Artikel : Al-Quran - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Tafsir Surat Ali Imran Ayat 165 179

Selasa, 25 Mei 21

Faktor-faktor Kekalahan dan Pelajaran Darinya

A. TEKS AYAT

Allah Subhanahu wa Taala berfirman,


(165) (166) (167) (168) (169) (170) (171) (172) (173) (174) (175) (176) (177) (178) (179) [ : 165 179]


B. TERJEMAHAN

3:165 Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata, Dari mana datangnya (kekalahan) ini? Katakanlah, Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

3:166 Dan apa yang menimpamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman.

3:167 Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan, Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu). Mereka berkata, Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulut mereka perkataan yang tidak terkandung dalam hati mereka. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.

3:168 Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang, Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh, maka katakanlah (kepada mereka), Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar.

3:169 Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rizki.

3:170 Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikanNya kepada mereka, dan mereka bergirang hati tentang orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

3:171 Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.

3:172 (Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan RasulNya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan dari kalangan mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.

3:173 (Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerangmu, karena itu takutlah kepada mereka, maka perkataan itu menambah keimanan mereka, dan mereka menjawab, Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.

3:174 Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, dan mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.

3:175 Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman.

3:176 Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir; sesungguhnya mereka sekali-kali tidak dapat memberi mudarat kepada Allah sedikit pun. Allah berkehendak tidak akan memberi suatu bagian (dari pahala) kepada mereka di Hari Akhirat, dan mereka mendapatkan azab yang besar.

3:177 Sesungguhnya orang-orang yang menukar iman dengan kekafiran, sekali-kali mereka tidak dapat memberi mudarat kepada Allah sedikit pun; dan mereka mendapat azab yang pedih.

3:178 Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian (waktu) tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi (waktu) tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan mereka mendapatkan azab yang menghinakan.

3:179 Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (Mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendakiNya dari kalangan Rasul-rasulNya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan Rasul-rasulNya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka kalian mendapatkan pahala yang besar.




B. TAFSIR AYAT

Al-Mukhtashar Fit Tafsir:


165. Apakah ketika kalian wahai orang-orang Mukmin, ditimpa musibah pada saat kalian dikalahkan di perang Uhud, dan di antara kalian ada yang terbunuh, padahal sebelumnya kalian telah mendapatkan dua kali lipat hal itu dari musuh kalian berupa tawanan dan pembunuhan di perang Badar, kalian berkata, "Dari mana kami bisa ditimpa musibah ini sedangkan kami adalah orang-orang yang beriman dan Nabi Allah ada di antara kami?" Katakanlah, wahai Nabi, "Apa yang menimpa kalian dari hal ini datang dari diri kalian sendiri manakala kalian berselisih dan menyelisihi perintah Rasul. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, Dia menolong siapa yang Dia kehendaki dan membiarkan siapa yang Dia kehendaki.

166. Apa yang terjadi pada kalian berupa terbunuh, terluka, dan kalah di perang Uhud manakala pasukan kalian bertemu dengan pasukan orang-orang musyrik, maka ia terjadi dengan izin Allah dan takdirNya, untuk suatu hikmah yang mendalam sehingga nampak orang-orang Mukmin yang benar imannya.

