Artikel : Al-Quran - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Kaidah Ke-11 [Tukang Sihir Tidak Akan Pernah Mendapat Kemenangan]

Selasa, 07 September 21
Kaidah (Prinsip Pokok) ke-11


{ }


Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.
{ Thaha: 69}
Ini adalah salah satu kaidah al-Qur`an yang muhkam, yang harus ditampakkan di hadapan manusia, khususnya di zaman ini di mana pasar para tukang sihir dan tukang sulap banyak diminati. Ia adalah kaidah yang ditunjukkan oleh Firman Allah taala,




"Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang." (Thaha: 69). (Di antara orang yang menyatakan bahwa ini adalah salah satu kaidah al-Qur`an yang umum adalah Imam Muhammad bin Abdul Wahhab dalam tafsirnya, hal. 301.)
Dan semakna dengan kaidah ini Firman Allah taala,




"Ahli-ahli sihir itu tidak akan mendapat kemenangan." (Yunus: 77).
Kaidah ini termuat di dalam kisah Nabi Musa alaihissalam menghadapi para penyihir Fir'aun di Surat Thaha, setelah Musa menjanjikan kepada mereka, dia berada di parit, sementara Fir'aun dan para penyihir yang bersamanya berada di parit yang lain, dan ketika mereka semua berkumpul,


(65) (66) (67) (68) (69)


"(Setelah mereka berkumpul) mereka berkata, 'Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?' Berkata Musa, 'Silahkan kamu sekalian melemparkan.' Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka. Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berkata, 'Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat.' Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang." (Thaha: 65-69).

Sisi Keumuman Kaidah Ini:

Sudah menjadi ketetapan dalam ilmu nahwu, bahwa jika fi'il berada dalam kalimat negatif (nafi), maka itu membuatnya memiliki sifat umum, maka demikian juga fi'il "tidak akan menang" yang berada dalam kalimat negatif (nafi), maka hal itu menunjukkan keumumannya, sehingga (maknanya adalah): tukang sihir itu tidak akan pernah menang selama-lamanya, bagaimana pun dia melakukan tipu daya, dan renungkanlah bagaimana hal itu juga digeneralisasikan dengan tempat dengan FirmanNya, "dari mana saja dia datang." (Lihat Adhwa` al-Bayan, 4/551.)
Dalam pemilihan kata kerja "datang" dan bukan misalnya dengan ( ) "di mana saja ia berada" atau ( ) "di mana saja ia singgah" terdapat rahasia, dan barangkali rahasianya adalah: karena memperhatikan keadaan sebagian besar para penyihir tersebut yang didatangkan dari berbagai penjuru Mesir, sebagaimana Allah taala berfirman,




"Lalu dikumpulkan ahli-ahli sihir pada waktu yang ditetapkan di hari yang diketahui (orang banyak)." (Asy-Syu'ara`: 38). (Lihat at-Tahrir wa at-Tanwir, 9/144.)
Al-Allamah asy-Syinqithi berkata mengomentari ayat yang menyatakan bahwa tukang sihir tak akan pernah menang,
"Hal itu merupakan dalil yang menunjukkan kekufurannya, karena kemenangan tidak dinafikan secara total dan umum kecuali dari orang yang sama sekali tidak memiliki kebaikan, yakni orang kafir. Yang kami sebutkan ini ditunjukkan oleh dua perkara:

Pertama: Ayat-ayat yang menunjukkan bahwa tukang sihir itu kafir, seperti Firman Allah taala,




"Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setanlah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia." (Al-Baqarah: 102).
Maka FirmanNya, "Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir)," menunjukkan bahwa kalau Sulaiman itu seorang tukang sihir, dan itu mustahil beliau lakukan, berarti dia itu orang kafir, dan FirmanNya,




"hanya setan-setanlah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia", menunjukkan dengan jelas tentang kafirnya orang yang mengajarkan ilmu sihir.

