - -,anak dari bibinya. Jibril memperkenalkannya, Ini adalah Yahya dan Isa, ucapkanlah salam kepada keduanya, maka aku mengucapkan salam kepada keduanya dan keduanya pun menjawab salam tersebut, kemudian keduanya berkata, Selamat datang saudara dan Nabi yang shalih.




Kemudian Jibril membawaku naik lagi menuju langit ketiga. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, Siapa ini ?, Jibril menjawab, Jibril. Siapa yang bersamamu ? Jibril menjawab, Muhammad. Apakah diutus kepada-Nya ? Ya. Jawab Jibril. Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang. Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, beliau bertemu dengan Yusuf- -,. Jibril memperkenalkannya, Ini adalah Yusuf, ucapkanlah salam kepadanya, maka aku mengucapkan salam kepadanya dan beliau pun menjawab salam tersebut, kemudian berkata, Selamat datang saudara dan nabi yang shalih.




Kemudian Jibril membawaku naik lagi menuju langit keempat. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, Siapa ini ? JIbril menjawab, Muhammad. Apakah diutus kepada-Nya? Ya jawab Jibril. Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang. Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, beliau bertemu dengan Idris - -. Jibril memperkenalkannya, Ini adalah Idris, ucapkanlah salam kepadanya maka aku mengucapkan salam kepadanya dan beliau pun menjawab salam, kemudian berkata, Selamat datang saudara dan nabi yang shalih.




Kemudian beliau naik lagi membawaku menuju langit kelima. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, Siapa ini ? Jibril menjawab, Jibril.. Siapa yang bersamamu ? Jibril menjawab, Muhammad Apakah diutus kepada-Nya ? Ya jawab Jibril. Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang. Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, beliau bertemu dengan Harun- - , Jibril memperkenalkannya, Ini adalah Harun, ucapkanlah salam kepadanya maka aku mengucapkan salam kepadanya dan beliau pun menjawab salam tersebut, kemudian berkata, Selamat datang saudara dan nabi yang shalih.




Kemudian beliau naik lagi membawaku menuju langit keenam. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, Siapa ini ? Jibril menjawab, Jibril.. Siapa yang bersamamu ? Jibril menjawab, Muhammad Apakah diutus kepada-Nya ? Ya jawab Jibril. Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang. Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, beliau bertemu dengan Musa- - , Jibril memperkenalkannya, Ini adalah Musa, ucapkanlah salam kepadanya. Maka, aku pun mengucapkan salam kepadanya dan beliau pun menjawab salam tersebut, kemudian berkata, Selamat datang saudara dan nabi yang shalih.




Ketika aku meninggalkannya, Musa menangis. Lalu ditanyakan kepadanya, Apa yang menyebabkan kamu menangis ? Musa menjawab, Aku menangis, karena ada seorang anak yang diutus setelahku, tapi umatnya lebih banyak yang masuk Surga daripada umatku.




Kemudian beliau naik lagi membawaku menuju langit ketujuh. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, Siapa ini ? Jibril menjawab, Jibril.. Siapa yang bersamamu ? Jibril menjawab, Muhammad Apakah diutus kepada-Nya ? Ya jawab Jibril. Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang. Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, beliau bertemu dengan Ibrahim- -, Jibril memperkenalkannya, Ini adalah kakekmu Ibrahim, ucapkanlah salam kepadanya, aku pun mengucapkan salam kepadanya dan beliau pun menjawab salam tersebut, kemudian berkata, Selamat datang anak dan nabi yang shalih.




Kemudian aku dibawa ke Sidratul muntaha yang di dalamnya terdapat pohon-pohon besar yang dedaunannya selebar telinga gajah. Seraya berkata, Ini adalah Sidratul muntaha ynag memiliki empat aliran sungai, dua sungai bathiniyah dan dua sungai lagi lahiriyah.




Aku bertanya, Apa yang dimaksud dengan dua itu wahai Jibril ? Jibril menjawab, Dua sungai bathiniyah ini adalah dua sungai yang berada di dalam Surga dan dua sungai lahiriyah adalah Nil dan Eufrat.