167. Dan agar terlihat orang-orang munafik yang ketika dikatakan kepada mereka, "Berperanglah di jalan Allah atau belalah kehormatan keluarga dan kaum kalian." Maka mereka menjawab, "Seandainya kami mengetahui bahwa apa yang kalian lakukan itu adalah perang sebagaimana mestinya, niscaya kami mengikuti kalian, akan tetapi kalian hanya menjerumuskan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan." Mereka dalam keadaan tersebut lebih dekat kepada sesuatu yang menunjukkan kekafiran mereka daripada apa yang menunjukkan iman mereka, mereka berkata dengan lisan mereka apa yang tidak ada di dalam hati mereka dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan di dalam dada mereka, dan Dia akan membalas mereka karenanya.
168. Mereka adalah orang-orang yang tidak ikut berangkat untuk berperang, dan mereka berkata tentang kerabat-kerabat mereka yang gugur di Perang Uhud, "Seandainya mereka itu mematuhi kami dan tidak ikut berangkat untuk berperang, niscaya mereka tidak terbunuh." Katakanlah, wahai Nabi, untuk menjawab mereka, "Tolaklah kematian dari diri kalian manakala ia datang kepada kalian jika kalian memang benar dalam apa yang kalian katakan bahwa jika orang-orang yang gugur tersebut menaati kalian, maka mereka tidak akan terbunuh dan bahwa sebab selamatnya kalian dari kematian adalah tidak berangkat untuk berjihad di jalan Allah.

169. Jangan menyangka, wahai Nabi, bahwa orang-orang yang terbunuh di medan jihad di jalan Allah adalah orang-orang mati, akan tetapi mereka hidup dengan kehidupan yang khusus di sisi Tuhan mereka di rumah kemuliaanNya, mereka diberi rizki dengan berbagai bentuk kenikmatan yang tidak diketahui kecuali oleh Allah.

170. Mereka diliputi oleh kebahagiaan dan dikelilingi oleh kegembiraan, karena karunia yang Allah limpahkan kepada mereka, mereka juga berharap dan menunggu saudara-saudara mereka yang masih hidup untuk menyusul mereka, bahwa jika saudara-saudara mereka tersebut terbunuh di medan jihad, maka mereka akan mendapatkan keutamaan seperti mereka, dan tidak ada ketakutan pada mereka dalam apa yang mereka hadapi, yaitu urusan akhirat, dan mereka juga tidak bersedih atas apa yang luput dari tangan mereka berupa kesenangan-kesenangan dunia.

171. Di samping itu mereka berbahagia dengan pahala besar yang menunggu mereka dari Allah dan tambahan besar atas pahala, dan bahwa sesungguhnya Allah Taala tidak akan membatalkan pahala orang-orang yang beriman kepadaNya, akan tetapi Allah akan memberikan mereka pahala mereka secara sempurna dan menambahnya untuk mereka.

172. Yaitu, orang-orang yang memenuhi perintah Allah dan RasulNya manakala mereka diajak untuk berangkat berperang di jalan Allah dan menghadapi kaum musyrikin di Perang Hamraul Asad yang menyusul Perang Uhud sesudah mereka terluka di Perang Uhud, luka-luka mereka tidak menghalangi mereka untuk memenuhi panggilan Allah dan RasulNya. Orang-orang yang berbuat baik dari mereka dalam amal-amal mereka dan bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah, yaitu surga.

173. Yaitu, orang-orang yang sebagian kaum musyrikin berkata kepada mereka, "Sesungguhnya kaum Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan telah mengumpulkan pasukan besar untuk memerangi kalian dan menghabisi kalian, maka takutlah kalian kepada mereka dan jangan menghadapi mereka." Perkataan dan ancaman ini hanya menambah mereka keyakinan kepada Allah dan kepercayaan kepada janjiNya. Maka mereka tetap berangkat untuk menghadapi orang-orang kafir itu seraya berkata, "Allah Taala mencukupi kita dan Dia adalah sebaik-baik penolong bagi kita, kita serahkan urusan kita kepadaNya."

174. Maka mereka pulang setelah kebarangkatan mereka ke Hamraul Asad dengan membawa pahala besar dari Allah penambahan derajat mereka, dan selamat dari musuh mereka, di mana mereka pulang tanpa ada korban luka atau terbunuh, dan mereka mengikuti apa yang membuat Allah meridhai mereka, yaitu dengan konsisten menaatiNya dan tidak mendurhakaiNya. Dan Allah adalah pemilik karunia yang besar terhadap hamba-hambaNya yang beriman.