Kedua: Dengan meneliti al-Qur`an, diketahui bahwa yang umum dalam masalah ini bahwa kata "tidak akan menang" maksudnya adalah orang kafir, sebagaimana FirmanNya azza wa jalla dalam Surat Yunus,


(68) (69)


"Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata, 'Allah mempuyai anak.' Mahasuci Allah; Dia-lah Yang Mahakaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? Katakanlah, 'Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung'." (Yunus: 68-69).
Dan FirmanNya dalam surat Yunus juga,


(17)


"Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayatNya? Sesungguhnya, tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa." (Yunus: 17). (Lihat Adhwa` al-Bayan, 4/552.)
Berapa banyak ayat di dalam Kitabullah yang berbicara tentang sihir dan para tukang sihir, dan mengabarkan tentang kesesatan dan kerugian mereka di dunia dan akhirat! Tetapi bersama ini semua, orang Mukmin akan banyak merasa heran, karena populernya pasar sihir dan para tukang sihir di negeri-negeri Islam!
Keheranan ini bukan karena adanya tukang sihir, baik laki-laki maupun perempuan, karena zaman yang paling utama sekalipun tidak bisa terbebas dari hal ini, yaitu zaman di mana Nabi- - hidup, apalagi zaman lainnya!
Dan keheranan ini juga bukan disebabkan oleh tukang sihir yang bekerja keras untuk mencari harta dengan segala cara!
Akan tetapi yang mengherankan adalah umat yang membaca kitab yang agung ini, membaca ayat-ayat yang jelas di dalamnya tentang peringatan keras dari sihir dan ahlinya, penjelasan kesudahan mereka dan akhir kehidupan mereka yang jelek di dunia dan akhirat, tetapi bersama semua itu, mereka berdiri secara berkelompok dan sendiri-sendiri di depan pintu para penyihir durjana itu, baik itu di depan rumah mereka, maupun di depan layar saluran sihir dan mantera, dan pasarnya sangat diminati sejak zaman yang lama! Mereka menginginkan dari mereka sebab-sebab dalam menimpakan keburukan terhadap seseorang, atau untuk menghilangkannya dari yang lain, seakan-akan mereka belum pernah membaca Firman Allah taala,




"Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Sungguh mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui." (Al-Baqarah: 102).
Yang jelas, bahwa kalaulah orang-orang tidak bertambah banyak (mengikuti) para tukang sihir itu, maka pasti pasar mereka juga tidak akan laku, dan kebatilan mereka pun tidak akan menyebar luas.
Sesungguhnya perjalanan manusia melewati kondisi sakit yang sulit (diobati), atau kondisi kejiwaan yang sangat parah, tidaklah membolehkannya memasuki pasar yang merugikan ini yakni, pasar sihir bagaimana mungkin dia mengharapkan keuntungan dari orang-orang yang sudah dihukumi dengan kerugian oleh Tuhan mereka? Sesungguhnya Allah- - lebih sayang dan lebih bijaksana dari mengharamkan mereka mendatangi para penyihir, lalu Dia tidak menurunkan penawar bagi mereka atas apa yang menimpa mereka itu! Sebagaimana Nabi- - bersabda,




"Setiap penyakit itu ada obatnya, maka apabila obat penyakit tersebut di(takdirkan) telah tepat, maka penyakit itu akan sembuh dengan izin Allah ." ( Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2204: dari Jabir.)
Dalam riwayat al-Bukhari dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi- -bersabda,


.


"Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit melainkan pasti Dia juga menurunkan obatnya." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 5678.)
Dan karena mudarat sihir yang besar, maka ia telah diharamkan oleh semua syariat (agama samawi).
Sesungguhnya orang yang yakin bahwa tukang sihir itu tidak akan pernah menang dari mana saja dia datang, dan meyakini bahwa para penyihir itu tidak akan pernah mendapat kemenangan, akan mendorongnya melakukan beberapa perkara, yang terpenting, di antaranya adalah:

(1). Menjauhi perbuatan mendatangi manusia jenis ini, yang mana Allah telah menafikan kemenangan bagi mereka di dunia dan akhirat, baik dengan niat berobat ataupun semacamnya. Dan bagaimana mungkin dia mengharapkan manfaat dari orang yang sudah ditetapkan oleh Rabb semesta alam bahwa dia akan rugi di dunia dan akhirat?!

