Artikel : Al-Quran - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Kaidah Ke-18 [Makar Jahat Pasti Menimpa Pelakunya]

Rabu, 06 Oktober 21
Kaidah (Prinsip Pokok) ke-18


{ }


Makar (rencana) yang jahat itu tidak akan menimpa kecuali orang yang merencanakannya sendiri.
{Fathir: 43}
Kaidah al-Qur`an yang muhkam (bermakna jelas) ini datang untuk menjelaskan salah satu sunnah Allah azza wa jalla dalam interaksi makhluk dengan makhluk lainnya. Dan kaidah al-Qur`an ini datang dalam konteks ayat di Surat Fathir, yang bagus untuk disebutkan agar maknanya menjadi jelas. Allah azza wa jalla berfirman tentang sejumlah pembangkang,


(42) (43)


"Dan mereka bersumpah dengan Nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran), karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa kecuali orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu." (Fathir: 42-43). (Lihat penjelasan tentang sifat-sifat mereka dalam at-Tahrir wa at-Tanwir, 12/73.)

Makna Kaidah Ini Secara Ringkas:
Bahwa orang-orang kafir yang suka membangkang itu bersumpah dengan Nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah: Apabila datang kepada mereka seorang rasul dari Allah yang menakut-nakuti mereka akan azab Allah, niscaya mereka akan lebih istiqamah dan lebih mengikuti kebenaran daripada orang-orang Yahudi, Nasrani, dan lainnya. Tetapi ketika Nabi Muhammad shollallohu alihi wasallam datang kepada mereka, tidaklah hal itu menambahkan bagi mereka selain semakin menjauh dan semakin menghindar dari kebenaran. Sumpah mereka itu bukan didasari tujuan yang benar dan mencari kebenaran, tetapi ia hanyalah sebuah kesombongan terhadap makhluk di muka bumi. Mereka ingin membuat makar yang buruk, tipuan, dan kebatilan dengan (sumpah) itu. Dan rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Maka tidak ada yang ditunggu oleh orang-orang sombong yang membuat makar tersebut selain azab yang telah menimpa orang-orang seperti mereka yang telah mendahului mereka, karena Anda tidak akan menemukan perubahan dan penggantian pada sunnah Allah, sehingga tidak ada seorang pun yang mampu merubahnya, dan tidak ada yang mampu mengalihkan azab dari dirinya atau orang lain. (At-Tafsir al-Muyassar Tafsir al-Mujamma'.)
Makna yang ditetapkan oleh kaidah ini, juga terkandung dalam ayat-ayat lain dalam kitab Allah azza wa jalla, seperti FirmanNya taala,


"Wahai manusia, sesungguhnya (bencana) kezhalimanmu akan menimpa dirimu sendiri." (Yunus: 23).

Dan FirmanNya taala,


"Maka barangsiapa yang melanggar janjinya, niscaya (akibat) ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri." (Al-Fath: 10).

Bahkan Allah telah menetapkan bahwa cara-cara seperti ini yakni, makar merupakan salah satu metode musuh-musuh para rasul (untuk melawan) para nabi dan rasul. Allah subhanahu wa taala berfirman,

(42)



"Dan sungguh orang-orang kafir yang sebelum mereka (kafir Makkah) telah mengadakan tipu daya (makar), tetapi semua tipu daya (makar) itu adalah dalam kekuasaan Allah. Dia mengetahui apa yang diusahakan oleh setiap diri, dan orang-orang kafir akan mengetahui untuk siapa tempat kesudahan (yang baik) itu." (Ar-Ra'd: 42).

Allah subhanahu wa taala juga berfirman,


"Dan sungguh mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya." (Ibrahim: 46).

Kemudian contoh-contoh secara satuan yang menjelaskan makna kaidah ini, banyak terdapat dalam kitab Allah subhanahu wa taala , akan tetapi kami mencukupkan diri untuk mengisyaratkan sebagiannya saja, di antaranya:

(1). Kisah yang diceritakan oleh Allah tentang makar saudara-saudara Nabi Yusuf alaihissalam terhadap (Yusuf,) saudara mereka sendiri. Lalu bagaimana akibat (perbuatan makar mereka) tersebut? Allah subhanahu wa taala berfirman,


(102)


"Padahal kamu tidak berada pada sisi mereka, ketika mereka memutuskan rencananya (untuk memasukkan Yusuf ke dalam sumur) dan mereka sedang mengatur tipu daya (makar)." (Yusuf: 102).