175. Sesungguhnya yang menakut-nakuti kalian hanyalah setan, dia menakut-nakuti kalian melalui kaki tangan dan pembantunya, maka jangan takut kepada mereka, karena mereka tidak memiliki daya dan kekuatan, sebaliknya takutlah kepada Allah saja dengan selalu menaatiNya jika kalian beriman kepadaNya dengan sebenar-benarnya.

176. Tidak usah membuatmu bersedih, wahai Rasul, orang-orang yang bergegas ke dalam kekafiran dan murtad berbalik ke belakang dari kalangan orang-orang munafik, karena sesungguhnya mereka itu tidak merugikan Allah sedikit pun, sebaliknya mereka merugikan diri mereka sendiri dengan jauhnya mereka dari iman kepada Allah dan ketaatan kepadaNya. Dengan membiarkan mereka dan tidak membimbing mereka, Allah berkehendak agar mereka tidak mendapatkan bagian dari kenikmatan akhirat, dan di akhirat mereka akan mendapatkan azab yang besar di dalam api neraka.

177. Sesungguhnya orang-orang yang mengganti iman dengan kekafiran, mereka tidak akan merugikan Allah sedikit pun, karena Allah Mahakaya lagi Mahaperkasa, sebaliknya mereka hanya merugikan diri mereka sendiri, dan bagi mereka azab yang pedih di akhirat.

178. Janganlah orang-orang yang kafir kepada Tuhan mereka dan menentang syariatNya menyangka bahwa penangguhan mereka dan dipanjangkannya umur mereka di atas kekafiran mereka adalah lebih baik untuk diri mereka, perkaranya tidak sebagaimana yang mereka sangka, akan tetapi Kami menangguhkan mereka agar mereka menambah dosa dengan banyaknya kemaksiatan di atas dosa mereka, dan bagi mereka azab yang menghinakan.

179. Bukan termasuk hikmah Allah membiarkan kalian, wahai orang-orang Mukmin, di atas keadaan kalian seperti itu, yaitu bercampur dengan orang-orang munafik, tidak ada pembeda di antara kalian dan tidak terpilahnya orang-orang Mukmin yang sebenarnya, sehingga Allah memilah kalian dengan berbagai macam beban dan ujian agar terlihat jelas mana orang Mukmin dan mana orang munafik, mana yang buruk dan mana yang baik. Bukan juga termasuk hikmah Allah membuat kalian mengetahui yang ghaib sehingga kalian bisa membedakan antara orang Mukmin dan orang munafik. Akan tetapi Allah memilih siapa yang Dia kehendaki dari rasul-rasulNya, lalu Allah memberitahunya sebagian dari hal ghaib, sebagaimana Allah memberi tahu NabiNya, Muhammad - - tentang keadaan orang-orang munafik, maka wujudkanlah iman kalian kepada Allah dan RasulNya dengan benar. Jika kalian beriman dengan benar dan bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, maka bagi kalian pahala yang besar di sisi Allah.

Faidah dari ayat-ayat di atas:

1. Ujian dan cobaan yang menimpa seorang hamba adalah karena dosa-dosanya, dan bisa juga merupakan ujian yang mengangkat derajatnya, dan Allah memaafkan dan mengampuni banyak dari dosa-dosanya.
2. Di antara Sunnah-sunnah Allah -- adalah menguji hamba-hambaNya agar orang Mukmin yang benar terbedakan dari orang munafik, dan agar diketahui siapa yang benar dan siapa yang dusta.
3. Besarnya kedudukan jihad dan pahala mujahid di sisi Allah --, di mana Allah -- menempatkan mereka di tempat yang tertinggi.
4. Qadha dan Qadar Allah -- pasti terjadi, tidak bisa tidak, sikap hati-hati tidak bisa menolaknya, dan cara apa pun tidak bisa menghindarkannya.
5. Keutamaan para sahabat dan keterangan tentang tingginya kedudukan mereka di dunia dan di akhirat, karena mereka telah mengorbankan diri mereka dan harta mereka di jalan Allah --.
6. Seorang Mukmin tidak patut menggubris ancaman setan kepadanya melalui kaki tangan dan para pembantunya dari orang-orang kafir, karena segala urusan ada di Tangan Allah --.
7. Seorang hamba tidak patut tertipu oleh penangguhan Allah untuknya, sebaliknya dia harus segera bertaubat selama masih berada pada masa penangguhan sebelum ia habis.
8.Sunnah Allah -- berlaku bahwa Dia menguji hamba-hambaNya dengan berbagai ujian dan cobaan sehingga diketahui mana yang buruk dan mana yang baik, mana yang Mukmin dan mana yang munafik.

