Artikel : Al-Quran - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Kaidah Ke-12 [Yang Paling Mulia Adalah Yang Paling Bertakwa]

Kamis, 09 September 21
Kaidah (Prinsip Pokok) ke-12


{ }


Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling takwa diantara kamu.
{ Al-Hujurat: 13}

Ini adalah salah satu kaidah al-Qur`an yang muhkam (jelas), yang menunjukkan keagungan dan ketinggian Agama ini, dan keluhuran prinsip-prinsipnya.
Ayat yang agung ini terdapat dalam Surat al-Hujurat, dan kalau Anda mau namailah ia: "kumpulan adab", karena setelah Allah taala menyebutkan sejumlah adab yang agung dan kebiasaan-kebiasaan yang mulia, serta melarang sejumlah akhlak yang tercela dan tabiat yang buruk, Allah berfirman setelahnya, menetapkan dasar yang komprehensif yang mana akhlak yang baik bertitik tolak darinya dan bertambah dengannya, atau akhlak yang buruk menjadi musnah di hadapannya, dan bahwa ia adalah patokan keutamaan dan kemuliaan di sisi Allah,




"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Al-Hujurat: 13).
Ia benar-benar ayat yang agung, yang menampakkan neraca keadilan yang mana detailnya tidak pernah jelas sebagaimana ia nampak jelas dalam Agama ini.
Posisi strategis ayat yang mulia ini tidak akan menjadi jelas bagi Anda kecuali jika Anda membayangkan dalam benak Anda beberapa patokan yang digunakan oleh orang-orang Arab jahiliyah dalam interaksi mereka tentang pandangan mereka terhadap orang lain di luar kabilah mereka, baik mereka berasal dari kabilah lain yang lebih kecil derajatnya dari sisi nasab, atau tentang pandangan mereka terhadap orang-orang luar Arab, atau tentang interaksi mereka dengan para hamba dan bekas hamba!
(Saya suguhkan) kepada Anda peristiwa yang terjadi dalam kehidupan Nabi- -yang diceritakan oleh seorang sahabat yang memiliki dialek yang benar, Abu Dzar radhiyaallahu anhu. Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari hadits al-Ma'rur bin Suwaid, dia berkata,


: . : : ! : . : .


"Kami pernah melewati Abu Dzar di ar-Rabadzah, yang ketika itu beliau mengenakan selimut dan hamba sahayanya juga mengenakan selimut sepertinya, maka kami berkata, 'Wahai Abu Dzar, kalau engkau mengumpulkan antara keduanya, ia akan menjadi pakaian luar (yang bagus).' Beliau menjawab, 'Sesungguhnya dulu antara aku dan seorang laki-laki dari saudaraku terdapat pembicaraan, dan ibunya bukan orang Arab, maka aku mencelanya dengan ibunya itu', lalu dia mengadukanku kepada Nabi shollallohu alaihi wasallam, maka aku pun menemui Nabi shollallohu alaihi wasallam, beliau bersabda, 'Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau ini seseorang yang masih memiliki sifat jahiliyah!' Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, siapa saja yang mencela orang-orang, maka orang-orang itu akan mencela bapak dan ibunya.' Nabi bersabda, 'Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau ini seseorang yang masih memiliki sifat jahiliyah. Mereka adalah saudara-saudaramu (hanya saja) Allah menjadikan mereka ada dalam kekuasaanmu, maka berilah mereka makan dari apa yang kamu makan, berilah mereka pakaian dari pakaian yang kamu pakai, dan jangan membebani mereka dengan sesuatu yang tidak mampu mereka lakukan, dan apabila kamu membebani mereka, maka bantulah mereka'." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 5703; dan Muslim, no. 1661, dan ini adalah lafazh-nya.)

Inilah Abu Dzar, dengan kejujuran imannya dan kepeloporannya dalam masuk Islam, beliau dicela dan diingatkan oleh Nabi shollallohu alaihi wasallam karena beliau telah menyalahi kaidah al-Qur`an yang agung ini dan mencela seseorang dengan pola pikir orang-orang jahiliyah!
Ini bukanlah satu-satunya peristiwa di mana Nabi shollallohu alaihi wasallam mendidik agar mengambil petunjuk dengan petunjuk kaidah ini, bahkan beliau mengulang-ulangnya dengan berbagai metode penjelasan dan praktek, dan mungkin saya hanya akan mencukupkan diri dengan dua peristiwa berikut ini yang tidak mungkin dilupakan oleh orang-orang Arab dan Quraisy selama-lamanya:

