Artikel : Al-Quran - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Kaidah Ke-17 [Pekerja Terbaik Adalah Yang Kuat dan Amanah]

Selasa, 05 Oktober 21
Kaidah (Prinsip Pokok) ke-17


{ }


"Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.
{Al-Qashash : 26}

Ini adalah salah satu kaidah al-Qur`an yang muhkam dalam masalah-masalah muamalah dan hubungan antar manusia.
Kaidah al-Qur`an ini datang dalam konteks kisah Nabi Musa alaihissalaam dengan salah seorang penduduk Madyan dalam Surat al-Qashash, yang tidak mampu mencari air sehingga keluarlah dua anak perempuannya untuk memberi minum (ternak-ternaknya), walaupun kedua anak perempuan itu berdiri di belakang karena menunggu perginya orang-orang dari sumur, tetapi kepribadian dan kegagahberanian Musa mendorongnya untuk bersegera tanpa menunggu permintaan kedua wanita itu memenuhi kebutuhan mereka berdua dan memberi minum (ternak-ternak) kedua perempuan itu. Maka perbuatannya ini membuat kedua perempuan itu kagum, lalu keduanya memberitahukan hal tersebut kepada ayah mereka yang sudah tidak mampu lagi bekerja, maka sang ayah mengutus (seseorang) untuk mencari Nabi Musa alaihissalaam, dan ketika Nabi Musa alaihissalaamdatang dan mengabarkan keadaannya, maka salah seorang dari anak perempuannya, dan dialah orang yang paling tahu ketidakmampuan ayahnya dalam mengerjakan tugas laki-laki, berkata,



"Wahai bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang Anda ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya." (Al-Qashash: 26).

Maka perkataannya, "Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya", adalah alasan dari permintaannya, maka kekuatan (dibutuhkan) dalam pekerjaan, dan amanah (dibutuhkan) dalam melaksanakan (pekerjaan) sebagaimana mestinya.
Penyebutan dua sifat ini berasal dari sempurnanya akal perempuan ini yang melihat sempurnanya dua sifat ini dalam diri Nabi Musa alaihissalaam, karena dua sifat ini termasuk keinginan yang disepakati oleh para cendekiawan dari berbagai umat dan syariat.
Para ulama rahimahumullah telah menjadikan ayat ini sebagai kaidah bagi orang yang akan memegang suatu urusan tertentu, dan bahwa yang paling berhak dalam urusan tersebut adalah orang yang terpenuhi dua sifat ini padanya. Semakin besar tugas dan tanggung jawab, maka pemeriksaan terhadap ada dan tidaknya dua sifat ini semakin ketat pula.

Barangsiapa yang merenungkan al-Qur`an al-Karim, niscaya dia menemukan keterkaitan yang nyata dan jelas di antara dua sifat ini (kekuatan dan amanah) di banyak tempat, di antaranya:

1Gambaran Allah tentang penyampai wahyu dan risalah kepada para nabi dan rasul alaihimushsholatu wassalaam, yaitu: malaikat Jibril alaihissalaam, dalam FirmanNya subhaanahu wa taala,


(19) (20) (21)


"Sesungguhnya al Qur`an itu benar-benar Firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai 'Arasy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya." (At-Takwir: 19-21).

Lihatlah beberapa sifat yang Allah lekatkan kepada rasul dari kalangan malaikat yang mulia ini! Di antaranya adalah: Allah menyifatinya dengan kekuatan dan amanah, dan kedua sifat ini termasuk faktor terbesar keberhasilan dan kesempurnaan bagi orang yang melaksanakan pekerjaan tertentu.

2 Tempat kedua adalah perkataan Nabi Yusuf alaihissalaam kepada raja,




"Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan." (Yusuf: 55).

Maksudnya, pandai menjaga urusan yang aku pegang, sehingga tidak akan ada sesuatu pun yang tersia-sia pada selain tempatnya, pengontrol (harta) yang masuk dan keluar, mengetahui prosedur mengurus, memberi, dan menahan (harta), serta (mengetahui) cara bertindak dalam semua tindakan. Dan itu semua bukanlah ambisi Yusuf alaihissalaamterhadap kepemimpinan, tetapi itu adalah keinginannya agar bisa memberikan manfaat yang luas, karena beliau telah mengetahui bahwa diri beliau memiliki kemampuan, amanah, dan sifat pandai menjaga sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. (Tafsir as-Sa'di, hal. 400.)
Tidak samar lagi bahwa mengurus harta sejumlah anak yatim membutuhkan dua sifat ini, maka bagaimana dengan mengurusi harta yang berkaitan dengan segolongan manusia?! Atau bagaimana dengan mengurusi harta negara secara keseluruhan?! Oleh karena itu, Yusuf alaihissalaam menampakkan dua sifat ini, dan memuji dirinya dengan dua sifat ini, bukan karena pujian itu sendiri, tetapi karena memang kondisi ekonomi Mesir saat itu membutuhkan pengaturan manajemen hartanya dengan segera, khususnya ketika akan menghadapi menurut mimpi (Yusuf) tahun-tahun (sapi) kurus dan gersang, yang membutuhkan kebijaksanaan dan kecakapan dalam manajemen harta.