Tafsir As-Sadi:

(165) Ini merupakan hiburan dari Allah -- bagi hamba-hambaNya yang beriman ketika mereka menderita kekalahan yang telah mereka rasakan pada perang Uhud, dan telah terbunuh dari mereka kira-kira tujuh puluh orang, lalu Allah berfirman, Kamu telah menimpakan terhadap kaum musyrikin, (kekalahan) dua kali lipat pada perang Badar. Kalian membunuh sekitar tujuh puluh orang dari pembesar-pembesar mereka dan menawan tujuh puluh lagi dari mereka. Maka hendaklah peristiwa itu menjadi terasa enteng dan musibah tersebut menjadi ringan atas kalian. Dan bersama itu kalian tidaklah sama dengan mereka, karena orang-orang yang terbunuh dari kalian itu berada di surga, sedang mereka di neraka.

Kamu berkata, Darimana datangnya (kekalahan) ini? Maksudnya, darimana datangnya derita yang telah kita rasakan itu dan darimana kita dikalahkan?

Katakanlah, Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri, ketika kalian berselisih dan bermaksiat setelah Allah memperlihatkan kepada kalian sesuatu yang kalian sukai. Maka kembalikanlah celaan itu pada diri kalian sendiri dan waspadalah dari sebab-sebab yang menghancurkan.

Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Janganlah kalian berburuk sangka kepada Allah, karena Allah Mahakuasa untuk menolong kalian. Akan tetapi Dia memiliki hikmah yang paling sempurna dalam ujian dan musibah kalian tersebut, dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya Allah dapat membalas mereka, akan tetapi hal itu agar Allah menguji sebagian kalian dengan sebagian lainnya.

(166167) Kemudian Allah -- mengabarkan bahwasanya yang menimpa mereka saat bertemunya kedua pasukan; pasukan kaum Muslimin dan pasukan kaum musyrikin di Uhud berupa kematian dan kekalahan, adalah dengan izinNya, Qadha dan QadarNya; tidak ada tempat pelarian baginya, dan itu pasti terjadi. Perkara takdir apabila telah terlaksana, maka tidak ada lagi cara kecuali (hanya) menerimanya dan bahwa Allah menetapkan hal itu atas dasar hikmah yang agung dan faidah yang besar, dan bahwa dengan hal itu akan jelas orang Mukmin dari orang munafik, yaitu orang-orang yang bila diperintah untuk ikut berperang, dan kepada mereka dikatakan, Marilah berperang di jalan Allah, yaitu, demi membela agama Allah dan melindunginya serta mengharap keridhaan Allah, atau pertahankanlah (dirimu), kehormatan dan negeri kalian apabila kalian tidak memiliki niat yang shalih, maka mereka enggan ikut berperang dan membuat alasan.