Peristiwa pertama: adalah hari Fathu Makkah, pada saat Nabi shollallohu alaihi wasallam menyuruh Bilal naik ke atas Ka'bah untuk mengumandangkan adzan, sebuah pemandangan di mana sebagian orang-orang yang masuk Islam pada saat Fathu Makkah tidak pernah mengira mereka akan hidup untuk menyaksikan hamba sahaya Habasyi ini melakukan apa yang ia lakukan tersebut! Akan tetapi itu adalah Islam dan petunjuk Nabi shollallohu alaihi wasallam yang senantiasa mendidik dengan perbuatan dan perkataan.
Pada hari itu (yakni), Fathu Makkah Nabi shollallohu alaihi wasallam masuk ke dalam Ka'bah dan shalat di dalamnya, dan pikirkanlah oleh Anda, siapakah orang-orang yang terbayang (di benak Anda) yang mendapat kehormatan untuk menemani beliau memasuki Ka'bah ini, orang yang menutup pintu (Ka'bah) setelah beliau masuk, dan orang yang bersama beliau? Apakah mereka adalah Abu Bakar dan Umar radhiyallahu anhuma? Ternyata bukan. Kalau begitu, apakah dia adalah menantu dan suami kedua anak perempuan beliau, Dzun Nurain, Utsman, dan sepupu beliau, Ali radhiyallahu anhum? Juga bukan. Kalau begitu, apakah yang masuk (bersama Nabi itu) adalah sebagian pembesar-pembesar Quraisy yang masuk Islam pada saat Fathu Makkah? Juga bukan. Bahkan tidak ada yang masuk bersama beliau kecuali: Usamah bin Zaid orang kesayangan beliau yang merupakan putra dari orang kesayangan beliau juga-, lalu Bilal al-Habasyi, dan Utsman bin Thalhah yang bertanggung jawab atas kunci Ka'bah! (Hadits ini terdapat dalam ash-Shahihain dari hadits Ibnu Umar: yang diriwayatkan al-Bukhari, no. 2826; dan Muslim, no. 1329.)

Allahu akbar! Bukti praktis apalagi yang menunjukkan penghancuran standar-standar jahiliyah yang lebih besar dari ini? Padahal di antara orang-orang yang hadir terdapat orang yang lebih utama daripada Bilal dan Usamah, seperti para khalifah yang empat dan sepuluh orang yang diberi kabar gembira (masuk surga) lainnya!

Peristiwa kedua: adalah apa yang terjadi dalam sebuah peristiwa terbesar yang pernah dikenal oleh dunia pada waktu itu... ia adalah peristiwa haji wada', dan di antara kejadian yang terjadi pada haji wada' ini, (yaitu) ketika orang-orang bersiap-siap untuk pergi meninggalkan Arafah, tiba-tiba pandangan (orang-orang) tertuju kepada hewan tunggangan yang ditunggangi Nabi shollallohu alaihi wasallam, dan mereka bertanya-tanya: Siapakah yang akan mendapat kehormatan dibonceng oleh Nabi shollallohu alaihi wasallam? Maka tidak ada yang mencuri perhatian mereka selain Usamah, seorang mantan hamba sahaya beliau, dan anak kesayangan beliau yang merupakan anak dari mantan sahaya beliau, yang naik dibonceng di belakang Nabi shollallohu alaihi wasallam sementara orang-orang melihatnya!
Nabi shollallohu alaihi wasallam melakukan hal ini, dan beliaulah yang berkhutbah pada hari itu dengan khutbahnya yang agung yang mana beliau menetapkan pokok-pokok tauhid dan Islam di dalamnya, dan menghancurkan pokok-pokok kesyirikan dan jahiliyah, dan beliau berkata dengan perkataannya yang populer,


.


"Sesungguhnya segala sesuatu dari perkara jahiliyah berada di bawah kedua telapak kakiku ini."

Dua peristiwa ini hanyalah satu tetes dari lautan perjalanan hidup beliau shollallohu alaihi wasallam yang harum!
Begitu pula perjalanan hidup para sahabat beliau radhiyallahu anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, peristiwa-peristiwa (yang mereka alami) dalam masalah ini sangatlah banyak dan besar, saya mencukupkan diri dengan peristiwa ini yang menunjukkan kemuliaan dan keutamaan mereka, serta kemuliaan akhlak mereka yang sesungguhnya, yang menjadikan mereka layak menjadi contoh yang terbaik dalam menggambarkan universalitas Islam dan risalahnya:
Ali bin al-Husain bin Ali bin Abu Thalib radhiyallahu anhu yang terkenal dengan sebutan Zainal Abidin, dan dia termasuk penduduk Madinah ketika dia masuk masjid, dia berjalan melewati halaqah kaumnya, Quraisy, sehingga dia mendatangi halaqah Zaid bin Aslam dan Zaid adalah bekas budak akan tetapi dia termasuk di antara ulama-ulama besar Madinah di zamannya maka dia pun duduk di hadapannya. Dan karena itu, sepertinya sebagian orang mencelanya: bagaimana engkau duduk padahal engkau adalah laki-laki Quraisy sekaligus cucu Nabi shollallohu alaihi wasallam di hadapan seorang laki-laki bekas budak? Maka dia menjawab dengan satu kalimat yang benar-benar logis, "Seseorang itu hanya duduk di hadapan orang yang bermanfaat baginya dalam urusan agamanya." (Lihat Hilyah al-Auliya`, 3/138.)

