Artikel : Al-Quran - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Kaedah Ke-20 [Siapa Yang Dihinakan Allah, Tak Ada Seorangpun Dapat Memuliakan]

Rabu, 13 Oktober 21
Kaidah (Prinsip Pokok) ke-19


{ }


"Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak ada seorang pun yang memuliakannya.
{ Al-Hajj: 18}

Ini adalah salah satu kaidah (prinsip pokok) yang muhkam dalam masalah keadilan dan pembalasan, dan mentadabburinya memiliki pengaruh dalam pemahaman orang Mukmin pada apa yang dilihat atau dibacanya dalam buku-buku sejarah, atau dalam realita hidup berupa perubahan zaman dan masa bersama para pelakunya, baik itu pada tingkat perorangan ataupun kelompok. Ia adalah kaidah al-Qur`an yang ditunjukkan oleh Firman Allah azza wa jalla,



"Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak ada seorang pun yang memuliakannya." (Al-Hajj: 18).

Dan mungkin penyebutan ayat yang di dalamnya disebutkan kaidah (prinsip pokok) ini secara utuh termasuk hal yang dapat menjelaskan bagi kita bentuk-bentuk penghinaan yang menimpa manusia dari kedudukannya yang tinggi. Allah subhanahu wa taala berfirman,


(18)


"Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar dari manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak ada seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki." (Al-Hajj: 18).

Maka apakah Anda memahami bersama saya, pada saat Anda membaca ayat yang mulia ini, bahwa bentuk karamah (kemuliaan) seorang hamba yang paling tinggi, paling indah, dan paling mulia, adalah mentauhidkan Rabbnya, mentauhidkanNya dalam masalah ibadah, dan menerjemahkan hal itu dengan sujud kepada Rabbnya, merendahkan diri di hadapan Tuannya, Penciptanya, dan Pemberi rizkinya, dan barangsiapa yang perkara kebahagiaan, keselamatan, dan kemenangannya berada di Tangan Allah taala, niscaya dia melakukan hal itu sebagai bentuk pengakuan terhadap hak Allah, mengharap keutamaanNya, dan takut terhadap hukumanNya?!

Dan apakah Anda juga memahami bahwa kerendahan dan kehinaan yang paling parah adalah dia menolak sujud kepada Rabbnya, atau menyekutukan Penciptanya dengan tuhan yang lain?! Sehingga gunung-gunung yang tidak bisa mendengar, pepohonan, dan hewan melata yang tidak memiliki apa-apa lebih baik daripada orang itu, di mana mereka itu sujud kepada Penciptanya dan sesembahannya yang haq?!

Apabila hal ini telah jelas, maka sesungguhnya kaidah (prinsip pokok ajaran) al-Qur`an yang mulia ini, "Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak ada seorang pun yang memuliakannya", datang dalam konteks penjelasan siapa yang berhak mendapatkan azab. Mereka itu adalah orang-orang yang menghinakan diri mereka sendiri dengan berbuat syirik terhadap Rabb mereka, sehingga Allah menghinakan mereka dengan azab, sebagaimana Dia subhanahu wa taala berfirman,



"Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atas-nya." (Al-Hajj: 18).

Maka pada saat itu mereka tidak akan mendapatkan orang yang memuliakan mereka dengan memberi kemenangan ataupun syafa'at!
Renungkanlah bagaimana ungkapan tentang azab ini diungkapkan dengan FirmanNya, "Dan barangsiapa yang dihinakan Allah," dan tidak diungkapkan dengan, ( ) "Dan barangsiapa yang diazab oleh Allah." Hal itu wallahu a'lam karena penghinaan merupakan perendahan, peremehan, dan pengacuhan, dan hal itu merupakan takdir yang menambah sakitnya azab, karena bisa jadi seseorang yang mulia diazab, tetapi dia tidak dihinakan. (Sumber: Majmu' Fatawa, 15/367.)

Kemudian renungkanlah bagaimana ungkapan tentang keba-likan hal itu diungkapkan dengan FirmanNya, "maka tidak ada seorang pun yang memuliakannya", karena kemuliaan adalah sebuah kata yang mencakup segala kebaikan dan sifat terpuji, maksudnya tidak hanya sekedar memberi, akan tetapi ia adalah pemberian dari maknanya yang sempurna, karena sesungguhnya berbuat baik kepada orang lain merupakan kesempurnaan segala kebaikan, sedangkan kemuliaan berarti banyaknya kebaikan dan kemudahannya,... dan sesuatu yang baik lagi terpuji disifati dengan sifat mulia. Allah subhanahu wa taala berfirman,


(7)


"Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?" (Asy-Syu'ara`: 7).