Mereka berkata, Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikutimu, maksudnya, sekiranya kami mengetahui bahwasanya akan terjadi peperangan antara kalian dan mereka, niscaya kami akan mengikuti kalian berperang. Tetapi sebenarnya mereka pendusta dalam hal itu. Sungguh mereka telah yakin dan paham, dan setiap orang mengetahui bahwa kaum musyrikin telah dipenuhi oleh dengki dan kebencian terhadap kaum Muslimin karena apa yang telah mereka derita disebabkan kaum Muslimin, dan bahwa mereka telah mengerahkan harta benda mereka, dan mereka telah mengumpulkan pasukan sekuat tenaga untuk menghancurkan kaum Muslimin di negeri mereka dengan semangat yang menyala-nyala untuk memerangi mereka. Barangsiapa yang kondisinya seperti ini, bagaimana bisa tidak tergambar bahwa tidak akan terjadi perang antara mereka dengan kaum Muslimin?

Khususnya (alasan) bahwa kaum Muslimin telah (terlanjur) keluar dari Madinah (meninggalkan mereka), dan menghadapi mereka (kafir Quraisy). Ini merupakan suatu alasan yang mustahil, akan tetapi orang-orang munafik menyangka bahwa alasan tersebut melegakan kaum Mukminin. Allah berfirman, Mereka pada hari itu kepada kekafiran yaitu pada saat mereka tidak berjihad bersama kaum Mukminin, lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulut mereka perkataan yang tidak terkandung dalam hati mereka.

Ini adalah ciri khas orang-orang munafik, mereka tampakkan pada lisan dan perbuatan mereka apa yang bertentangan dengan yang ada dalam hati dan dada mereka. Di antaranya adalah perkataan mereka, Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu. Sesungguhnya mereka sebenarnya telah mengetahui akan terjadinya peperangan.

Ayat ini menjadi dalil atas sebuah kaidah melakukan kemudaratan yang lebih kecil dari dua kemudaratan, untuk menolak kemudaratan yang lebih besar dan melakukan kemaslahatan yang lebih kecil dari dua kemaslahatan karena ketidakmampuan melakukan kemaslahatan yang lebih besar, karena kaum munafik itu telah diperintahkan untuk berperang demi agama, dan bila mereka tidak melakukannya maka diperintahkan untuk mempertahankan keluarga dan negeri.

Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan, maka Allah tampakkan semua itu bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, lalu Allah menghukum mereka atas hal tersebut.

(168) Kemudian Allah -- berfirman, Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang, Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh. Maksudnya, mereka (orang-orang munafik itu) menyatukan tindakan antara tidak ikut berjihad de-ngan menentang dan mendustakan Qadha` dan Qadar Allah.

Allah berfirman membantah mereka, Katakanlah, Tolaklah, maksudnya, hindarkanlah, kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar. (Buktikan) bahwa mereka bila menaati kalian maka tidaklah mereka akan terbunuh, kalian tidak akan mampu melakukan itu dan tidak akan bisa. Dalam ayat-ayat ini terdapat dalil bahwa seorang hamba terkadang memiliki ciri-ciri kekufuran dan keimanan, dan terkadang lebih dekat kepada salah satunya daripada kepada lainnya.

(169) Ayat-ayat yang mulia ini mengandung penjelasan tentang keutamaan para syuhada dan karamah mereka, dan segala kebaikan yang dikaruniakan oleh Allah buat mereka berupa anugerah dan kebaikanNya. Termasuk di dalamnya adalah hiburan bagi orang-orang yang masih hidup karena ditinggal mati saudara mereka, belasungkawa bagi mereka dan memberikan semangat bagi mereka untuk berperang di jalan Allah dan mencari mati syahid.

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah, maksudnya, dalam memerangi musuh-musuh agama dengan tujuan meninggikan kalimat Allah, mati. Maksudnya, janganlah sampai terlintas di benak kalian dan dalam perhitungan kalian bahwa mereka itu mati dan lenyap, serta hilang dari mereka kenikmatan hidup dunia dan menikmati bunga-bunganya, (namun) yang (seharusnya) dikhawa-tirkan hilang adalah takut berperang dan tidak mendapatkan mati syahid. Bahkan sesungguhnya mereka telah memperoleh yang lebih besar daripada sesuatu yang diperebutkan oleh orang-orang yang saling bersaing, di mana mereka itu hidup di sisi Rabbnya, dalam surgaNya. Kata di sisi Rabbnya menunjuk-kan tingginya derajat mereka dan begitu dekatnya mereka dengan Rabb mereka, dengan mendapat rizki berupa berbagai macam kenikmatan yang tidak diketahui bentuknya kecuali oleh Dzat yang telah memberikan kenikmatan tersebut atas mereka.