3Adapun tempat ketiga adalah: apa yang terdapat dalam kisah Sulaiman alaihissalaam, ketika memerintahkan orang-orang yang ada di sisinya untuk menghadirkan singgasana Balqis, ratu negeri Saba`,


(38) (39)


"Sulaiman berkata, 'Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri?' 'Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin berkata, 'Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya'." (An-Naml: 38-39).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata mengomentari ketiga tempat ini dengan sebuah perkataan yang berharga, saya nukil di bawah ini sebagiannya yang sesuai dengan tema kita. Beliau berkata,
"Dan hendaknya diketahui mana yang paling tepat di setiap posisi tugas; karena kepemimpinan itu memiliki dua tonggak: kekuatan dan amanah, sebagaimana Allah taala berfirman,


'Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.' (Al-Qashash: 26).

Kekuatan dalam setiap kepemimpinan itu berbeda-beda: kekuatan dalam memimpin peperangan kembali kepada keberanian hati, pengalaman berperang, taktik berperang karena perang itu memang taktik, dan kemampuan berbagai macam cara berperang: seperti memanah, menusuk, memukul, mengendarai kendaraan perang, menyerang, dan melarikan diri... sedangkan kekuatan dalam memutuskan perkara di antara manusia kembali kepada pengetahuan tentang keadilan yang ditunjukkan oleh al-Qur`an dan as-Sunnah, dan kemampuan merealisasikan hukum.
Amanah kembali kepada rasa takut kepada Allah, tidak menjual ayat-ayatNya dengan harga yang sedikit, dan tidak takut kepada manusia.
Ketiga sifat inilah yang dijadikan Allah sebagai kewajiban bagi orang yang memutuskan perkara di antara manusia dalam FirmanNya taala,


(44)


'Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepadaKu. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayatKu dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.' (Al-Ma`idah: 44)."

Sampai beliau berkata,
"Menyatunya kekuatan dan amanah pada manusia sangat jarang terjadi, oleh karena itu Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu pernah berdoa,
'Ya Allah, aku mengadu kepadaMu tentang kerasnya orang durjana dan lemahnya orang yang terpercaya.'
Maka yang seharusnya memimpin adalah orang yang paling cocok dengan kriterianya, maka apabila ada dua orang, salah satunya lebih besar amanahnya, sedangkan yang satunya lagi lebih besar kekuatannya, maka didahulukan yang paling banyak memberikan manfaat dalam kepemimpinan mereka dan yang paling sedikit mudaratnya. Itulah sebabnya orang yang kuat dan berani lebih didahulukan dalam memimpin peperangan walaupun pada dirinya terdapat perbuatan dosa daripada orang yang lemah dan tidak berdaya walaupun dia itu amanah, sebagaimana Imam Ahmad pernah ditanya tentang dua orang yang menjadi pemimpin dalam peperangan, yang satu kuat tapi suka melakukan perbuatan dosa, sedangkan yang satu lagi adalah orang shalih yang lemah, bersama siapakah (orang-orang) harus berperang? Beliau menjawab, 'Adapun seorang pendosa yang kuat, maka kekuatannya itu untuk kaum Muslimin, dan perbuatan dosanya untuk dirinya sendiri. Sedangkan orang shalih yang lemah, maka keshalihannya hanya untuk dirinya, dan kelemahannya untuk kaum Muslimin, maka (kaum Muslimin) harus berperang bersama pendosa yang kuat...'."

Kemudian Imam Ahmad melanjutkan perkataannya seraya menjelaskan manhaj Nabi shollallohu alaihi wasallam dan manhaj dalam menyikapi masalah ini:
"Oleh karena itu, Nabi shollallohu alaihi wasallam mempekerjakan seseorang untuk suatu maslahat padahal bersama pemimpin ini terdapat orang yang lebih utama darinya dalam ilmu dan iman."

