Artikel : Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits
Perintahkan Keluargamu untuk Shalat !
Kamis, 24 Februari 22
Khutbah : Pertama


. :


Wahai orang-orang yang beriman, hamba-hamba Allah !
Bertakwalah kepada Allah, karena sesungguhnya barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjaganya, membimbingnya kepada kebaikan urusan agamanya dan dunianya.
Bertakwa kepada Allah adalah


.


Amal ketaatan kepada Allah, berdasarkan cahaya (petunjuk) Allah, karena mengharapkan pahala Allah. Meninggalkan kemaksiatan kepada Allah, berdasarkan cahaya (petunjuk) Allah, karena takut akan adzab Allah.

Wahai orang-orang yang beriman, hamba-hamba Allah !
Sebuah perintah ilahi yang mulia dan sebuah arahan rabbaniy nan agung namun kebanyakan manusa tidak memperhatikannya dan justru menyia-nyiakannya, perintah tersebut adalah firman Allah di akhir-akhir surat Thaha :


[ : 132]


Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa (Thaha : 132)

Dan ini-wahai orang-orang yang beriman-merupakan perintah dari Allah kepada nabi-Nya dan makhluk pilihan-Nya Muhammad bin Abdillah- -. Sedangkan apa yang Allah perintahkan kepada Nabi-Nya - - maka hal itu merupakan perintah untuk ummatnya, selagi tidak ada dalil yang menunjukkan pengkhususan hal itu untuk beliiau- - sementara itu tidak ada dalil yang mengkhsuskan untuk ini, berdasarkan kesepakatan para ulama. Karena itu, wajib atas setiap ayah dan setiap waliyul amri untuk perhatian dengan perhatian yang besar terhadap anak-anaknya dan terus memantau mereka secara cermat dan teliti dalam urusan shalat yang merupakan rukun Islam paling agung setelah dua kalimat syahadat, setelah dirinya sendiri menjaga shalat, perhatian terhadapnya, sabar dalam mengerjakannya. Sehingga pada dirinya terdapat keteladanan yang baik untuk anak-anaknya, kemudian ia menjadi pemantau bagi anak-anak mereka, memotisi dan mendorong mereka agar melaksanakan shalat dan menjaganya sebagimana hal itu diperintahkan oleh Allah- -.


[ : 132]


Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa (Thaha : 132)

Wahai orang-orang yang beriman...
Dan ayat yang mulia ini menujukkan kepada dua kedudukan nan agung yang haruslah diwujudkan :
Pertama, perhatian seseorang terhadap dirinya sendiri untuk menjaga shalat dan sabar dalam mengerjakannya; Hal demikian itu karena tidak dipungkiri dalam kehidupan ini ada banyak ragam bentuk perkara yang menyibukkan dan memalingkan manusia dari mengerjakan shalat dan menjaganya di sepanjang waktu-waktunya. Ada yang tersibukkan oleh tidur, ada pula yang tersibukkan oleh kemalasan, dan ada pula yang tersibukkan oleh permainan dan hal-hal yang lainnya. Sungguh hal-hal yang menyibukkan itu banyak, sementara perkara shalat ini wahai hamba-hamba Allah-merupakan perkara yang membutuhkan kepada kesabaran, pembiasaan, pengawasan dan pemantauan hingga seseorang menjadi golongan orang-orang yang istiqamah melaksanakan shalat dan menjaganya.

Adapun yang kedua-wahai hamba-hamba Allah- yaitu perhatian terhadap orang-orang yang dibawah tanggung jawabnya dari kalangan keluarga dan anak-anak untuk mendidik mereka agar menjaga shalat dan memiliki perhatian dengannya, dan pemantauan mereka dalam perkara yang nan agung ini.

Semakna dengan makna ayat yang mulia ini adalah apa yang diriwayatkan oleh imam Abu Dawud di dalam sunannya dari hadis Abdullah bin Amr bin al-Ash- bahwa Nabi- bersabda,




Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat saat mereka telah berusia tujuh tahun. Dan pukullah mereka (ketika mereka enggan mengerjakannya) saat mereka telah berusia sepuluh tahun. Dan, pisahkanlah di antara mereka di tempat pembaringannya.

Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya hal ini merupakan bentuk pemantauan dan pengawasan yang sangat ditekankan sejak usia dini dan termasuk pula bentuk perhatian terhadap anak-anak sejak usia dini dari kehidupan mereka. Maka, semenjak tahun ketujuh, seorang anak diperintahkan untuk mengerjakan shalat, didorong dan dimotivasi untuk mengerjakannya. Dan kala telah berusia sepuluh tahun, jika ia ogah-ogahan mengarjakan shalat, atau mengabaikannya, atau menyia-nyiakannya, maka ia boleh dipukul dengan pukulan yang mendidik bukan pukulan yang menyakitkan, apalagi yang menimbulkan kerusakan.

Wahai orang-orang yang beriman, hamba-hamba Allah !
Sesungguhnya kedudukan shalat merupakan kedudukan nan agung, sementara itu, jika orang yang memandang mau melihat, orang yang merenungkan mau memikirkan tentang sebuah fenomena yang merupakan fakta yang terjadi di rumah-rumah banyak orang, niscaya ia mendapati bahwa penyepelean urusan yang satu ini ternyata datang dari sisi para orang tua, di mana seorang ayah, justru ia menyepelekannya, ia tidak menjadi sosok teladan bagi anak-anaknya dalam hal menjaga shalat, sehingga muncullah dari bawahnya anak-anak yang meremehkan shalat dan mengabaikannya. Karena, anak-anak itu tumbuh di atas media yang disemaikan oleh ayah-ayah mereka.

Wahai hamba-hamba Allah !
Tidak ada kejahatan yang dilakukan seorang ayah terhadap anaknya yang semisal dengan menyepelekan urusan shalat. Tindak kejahatan terhadap mereka dalam perkara ini merupakan tindak kejahatan yang sangat besar. Renungkanlah sebuah perkataan yang diungkapkan oleh al-Imam Ibnul Qayyim- - di mana beliau - - mendorong para ayah terkait dengan persoalan nan besar ini, beliau - - mengatakan :


ǻ.


Maka, barang siapa mengabaikan perkara mengajari anaknya apa-apa yang memberikan manfaat kepadanya dan meningalkannya begitu saja, sungguh ia telah berlaku buruk kepadanya seburuk-buruknya. Dan, kebanyakan anak-anak itu kerusakan mereka justru datang dari arah para ayah, dan karena ketidakpedulian mereka (para ayah itu) terhadap mereka (anak-anaknya), meninggalkan kewajiban mengajari mereka tentang kewajiban-kewajiban agama dan sunnah-sunnahnya : mereka menyia-nyiakan anak-anaknya sejak kecil sehingga mereka tidak dapat mengambil manfaat dari diri mereka sendiri dan mereka pun tidak dapat memberikan manfaat kepada ayah-ayah mereka saat telah dewasa.

Iya, wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya hal ini merupakan perkara yang benar-benar sangat bebahaya, yang menuntut seorang ayah agar pertama-tama ia menjadi penasehat untuk dirinya, kemudian menjadi seorang penasehat untuk orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya dari kalangan keluarganya dan anak-anaknya. Mendidik mereka untuk mengerjakan shalat dan meyeru mereka untuk menjaganya dan memiliki perhatian terhadapnya.

Wahai anak yang terbimbing !
Bila Allah- -memuliakanmu dengan seorang ayah yang perhatian terhadapmu dalam perkara shalat ini, di mana ia memotivasimu dan menyemangatimu, maka janganlah engkau merasa terusik oleh ayahmu atau merasa terganggu karena pengawasannya terhadap dirimu. Karena, sejatinya-demi Allah-ia (ayahmu itu) melakukan tindakan untuk menyelamatkan dirimu dari kemurkaan Allah, ia melakukan tindakan untuk menyampaikanmu kepada keridhaan Allah- -karena sesungguhnya Allah tidak ridha terhadapmu kecuali bila engkau menjadi bagian dari orang yang memiliki perhatian terhadap perkara shalat, mengerjakannya dan menjaganya. Dan, renungkanlah sanjungan Allah nan harum kepada NabiNya, Ismail berikut ini, Allah berfirman,