(170) Di samping itu, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikanNya kepada mereka, maksudnya mereka bahagia dengan hal tersebut, di mana mereka menjadi tenang dan jiwa mereka menjadi senang. Yang demikian itu disebabkan karena banyaknya, baiknya, keagungannya, dan kesempurnaan kenikmatan dalam memperolehnya tanpa ada kesusahan. Allah telah menyatukan bagi mereka antara kenikmatan jasmani dengan adanya rizki dan kenikmatan hati dan ruh dengan kesenangan dan kebahagiaan atas apa yang telah Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya, sehingga sempurnalah kenikmatan dan kebahagiaan mereka. Mereka bergirang hati tentang orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, maksudnya, sebagian mereka memberikan kabar gembira kepada sebagian lainnya tentang akan menyusulnya saudara-saudara mereka yang belum menyusul mereka dan bahwa mereka akan mendapatkan apa yang telah mereka dapatkan; bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati, maksudnya, mereka memberikan kabar gembira dengan hilangnya hal-hal yang dikhawatirkan dari mereka dan dari saudara-saudara mereka yang melazimkan kesempurnaan kebahagiaan mereka.

(171) Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, maksudnya, sebagian mereka memberikan ucapan selamat kepada sebagian lainnya dengan ucapan selamat yang paling agung, yaitu nikmat Rabb mereka dan karuniaNya serta kebaikanNya.

Dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman, bahkan Allah mengembangkannya dan memberikan balasan, serta menambahkan karuniaNya itu hingga mencapai derajat yang tidak mungkin dapat diraih oleh usaha mereka sendiri.

Ayat-ayat ini menunjukkan shahihnya kenikmatan di alam barzakh, dan bahwasanya orang-orang yang syahid berada pada tempat yang paling tinggi di sisi Rabb mereka. Di dalamnya terkandung adanya pertemuan antara ruh-ruh orang-orang yang shalih, ziarahnya sebagian mereka kepada sebagian lain, serta saling memberikan kabar gembira.

(172173) Ketika Nabi - - kembali dari Uhud menuju ke Madinah dan mendengar bahwa Abu Sufyan beserta orang-orang yang bersamanya dari kaum musyrikin hendak kembali menyerang Madinah, maka beliau menyeru kembali para sahabatnya untuk bersiap berperang. Maka mereka berangkat dengan kondisi masih terluka, demi memenuhi panggilan Allah dan RasulNya, dan menaati Allah dan RasulNya, hingga akhirnya sampailah mereka pada suatu tempat yang bernama Hamra al-Asad. (Dikeluarkan oleh al-Bukhari, no. 4077 dan no. 4563).

Lalu datanglah seseorang kepada mereka seraya berkata, Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerangmu, mereka bertekad untuk menghancurkan kalian, sebagai suatu tindakan menakuti dan menggentarkan mereka. Akan tetapi hal itu tidaklah menambah bagi mereka kecuali iman kepada Allah dan bertawakal kepadaNya, dan mereka menjawab, Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, maksudnya, cukuplah Dia dari segala hal yang mengkhawatirkan kita, dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung, yaitu Dzat yang diserahkan kepadaNya urusan hamba-hambaNya dan yang memenuhi kemaslahatan bagi mereka.