Benar bahwa saudara-saudara Nabi Yusuf itu bertaubat, tetapi itu setelah mereka menyakiti ayah dan saudara mereka dengan berbagai macam gangguan, dan makar mereka kembali dengan yang tidak sesuai dengan keinginan mereka, malah Nabi Yusuf mendapatkan akibat yang baik, dan kesudahan yang terpuji dari kesabaran, sifat pemaaf, dan sikap santun.

(2). Firman Allah subhanahu wa taala tentang orang yang ingin melakukan tipu daya terhadap nabi Allah, Isa alaihissalam,


"Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya (makar) mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya." (Ali Imran: 54).

(3). Ketika orang-orang musyrik melakukan berbagai tipu daya untuk menyakiti Nabi kita shollallohu alihi wasallam, Allah berfirman tentang mereka,


(30)


"Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya (makar) terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya (makar) itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya (makar)." (Al-Anfal: 30).
Dan kesudahan (yang baik) berpihak kepada beliau shollallohu alaihi wasallam.

Kemudian dalam as-Sunnah dan sejarah, fakta sangat banyak. Barangsiapa yang membaca sejarah dengan mentadaburi dan merenungkannya, niscaya dia menemukan banyak pelajaran darinya, dan menemukan makna kaidah al-Qur`an yang muhkam (bermakna jelas) ini, "Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa kecuali orang yang merencanakannya sendiri."

Oleh karena itu, ketika rencana jahat terhadap Rasulullah shollallohu alihi wasallam semakin banyak, dan tipu daya terhadap beliau semakin besar, maka Allah menghibur beliau dengan ayat-ayat yang agung, yang memotivasi kepercayaan diri (terhadap Allah), ketenangan, harapan, dan kelegaan. Ini bukanlah hanya untuk beliau shollallohu alihi wasallam saja, bahkan ini adalah bagi setiap da'i yang menempuh jalan dakwah beliau yang mungkin merasakan adanya tipu daya dan rencana jahat orang (terhadapnya). Allah taala berfirman,


(127) (128)


"Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan." (An-Nahl: 127-128).

Maka Allah menjaga beliau dari rencana jahat dan tipu daya, Allah tidak membiarkan beliau menjadi sasaran orang-orang yang membuat rencana jahat dan melakukan tipu daya, karena beliau ikhlas dalam dakwahnya, tidak mengharapkan apa pun untuk (kepentingan) dirinya di balik (dakwahnya) itu. Dan Allah menimpakan gangguan kepada beliau untuk menguji kesabaran beliau, dan menunda kemenangan bagi beliau untuk menguji keyakinan beliau kepada Tuhan beliau, dan kesudahan beliau sudah bisa ditebak dan sudah populer,


(128)


"Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan." (An-Nahl: 128).

Barangsiapa bersama Allah, maka dia tidak akan bisa dikalahkan oleh orang-orang yang melakukan tipu daya dan rencana jahat. Yang penting dia menjaga teralis ketakwaan, dan tidak berhenti berbuat baik terhadap makhluk, kemudian setelah itu hendaklah ia bergembira dengan gagalnya tipu daya orang-orang yang membuat rencana jahat.
Mungkin Anda memperhatikan dalam kaidah al-Qur`an ini: bahwa kata "makar" (rencana) diimbuhkankan kepada "kejahatan", "Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa kecuali orang yang merencanakannya sendiri." Ini menjelaskan bahwa kata "makar" jika dilihat dari hakikat maknanya secara tersendiri, maka ia tidak tercela dan tidak dipuji, kecuali jika dilihat dari sisi akibatnya, jika rencananya untuk tujuan yang benar, maka itu terpuji, dan jika bukan (untuk tujuan yang benar), maka itu tidak (terpuji).
Mungkin Anda merenungkan hikmah dari diikutinya kaidah al-Qur`an ini dengan FirmanNya taala,


(43)


"Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu." (Fathir: 43).

