Artikel : Kajian Islam - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits - ,

Pendidikan Anak Dalam Islam
oleh :

Dalam memahami permasalahan ini pada zaman sekarang manusia terbagi menjadi dua golongan yang berseberangan dan satu di tengah-tengah. Di antara mereka ada yang sangat berlebih-lebihan hingga menghidupkan perselisihan yang tidak pernah usai dan memunculkan fitnah di kalangan orang awam, dia mengharuskan orang-orang untuk memahami rincian dan istilah-istilah yang tidak dapat dicerna oleh akal mereka, dan kemampuan mereka tidak bisa memahaminya. Semua itu menyebabkan terjadinya perdebatan dan pertentangan yang tidak ada yang mengetahui akhirnya selain Allah. Bahkan menjadikan perselisihan itu landasan dalam menentukan hukum al-wala wal bara.

Di antara mereka ada yang melampaui batas dalam mengingkarinya dan menganggap tidak ada manfaat dalam membicarakannya. Mereka melarang untuk menyibukkan diri dalam urusan ini dan menganggapnya sebagai fitnah yang masuknya saja sudah merupakan perbuatan terlarang, dia mencela dan melaknat orang yang menghidupkannya. Sungguh keyakinan semacam ini sangat tidak benar. Sesungguhnya surat Al-Ikhlas senilai dengan sepertiga Al-Quran padahal di dalamnya tidak ada yang lain selain sifat dan asma Allah Subhaanahu Wata'ala.

Firman Allah Subhaanahu Wata'ala,

(1) (2) (3)

Katakanlah, Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia. (Al-Ikhlash: 1-4).

Demikian pula dengan ayat kursi yang merupakan ayat yang paling agung dalam Al-Quran. Di dalamnya tiada lain adalah pemahaman tentang Allah dan pembahasan tentang asma dan sifat-Nya.

Firman Allah Subhaanahu Wata'ala,

Allah, tidak ada Ilah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Al-Baqarah: 255).

Di antara orang-orang yang sependapat dengan pendapat pertama dan yang sependapat dengan pendapat kedua ada golongan yang berada di tengah-tengah. Tidak berlebih-lebihan sebagaimana orang yang khusus mendalaminya, juga tidak meninggalkannya sama sekali. Akan tetapi mengharuskan orang awam untuk memahaminya dengan ungkapan yang tetap, yang tidak ada keraguan maupun sesuatu yang membingungkan. Sementara perkara-perkara yang membahas secara rinci dan teliti, yang tidak bisa dijangkau oleh pemikiran orang awam diserahkan kepada orang-orang yang berilmu. Sehingga pembahasan mengenainya hanya diserahkan kepada orang-orang khusus saja, dengan mengambil pelajaran dari kenyataan yang ada, yang telah melalaikan umat-umat pada saat ini. Tidak menjadikan orang yang berbeda pendapat dengannya sebagai kelompok lain yang saling bermusuhan. Juga tidak mendiamkannya sehingga pandangan menjadi kabur dan perkaranya menjadi samar. Namun mereka senantiasa menyampaikan kepada manusia apa yang benar dan memilah permasalahan berdasarkan tingkat pemahaman akal manusia.

Allah Subhaanahu Wata'ala berfirman menerangkan hubungan antara Al Quran dengan neraca (keadilan) agar manusia berbuat adil,

Allahlah yang menurunkan kitab dengan (membawa) kebenaran dan (menurunkan) neraca (keadilan). (Asy-Syura: 17).

Dan firman-Nya,

Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. (Al-Hadid: 25).

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=indexkajian&id=1§ion=kj001