(174) Maka mereka kembali, maksudnya mereka pulang, dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa. Kabar itu sampai kepada kaum musyrikin, bahwasanya Rasulullah - - dan para sahabatnya telah bersiap memerangi kalian, sementara orang-orang yang tidak ikut serta, telah menyesal. Lalu Allah menjatuhkan rasa takut pada hati mereka hingga akhirnya mereka terus kembali ke Makkah.

Kaum Mukminin juga kembali (ke Madinah) dengan kenikmatan dari Allah dan karuniaNya, di mana Allah telah memberikan karunia kepada mereka dengan bimbingan untuk bersiap kembali berperang dalam kondisi seperti itu dan bertawakal kepada Rabb mereka. Kemudian Allah menetapkan pahala bagi mereka dengan pahala para pejuang secara sempurna, lalu karena kebajikan mereka untuk menaati Tuhan mereka dan ketakwaan mereka dari bermaksiat kepadaNya, maka mereka mendapatkan pahala yang besar, dan ini merupakan karunia Allah atas mereka.

(175) Kemudian Allah -- berfirman, Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), maksudnya, sesungguhnya ancaman seseorang dari kaum musyrikin bahwa mereka telah mengumpulkan pasukan untuk menyerangmu, adalah salah seorang penyeru setan, di mana wali-wali setan itu menakut-nakuti orang-orang yang tidak memiliki iman di hati mereka atau iman mereka lemah.

Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman, maksudnya, janganlah kalian takut kepada kaum musyrikin yang merupakan wali-wali setan, karena sesungguhnya nasib mereka ada di Tangan Allah, di mana mereka tidak mampu bertindak kecuali dengan takdirNya, akan tetapi takutlah kepada Allah yang akan membela wali-waliNya yang takut kepadaNya dan yang memenuhi panggilanNya.

Ayat ini menunjukkan wajibnya takut kepada Allah semata dan bahwa takut itu adalah konsekuensi iman. Karena itu setinggi kadar tingkat keimanan seorang hamba maka setinggi itu pulalah tingkat takutnya kepada Allah. Takut yang terpuji adalah yang dapat menghalangi seorang hamba dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah.

(176) Nabi - - sangatlah bersemangat berbuat baik kepada makhluk dan berusaha memberikan petunjuk kepada mereka. Beliau bersedih hati apabila mereka tidak mendapatkan petunjuk. Allah -- berfirman, Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir karena keinginan mereka yang begitu besar padanya dan antusias mereka atasnya.

Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak dapat memberi mudarat kepada Allah sedikit pun. Allah adalah pembela agamaNya, penolong RasulNya dan pemberlaku urusanNya tanpa mereka. Maka janganlah engkau menghiraukan mereka dan janganlah engkau memperhatikan mereka. Mereka itu hanya berusaha memudaratkan diri mereka sendiri dengan hilangnya keimanan (pada diri mereka) di dunia dan adanya siksaan yang pedih di akhirat kelak, disebabkan kehinaan mereka di hadapan Allah dan jatuhnya martabat mereka dari WajahNya dan kehendakNya, maka Allah tidak menjadikan bagi mereka bagian pahalaNya sedikit pun di akhirat. Allah menghinakan mereka dan tidak memberikan bimbingan kepada mereka sebagaimana Allah memberikan bimbingan itu kepada wali-waliNya, dan barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah baik, sebagai suatu keadilan dariNya atau suatu hikmah, niscaya Allah akan memberitahunya bahwa mereka itu tidaklah suci untuk mendapatkan petunjuk dan tidak pula mereka menerima jalan yang lurus disebabkan akhlak mereka yang telah rusak dan tujuan mereka yang buruk.