Ibnu Qutaibah berkata, "Dari setiap jenis (selalu) ada yang baik, dan sungguh al-Qur`an telah menunjukkan bahwa di antara manusia terdapat orang yang mulia, dan Allah pasti memuliakannya, dan di antara mereka juga terdapat orang yang Allah hinakan. Allah subhanahu wa taala berfirman,


(18)


"Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak ada seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki." (Al-Hajj: 18). (Sumber: Majmu' Fatawa, 16/295.)

Dan apabila syirik kepada Allah merupakan gambaran yang paling besar di mana hamba menghinakan dan menjerembabkan dirinya sendiri di jurang kehinaan, maka terdapat gambaran-gambaran lain walaupun (tingkatannya) lebih rendah dari syirik akan tetapi dampaknya dalam menghinakan dan merendahkan manusia terlihat nyata, ialah perbuatan maksiat yang rendah, dan kehinaan hamba karena (melakukan)nya.

Ibnul Qayyim berkata menjelaskan sebagian dari makna-makna kaidah (prinsip pokok ajaran) al-Qur`an yang muhkam ini, pada saat beliau berbicara tentang sebagian dari keburukan mak-siat, serta dampak negatifnya,
"Dan di antaranya, bahwa perbuatan maksiat merupakan sebab kehinaan hamba atas Rabbnya dan jatuhnya (kedudukan)nya di MataNya. Al-Hasan al-Bashri berkata, 'Mereka bersikap hina atasNya, sehingga mereka bermaksiat kepadaNya, kalau saja me-reka bersikap mulia atasNya, pastilah Dia menjaga mereka (dari perbuatan maksiat)!'
Apabila seorang hamba telah hina di hadapan Allah, maka tidak ada seorang pun yang memuliakannya, sebagaimana Allah subhanahu wa taala berfirman,



'Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak ada seorang pun yang memuliakannya.' (Al-Hajj: 18).

Walaupun secara zahir manusia memuliakan mereka karena kebutuhannya kepada mereka, atau karena takut dari kejahatan mereka, akan tetapi di dalam hati-hati mereka, mereka itu adalah sesuatu yang paling rendah dan hina..."
Sampai beliau berkata, pada saat beliau membicarakan tentang sebagian hukuman dari perbuatan-perbuatan maksiat,
"Allah subhanahu wa taala akan mencabut kewibawaannya dari hati-hati makhluk, dan Dia akan menghinakan mereka, dan mereka akan meremehkannya, sebagaimana dia merendahkan perintah Allah dan meremehkannya. Maka sesuai dengan ukuran kecintaan hamba kepada Allah, (seperti itu pula) manusia akan mencintainya, dan sesuai dengan ukuran rasa takutnya kepada Allah, (seperti itu pula) manusia akan takut kepadanya, dan sesuai dengan ukuran pengagungannya terhadap Allah dan larangan-laranganNya, (seperti itu pula) manusia akan menghormati kehormatannya! Bagaimana bisa seorang hamba menodai kehormatan-kehormatan Allah lalu dia ingin agar manusia tidak menodai kehormatannya?! Atau bagaimana bisa dia merendahkan hak Allah dan Allah tidak akan menghinakannya di hadapan manusia?! Atau bagaimana bisa dia meremehkan perbuatan-perbuatan maksiat kepada Allah dan manusia tidak meremehkannya?!

Allah subhanahu wa taala telah mengisyaratkan hal ini dalam KitabNya ketika Dia menyebutkan hukuman-hukuman dari perbuatan-perbuatan dosa, dan bahwasanya Dia membalikkan para pelaku maksiat itu kepada kekafiran disebabkan usaha mereka sendiri, menutup hati-hati mereka, dan mengunci mati hati-hati mereka itu disebabkan dosa-dosa mereka, dan bahwasanya Dia melupakan mereka sebagaimana mereka telah melupakanNya, dan Dia menghinakan mereka sebagaimana mereka telah menghinakan AgamaNya, serta Dia akan menyia-nyiakan mereka sebagaimana mereka telah menyia-nyiakan perintahNya.
Oleh karena itu, Allah subhanahu wa taala berfirman, dalam ayat (yang mene-rangkan tentang) sujudnya berbagai makhluk kepadaNya, ,



"Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak ada seorang pun yang memuliakannya." (Al-Hajj: 18).