Kemudian Syaikhul Islam meringkas perkataannya yang panjang dalam komentarnya terhadap ayat ini dengan berkata, "Yang penting dalam masalah ini mengetahui orang yang paling memberikan maslahat, dan hal itu hanya bisa terlaksana dengan mengetahui tujuan kepemimpinan, dan mengetahui jalan yang dituju, maka apabila tujuan dan sarana telah diketahui, bereslah perkara." (Lihat as-Siyasah asy-Syar'iyyah, dengan komentar Syaikh kami, Ibnu al-Utsaimin, hal. 42-63, dengan diringkas dan perubahan redaksi.)

Dan beliau telah mengucapkan kalimat yang ditulis dengan tinta emas, yaitu,
"Bahwa orang yang merealisasikan sifat amanah dengan menyelisihi hawa nafsunya akan dikokohkan oleh Allah, maka Allah akan menjaganya dalam urusan keluarga dan hartanya setelahnya, sedangkan orang yang menuruti hawa nafsunya akan dihukum oleh Allah dengan kebalikan dari keinginannya, maka keluarganya akan terhina, dan hartanya akan musnah. Dalam sebuah hikayat yang populer, (disebutkan) bahwa salah seorang khalifah Bani al-Abbas meminta salah seorang ulama untuk menceritakan apa yang dia tahu? Maka ulama itu berkata, 'Aku mengetahui Umar bin Abdul Aziz, dikatakan kepadanya, 'Wahai Amirul Mukminin, mulut anak-anakmu kosong dari harta ini, kamu meninggalkan mereka dalam keadaan fakir, tidak mempunyai apa-apa' ketika ia sakit (yang menyebabkan) kematiannya maka dia berkata, 'Wahai anak-anakku, demi Allah, aku tidak akan mencegah kalian mengambil hak kalian, dan aku tidak akan menjadi orang yang mengambil harta manusia lalu menyerahkannya kepada kalian. Kalian ini hanyalah salah satu dari dua orang: bisa jadi shalih, maka Allah akan mengangkat orang-orang shalih sebagai pemimpin, dan bisa jadi tidak shalih, dan aku tidak akan meninggalkan untuknya apa yang bisa membantunya bermaksiat kepada Allah. Sekarang berdirilah kalian, menjauhlah dariku!'
Orang alim ini yakni, yang menceritakan kisah ini- berkata, 'Sungguh aku melihat sebagian anak-anaknya mempersiapkan seratus kuda di jalan Allah, yakni memberikannya bagi orang-orang yang berperang (menunggang) kuda-kuda tersebut.'
Aku (Ibnu Taimiyyah) berkata, "Demikianlah, dia adalah khalifah kaum Muslimin, dari ujung timur negeri Turki, sampai ujung barat, negeri Andalus dan lainnya, jazirah Qubrush, perbatasan Syam dan al-Awashim, sampai ujung Yaman, tetapi masing-masing anaknya hanya mendapatkan bagian yang sedikit dari harta warisannya. Ada yang mengatakan, kurang dari dua puluh dirham! Dia yakni orang alim yang menceritakan kisah ini dan menasihati khalifah Abbasiyah berkata, 'Aku menyaksikan sebagian khalifah, dan harta warisannya telah dibagikan kepada anak-anaknya, maka masing-masing dari mereka mendapat enam ratus ribu dinar, dan (kini) aku telah melihat sebagian mereka mengemis kepada manusia'.(Mengemis kepada manusia, yakni, meminta-minta kepada mereka dengan telapak tangannya)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, "Dalam masalah ini terdapat hikayat-hikayat dan kejadian nyata yang dapat disaksikan di zaman ini dan didengar dari (zaman) sebelumnya, yang di dalamnya terdapat pelajaran bagi siapa saja yang memiliki akal." Demikian. (Lihat as-Siyasah asy-Syar'iyyah, dengan komentar Syaikh kami, al-Utsaimin, hal. 29-31; dan Sirah Umar, karya Ibnu Abdil Aziz, hal. 338.)

Barangsiapa yang menginginkan pembahasan yang lebih mendalam dalam memahami makna kaidah al-Qur`an yang agung ini, hendaklah dia merujuk kepada apa yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya, as-Siyasah asy-Syar'iyyah fi Ishlah ar-Ra'i wa ar-Ra'iyyah.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami agar kami bisa memahami kitabMu dan mengamalkannya, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang selalu menunaikan tugas yang diamanahkan Allah kepada kami.



Sumber:
50 Prinsip Pokok Ajaran Al-Qur'an
Ditulis oleh: Dr Umar bin Abdullah Al-Muqbil
Diposting Oleh: Ricky Adhita


Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatquran&id=365