Dan ini untuk menjelaskan bahwa kaidah al-Qur`an ini berlaku umum, dan padanya terdapat peringatan dari (akibat buruk) yang ditimbulkan oleh rencana jahat (makar atau konspirasi).
Dan apabila telah jelas bahwa pelajaran itu berlaku berdasarkan keumuman lafazh bukan dengan kekhususan sebab, maka semua rencana jahat masuk ke dalam ayat ini. Al-Allamah Ibnu Asyur berkata menjelaskan sebab berlaku umumnya dan mapannya kaidah ini, "Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa kecuali orang yang merencanakannya sendiri",
"Karena muamalah yang membahayakan seperti ini mengakibatkan meningkatnya kepercayaan manusia satu sama lain, dan Allah menetapkan hukum alam ini atas dasar saling tolong-menolongnya manusia satu sama lain, karena manusia adalah makhluk sosial secara tabiatnya, di mana apabila sekelompok manusia tidak merasa aman satu sama lain, maka mereka akan mengingkari satu sama lain, dan mereka bersegera (melakukan upaya untuk) membahayakan dan menghancurkan orang lain, agar masing-masing dari mereka selamat dari tipu daya orang lain sebelum (tipu daya itu) menimpanya, sehingga hal ini akan mengakibatkan kerusakan yang besar di alam ini. Dan Allah tidak menyukai kerusakan, dan tidak (menyukai) kemudaratan bagi hamba-hambaNya kecuali jika syariatNya menginginkan untuk sesuatu (hikmah).
Berapa banyak tipu daya yang tak disadari di dunia ini, padahal Allah taala telah berfirman,

(205)


'Dan Allah tidak menyukai kerusakan.' (Al-Baqarah: 205).
Dalam kitab Ibnu al-Mubarak, Zuhud, dengan sanadnya dari az-Zuhri disebutkan bahwa az-Zuhri berkata, Telah sampai kepada kami bahwa Rasulullah shollallohu alihi wasallam bersabda,

ǡ :


'Jangan membuat makar (rencana jahat), dan jangan menolong orang yang membuat makar (rencana jahat), karena Allah berfirman, 'Makar (rencana) yang jahat itu tidak akan menimpa kecuali orang yang merencanakannya sendiri'." ((Diriwayatkan oleh Imam Abdullah bin al-Mubarak dalam az-Zuhd, no. 725 (tahqiq Habiburrahman al-A'zhami) dan Imam az-Zaila'i berkata dalam takhrij al-Kasysyaf, no. 591 (tahqiq Abdullah bin Abdurrahman as-Sa'ad), "Ini adalah hadits mursal." Ed. T.).

Di antara perkataan orang-orang Arab,

ǡ .


'Barangsiapa yang menggali lubang untuk (mencelakakan) saudaranya, niscaya dia sendiri yang akan terjatuh nyungsep ke dalamnya.'

Berapa banyak adab-adab konstruktif, mukjizat-mukjizat al-Qur`an, dan mukjizat-mukjizat nabawi yang tersembunyi mengalir melalui ayat ini." (At-Tahrir wa at-Tanwir, 22/335-336.)
Apabila kita ingin melihat pengaruh kaidah al-Qur`an ini terhadap orang yang mengaplikasikannya, di dunia dan akhirat, maka hendaklah kita merenungkan kisah-kisah berikut ini yang disebutkan oleh Rabb kita dalam kitabNya tentang orang-orang yang membuat rencana jahat terhadap wali-waliNya dan para da'i yang menyeru ke jalanNya, di samping (kisah) yang telah disebutkan tentang sejumlah para nabi, kita juga menemukan contoh-contoh lain bagi para pengikut mereka, di mana Allah menyelamatkan mereka dari rencana jahat musuh-musuh mereka. Di antaranya:

(1). Fir'aun! Betapa sering dia membuat rencana jahat terhadap Bani Israil ketika mereka beriman kepada Allah! Di antara (yang beriman) tersebut adalah seorang laki-laki yang dikenal sebagai "orang Mukmin dari pengikut Fir'aun" yang kondisinya dijelaskan oleh Allah dalam Surat Ghafir! Renungkanlah Firman-Nya taala,


(45) (46)


"Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), 'Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras'." (Ghafir: 45-46).

Maka Allah menyelamatkan orang Mukmin, sedangkan Fir'aun dan tentaranya, maka mereka sekarang bahkan semenjak mereka mati dalam keadaan disiksa, sampai Hari Kiamat.

