Allah
ta'ala berfirman:
ÔóåöÏó Çááåõ Ãóäóøåõ áÂóÅöáóåó ÅöáÇóø åõæó æóÇáúãóáÇóÆößóÉõ æóÃõæúáõæÇ ÇáúÚöáúãö ÞóÂÆöãðÇ ÈöÇáúÞöÓúØö áÂóÅöáóåó ÅöáÇóø åõæó ÇáúÚóÒöíÒõ ÇáúÍóßöíãõ {18} Åöäóø ÇáÏöøíäó ÚöäÏó Çááåö ÇúáÅöÓúáÇóãõ æóãóÇÇÎúÊóáóÝó ÇáóøÐöíäó ÃõæÊõæÇ ÇáúßöÊóÇÈó ÅöáÇóø ãöä ÈóÚúÏö ãóÇÌóÂÁóåõãõ ÇáúÚöáúãõ ÈóÛúíðÇ Èóíúäóåõãú æóãóä íóßúÝõÑú ÈöÆóÇíóÇÊö Çááåö ÝóÅöäóø Çááåó ÓóÑöíÚõ ÇáúÍöÓóÇÈö {19}
"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.(18) Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisabNya." (Ali Imran: 18-19).
_________________________________
Tafsir Ayat :
(18)Ini adalah persaksian paling mulia yang bersumber dari Raja Yang Maha Agung, dan dari para malaikat serta orang-orang yang berilmu, atas suatu perkara yang paling mulia yang disaksikan yaitu pengesaan Allah dan penegakanNya akan keadilan. Itu semua mengandung persaksian atas seluruh syariat dan seluruh hukum-hukum pembalasan, karena syariat dan ajaran itu dasar dan pondasinya adalah
tauhidullah dan pengesaanNya dengan ibadah dan pengakuan akan keesaanNya dalam sifat-sifat keagungan, kesombongan, kebesaran, keperkasaan, kuasa dan kemuliaan, juga dengan sifat kedermawanan, kebajikan, kasih sayang, perbuatan baik, keindahan, dan dengan kesempurnaanNya yang mutlak yang tidak dapat dihitung oleh seorang pun dari makhluk untuk meliputi sedikit pun darinya atau mereka mencapainya atau mereka sampai kepada sanjungan atasNya. Dan ibadah-ibadah yang syar'i dan muamalah serta hal-hal yang mengikutinya, perintah maupun larangan, semua itu adalah keadilan yang tidak ada kezhaliman padanya, kesewenang-wenangan dalam keadaan apapun, bahkan semua itu berada pada puncak dari hikmah dan kepastian, serta balasan terhadap amalan-amalan shalih maupun buruk, semua itu adalah keadilan,
Þõáú Ãóíõø ÔóìúÁò ÃóßúÈóÑõ ÔóåóÇÏóÉð Þõáö Çááåõ ÔóåöíÏõõ Èóíúäöí æóÈóíúäóßõãú æóÃõæÍöìó Åöáóíóø åóÐóÇ ÇáúÞõÑúÁóÇäõ áÃõäÐöÑóßõã Èöåö æóãóä ÈóáóÛó ÃóÆöäóøßõãú áóÊóÔúåóÏõæäó Ãóäóø ãóÚó Çááåö ÁóÇáöåóÉð ÃõÎúÑóì Þõá áÂóøÃóÔúåóÏõ Þõáú ÅöäóøãóÇ åõæóÅöáóåõõ æóÇÍöÏõõ æóÅöäóøäöí ÈóÑöìÁõõ ãöøãóøÇ ÊõÔúÑößõæäó {19}
"Katakanlah, 'Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?' Katakanlah, "Allah." (Al-An'am: 19),
Maka
tauhidullah, AgamaNya dan pembalasanNya telah tetap (
tsabit) dengan ketetapan yang kuat yang tidak ada keraguan lagi padanya dan ia merupakan hakikat yang paling agung dan paling jelas. Dan Allah telah menegakkan atas hal itu bukti-bukti nyata dan dalil-dalil yang tidak mungkin lagi dihitung dan dijumlah.
Dalam ayat ini terdapat keutamaan ilmu dan ulama, karena Allah
ta'ala mengkhususkan mereka dalam penyebutan tanpa menyertakan manusia lainnya. Allah menyandingkan kesaksian mereka dengan kesaksianNya dan kesaksian para malaikatNya, dan Allah menjadikan kesaksian mereka adalah keterangan dan dalil yang paling besar atas ketauhidanNya, AgamaNya dan pembalasanNya. Seorang yang
mukallaf wajib menerima kesaksian yang adil lagi benar tersebut, dan termasuk di antara kandungannya adalah membenarkan mereka, bahwa para makhluk mengikuti mereka dan bahwa mereka adalah para pemimpin yang diikuti. Dalam poin ini terdapat keutamaan, kemuliaan dan kedudukan yang tinggi yang tidak dapat diukur kadarnya.
Tafsir Ayat :
(19) Allah
ta'ala memberitakan, (Åöäóø ÇáÏöøíäó ÚöäÏó Çááåö)
"Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah" maksudnya, agama yang mana Allah tidak memiliki agama selainnya dan tidak pula diterima selainnya adalah, (ÇúáÅöÓúáÇóãõ)
" Islam," yang artinya ketundukan kepada Allah semata, secara lahir maupun batin dengan apa yang disyariatkanNya melalui lisan rasul-rasulNya, Allah
ta'ala berfirman,
æóãóä íóÈúÊóÛö ÛóíúÑó ÇúáÃöÓúáÇóãö ÏöíäðÇ Ýóáóä íõÞúÈóáó ãöäúåõ æóåõæó Ýöí ÇúáÃóÎöÑóÉö ãöäó ÇáúÎóÇÓöÑöíäó {85}
"Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (Ali Imran: 85),
Maka barangsiapa yang beragama dengan selain agama Islam, maka hakekatnya ia tidak beragama untuk Allah. Karena ia tidak menempuh jalan yang disyariatkanNya melalui lisan rasul-rasulNya.
Kemudian Allah
ta'ala memberitakan bahwasanya ahli kitab mengetahui hal itu, dan mereka berselisih dan menyimpang darinya hanya karena keras kepala dan kedengkian, sebab jika bukan karena itu maka sesungguhnya telah datang kepada mereka ilmu, yang mengharuskan tidak terjadinya perselisihan bahkan yang mengharuskan mereka memasuki agama yang sebenarnya. Kemudian setelah datang Muhammad
shallallohu 'alaihi wa sallam kepada mereka, maka mereka mengetahuinya dengan sebenar-benarnya, akan tetapi kedengkian, kezhaliman dan kekufuran kepada ayat-ayat Allah telah menghalangi mereka dari mengikuti kebenaran, (æóãóä íóßúÝõÑú ÈöÃóíóÇÊö Çááåö ÝóÅöäóø Çááåó ÓóÑöíÚõ ÇáúÍöÓóÇÈö)
"Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisabNya." Maksudnya, hendaklah mereka menunggu hal tersebut karena itu semua pasti akan tiba, dan Allah akan membalas mereka semua menurut apa yang telah mereka lakukan.
[
Sumber: Tafsir as-Sa'di, oleh syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa'di]