(177) Kemudian Allah -- mengabarkan bahwa orang-orang yang telah memilih kekufuran daripada keimanan dan suka terhadapnya sebagaimana sukanya orang yang siap mengerahkan segala hartanya untuk mendapatkan barang yang disukainya, sekali-kali mereka tidak dapat memberi mudarat kepada Allah sedikit pun, akan tetapi mudarat dari perbuatan mereka itu akan kembali kepada mereka sendiri. Karena itu Allah berfirman, Dan mereka mendapat azab yang pedih. Lalu bagaimanakah mereka bisa memberikan mudarat kepada Allah? Mereka telah sangat menjauh dari keimanan dan sangat menyukai kekufuran kepada Yang Maha Penyayang, maka Allah tidaklah butuh kepada mereka. Allah telah memilih dari hamba-hambaNya yang baik dan bersih dari selain orang-orang kafir itu bagi agamaNya, dan menyiapkan untuk agamaNya orang-orang yang diridhaiNya untuk membelaNya dari orang-orang yang memiliki hati yang mantap dan akal yang cemerlang, dan orang-orang yang cerdik dari para tokoh yang hebat. Allah -- berfirman,




Katakanlah, Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila al-Quran dibacakan kepada mereka, niscaya mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud. (Al-Isra: 107).

(178) Maksudnya, janganlah orang-orang kafir itu berprasangka kepada Rabb mereka, lalu mereka mencampakkan agamaNya, dan memerangi RasulNya, bahwa Kami membiarkan mereka dalam dunia ini dan tidak menghancurkan mereka serta tindakan Kami menangguhkan mereka itu adalah baik bagi diri mereka dan merupakan kecintaan Kami kepada mereka. Semua itu tidak seperti yang mereka sangka, tapi semua itu disebabkan karena keburukan yang dikehendaki oleh Allah kepada mereka dan tambahan siksaan dan hukuman di samping siksaan tersebut. Karena itu Allah berfirman, Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan mereka mendapatkan azab yang menghinakan.

Allah -- menangguhkan bagi seorang yang zhalim hingga bertambahlah kezhalimannya dan diikuti oleh kekufurannya hingga bila Allah menghukumnya, maka Dia menghukumnya dengan hukuman Yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa, maka waspadalah orang-orang yang zhalim dari penangguhan tersebut, dan agar mereka tidak mengira bahwa Dzat Yang Mahabesar lagi Mahatinggi melupakan mereka.

(179) Maksudnya, bukanlah merupakan hikmah Allah bahwa Dia membiarkan kaum Mukminin berada dalam kondisi seperti yang kalian alami berupa campur-baur dan tidak ada pembedaan, hingga Allah memilah orang yang buruk dari yang baik, orang Mukmin dari orang munafik, orang yang benar dari orang yang dusta. Dan bukan merupakan hikmahNya juga bahwa hamba-hambaNya mengetahui hal ghaib yang Dia ketahui pada hamba-Nya, maka hikmah Allah yang agung menghendaki agar Allah menguji para hambaNya dan memberikan cobaan kepada mereka dengan perkara yang dapat membedakan antara yang buruk dari yang baik dengan beberapa bentuk ujian dan cobaan. Maka Allah mengutus para rasulNya dan memerintahkan mereka untuk taat, patuh, dan beriman kepada mereka. Lalu Allah menjanjikan kepada mereka atas keimanan dan ketakwaan itu dengan pahala yang besar. Maka terpecahlah manusia dari segi keikutsertaannya kepada Rasul menjadi dua bagian; orang-orang yang taat dan orang-orang yang durhaka, orang-orang yang Mukmin dan orang-orang yang munafik, dan orang-orang Muslim dan orang-orang yang kafir; agar hal itu mengakibatkan adanya pahala dan hukuman, dan agar tampaklah keadilan, kemuliaan, dan hikmahNya kepada makhlukNya.

REFERENSI:

1. Tafsir Al-Quran (1) Surat: Al-Fatihah Ali Imran, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sadi, Darul Haq, Jakarta, Cet. VII, Syaban 1436 H / Juni 2015 M.
2. Tafsir Al-Quran Terjemah al-Mukhtashar fi at-Tafsir, Para Pakar Tafsir, Darul Haq, Jakarta.

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatquran&id=344