(2). Inilah Imam al-Bukhari rahimahullah pemilik ash-Shahih- banyak sahabat beliau berkata kepada beliau, "Sesungguhnya segolongan manusia telah membuat rencana jahat terhadap Anda", maka beliau menjawab,


(76)


"Sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah." (An-Nisa`: 76).
Beliau juga membaca,


"Makar (rencana) yang jahat itu tidak akan menimpa kecuali orang yang merencanakannya sendiri." (Fathir: 43).

Maka salah seorang sahabatnya berkata, "Kenapa Anda tidak mendoakan keburukan bagi mereka yang telah menzhalimi, memberi keburukan, dan menyebarkan berita bohong tentang Anda?" Beliau menjawab, "Nabi shollallohu alihi wasallam bersabda,

.


'Bersabarlah kalian sampai kalian bertemu denganku di telaga al-Haudh.'

(3). Ibnul Qayyim rahimahullah telah menyebutkan dari realita yang dijalani manusia contoh-contoh penerapan dan praktek kaidah ini dalam konteks pembicaraannya tentang orang-orang yang melakukan tipu daya untuk menghindar dari hukum-hukum Syariat, seperti orang-orang yang melakukan tipu daya agar dia bisa memakan riba dengan sebagian transaksi, melakukan tipu daya agar dia bisa melakukan salah satu jenis pernikahan (yang diharamkan), dan orang-orang seperti mereka. Beliau berkata,
"Orang yang melakukan tipu daya dengan kebatilan akan diperlakukan dengan kebalikan dari tujuannya secara syar'i dan Qadar. Manusia telah menyaksikan dengan mata telanjang bahwa barangsiapa yang hidup dengan rencana jahat, niscaya dia mati dengan kefakiran. Oleh karena itu Allah subhanahu wa taala menghukum orang yang melakukan tipu daya untuk menggugurkan bagian orang-orang miskin pada saat panen dengan mereka tidak mendapatkan semua hasilnya (Beliau mengisyaratkan dengan hal itu kepada kisah para pemilik kebun dalam Surat al-Qalam.).
Allah juga menghukum orang yang melakukan tipu daya untuk melakukan penangkapan ikan (hari Sabtu) yang diharamkan dengan merubah mereka menjadi kera dan babi, dan Allah juga menghukum orang yang melakukan tipu daya untuk memakan harta-harta manusia melalui riba dengan membinasakan hartanya, sebagaimana Dia berfirman,


'Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.' (Al-Baqarah: 276).

Maka harta orang yang melakukan riba pasti akan musnah sebanyak apa pun hartanya itu, dan asal dari semua ini: Bahwa Allah azza wa jalla menjadikan hukuman bagi para pelaku kejahatan dengan kebalikan dari apa yang mereka inginkan dari kejahatan itu. Ini adalah masalah yang sangat luas dan besar manfaatnya. Barangsiapa yang merenungkannya, niscaya dia menemukan (bahwa kaidah ini) mengandung hukuman Allah azza wa jalla bagi orang yang keluar dari ketaatan kepadaNya; dengan memutarbalikkan tujuannya secara syar'i maupun Qadar, secara dunia dan akhirat, dan sunnah kauniyahNya azza wa jalla telah berlaku umum pada hamba-hambaNya, yaitu: Barangsiapa yang membuat rencana jahat dengan batil, niscaya dia ditimpa rencana jahat (dari orang lain). Barangsiapa yang melakukan tipu daya, niscaya dia ditimpa tipu daya (dari orang lain), dan barangsiapa yang menipu, niscaya dia ditipu (oleh orang lain). Allah azza wa jalla berfirman,


'Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.' (An-Nisa`: 142).

Allah azza wa jalla juga berfirman,


'Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa kecuali orang yang merencanakannya sendiri.' (Fathir: 43).

Maka tidaklah Anda menemukan orang yang membuat rencana jahat melainkan dia dikenai oleh rencana jahatnya itu, (tidaklah Anda menemukan) orang yang menipu melainkan dia dikenai oleh tipuannya itu, dan (tidaklah Anda menemukan) orang yang melakukan tipu daya melainkan dia dikenai oleh tipu dayanya itu." (Ighatsah al-Lahfan, 1/358.)


Sumber:
50 Prinsip Pokok Ajaran Al-Qur'an
Ditulis oleh: Dr Umar bin Abdullah Al-Muqbil
Diposting Oleh: Ricky Adhita

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatquran&id=366