Sesungguhnya di antara keagungan Agama ini adalah bahwa ia tidak mengaitkan kedudukan dan martabat manusia di sisi Allah dengan sesuatu yang tidak mampu dicapai oleh manusia, maka manusia tidak pernah memilih menjadi mulia nasabnya, kalau tidak demikian, pasti semua orang ingin memiliki hubungan dengan keturunan Nabi! Ia juga tidak mengaitkannya dengan tinggi dan pendek, tidak dengan ketampanan dan kejelekan (wajah) dan tidak juga dengan standar-standar yang berada di luar kemampuan manusia, bahkan ia mengaitkannya dengan standar yang berada dalam kemampuan manusia.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, "Tidak ada satu ayat pun dalam Kitabullah yang memuji seseorang dengan nasabnya, dan tidak pula mencela seseorang pun dengan nasabnya, akan tetapi ia memuji iman dan takwa, dan mencela kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan." (Daqa`iq at-Tafsir, 2/23.)

Dan di antara yang menguatkan perkataan Syaikhul Islam tersebut adalah bahwa Allah taala menurunkan satu surat penuh dalam mencela Abu Lahab karena kekufuran dan permusuhannya kepada Nabi shollallohu alaihi wasallam, dan Allah melarang NabiNya shollallohu alaihi wasallam mengusir orang-orang Mukmin dari para sahabatnya yang lemah, walaupun tujuan dari hal itu adalah keinginan untuk menarik hati para pembesar Quraisy. Allah taala berfirman,




Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Rabb-nya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-An'am: 52).
Allah taala juga berfirman kepada Nabi shollallohu alaihi wasallam dalam ayat lain,




"Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaanNya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami serta menuruti hawa nafsunya, dan keadaannya itu melewati batas." (Al-Kahfi: 28).

Di antara hal yang sangat disayangkan dalam realita zaman sekarang ini adalah adanya banyak contoh yang menyalahi kaidah yang mulia ini, "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu." Ia tercermin dari beberapa gambaran kembalinya fanatisme jahiliyah terhadap kabilah, yang (mana persoalannya) tidak berhenti pada batas mengenalkan personil-personil satu kabilah dan pujian yang mubah saja, bahkan melampaui hal itu (yang membawa) kepada sikap berlebihan dalam memuji dan loyalitas yang berlebihan terhadap kabilah, bahkan terkadang menyebutkan gelar-gelar yang buruk bagi kabilah lain, dan yang mana standar-standar syariat lenyap bagi sebagian orang disebabkan cara-cara seperti ini yang didedikasikan dan didukung keberadaannya oleh perlombaan-perlombaan syair yang diadakan oleh beberapa saluran on air, yang mengakibatkan terjadinya beberapa larangan syariat lainnya, dan di sini bukanlah tempat untuk menyebutkannya, karena tujuan saya hanyalah mengisyaratkan bahwa hal-hal tersebut bertentangan dengan apa yang ditunjukkan oleh kaidah al-Qur`an yang mulia ini. Maka orang yang mendengar dan membaca Firman Tuhannya, "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu", hendaklah ia bertakwa kepada Allah (dan takut kepadaNya) dari sikap membanggakan diri yang tercela, dan hendaklah orang Mukmin tetap sadar bahwa barangsiapa yang diperlambat oleh amalnya, maka nasabnya tidak akan mempercepatnya.

Kita memohon kepada Allah taala agar Dia melindungi kita dari perilaku orang-orang jahiliyah, dan menganugerahkan kepada kita agar selalu meneladani RasulNya shollallohu alaihi wasallam dalam segala urusan kita.

Sumber: 50 Prinsip Pokok Ajaran Al-Qur'an
Ditulis oleh: Dr. Umar bin Abdullah Al-Muqbil
Diposting Oleh: Ricky Adhita

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatquran&id=360