[ : 55]


Dan dia menyuruh keluarganya untuk (melaksanakan) shalat dan (menunaikan) zakat, dan dia seorang yang diridhai di sisi Tuhannya (Maryam : 55)

Iya, dia seorang yang diridhai di sisi Allah, karena ia telah melakukan sebab yang dengannya akan diperoleh keridhaan Allah dan sebab terbesar untuk mendapatkan hal itu adalah perhatian terhadap shalat, melaksakannya dan menjaganya, mendidik anak-anaknya agar menjaganya.

Wahai orang-orang yang beriman, hamba-hamba Allah !
Alangkah butuhnya kita agar pada diri-diri kita terdapat karakter orang-orang yang menjaga shalatnya, orang-orang yang senantiasa memantau dan mengawasi anak-anaknya dalam hal penunaian shalat.

Alangkah butuhnya pula kita kepada kejujuran dalam memohon kepada Allah agar Dia- - menjadikan kita dan anak-anak kita termasuk ahli shalat dan menjaganya. Dan, di antara doa yang sangat agung dalam posisi ini adalah doa yang dipanjatkan Ibrahim al-Khalil- -,


[ : 40]


Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku (Ibrahim : 40)


.


Khutbah Kedua :


.
:


Wahai orang-orang yang beriman, hamba-hamba Allah !
Bertakwalah kepada Allah- - , sadarilah selalu pengawasanNya, dengan kesadaran orang yang mengetahui bahwa Rabbnya mendengarnya dan melihatnya.

Wahai orang-orang yang beriman, hamba-hamba Allah !
Imam Malik- - di dalam Muwathanya meriwayatkan dari Zaed bin Aslam, dari ayahnya, bahwa Umar bin Khaththab- -biasa mengerjakan shalat malam sebanyak apa yang dikehendaki Allah, ketika sampai di akhir-akhir waktu malam, beliau membangunkan keluarganya agar melakukan shalat, beliau mengatakan kepada mereka (keluarganya) (lakukanlah shalat !, lakukanlah shalatlah !). Kemudian, beliau membaca ayat ini,


[ : 132]


Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa (Thaha : 132)

Maka, renungkanlah keadaan para salafush shaleh, para pendahulu kita yang baik-semoga Allah merahmati mereka dan meridhai mereka- bersama dengan arahan rabbani nan agung ini, kemudian renungkanlah fakta dan keadaan banyak orang di tengah-tengan kehidupan kita saat ini dalam hal kelalaian mereka dan penyia-nyiaan mereka dan tidak adanya upaya mereka untuk mendidik anak-anak mereka agar mengerjakan shalat dan menjaganya yang merupakan kewajiban nan agung ini !

Wahai orang-orang yang beriman, hamba-hamba Allah !
Kita memohon kepada Allah- - agar memberikan taufik kepada kita semuanya untuk menjaga shalat ini, dan semoga pula Dia- -memperbaiki anak-anak kita, menjadikan kita dan mereka termasuk orang-orang yang tetap melaksanakan shalat.

Bershalawatlah dan bersalamlah kalian atas Nabi kita Muhammad bin Abdillah sebagaimana yang Allah perintahkan kepada kalian di dalam kitab-Nya,


[ : 56]


Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman ! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah dengan penuh penghormatan kepadanya (al-Ahzab : 56)

Sementara Nabi- - telah bersabda,




Barang siapa bershalawat kepadaku sekali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.


.
.

.





.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
: .


Wahai hamba-hamba Allah, ingatlah Allah, niscaya Dia mengingat kalian, Bersyukurlah kalian kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya niscaya Dia menambahkan (nikmat-Nya) kepada kalian. Sungguh mengingat Allah adalah perkara yang paling besar. dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatkhutbah&id=343