(2). Berhati-hati dari pemikiran untuk mendalami salah satu macam sihir, apa pun alasannya, sama saja baik itu dengan niat mendapatkan pengasihan ataupun sharf (Sharf adalah salah satu macam sihir yang membuat seseorang membenci orang lain..), sebagaimana dilakukan oleh sebagian wanita, dan dia mengira bahwa niat membuat suami menjadi lebih perhatian kepadanya atau mencegah (suami)nya mempoligami dirinya, atau hal-hal yang serupa dengannya, bahwa hal itu membolehkan perbuatan yang dilakukannya itu, maka ini semua adalah termasuk tazyin (hiasan) dan talbis (kerancuan) setan.

(3). Hendaknya setiap orang yang mendalami sihir, atau yang menimbulkan sihir dalam perbuatannya, mengetahui bahwasanya dia berada dalam bahaya yang besar, dan bahwasanya dia telah menjual agamanya dengan harga yang rendah, dan bahwa setan-setan adalah guru-guru dan pengajar-pengajarnya dalam perbuatannya ini, sebagaimana Allah taala berfirman,




"Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setanlah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia...",
sampai dengan FirmanNya,




"Sungguh mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui." (Al-Baqarah: 102).

(4). Jika jiwa terasa lemah, dan setan telah membuatnya memandang baik sesuatu dari perbuatan-perbuatan mungkar ini, maka hendaklah dia cepat-cepat bertaubat waktu itu juga, meninggalkan perbuatan yang batil ini, dan meminta maaf kepada orang yang tersakiti dengan prosesi perbuatan ini, sebelum (datangnya hari di mana) dinar dan dirham tidak ada (gunanya lagi), dan sebelum dia dihadapkan untuk dihisab di hadapan Dzat Yang tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi darinya, yang mengetahui siapa yang menyihir dan siapa yang disihir, dan siapa yang mengakibatkan hal itu semua! Sehingga orang yang dizhalimi akan membalas orang yang menzhaliminya, pada saat di mana kebaikan lebih berharga dibandingkan dunia dan apa yang ada di atasnya!
Sesungguhnya keyakinan orang Mukmin terhadap kaidah ini, "Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang," termasuk di antara yang dapat memperkuat ibadah tawakal dalam dirinya, dan tidak merasa takut terhadap teror golongan manusia yang hina ini, yakni para tukang sihir, dan pada saat itu ia akan teringat Firman Allah taala,




"Bukankah Allah cukup untuk melindungi hambaNya?" (Az-Zumar: 36),
dan dalam sebuah qira`at,


( )


"Bukankah Allah cukup melindungi hamba-hambaNya?" Jawabannya adalah: "Tentu, demi Allah."
Di antara hal yang bagus untuk direnungkan dan dipikirkan adalah bahwa para penyihir tersebut, dengan banyaknya harta yang mereka miliki dan kehidupan yang mereka jalani berupa nikmatnya (merasakan) pandangan manusia tertuju pada mereka, tetapi (pada hakikatnya) mereka itu termasuk di antara orang-orang yang paling celaka dalam hidupnya, dan paling buruk jiwanya, dan ini tidak aneh! Karena barangsiapa yang menyerahkan kepemimpinannya kepada para setan dan kufur kepada Tuhan semesta alam, bagaimana mungkin dia bahagia atau bagaimana mungkin dia mendapat kemenangan?!



Sumber: 50 Prinsip Pokok Ajaran Al-Qur'an
Ditulis oleh: Dr. Umar bin Abdullah Al-Muqbil
Diposting Oleh: Ricky Adhita


Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatquran&id=359