Kemudian diangkat di hadapanku Baitul Makmur, kemudian disuguhkan kepadaku segelas khamer, segelas susu, dan segelas madu, aku pun memilih segelas susu. Jibril berkata, Itu adalah fithrah yang kamu dan umatmu berada padanya.




Kemudian diwajibkan atasku shalat 50 waktu sehari semalam, aku pun kembali, lalu aku bertemu Musa.




Musa pun bertanya (kepadaku), Apa yang diperintahkan kepadamu ? Nabi berkata, Aku diperintahkan shalat 50 waktu sehari semalam. Musa berkata (kepadaku), Umatmu tidak akan sanggup melakukan shalat 50 waktu sehari semalam. Demi Allah, aku pernah mencobanya pada manusia sebelum kamu, aku pun pernah memaksakan Bani Israil dengan serius. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan bagi umatmu.




Aku pun kembali (kepada Allah untuk meminta keringanan) maka dikurangi 10 waktu. Aku pun kembali dan bertemu Musa lagi, ia pun berkata seperti semula. Aku pun kembali (menemui Allah lagi), maka dikurang 10 waktu lagi.




Aku pun kembali bertemu Musa lagi, ia pun berkata seperti semula, aku pun kembali (menemui Allah), maka dikurangi 10 waktu.




Aku pun kembali bertemu Musa lagi, ia pun berkata seperti semula. Aku pun kembali (menemui Allah), maka aku diperintahkan untuk mengerjakan shalat 10 waktu setiap hari.




Aku pun kembali (bertemu Musa). Maka, Musa berkata seperti semula. Akupun kembali (menemui Allah). Maka aku diperintahkan untuk mengerjakan shalat 5 waktu setiap hari.




Aku kembali bertemu Musa lagi, ia pun berkata (kepadaku), Apa yang diperintahkan kepadamu? Aku menjawab Aku diperintahkan shalat 5 waktu setiap hari.




Ia berkata, Umatmu tidak akan sanggup shalat 5 waktu setiap hari, aku pernah mencobanya pada manusia sebelummu dan aku pun pernah memaksakannya kepada Bani Israil dengan serius, kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan bagi umatmu.




Ia (Nabi) berkata, Aku telah minta kepada Tuhanku hingga aku merasa malu. Akan tetapi, aku ridha dan menerimanya. Ketika aku meninggalkannya, terdengarlah sebuah seruan, Aku telah tetapkan kewajiban-Ku dan Aku telah ringankan dari hamba-hamba-Ku. [1]

Pelajaran :

Kisah Miraj Nabi - -di atas memberikan pelajaran yang sangat berharga, antara lain :

1-Keistimewaan shalat dengan disyariatkannya melalui peristiwa tersebut, di mana hal ini menjelaskan tentang kedudukan shalat dalam Islam. Ia merupakan pilar dan rukun yang sangat penting dalam Islam.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin- -berkata, Perhatikanlah bagaimana kewajiban shalat itu ditunda hingga pada malam yang mulia itu. Ini adalah untuk menjelaskan betapa pentingnya shalat itu. Karena :

a-Diwajibkan langsung dari Allah- -kepada RasulNya- -tanpa perantara.

b-Diwajibkan pada malam yang sangat mulia bagi Rasulullah- - .

c-Diwajibkan di tempat yang paling tinggi yang dapat dicapai oleh manusia.

d-Diwajibkan awalnya 50 waktu. Hal ini menunjukkan betapa sukanya Allah- -terhadap shalat dan betapa besar perhatian-Nya terhadap shalat. Namun, kemudian diringankan sehingga menjadi lima waktu yang dikerjakan, tetapi pahalanya tetap lima puluh waktu. Lima puluh di sini bukan berarti satu kebaikan dibalas sepuluh. Sebab, kalau ini yang dimaksud, maka shalat tidak memiliki keistimewaan dibandingkan dengan ibadah yang lainnya. Karena seluruh ibadah akan mendapatkan balasan sepuluh kali lipat. Akan tetapi, secara nyata bahwa manusia akan memperoleh pahala lima puluh waktu. Selain itu, ini adalah karunia Allah- -yang sangat besar untuk umat ini.[2]