Maka ketika sujud kepadaNya telah remeh bagi mereka, lalu mereka meremehkannya dan tidak melakukannya, maka Allah pun menghinakan mereka sehingga tidak ada yang memuliakan mereka setelah Allah menghinakan mereka. Siapakah yang akan memuliakan orang yang telah dihinakan Allah atau menghinakan orang yang dimuliakanNya? Dan di antara hukuman-hukuman perbuatan maksiat: bahwasanya ia merampas predikat-predikat pujian dan kemuliaan dari pelakunya, dan memakaikannya predikat-predikat celaan dan kehinaan, lalu ia merampas predikat Mukmin, berbakti, berbuat baik, bertakwa, taat... dan yang semisalnya, dan menyandangkannya predikat durjana, pelaku maksiat, penentang, pelaku perbuatan buruk... dan yang semisalnya.
Ini adalah predikat-predikat yang buruk, dan seburuk-buruk predikat adalah (predikat) yang buruk sesudah iman, yang mengakibatkan kemarahan Dzat Yang Maha Memaksa, memasukkan pelakunya ke dalam api (neraka), dan mengantarkan kepada kehidupan yang rendah dan hina. Sedangkan sebaliknya tadi adalah predikat-predikat yang mengakibatkan keridhaan Dzat Yang Maha Pengasih dan masuk surga-surga, serta mengakibatkan kemuliaan orang yang diberi predikat dengannya atas seluruh jenis manusia. Maka kalaulah saja tidak ada hukuman dari perbuatan maksiat selain kelayakannya mendapatkan predikat-predikat tersebut dan konsekuensi-konsekuensinya, niscaya dalam akal terdapat sesuatu yang melarang hal itu, dan kalau saja tidak ada balasan dari ketaatan selain keselamatan dari predikat-predikat tersebut dan konsekuensi-konsekuensinya, niscaya dalam akal terdapat suatu perintah untuk melakukannya. Akan tetapi tidak ada yang dapat mencegah apa yang diberikan Allah, dan tidak ada yang dapat memberi apa yang dicegahNya, tidak ada yang dapat mendekatkan apa yang dijauhkanNya, dan tidak ada yang dapat menjauhkan apa yang telah didekatkanNya. Barangsiapa yang dihinakan oleh Allah, maka tidak ada yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang dikehendakiNya." (Sumber: Al-Jawab al-Kafi, hal. 38-52, secara diringkas.)

Dalam perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah di atas, "Siapakah yang akan memuliakan orang yang telah dihinakan Allah atau menghinakan orang yang dimuliakanNya", terdapat isyarat kepada makna yang dipahami dari kaidah (prinsip pokok ajaran) al-Qur`an yang muhkam (bermakna jelas) ini, "Dan barang-siapa yang dihinakan Allah, maka tidak ada seorang pun yang memuliakannya," yaitu, bahwa barangsiapa yang dimuliakan oleh Rabbnya dengan ketaatan kepadaNya, dan ketundukan kepada SyariatNya secara lahir dan batin, maka dialah orang yang terhormat dan mulia, walaupun orang-orang munafik atau orang-orang kafir mengira kebalikan hal itu, sebagaimana orang yang telah dibinasa kan penglihatan mereka dari kalangan orang-orang munafik dan orang-orang seperti mereka,


(8)


"Mereka berkata, 'Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya.' Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi RasulNya dan bagi orang-orang Mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui." (Al-Munafiqun: 8).
Benar, demi Allah, mereka tidak mengetahui siapa orang yang mulia yang sebenarnya!

Bukankah Allah subhanahu wataala telah berfirman,


(139)


"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." (Ali Imran: 139)?!

Bagaimana bisa orang Mukmin merasa terhina padahal sanad-nya adalah sanad yang paling tinggi, manhajnya adalah manhaj yang paling tinggi, tingkatannya adalah tingkatan yang paling tinggi, dan teladannya Nabi Muhammad shollallohu alaihi wasallam adalah teladan yang paling tinggi dan paling luhur?!
Apakah orang-orang yang beriman menyadari dan mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang mulia yang sebenarnya, selama mereka menunaikan apa-apa yang diwajibkan Allah kepada mereka?
Dan saya tutup ucapan saya tentang kaidah (prinsip pokok ajaran) al-Qur`an yang muhkam ini dengan suatu kalimat yang indah dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, di mana beliau berkata,
"Karamah itu ada dalam keistiqamahan yang kontinu, dan tidaklah Allah subhanahu wa taala memuliakan hambaNya dengan suatu karamah yang lebih besar daripada taufikNya kepada sesuatu yang dicintai dan diridhaiNya, yaitu taat kepadaNya dan taat kepada RasulNya, serta memberikan loyalitas kepada wali-waliNya dan memusuhi musuh-musuhNya, mereka itu adalah wali-wali Allah yang mana Allah berfirman tentang mereka,


(62)


"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Yunus: 62). (Sumber: At-Tuhfah al-'Iraqiyyah fi al-A'mal al-Qalbiyyah, hal. 12.)

Saya memohon kepada Allah subhanahu wa taala agar Dia menjadikan kita dan kalian termasuk ke dalam golongan mereka, dan agar Dia memuliakan kita dan kalian dengan ketaatan kepadaNya, serta agar Dia tidak menghinakan dan merendahkan kita dengan maksiat kepadaNya.

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatquran&id=368