2-Di antara bukti atas besar dan pentingnya kedudukan shalat adalah bahwa ia dikhususkan di antara kewajiban-kewajiban Islam dan keumuman ketaatan lainnya, yaitu bahwa Allah memirajkan NabiNya ke langit yang ketujuh, di sana, di langit yang ketujuh Allah mewajibkan shalat kepada beliau. Beliau mendengar perintah dan ketetapan Allah secara langsung tanpa ada perantara. Pertama kali diwajibkan sebanyak 50 shalat atas beliau, lalu beliau memohon kepada Allah agar meringankannya, sehingga ia diringankan jadi lima waktu. Maka jumlah shalat Fardhu adalah lima, namun lima puluh dalam pahala, sementara ketaatan-ketaatan yang umum, kewajiban-kewajiban dan ibadah-ibadah yang lain dibawa turun oleh Malaikat Jibril ke bumi, dialah yang mewahyukannya kepada Nabi - - dan menjelaskannya. Ini membuktikan kepada kita akan agungnya kedudukan shalat.

Satu hal yang sangat memprihatinkan, yaitu, sampainya kondisi sebagian kaum Muslimin yang menjadikan malam Isra dan Miraj sebagai malam perayaan, pada saat itu mereka membaca kasidah-kasidah, menggumamkan bait-bait, namun mereka menyia-nyiakan dan melalaikan ibadah shalat.

Siapa yang menyuruh mereka melakukan demikian ?

Siapa yang mengajak mereka kepada perbuatan tersebut ?

Di manakah sikap pendirian mereka dari peristiwa Miraj dan pelajaran besar yang terkandung di dalamnya, nasehat penting untuk menjaga shalat ?

Anda bisa melihat sebagian dari mereka sangat meremehkan dan melalaikan shalat, namun untuk urusan perayaan-perayaan yang diada-adakan seperti ini, mereka tidak mau ketinggalan sedikitpun.

Di manakah sikap pendirian mereka dalam ittiba, meneladani dan meniti jejak Rasulullah ?

Di manakah sikap pendirian mereka dari senyum, tertawa dan kebahagiaan beliau saat melihat umat beliau berkumpul di masjid mendirikan shalat ?

Sesungguhnya orang yang mencintai Rasulullah- -dengan sebenar-benarnya akan menerjemahkan cinta ini dan mengungkapkannya melalui sikap ittiba yang benar, keteladanan yang total, memedomani petunjuk beliau dan mengikuti sunnah beliau. Menerjemahkan dan mengungkapkan cinta kepada Nabi bukan dengan cara mendirikan perayaan dan membuat-buat perayaan musiman atau yang semisalnya yang sebagian orang diuji dengannya karena anggapan mereka bahwa ini termasuk bentuk cinta kepada Nabi. Demi Allah, demi Allah ! Seandainya ini adalah bukti cinta yang benar kepada Nabi, termasuk ittiba yang benar kepada beliau, niscaya orang-orang yang pertama kali dan paling bergegas melakukannya adalah para sahabat beliau dan para tabiin yang mengikuti mereka dengan baik, akan tetapi para sahabat dan para tabiin yang mengikuti mereka dengan baik sama sekali tidak melakukan sedikitpun dari apa yang orang-orang tersebut lakukan, karena perbuatan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka hanya semata-mata demi meneladani beliau, mengikuti Sunnah beliau, dan memegang teguh petunjuk beliau. [3]

Wallahu Alam

(Redaksi)

Catatan :

[1] Muttafaq alaih, lafazh ini adalah lafazh milik imam al-Bukhari, no. 3887, bab : al-Miraj, dan Shahih Muslim 1/149 no. 264.

[2] Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, Asy-Syarh al-Mumti Ala Zaad al-Mustaqni 2/6 dan Syarah Riyadhis Shalihin 2/326-327.

[3] Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Tazhimu ash-Shalati, hal. 17-18.

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihathadits&id=431